;
Tags

Perdagangan

( 594 )

Kadin Menangkap Banyak Peluang Dagang Antara Indonesia dan Amerika Serikat

KT1 13 May 2025 Investor Daily
Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menangkap banyak peluang dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) saat melakukan kunjungan ke Negeri Paman Sam dan bertemu dengan banyak pengusaha di sana. Dengan peluang  yang ada, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, nilai perdagangan Indonesia -AS dapat menembus angka US$ 80 miliatr atau dua kali lipat setelah proses negosiasi tarif resiprokal. "Prediksi kami di Kadin, kalau antara ekspor dan impor (Indonesia-AS) itu US$ 39-40 miliar kurang lebih. Dalam waktu 2-3 tahun, bisa menjadi US$ 120 miliar. Kalau misalnya kita menyiasati benar," kata dia. Pria yang akrab dipanggil Anin ini merinci Presiden AS Donald Trump memegang data yang mencatatkan nilai ekspor Indonesia ke AS sekitar US$ 25 miliar dan impor US$ 13 miliar. Dengan demikian, total nilai perdagangan  kedua negara saat ini sekitar US$ 40 miliar. Dia menerangkan, surplus perdagangan Indonesia terhadap AS yang sekitar US$ 18 miliar dolar AS rencananya akan diseimbangkan. Hal ini terkait negosiasi tarif yang dibuka oleh AS dengan permintaan nilai ekspor-impor Indonesia-AS menjadi setara. Sehingga, total perdagangan kedua negara diprediksi naik menjadi US$ 58 miliar atau hampir US$ 60 miliar. (Yetede)

Pentingnya menyelaraskan Deregulasi dan Proteksi

KT3 13 May 2025 Kompas

Kunjungan Kadin Indonesia ke AS membuka peluang kerja sama perdagangan yang lebih luas di sektor alas kaki, garmen, elektronik, kedelai, susu, daging, hingga mineral kritis. untuk merealisasikan peluang tersebut, diperlukan deregulasi guna mengatasi hambatan nontarif. Di sisi lain, perlindungan terhadap industri dalam negeri dari serbuan produk impor juga menjadi perhatian penting. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menjelaskan, kunjungan kerja Kadin Indonesia ke AS bertujuan untuk memperkuat hubungan dagang, menarik investasi, dan membangun kolaborasi di sektor energi, khususnya transisi energi dan pengembangan mineral kritis. Dalam serangkaian pertemuan dengan sejumlah organisasi di AS, Anindya menegaskan komitmen dunia usaha Indonesia untuk menjalin kemitraan yang saling menguntungkan.

Ia menekankan pentingnya perdagangan yang adil, kesepakatan tarif yang setara, dan penciptaan iklim usaha yang mendukung. Pelaku usaha di AS dan US Chamber of Commerce cenderung menolak kebijakan tarif Trump karena dinilai dapat memicu inflasi dan memperbesar risiko resesi. Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan AS sebesar 18 miliar USD. Karena itu, selain menjaga keseimbangan neraca perdagangan, perlu juga upaya memperluas volume perdagangan secara menyeluruh. ”Target kami tidak hanya menyeimbangkan neraca perdagangan. Kami ingin meningkatkan total perdagangan dua arah dari 40 miliar USD saat ini menjadi 80 miliar USD dalam 2–3 tahun ke depan. Jika dikelola dengan tepat, angkanya bahkan bisa menembus 120 miliar USD dalam empat tahun,” ujar Anindya dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/5). (Yoga)


Langkah Baru Dorong Aktivitas Perdagangan

HR1 09 May 2025 Bisnis Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan tajam sebesar 1,42% ke level 6.827,75 setelah mengalami reli panjang pasca-Lebaran April 2025. Pelemahan ini terjadi meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja mengumumkan pembukaan pendaftaran liquidity provider serta menerbitkan dasar hukum terkait kegiatan tersebut melalui Peraturan Bursa Nomor II-Q dan III-Q yang mulai berlaku sejak 8 Mei 2025.

Para pelaku pasar dan pengamat menilai koreksi IHSG ini wajar dan menandakan tekanan pasar yang belum sepenuhnya reda. Presiden Direktur Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Eric K.H. Nam, menilai kondisi pasar saat ini belum ideal, namun tetap optimistis IHSG tidak akan turun signifikan tahun ini, dengan target kisaran antara akhir 6.000 hingga awal 7.000. Sementara itu, Presiden Direktur Ciptadana Sekuritas, John Herry Teja, juga menyampaikan pandangan optimistis, terutama jika Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin di kuartal II dan III 2025, yang dapat menjadi bantalan bagi IHSG.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memandang koreksi IHSG sebagai sesuatu yang wajar setelah kenaikan yang cukup panjang. Ia mengingatkan bahwa koreksi ideal sebaiknya tidak menembus level 6.700-6.650 agar peluang menembus 7.000 atau lebih tetap terbuka. Nico juga menggarisbawahi risiko global yang masih membayangi, seperti ketegangan antara Pakistan dan India serta eskalasi perang tarif antara AS dan China, yang menjadi faktor penting bagi sentimen pasar.

Di tengah volatilitas global, langkah-langkah strategis BEI seperti pembelian saham kembali (buyback) tanpa RUPS, insentif untuk liquidity provider, dan rencana pembukaan kode domisili investor diniilai dapat membantu memulihkan minat dan partisipasi pasar saham.


Upaya Menstabilkan Harga di Pasar Domestik

HR1 08 May 2025 Bisnis Indonesia
Industri nikel nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga nikel global, terutama dipicu oleh melemahnya industri stainless steel di Tiongkok, yang selama ini menjadi pasar utama nikel Indonesia. Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), menyatakan bahwa penurunan permintaan ini membuat pelaku industri harus fokus pada efisiensi biaya agar tetap bisa bertahan, meskipun biaya operasional terus meningkat.

Hendra juga mendesak pemerintah untuk meninjau kembali sejumlah regulasi yang dianggap membebani, seperti kewajiban retensi Dana Hasil Ekspor (DHE) dan kenaikan tarif royalti nikel melalui PP No. 19/2025, yang memperbesar beban pelaku usaha ketika harga nikel sedang lemah.

Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian ESDM melalui Tri Winarno, Dirjen Mineral dan Batubara, menyatakan bahwa pemerintah telah menyusun strategi stabilisasi harga berdasarkan hasil FGD dengan Universitas Gadjah Mada. Langkah-langkah yang akan ditempuh termasuk perencanaan produksi nasional, evaluasi RKAB, penerapan good mining practice, serta penetapan harga patokan mineral (HPM) sebagai batas bawah penjualan.

Sementara itu, Irwandy Arif, Ketua Indonesia Mining Institute, mengingatkan pentingnya pengendalian produksi nikel untuk menjaga keseimbangan antara suplai dan permintaan. Ia menekankan bahwa evaluasi RKAB dan revisi terhadap tarif royalti harus dilakukan segera agar tidak memperburuk kondisi industri yang sudah tertekan.

Nasib RI di Tengah Perang Otomotif

KT3 06 May 2025 Kompas

Kebijakan Trump yang ingin memperkuat industri manufaktur membuat produsen mobil asing harus mendirikan pabriknya di AS dan menggunakan konten lokal AS. Proklamasi itu mengubah tarif terhadap mobil dan suku cadang dengan mendorong produsen merakit mobil di AS. Lewat kebijakan itu, semua impor mobil dikenai tarif 25 %. Meski begitu, jika produsen membuat mobil di AS dengan 85 % konten AS, produsen itu tidak dikenai tarif atas produksi kendaraan untuk tahun pertama. Selanjutnya, jika produsen membuat mobil di AS dengan 50 % konten lokal berasal dari AS dan 50 % diimpor dari tempat lain, produsen hanya membayar 35 % untuk tahun pertama.

Sejumlah ekonom menilai, tarif Trump itu dapat menyebabkan produksi otomotif AS lebih tinggi dalam jangka panjang. Namun, kebijakan itu menyakitkan bagi konsumen AS dan ekonomi untuk jangka pendek. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin Minggu (4/50, menilai tarif Trump akan membuat harga mobil impor di AS meningkat sehingga mengurangi permintaan mobil. Trump berharap produsen AS bisa melihat ini sebagai peluang untuk meningkatkan produksi. Indonesia tidak akan terlalu terdampak langsung karena pasar otomotif di AS dan di Indonesia sangat berbeda. Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu menuturkan, tarif Trump tetap perlu diperhatikan karena adanya gangguan rantai pasok global dan risiko perang dagang yang dapat mengurangi permintaan produk komponen mobil Indonesia di pasar AS.

Berkurangnya permintaan itu akibat semakin tinggi biaya yang harus dibayarkan para importir suku cadang tersebut di AS. Di sisi lain, tarif Trump itu akan membuka peluang hilirisasi industri lokal Indonesia, terutama ban dan bagian komponen lainnya untuk meningkatkan nilai tambah. Celah ini harus dilihat sebagai peluang oleh Indonesia karena industri mobil Jepang dan Korsel di pasar AS memerlukan komponen elektrik dan transmisi dari Thailand dan Vietnam yang akan merasakan dampak ganda karena tarif tinggi dari AS. ”Peluang ekspor ke AS tetap terbuka jika Indonesia mampu bersaing dengan kualitas dan harga dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam,” katanya. (Yoga)


Sektor Pertanian Muncul Sebagai Jawara Baru Sumber Pertumbuhan

KT1 06 May 2025 Investor Daily (H)

Sektor pertanian muncul sebagai 'jawara' baru sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut lapangan Indonesia. Dari total pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2025 yang tercatat 4,87% secara yoy, sebanyak 1,11% poin dikontribusikan oleh sektor pertanian, baru kemudian disusul industri pengolahan (0,93%), perdagangan (0,66%), serta informasi dan komunikasi/infokom (53%).  Sumbangan terbesar sektor pertanian ke laju pertumbuhan ekonomi itu diberikan seiring dengan sektor yang mengontribusi nominal produk domsetik bruto (PDB) hingga 12,66% itu tumbuh sebesar 10,52% (yoy) pada kuartal 1-2025. Pertumbuhan sektor pertanian yang mengalahkan sektor utama lain seperti industri pengolahan dan perdagangan itu ditopang oleh panen raya padi dan jagung.

Selain panen raya pangan, sektor pertanian yang tumbuh tinggi juga didorong oleh peningkat permintaan domestik, Pada kuartal 1-2025, subsektro tanaman pangan tumbuh hingga 42,26% (yoy) pada periode itu, produksi pada melonjak hingga 51,45% dan jagung 39,02%. Sedangkan subsektor peternakan tumbuh 8,83% sejalan dengan peningkatan permintaan domestik daging dan telur selama Ramadhan dan Idul Fitri. Setidaknya sejak tahun 2022, pertumbuhan sektor pertanian yang juga meliuti kehutanan, perikanan, dan peternakan tidak melampaui angka 4,51%. Sedangkan  pada kuartal 1V-2024, kontribusi sektor pertanian ke pertumbuhan ekonomi tercatat hanya sebesar 0,07% poin dari total pertumbuhan 5,02% dan pada kuartal 1-2024 kontribusinya bahkan -0,41% dari total pertumbuhan 5,11%. (Yetede)

Merancang Arah Kebijakan Ekonomi di Tengah Gejolak Global

HR1 06 May 2025 Bisnis Indonesia
Di tengah meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang ekonomi yang signifikan. Aksi saling balas tarif antara dua kekuatan global itu telah mendorong pergeseran arus perdagangan dan investasi ke kawasan Asia Tenggara, menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi potensial.

Meski Presiden Xi Jinping tidak menyertakan Indonesia dalam kunjungannya ke beberapa negara ASEAN baru-baru ini, hal itu dinilai bukan penolakan diplomatik, melainkan karena hubungan bilateral Indonesia–China telah terjalin erat dan stabil.

Di dalam negeri, pemerintah merespons lonjakan barang impor dari China akibat redireksi pasar dengan menerapkan bea masuk tambahan seperti BMTP dan BMAD untuk melindungi sektor industri dalam negeri, terutama tekstil. Namun, di sisi lain, Indonesia juga berhasil menarik investasi manufaktur dari China, seperti pembangunan pabrik tekstil besar di Jawa Barat yang akan menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Tokoh penting seperti Pratama Persada (CISSREC) sebelumnya menyoroti pentingnya keamanan data dalam konteks digitalisasi, namun dalam konteks artikel ini, fokusnya lebih pada strategi ekonomi nasional. Pemerintah, melalui kebijakan penghiliran industri yang dipimpin oleh Presiden dan jajarannya, berhasil mendorong peningkatan ekspor produk olahan seperti nikel dan kelapa sawit, yang terbukti lebih tahan terhadap guncangan global.

Namun demikian, agar tidak tertinggal dari negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia, Indonesia harus segera menyederhanakan regulasi investasi, memperkuat kepastian hukum, dan menyesuaikan pembangunan infrastruktur dengan kebutuhan rantai pasok global. Dalam kondisi global yang semakin kompetitif, arah kebijakan jangka panjang seperti penguatan industri berbasis inovasi dan reformasi struktural menjadi sangat krusial untuk meningkatkan daya saing nasional.

Kinerja Manufaktur Lunglai setelah Lebaran

KT1 05 May 2025 Investor Daily
Setelah mencatatkan laju positif selama 4 bulan berturut-turut, kinerja manufaktur justru lunglai pada April. Hal ini terlihat dari merosotnya Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur  Indonesia pada April 2025, yang berada di level 46,7 atau berada di fase kontraksi (di bawah poin 50), sesuai hasil laporan S&P Global. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menerangkan, kontraksi kinerja manufaktur secara tidak langsung dikontribusikan oleh kebijakan tarif AS dan dampaknya terhadap nilai tukar.  "Ini menyebabkan cost push inflation di sisi impor bahan baku/penolong sektor manufaktur, dan menurunkan confidence konsumsi di pasar global yang mempengaruhi demand ekspor Indonesia," terang Shinta kepada Investor Daily. Dia menambahkan, terjadinya koreksi dan normalisasi dalam hal ini penurunan demand pasar domestik pasca periode Ramadhan-Lebaran juga memberikan pengaruh yang besar. "Apalagi inflasi di Maret hanya 1,03% (yoy) atau di bawah target inflasi nasional," kata Sintha. Keseluruhan faktor ini menyebabkan rendahnya confidence di sisi pelaku usaha sektor manufaktur untuk melakukan ekpansi kerja. "Selain beban produksi yang meningkat, demand di pasar dalam dan luar negeri juga terjadi sluggish," imbuh dia. (Yetede)

Kinerja Manufaktur Lunglai setelah Lebaran

KT1 05 May 2025 Investor Daily
Setelah mencatatkan laju positif selama 4 bulan berturut-turut, kinerja manufaktur justru lunglai pada April. Hal ini terlihat dari merosotnya Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur  Indonesia pada April 2025, yang berada di level 46,7 atau berada di fase kontraksi (di bawah poin 50), sesuai hasil laporan S&P Global. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menerangkan, kontraksi kinerja manufaktur secara tidak langsung dikontribusikan oleh kebijakan tarif AS dan dampaknya terhadap nilai tukar.  "Ini menyebabkan cost push inflation di sisi impor bahan baku/penolong sektor manufaktur, dan menurunkan confidence konsumsi di pasar global yang mempengaruhi demand ekspor Indonesia," terang Shinta kepada Investor Daily. Dia menambahkan, terjadinya koreksi dan normalisasi dalam hal ini penurunan demand pasar domestik pasca periode Ramadhan-Lebaran juga memberikan pengaruh yang besar. "Apalagi inflasi di Maret hanya 1,03% (yoy) atau di bawah target inflasi nasional," kata Sintha. Keseluruhan faktor ini menyebabkan rendahnya confidence di sisi pelaku usaha sektor manufaktur untuk melakukan ekpansi kerja. "Selain beban produksi yang meningkat, demand di pasar dalam dan luar negeri juga terjadi sluggish," imbuh dia. (Yetede)

Strategi Ekspor Jawa Barat Hadapi Gejolak Global

HR1 05 May 2025 Bisnis Indonesia
Kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan dampak signifikan terhadap sektor ekspor Indonesia, khususnya kopi asal Jawa Barat. Rani Mayasari, perintis Java Halu Coffee, mengungkapkan bahwa ekspor kopi ke AS tertahan di tengah panen raya, membuat UMKM seperti miliknya kesulitan menyerap hasil panen petani. Penurunan daya beli domestik dan perubahan iklim turut memperburuk situasi, meski Rani tetap berupaya menjalin pasar baru seperti Jepang dan Eropa.

Muslimin Anwar, Deputi Kepala BI Jabar, menyarankan strategi diversifikasi pasar ekspor dan inovasi produk sebagai kunci menghadapi tarif hingga 32%, sementara Nining Yuliastiani dari Disperindag Jabar optimistis bahwa pelaku usaha dapat beradaptasi dengan peluang ekspor baru melalui inovasi, promosi, dan pendampingan.

Di sisi lain, Khairul Mahalli, Ketua Umum GPEI, mendorong peran aktif duta besar dalam memasarkan produk lokal di luar negeri, sementara Iwa Koswara dari APKB menyoroti dampak tarif terhadap industri garmen, yang menyebabkan PHK massal, serta mendesak penguatan infrastruktur logistik di Jawa Barat seperti pelabuhan laut dan Bandara Kertajati. Keseluruhan tanggapan ini mencerminkan urgensi adaptasi menyeluruh dalam menghadapi tekanan perdagangan global.