;
Tags

Teknologi Informasi

( 850 )

Media Negara dan Kedaulatan Komunikasi

KT3 22 Jan 2025 Kompas
Dalam sebuah talkshow Menyongsong Indonesia Maju di TVRI Sumatera Selatan belum lama ini, anggota DPR, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menyampaikan gagasan soal penggabungan RRI, TVRI, dan Antara jadi sebuah institusi media negara yang komunikatif, efisien, dan efektif. Media Negara dan Kedaulatan Komunikasi Ia menyebut BBC (British Broadcasting Corporation) di Inggris sebagai rujukan satu sumber tepercaya dalam pencarian informasi. Sebenarnya wacana penggabungan RRI dan TVRI sudah masuk dalam Rancangan Undang-Undang Radio Televisi Republik Indonesia (RTRI) yang menjadi usul inisiatif DPR sejak 2012, dan pada 2015 masuk daftar Prioritas Program Legislasi Nasional DPR periode 2014-2019. Namun, sampai hari ini pembahasan masih berjalan di tempat. Indonesia sudah ketinggalan dari negara-negara lain. Kita masih memaknai penyiaran sebagai metode penyiaran terestrial melalui pemancar televisi(TV) atau radio saja. Sementara jika kita melihat di luar, broadcasting menjadi salah satu elemen multiplatform yang ter integrasi dalam konvergensi media.

Semua ini menyatukan 3 C—computing, communication, dan content-aspek informasi komputer, jejaring telekomunikasi, dan penyedia konten (termasuk televisi, penerbit berita, radio, musik, film, dan hiburan). Penggabungan TV, radio, dan internet sekaligus merupakan sebuah keniscayaan seperti di banyak negara lain yang memiliki public service media (PSM). Beberapa dari PSM ini sekaligus menjadi media negara, seperti BBC Inggris, DW (Deutsche Well) Jerman, TRT (Türkiye Radyo ve Televizyon Kurumu) Turki, atau RTTL (Radio-Televisão Timor Leste) Timor Leste. Dengan adanya perluasan definisi penyiaran, media apa pun, baik itu TV, radio, maupun media digital, memiliki tugas utama untuk inform, educate, entertain (menginformasi, mendidik, dan menghibur) yang menjadi rangkaian prinsip BBC yang didirikan tahun 1922. Karena itu, PSM merupakan organisasi media multiplatform milik publik yang menyediakan berita, hiburan, dan pendidikan yang relevan dan tak memihak kepada audiensnya.

Dalam konteks inilah, TV publik harus menjadi ajang percakapan semua lapisan masyarakat sehingga semua pihak tergerak untuk memecahkan persoalan sehari-hari. Jika kita mengacu pada BBC, mereka setiap pagi memiliki program BBC Breakfast yang selain berita rutin, juga membahas kebijakan pelayanan publik dan mitigasi problem sosial. Yang menarik, dalam jurnal yang dirilis Statista, 29 Juli 2024, di Amerika, ternyata BBC masih menguasai 33 persen dari seluruh khalayak pemirsa TV di Inggris. PSM harus bisa menciptakan inovasi yang membedakan dengan media komersial lain, misalnya dalam mengedukasi publik melalui program pendidikan di mana TV swasta enggan melakukan hal ini karena kurang menguntungkan secara komersial. Sebagai contoh, inovasi oleh VRT (Vlaamse Radio-en Televisieomroepor- ganisati), TV publik di Belgia yang meluncurkan EDUbox, konsep pendididkan inovatif pelajar kelas menengah. (Yoga)


Sorotan terhadap Coretax System: Harapan dan Tantangan

HR1 20 Jan 2025 Kontan
Peluncuran sistem Coretax DJP senilai Rp 1,2 triliun yang dirancang oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada awal 2025 untuk mendukung pelaporan pajak elektronik menuai banyak kritik akibat berbagai masalah teknis. Banyak wajib pajak melaporkan kendala seperti faktur pajak yang tidak dapat diproses, pesan error saat pengisian data, dan keterlambatan operasional. Di media sosial, sejumlah pengguna mengungkapkan pengalaman mereka, meskipun sebagian mencatat adanya perbaikan.

Ekonom Celios, Nailul Huda, mengkritik pemerintah karena dinilai terlalu tergesa-gesa meluncurkan Coretax tanpa pengujian sistem yang memadai. Ia bahkan menyarankan agar Dirjen Pajak mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kegagalan sistem yang menggunakan dana publik besar. Selain itu, ia menyoroti perlunya evaluasi terhadap kinerja Menteri Keuangan Sri Mulyani di 100 hari pertama pemerintahan Prabowo-Gibran.

Meski demikian, Pino Siddharta, Ketua Departemen Penelitian dan Pengkajian Kebijakan Fiskal IKPI, mengakui adanya perbaikan signifikan sejak awal penerapan Coretax. Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, meminta publik untuk bersabar dan memberi waktu tiga hingga empat bulan agar sistem dapat berfungsi optimal.

Permasalahan Coretax menunjukkan tantangan dalam implementasi sistem teknologi besar dan menggarisbawahi pentingnya pengujian dan kesiapan yang matang sebelum peluncuran layanan berbasis digital.

Presiden Dukung Proyeksi Pembatasan Akses Media Sosial

HR1 16 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Presiden Prabowo Subianto mendukung rencana pembatasan penggunaan media sosial untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun. Pembatasan ini meliputi larangan akses terhadap platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan bahwa kebijakan ini mendapat sinyal positif dari Presiden, yang sangat peduli dengan menciptakan ruang digital yang sehat untuk pendidikan anak-anak.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang mengkaji penerapan kebijakan tersebut, dengan mempertimbangkan baik sisi positif maupun negatif media sosial bagi anak-anak. Nezar mengimbau agar orang tua aktif mengawasi penggunaan media sosial anak-anak mereka. Saat ini, pemerintah sedang berdiskusi dengan berbagai pihak terkait untuk merumuskan kebijakan yang melibatkan perlindungan perempuan dan anak.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, juga mengungkapkan bahwa pembatasan media sosial sesuai usia seperti yang diterapkan di Australia sedang dipertimbangkan di Indonesia. Tujuannya adalah untuk melindungi anak-anak di era digital, sambil terus memperkuat kajian perlindungan anak dan melibatkan DPR dalam pembuatan aturan yang lebih ajeg.



Rencana Hentikan Cek Fakta Meta Picu Kekhawatiran Banyak Pihak

KT3 14 Jan 2025 Kompas (H)
Sejumlah pihak mengkhawatirkan rencana Meta, perusahaan induk berbagai platform media sosial, untuk menghentikan program cek fakta. Rencana ini berpotensi memperluas penyebaran misinformasi di ruang digital. Meta yang membawahkan Facebook, Instagram, Whatsapp, dan Threads berencana mengganti cek fakta dengan sistem catatan komunitas, seperti yang diterapkan di media sosial X. Meta menyebut pihaknya ingin kembali ke komitmen dasar dalam mendukung kebebasan berekspresi. Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) menyebut, penghentian program cek fakta tersebut dapat mengancam kebenaran. Platform yang tidak mengutamakan kebenaran dikhawatirkan memperluas penyebaran misinformasi dan ujaran kebencian. Hal ini berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap media sosial dan media berita sebagai sumber informasi. IFJ juga menyinggung Piagam Etika Global untuk Jurnalis yang menyebutkan ”Menghormati fakta dan hak publik atas kebenaran adalah tugas pertama jurnalis. 

Sekretaris Jenderal IFJ Anthony Bellanger mengatakan, kebenaran merupakan landasan jurnalisme. ”Pengumuman (rencana Meta menghentikan cek fakta)ini merupakan pukulan telak bagi ekosistem informasi global. Betapa pun tidak sempurnanya pengecekan fakta, hal itu didasarkan pada prinsip bahwa ada fakta yang dapat diperiksa,” ujarnya, dilansir dari laman IFJ, Senin (13/1/2025). Rencana menghentikan program cek fakta juga akan semakin menyulitkan upaya melawan penyebaran informasi secara daring yang menyesatkan. Selama ini, artikel dan unggahan yang dianggap salah oleh pemeriksa fakta akan ditandai dengan peringatan. Tanda tersebut dapat menjadi catatan bagi pengguna media sosial untuk mewaspadai konten yang tidak sesuai dengan fakta. Namun, jika cek fakta dihapuskan, pengguna media sosial dikhawatirkan akan semakin mudah terpapar informasi yang menyesatkan. Psikolog sosial di Cambridge University, Inggris, Sander van der Linden, mengatakan, pemeriksaan fakta di media sosial telah membantu meyakinkan orang tentang informasi yang benar dan dapat dipercaya. (Yoga)

Pada Tahun 2025 Menjadi Ajang Perlombaan Meta, Apple, Google, dan OpenAI

KT3 28 Dec 2024 Kompas

Pada 2024, perusahaan teknologi global terus berlomba merilis pembaruan kecerdasan buatan dan perangkat keras terbaru. Namun, sejumlah inovasi berbasis kecerdasan buatan yang lebih personal masih belum diungkapkan. Lantas, apa saja rencana mereka untuk tahun 2025? The Financial Times, Senin (23/12/2024), melaporkan, Meta akan menambahkan layar dalam produk kacamata pintarnya, Ray-Ban, pada semester II-2025. Layar itu dapat menampilkan pemberitahuan dan respons dari robot percakapan atau chat bot Meta. Kepala Teknologi Meta Andrew Bosworth mengatakan, pengguna akan menikmati asisten kecerdasan buatan yang dipersonalisasi pada 2025. Asisten ini tidak hanya menanggapi perintah, tetapi juga membantu pengguna sepanjang hari. ”Salah satu hal yang paling saya nantikan tahun 2025 adalah evolusi asisten kecerdasan buatan,” katanya. Perusahaan raksasa teknologi lainnya, yakni Apple, bakal meluncurkan asisten kecerdasan buatan Siri yang juga lebih personal. Waktu peluncuran belum jelas, apakah tahun 2025 atau 2026.

Hanya saja, Business Insider baru-baru ini menuliskan bahwa Apple akan mengumumkan model bahasa besar (large language model/LLM) Siri pada 2025. Hal itu sejalan dengan pemberitaan Bloomberg pada November 2024 yang menuliskan, Apple mengumumkan peluncuran perangkat rumah pintar pada Maret 2025. Perangkat itu diperkirakan menyerupai sabak yang dipasang di dinding dan dapat mengontrol peralatan, mengelola panggilan video, dan menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk mengakses aplikasi. Selain itu, Apple dikabarkan bakal mengumumkan model Iphone Air yang ramping serta versi baru iPhone SE dengan harga lebih terjangkau dan mendukung Apple Intelligence. Dari sisi Google, Business Insider menuliskan, Google telah bermitra dengan Samsung dan Qualcomm. Kemitraan ini untuk mengembangkan proyek teknologi realitas campuran (mixed reality) yang akan dirilis pada platform komputasi spasial Android XR. Proyek yang bakal dirilis pada 2025 itu menawarkan pengalaman pemakaian teknologi mixed reality dan asisten kecerdasan buatan milik Google, yaitu Gemini, secara terintegrasi. (Yoga)

UMKM Perlu Manfaatkan Teknologi AI agar naik kelas

KT3 13 Dec 2024 Kompas

Transformasi digital dibutuhkan untuk mempercepat UMKM naik kelas, dengan memanfaatkan platform digital, mulai dari lokapasar hingga teknologi kecerdasan buatan atau AI. Wakil Menteri UMKM, Helvi Yuni Moriza mengatakan, sektor UMKM memiliki peran yang krusial sekaligus memegang kunci dalam visi Indonesia Emas 2045. Untuk itu, pengembangan UMKM tidak hanya berhenti pada program-program pelatihan, kemitraan, akses pasar, dan akses permodalan. ”Yang harus kita lakukan saat ini, yaitu transformasi digital. Suka atau tidak suka, kita harus memasuki itu karena UMKM adalah fundamental ekonomi Indonesia,” katanya dalam forum diskusi bertajuk ”Menatap Masa Depan: Transformasi dan Peluang UMKM Indonesia”, di Jakarta, Kamis (12/12).

Saat ini, baru 25 juta pelaku UMKM yang telah terhubung dengan ekosistem digital atau 39,81 % dari total UMKM. Padahal, sektor UMKM menjadi salah satu fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dengan jumlah 64,2 juta pelaku UMKM telah berkontribusiterhadap 61 % PDB dan menyerap 97 % tenaga kerja. Menurut Helvi, transformasi UMKM merupakan hal yang penting untuk mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Terdapat empat nilai yang perlu dimiliki agar UMKM dapat bertransformasi, yakni loyalitas, integritas, disiplin, dan inovatif. ”Pelaku usaha dituntut untuk terus berinovasi terhadap produk atau diversifikasi produk. Inovasi akan membuat UMKM dapat merespons perubahan dan persaingan pasar sehingga menjadi bisnis yang tangguh. Tidak bisa lagi menggunakan cara konvensional dalam menentukan perencanaan, proses bisnis, dan antisipasi pasar,” tuturnya. (Yoga)


Adaptasi Pekerja di Industri Teknologi yang Terus Terdisrupsi

KT3 12 Dec 2024 Kompas

Berdasarkan pengalaman Tiktok GM Content Operation Southeast Asia, Angga Anugerah Putra, bekerja di mana pun, apalagi di industri teknologi yang perubahannya cepat, sikap dan mentalitas utama yang harus dimiliki oleh pekerja adalah always day one. Ini adalah kemampuan untuk selalu siap menyesuaikan dan bergerak lincah. ”(Perubahan) industri berjalan cepat. Cepat sekali. Kalau tidak agile akan ketinggalan,” ucapnya, Selasa, di Jakarta. Tren konten dan produk budaya apa pun yang terjadi bulan sekarang mungkin tidak pernah ada pada bulan berikutnya. Ketika mendapatkan tantangan baru, ada kemungkinan membuka sesuatu penemuan baru.

Sebelum menjabat GM Content Operation Southeast Asia, Angga mengawali kariernya di bidang penjualan di majalah milik salah satu grup perusahaan media nasional di Jakarta, dia sempat bergeser mengerjakan urusan komunikasi marketing. Di tempat kerja itu, dia bekerja dari 2009 hingga 2017. Selama periode dia bekerja di sana, adopsi media sosial mulai booming di Indonesia. Konten media sosial yang berbentuk video pun mulai memikat masyarakat sehingga lahirlah generasi kreator video awal, seperti SkinnyIndonesia24, Fathia Izzati, Reza Arap, dan Eka Gustiwana. Kala itu, dia melihat berbagai platform tersebut saling melengkapi.

Majalah yang berbasis teks memberikan kedalaman, sedangkan media sosial menyediakan kebaruan informasi. Dari terpapar dunia video media sosial, Angga menemukan perjalanan kariernya sampai sekarang. Setelah memutuskan mengundurkan diri dari grup perusahaan media nasional itu, pijakan pertama yang dia pilih langsung berkarier di industri yang tidak jauh dari konten kreatif, seperti video. Selama setahun dia bekerja di FamousID Network (MCN), perusahaan memberdayakan kreator, menciptakan koneksi, dan membantu merek untuk membuat kampanye video yang sukses.

Periode 2017-an, ekosistem media sosial beserta pendukungnya mulai terbentuk. Saat itulah dia langsung  berpikir sepertinya video akan menjadi industri masa depan. ”Konsisten untuk selalu memberikan kerja terbaik (trying out my best) dan konsisten untuk selalu mau bertumbuh. Kalau saya refleksi ke diri saya mengapa sampai Tiktok memercayakan posisi ini, mungkin karena saya dan tim di Indonesia melakukan pekerjaan dengan usaha terbaik,” katanya. Konsistensi mengusahakan yang terbaik dalam pekerjaan, meski di tengah perusahaan industri yang cepat, pada akhirnya akan membuka peluang baru bagi pekerja. (Yoga)  


Terobosan Bisnis Kecerdasan Buatan dan Meta AI

KT3 09 Dec 2024 Kompas

Sesuai namanya, Meta AI adalah fitur simulasi percakapan atau chatbot yang berbasis teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Fitur chatbot ini tak hanya mampu menjawab pertanyaan dari pengguna, tetapi juga bisa membantu pengguna menghasilkan (generate) gambar ilustrasi sesuai dengan permintaan pengguna. Melansir dari blog resmi Whatsapp, Sabtu (7/12) sejumlah pembaruan yang dilakukan pada fitur Meta AI telah meningkatkan kualitas percakapan serta makin memudahkan pengguna mengeksplorasi berbagai ide untuk mendukung produktivitas.

”Kami mengumumkan serangkaian pembaruan terkini yang memungkinkan Anda untuk berbicara dengan Meta AI secara real time (langsung). Pembaruan ini akan memudahkan lebih banyak orang mengeksplorasi ide, meningkatkan kualitas chat, dan mencoba hal-hal baru,” tulis Whatsapp di blog resmi mereka. Meta AI dalam layanan Whatsapp sudah dikenalkan oleh induk perusahaan Meta Platforms Inc sejak April 2024. Namun, saat itu layanan terbatas tersedia di AS, Australia, Kanada, Ghana, India, Jamaika, Malawi, Selan-dia Baru, Nigeria, Pakistan, Singapura, Afrika Selatan, Uganda, Zambia, dan Zimbabwe.

Terdapat sejumlah fitur yang ditawarkan Meta AI dalam Whatsapp, utamanya adalah fitur ”pencarian atau Tanya Meta AI”. Dengan fitur ini, pengguna bisa berbicara dengan chatbot Meta AI dan mendapat balasan yang relevan. Lewat fitur ini, pengguna dapat mengirimkan gambar/foto ke Meta AI untuk mencari informasi terkait. Fitur lain yang ditawarkan adalah pembuatan gambar dan video dalam sekejap. Lewat fitur ini, pengguna dapat meminta Meta AI membuat visual unik, baik dalam bentuk gambar atau video, sesuai deskripsi dan keinginan yang disampaikan pengguna. (Yoga)


Kurangnya SDM yang Berkualitas

KT1 02 Dec 2024 Investor Daily
Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dinilai salah satu kendala utama yang menyebabkan rendahnya minat investasi teknologi tinggi di Indonesia, selain masalah perizinan, kepastian hukum, serta ekosistem dan infratrstuktur pendukung. Akibanya, meski banyak investor berteknologi tinggi awalnya melirik Indonesia sebagai tujuan investasi mereka, namun negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam justri akhirnya mereka pilih. Menyadari kondisi tersebut, pemerintah mengaku sudah menyiapkan sejumlah langkah guna menyelesaikan 'pekerjaan rumah' (PR) itu, salah satunya dengan menggencarkan pendidikan vokasi. Bahkan, hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang Cipta Kerja termasuk sokongan insentif dari pemerintah. Tak hanya melibatkan kesesuaian lulusan dengan kebutuhan dunia usaha, pendidikan vokasi juga didorong menerapkan standar yang baik dan benar. "Betul, SDM ini menjadi salah satu kendala kita dan kita harus melakukan upskiling terhadap SDM kita melalui pendidikan vokasi," ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Reoslani. (Yetede)

Platform Media Sosial dihukum penggunanya

KT3 19 Nov 2024 Kompas

Orang beramai-ramai menghukum platform media sosial begitu mereka menilai tata kelolanya tidak benar. Situs media sosial Bluesky telah menggaet 1 juta pengguna baru dalam sepekan sejak pemilu AS, seiring makin banyaknya pengguna yang meninggalkan X, media sosial milik Elon Musk, yang dulu bernama Twitter. Sejumlah pengguna X meninggalkan platform tersebut karena menilai media sosial itu terlalu banyak berisi ujaran kebencian, disinformasi, dan misinformasi. Pelantar X juga dikhawatirkan rentan bias politik sebab Musk kini bergabung di kabinet presiden terpilih AS Donald Trump. Pada Rabu (13/11). Bluesky mengumumkan total penggunanya melonjak menjadi 15 juta akun, naik dari 13 juta akun pada akhir Oktober 2024 (Kompas.id, 17/11/2024).

Trump yang kalah tahun 2020 juga melakukan langkah serupa. Karena Twitter (yang kemudian menjadi X) menggembok akun Trump karena berkali-kali mengeluarkan ujaran kebencian, Trump kemudian mengajak pendukungnya pindah ke media sosial bernama Truth Social. Sikap emosional para pendukung sosok atau partai politik tertentu hanya karena calonnya kalah atau diperlakukan tidak pas oleh perusahaan media sosial ternyata tidak cukup menewaskan platform. Sikap mereka itu hanya sementara. Dalam kasus terakhir, masalahnya berbeda. Para pengkritik X menyatakan menutup akun mereka dan pindah ke Bluesky karena ada alasan etis dan mereka juga mempertanyakan tata kelola media sosial tersebut. Mereka melakukan langkah itu dengan alasan kuat, bukan karena sikap emosional semata. Sejumlah media melakukan penutupan dengan alasan X telah berpihak dan tak berusaha menekan ujaran kebencian.

Sementara itu, Bluesky mengatakan mendapat tambahan pengguna sebanyak 1 juta di tengah keriuhan pilpres AS. Pengguna media sosial ini juga bertambah karena kasus di Brasil. Pengguna aktif X juga mengalami penurunan sekitar 5 juta. Meski demikian, semua kehebohan ini belum tentu mematikan X dan kemudian memunculkan Bluesky sebagai pemenang. Perkiraan bahwa mereka akan terdampak signifikan masih terlalu jauh. Masalah pokok mereka adalah aspek bisnis di kedua platform. Sejauh ini bisnis keduanya belum menunjukkan keuntungan. Ketika masih bernama Twitter dan kemudian dibeli Elon Musk, platform tersebut masih merugi. Kini, X juga masih sulit meyakinkan pengiklan karena banyak merek yang tidak lagi beriklan di X karena alasan etis. Merek mereka tidak mau berada di ruang siber yang tidak aman. Di sisi lain, Bluesky masih jauh dari laba karena sibuk menaikkan jumlah pengguna. (Yoga)