;

Awas Problem Laten Beras

Lingkungan Hidup Yoga 21 Oct 2022 Kompas
Awas Problem Laten Beras


Produksi beras nasional tahun 2022, sebagaimana dirilis BPS, Senin (17/10), cukup positif. Dengan  proyeksi peningkatan luas panen dan produksi tiga bulan terakhir, produksi beras Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai 32,07 juta ton, naik 2,29 % dibandingkan produksi tahun lalu 31,36 juta ton. Peningkatan itu disumbang oleh lonjakan produksi 15,12 % secara tahunan pada periode Oktober-Desember 2022. Proyeksi tersebut diperoleh dari realisasi luas panen sepanjang Januari-September serta proyeksi pada Oktober-Desember yang diperkirakan 1,91 juta ha. Luas itu meningkat 16,45 % dibandingkan periode Oktober-Desember 2021 yang tercatat 1,64 juta ha. Dengan produksi sebanyak itu, Indonesia bisa swasembada lagi tahun ini. Sebab, kebutuhan beras nasional rata-rata 30 juta ton per tahun. Namun, situasi iklim hingga akhir tahun bisa jadi kendala serius. Kantor Meteorologi (Bureau of Meteorology) Australia memublikasikan, indeks kondisi iklim di Samudra Pasifik menunjukkan fenomena La Nina kuat hingga awal 2023. Menurut ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), La Nina akan menyebabkan iklim yang lebih basah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Curah hujan sejumlah wilayah di Indonesia akan berada di atas normal hingga Desember 2022.

Selain iklim, faktor lain yang berpotensi menggerus produksi beras nasional, yakni soal insentif usaha yang tergerus karena harga gabah tak cukup mengimbangi kenaikan ongkos produksi, kendati harga gabah tiga tahun terakhir umumnya di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Ada kekhawatiran soal motivasi petani menanam padi yang redup karena insentif usaha yang makin turun. Hasil perhitungan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) menunjukkan, ongkos produksi gabah kering panen (GKP) mencapai Rp 4.523 per kg pada tahun 2019. Namun, kini ongkos produksinya telah naik menjadi Rp 5.876 per kg GKP seiring naiknya sejumlah komponen biaya usaha tani, seperti sewa lahan, upah buruh tani, dan sarana produksi, sebesar 25-35 % dalam tiga tahun terakhir. Dengan ongkos produksi sebesar itu, harga gabah di atas HPP tidak ada artinya lagi buat petani. Sebab, HPP makin tidak relevan dan tertinggal oleh ongkos produksi. Jika mengacu hitungan AB2TI, ongkos produksi GKP naik 40 % dibandingkan HPP yang ditetapkan Rp 4.200 per kg. Ini situasi laten yang menggerus produksi beras nasional dalam jangka panjang. (Yoga)


Tags :
#Beras
Download Aplikasi Labirin :