Biaya Konversi Jadi Kendala
Tenaga Ahli ESDM Bidang Ketenagalistrikan Sripeni Inten Cahyani, di sela-sela pembukaan Indonesia Electric Motor Show atau IEMS 2022, di Jakarta, Rabu (28/9) mengatakan, Kementerian ESDM mendorong pengembangan semua jenis kendaraan listrik. Namun, yang akan difokuskan saat ini adalah sepeda motor karena jumlahnya yang banyak. Hanya, tingginya biaya yang dikeluarkan masih menjadi penghambat daya tarik konversi. Konversi sepeda motor dari mesin ber-BBM ke listrik telah dimulai sejak 2021. Pada 2022, jumlah konversi masih kurang dari 1.000 unit dan pada 2023, konversi ditargetkan mencapai sedikitnya 10.000 unit. Upaya percepatan itu dilakukan dengan sistem batch atau mengumpulkan kendaraan-kendaraan roda dua yang berusia di atas tujuh tahun di satu tempat untuk diperiksa bersama, lalu dikonversi ke listrik di bengkel. Menurut dia, kementerian/lembaga akan berkoordinasi dalam program tersebut. Dengan demikian, selain di bengkel-bengkel yang sudah siap dan tersertifikasi, konversi ke listrik menurut rencana juga akan memanfaatkan balai latihan kerja (BLK). Nantinya, bengkel konversi yang sudah bersertifikat akan menyupervisi bengkel-bengkel yang belum bersertifikat. Kendati demikian, imbuh Sripeni, masih ada kendala untuk membujuk masyarakat agar mau mengonversi sepeda motor BBM menjadi listrik. ”Sebab, persoalannya hanya satu, harga. Masyarakat mau-nya di angka Rp 7 juta untuk konversi, setelah itu mereka hanya keluarkan sekitar Rp 100.000 per bulan (listrik). Namun, harga (konversi) sekarang masih Rp 13 juta,” ujarnya. (Yoga)
Tags :
#ListrikPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023