;

KESEHATAN, Sebuah Ironi di Perkotaan

KESEHATAN,
Sebuah Ironi di Perkotaan

Nurjanah (16) menuntun anaknya Rafka (15 bulan) ke ruang konsultasi gizi di Puskesmas Cakung Barat. Rafka, sudah enam bulan terakhir didiagnosis stunting atau tengkes dan terinfeksi TBC. Pengukuran menunjukkan, berat Rafka 7,9 kg dan tinggi badannya 75 cm. ”Bulan lalu beratnya 8,1 kg. Sekarang 7,9 kg. Tingginya bertambah sedikit demi sedikit,” kata Hanna Claudia, ahli gizi yang sejak awal menangani Rafka, Selasa (4/4). Badan Rafka seharusnya lebih berat daripada bulan sebelumnya sekalipun belum bisa mengejar berat badan ideal bayi seusianya, yakni 10-11 kg. Sementara itu, kenaikan tinggi badannya cukup baik meski tak signifikan. Nurjanah yang rutin memeriksakan anaknya ke puskesmas pertama kali mengetahui berat badan anaknya lambat naik sejak usia 9 bulan. Di usia itu, berat Rafka hanya 5 kg, jauh dari berat ideal bayi laki-laki yang berkisar 7 kg sampai 10 kg.

Faradila Ayu (3) lahir dengan berat normal 2,9 kg. Ibunya, Nasihatul Karomah (26), dinyatakan sehat selama hamil. Namun, Ayu tercatat sebagai 1 dari 11 anak tengkes di RW 009, Kelurahan Cakung Barat, Jaktim. Kader posyandu Cakung Barat, Martini, menduga Ayu tengkes karena sering membeli jajanan di warung, baik permen maupun makanan ringan. Ayu merasa kenyang, padahal jajanan yang dikonsumsinya minim gizi. Saat diperiksa di posyandu, berat badan Ayu turun secara konsisten hingga berada di bawah garis merah, indikator anak kurang gizi sedang hingga berat di Kartu Menuju Sehat (KMS). ”Ayu ikut (program penanganan tengkes) pas November 2022. Waktu itu beratnya 9,6 kilogram,” kata Nasihatul, Sabtu (8/4). Kini, berat badan Ayu 11,4 kg dan tingginya 89 cm. Pertumbuhan Ayu positif setelah diberi makanan tambahan berupa abon ayam, susu, dan zinc yang merupakan bagian dari program penanganan tengkes oleh kecamatan.

Tengkes tidak bisa dipisahkan dari kemiskinan. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat sebagian orang sulit mengakses makanan bergizi seimbang buat anak. Nurjanah, misalnya, mengantongi rata-rata Rp 30.000 per hari untuk biaya makan dia dan Rafka. Jika sedang tidak beruntung, Nurjanah bisa tak memegang uang belanja sama sekali. Hanya suami Nurjanah yang bekerja di rumah mereka. Suaminya digaji Rp 185.000 per hari sebagai sopir. Namun, belakangan gajinya dipotong Rp 60.000-Rp 100.000 per hari sebagai biaya ganti rugi seusai menabrakkan mobil bosnya saat bekerja. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :