;

Analgesik dalam Problem Pangan

Lingkungan Hidup Yoga 14 Apr 2022 Kompas
Analgesik dalam Problem Pangan

Pulihnya permintaan warga dunia, setelah 2 tahun dihantam Covid-19, mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas perdagangan. Tak terkecuali pangan. Situasi geopolitik yang memanas seiring konflik Rusia-Ukraina menambah kompleks problem perdagangan. Situasi ini mengingatkan lagi soal pentingnya mengelola dan mengupayakan kemandirian pangan di dalam negeri. Tata kelola pangan masih menjadi problem yang belum usai dibenahi di dalam negeri, penanganannya kerap kali setengah hati, reaktif setiap gejolak muncul. Ibarat sakit yang diredam dengan analgesik atau obat pereda nyeri. Masalah tertangani dalam jangka pendek, tetapi sumbernya belum tersentuh sehingga ”penyakit” kambuh lagi di kemudian hari. Gejolak kedelai, misalnya, berulang setiap harganya melonjak tinggi. Tingginya ketergantungan Indonesia pada kedelai impor membuat produsen tempe dan tahu menjerit setiap harga kedelai naik. Situasi itu berulang pada awal 2022. Para produsen tahu-tempe sampai mogok produksi beberapa hari. Faktor cuaca, China yang memborong kedelai untuk industri ternak, dan ketegangan Rusia-Ukraina mendongkrak harga kedelai. Kedelai dari Amerika Serikat dan Brasil, 2 produsen kedelai terbesar, menjadi rebutan. Situasi itu sejatinya membuka peluang bagi kedelai lokal. Sayanganya, saat dibutuhkan, barangnya tidak ada.

Tiga tahun terakhir, produksi kedelai dalam negeri terus menurun, dari 424.190 ton di tahun 2019, menjadi 290.250 ton tahun 2020, dan 215.000 ton pada 2021. Selain kalah kompetitif dibandingkan dengan kedelai impor, kedelai lokal juga harus bersaing dengan tanaman palawija lain. Apalagi, selama ini, sebagian besar kedelai ditanam di lahan yang sama dengan padi atau jagung. Rendahnya harga dan ketiadaan insentif membuat petani meninggalkan kedelai. Menurut Survei Panel Petani Nasional 2021, dalam analisis kelayakan usaha tani kedelai dilahan sawah tadah hujan, kedelai hanya Rp 1,23 juta atau terendah dibandingkan dengan pendapatan dari komoditas lain, seperti jagung Rp 4,19 juta, kacang tanah Rp 4,21 juta, atau kacang hijau Rp 1,88 juta. Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, misalnya, menargetkan produksi 1 juta ton kedelai tahun ini, dengan melibatkan pihak penyerap atau off-taker sebagai avalis (penjamin) kredit usaha bagi petani. Namun, tata kelola kedelai tak hanya soal produksi. Sebab, tak berkembangnya kedelai lokal juga koheren dengan masifnya kedelai impor. Selain kedelai, harga daging sapi juga bergejolak seiring meningkatnya harga sapi bakalan impor dari Australia. Para pedagang pasar sempat mogok berjualan karena pembeli turun ketika harga daging sapi melonjak hingga Rp 145.000 per kilogram. Pemerintah merespons situasi itu dengan mobilisasi sapi lokal dari sentra produksi ke sentra konsumen terbesar, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Namun, respons itu sejatinya hanya ”obat pereda nyeri” yang membutuhkan langka jangka panjang. Harapannya, gejolak serupa dapat ditekan di kemudian hari. (Yoga)


Tags :
#Pangan
Download Aplikasi Labirin :