;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Prospek Cuan Emiten Perbankan

KT1 24 Jul 2023 Tempo

JAKARTA - Prospek emiten perbankan diperkirakan moncer pada sisa tahun ini. Ekspektasi pertumbuhan kredit yang masih tinggi bakal menjadi penopang kenaikan harga saham perusahaan perbankan, khususnya emiten dengan kapitalisasi tinggi. "Emiten perbankan, terutama yang ada customer based cukup besar, bisa mencaplok permintaan kredit tinggi tersebut. Ini menjadi sinyal positif untuk sektor perbankan," ujar Analis Riset Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani kepada Tempo, pada akhir pekan lalu.

Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia mengindikasikan penyaluran kredit baru pada triwulan II 2023 meningkat. Hal tersebut tecermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru sebesar 94,0 persen. Bank sentral mencatat pertumbuhan kredit baru terjadi pada hampir seluruh jenis kredit, kecuali kredit investasi yang sedikit lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya.

Pada triwulan III 2023, Bank Indonesia memperkirakan penyaluran kredit baru masih akan tumbuh positif, terindikasi dari SBT prakiraan penyaluran kredit baru sebesar 86,3 persen. Standar penyaluran kredit pada triwulan III 2023 diprakirakan sedikit lebih ketat dibanding periode sebelumnya. Hal ini terindikasi dari Indeks Lending Standard (ILS) positif sebesar 0,1 persen. Kebijakan penyaluran kredit diprediksi lebih ketat, antara lain pada suku bunga kredit dan premi kredit berisiko. (Yetede)

11 Bank Terbesar di Indonesia Berdasarkan Asetnya

KT1 24 Jul 2023 Tempo

Indonesia memiliki banyak bank besar yang berperan penting mendukung perekonomian negara. Setiap bank memiliki fokus dan strategi yang berbeda untuk mencapai keunggulan kompetitifnya.  Berikut daftar beberapa bank terbesar di Indonesia berdasarkan asetnya. Bank Mandiri merupakan salah satu emiten perbankan dengan aset terbesar. Badan usaha milik pemerintah ini berdiri pada 1998. Munculnya perusahaan bank pelat merah ini sebagai hasil merger dari beberapa bank BUMN Indonesia. Per 31 Mei 2023, total aset Bank Mandiri (BMRI) tercatat sebesar Rp 1.519,98 triliun. Bank terbesar di Indonesia berdasarkan aset lainnya adalah Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Per 31 Mei 2023, bank pertama yang didirikan oleh pemerintah Indonesia pada 1895 ini tercatat memiliki total aset sebesar Rp 1.631,18 triliun. Bank Central Asia (BBCA) adalah bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah aset. BCA berhasil mendapatkan posisi kuat di pasar perbankan Indonesia. BCA telah mencatatkan total aset sebesar Rp 1.296,52 triliun per 31 Mei 2023. Bank Negara Indonesia (BNI) telah berkembang menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia. Bank milik pemerintah yang berdiri sejak 1946 ini juga memiliki cabang di luar negeri yang mendukung kegiatan perbankan internasional. Per 31 Mei 2023, BNI mencatatkan total nilai aset sebesar Rp 967,52 triliun. Dan beberapa bank besar lainnya. (Yetede)

Sustainabality Loan Capai Rp710 Triliun, Pengamat Sebut BRI Makin Kokoh Sebagai Market Leader ESG

KT1 24 Jul 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA-Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) atau lingkungan, sosial, dan tata kelola yang kuat menjadi syarat bagi perusahaan untuk  tumbuh berkelanjutan. Hal itu pun menjadi concern PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI  yang semakin aktif menerapkan prinsip ESG. Terbukti sepanjang kuartal I tahun 2023 emiten bersandi BBRI ini mencatat pertumbuhan  penyaluran kredit berkelanjutan sebesar 11,1% secara tahunan (yoy) atau mencapai Rp 710,9 triliun. Capaian tersebut menjadikan BRI sebagai market  leader di industri  perbankan dalam  penerapan ESG. Atau capaian BRI tersebut, pengamat perbankan dari Binus University Dody Ariefianto mengatakan, ESG merupakan tren global. Dengan demikian pasar di Indonesia mau tidak mau  akan mengikuti hal tersebut. "Saat ini paradigma bisnis berubah, tidak hanya mencari profitabilitas. Jika perusahaan berkontribusi  terhadap kerusakan lingkungan, polusi, itu reputasi perusahaan akan jatuh," katanya belum lama ini. Oleh karena itu perusahaan seperti BRI aktif menerapkan prinsip ESG. (Yetede)

Bank Sentral Utama Dunia Siap Tetapkan Kebijakan Moneter Pekan ini

KT1 24 Jul 2023 Investor Daily

Washington,ID-Bank-bank sentral utama dunia diagendakan menggelar pertemuan  pada pekan ini untuk menetapkan kebijakan moneter. Hal ini dilakukan ditengah sinyal bahwa krisis inflasi terburuk dalam beberapa dekade terakhir mulai mereda. Pada pekan ini, The Federal Reserve (The Fed) dan bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) diprediksi masing-masing menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Tetapi perhatian tampaknya akan lebih mengarah pada potensi kenaikan  namun disertai periode jeda yang lebih lama. Baik Gubernur The Fed Jerome Powell maupun Presiden ECB Christine Lagarde sesungguhnya telah memperingatkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, yang memaksa bank sentral menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut. Namun, mengingat tidak ada pertemuan  bank sentral lagi hingga September, para Ekonom berpendapat bahwa prospek kebijakan hingga akhir tahun ini tetap terbuka. Sementara itu, Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) tetap mengambil jalur berbeda dari The Fed dan ECB. Bahkan lebih dari 80% analis yang disurvei memperkirakan Gubernur Kazuo Ueda akan terus memberikan  dukungan terhadap ekonomi Negeri Matahari Terbit itu, meskipun inflasi masih berada di atas target 2%. (Yetede)

Pandemi Usai, Risiko Kredit Bank Masih Tinggi

HR1 24 Jul 2023 Kontan

Perbankan harus terus meningkatkan kewaspadaan terhadap pemburukan kualitas aset. Meski rasio loan at risk (LAR) terus melandai hingga Mei 2023 dari posisi puncaknya pada awal-awal pandemi, namun risiko kredit masih besar. Ini antara lain terlihat dari jumlah outstanding kredit terdampak Covid-19 yang masih mendapat relaksasi restrukturisasi. Jumlah outstanding kredit restrukturisasi Covid-19 per Mei lalu mencapai angka Rp 372,07 triliun dari 1,64 juta debitur. Masa relaksasi ini akan berakhir sekitar delapan bulan lagi. LAR perbankan saat ini juga masih belum kembali ke level sebelum pandemi. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), LAR per Mei 2023 berada di level 13,38%. Adapun LAR pada 2019 sebelum pandemi mencuat berada di level 11%. Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan menilai, penyebab LAR masih tinggi karena perlambatan ekonomi global. Ini membuat daya beli masyarakat turun. Akibatnya, risiko usaha naik. Bank Rakyat Indonesia (BRI) optimistis banyak debitur yang sedang mendapat relaksasi restrukturisasi akan kembali bangkit, sehingga bisa menjalankan kewajibannya secara normal. Dengan begitu, LAR diperkirakan semakin menurun. Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto mengatakan, LAR BRI ditargetkan bisa turun jadi satu digit pada akhir tahun depan dari posisi 15,1% pada Juni 2023. Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo mengatakan, BTN akan berupaya menurunkan LAR ke level 19% dan NPL di bawah 3% tahun ini. Ia menyebut, salah satu sektor kredit yang kualitasnya bermasalah adalah properti high rise, karena pasar apartemen kelebihan pasokan.

Kredit Diperkirakan Tumbuh 10,9 Persen

KT3 21 Jul 2023 Kompas

Survei perbankan Bank Indonesia pada triwulan II-2023 menunjukkan pertumbuhan kredit sepanjang 2023 bisa mencapai 10,9 persen. Optimisme tersebut didorong prospek kondisi moneter dan ekonomi ke depan serta relatif terjaganya risiko penyaluran kredit. Demikian disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangannya, Kamis (20/7/2023). (Yoga)

Kinerja Cemerlang Amunisi Saham Perbankan

HR1 21 Jul 2023 Kontan (H)

Musim kinerja keuangan perbankan kuartal II 2023 bakal dimulai pada pekan depan. Para analis menilai pertumbuhan kinerja perbankan kuartal II bakal lebih bergizi dibanding kuartal sebelumnya. Proyeksi ini diperkuat dengan survei Bank Indonesia (BI). Survei mencatat penyaluran kredit perbankan pada periode April hingga Juni, lebih tinggi dari tiga bulan pertama 2023. Ini terindikasi dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru triwulan II 2023 yang sebesar 94,0%, jauh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya di level 63,7%. Berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit baru terjadi pada hampir seluruh jenis kredit. Hanya kredit investasi yang terindikasi tumbuh sedikit lebih rendah bila dibandingkan dari triwulan sebelumnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus berpendapat, potensi peningkatan kinerja perbankan terbuka lebar. Meski pertumbuhan kredit masih lambat, namun daya beli dan konsumsi masyarakat masih berjalan stabil. Nico melihat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) akan kembali mencatat kinerja cemerlang pada kuartal II tahun ini. Proyeksi dia, kedua bank ini akan mengulang kinerja cemerlang pada kuartal I 2023 lalu. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn berharap, pertumbuhan kredit BCA ada di kisaran 10%-12% pada tahun ini. Senior Investment Information Mirae Asset Nafan Aji Gusta bilang, ke depan pertumbuhan kredit bank secara keseluruhan bakal membaik. Sebab, BI terlihat tidak akan lagi menaikkan suku bunga acuan. Harapannya, ini bisa menjadi pendorong kredit.

Pemerintah Bahas Hapus Tagih Kredit Macet UMKM

KT3 18 Jul 2023 Kompas

Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas terkait restrukturisasi kredit UMKM. Dalam rapat tersebut, dibahas pula soal opsi hapus buku dan hapus tagih kredit macet UMKM. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kredit macet UMKM di bank pada dasarnya bisa dihapus buku dan hapus tagih. Namun, kredit macet tersebut harus direstrukturisasi terlebih dulu. ”Kita bahas mengenai restrukturisasi terkait kredit, termasuk penghapus bukuan dan tagihan. Perundangannya semua siap. UU-nya siap,” ujar Airlangga seusai ratas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/7). Pemerintah telah menyiapkan ketentuan yang masuk dalam UU No 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Dalam Pasal 250-251 disampaikan mengenai pengaturan piutang macet. Juga UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang mengatakan penghapus bukuan dan tagihan kredit bisa dilakukan. Selain itu juga Peraturan OJK N 40/POJK.03/ 2019 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum. Persyaratan penghapus bukuan dan hapus tagih kredit adalah bahwa kredit bersangkutan telah melalui proses restrukturisasi terlebih dahulu. Apabila setelah restrukturisasi ternyata kredit tetap macet, selanjutnya bisa dilakukan hapus buku dan hapus tagih terhadap kredit tersebut. ”Ini merupakan kerugian bagi bank. Khusus bank BUMN, kerugian tersebut bukan kerugian keuangan negara,” ucap Airlangga. (Yoga)


Rating Aplikasi Mobile Banking Jadi Tertinggi Pengguna BRImo Capai 27,8 Juta User

KT1 17 Jul 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA-Seiring berkembangnya teknologi, aplikasi digital banking semakin digemari masyarakat dalam melakukan transaksi. Perbankan pun terus berbenah dan mengembangkan aplikasi digital banking-nya dalam memberikan layanan transaksi yang mudah, cepat, dan aman. Salah satunya adalah pengembangan secara terus-menerus yang dilakukan BRI terhadap super apps digital banking-nya, yakni BRImo. Dengan lebih dari 100 fitur yang disematkan pada BRImo semakin memberikan kemudahan dan mampu menjawab kebutuhan transaksi nasabah. Alhasil, saat ini super apps BRImo menjadi aplikasi mobile banking dengan rating terbaik dibandingkan aplikasi mobile banking perbankan lainnya di Indonesia. Data tersebut didapatkan berdasarkan sejumlah pengunduh pengguna Android (Playstore) dan IOS (AppStore). Tercatat, pengguna Android memberikan rating 4,5 dengan total 1 juta review. Hal tersebut menunjukkan  kepuasan para pengguna  BRImo terhadap aplikasi tersebut. Kepercayaan terhadap super apps BRImo juga ditunjukkan dari sejumlah pengguna yang kini telah mencapai 27,8 user atau tumbuh 50,5% year on year. (Yetede)

Perbankan Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

HR1 15 Jul 2023 Kontan

Sejumlah bank tengah bersiap-siap melunasi obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Tercatat, nilai obligasi jatuh tempo yang perlu dilunasi oleh bank beragam, mulai dari ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Pefindo mencatat ada empat bank yang memiliki obligasi jatuh tempo di Juli 2023, yakni Bank Panin, Maybank, BRI dan Bank Mandiri. Untuk Bank Panin, obligasinya telah jatuh tempo pada 3 Juli, dengan nilai Rp 100 miliar. Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Danan Dito mengungkapkan, kesiapan bank yang memiliki obligasi jatuh tempo tersebut tergolong baik, karena posisi likuiditas mereka longgar. "Dana pihak ketiga maupun pinjaman antarbank masih bagus, likuiditas bagus tercermin dari rasio LDR di 80,5%," ujarnya, belum lama ini. Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengungkapkan, pihaknya berencana menerbitkan long term notes untuk refinancing obligasi yang akan jatuh tempo ini. "Jumlahnya belum kami putuskan, tapi tak akan sebesar subdebt yang jatuh tempo," beber dia kepada KONTAN, Jumat (14/7)

Pilihan Editor