Kerjasama Ekonomi
( 335 )PELUANG KERJA SAMA DENGAN NEGARA KAYA MINYAK DI TIMUR TENGAH
Berdasarkan laporan World Energy Outlook 2023 dari Badan
Energi Internasional (IEA), diperkirakan penggunaan energi fosil pada saat
emisi karbon nol tahun 2050 akan menyusut drastis. Untuk merealisasikan target
global tersebut, semua negara berupaya melakukan transisi energi mengacu
komitmen Perjanjian Paris COP 21 tahun 2015. Setiap negara berupaya mengimplementasikan
kontribusi reduksi emisi karbon yang ditetapkan secara nasional (nationally determined
contribution / NDC) yang disepakati dengan lembaga perubahan iklim dunia,
UNFCCC. Negara-negara yang berlimpah energi fosil pun dituntut untuk mendukung
langkah dunia ini. Transisi energi sangat penting bagi kelangsungan hidup
manusia, tetapi juga mengancam kelangsungan ekonomi negara produsen energi, terutama
yang mengandalkan sumber daya fosil bagi kemajuan ekonomi. Negara itu umumnya
berada di kawasan Timur Tengah yang berlimpah sumber daya minyak bumi. Energi
fosil harus dapat beriringan dengan berkembangnya EBET di masa depan.
Gulf Cooperation Council (GCC) yang terdiri dari Arab Saudi,
Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman masih memiliki permintaan
yang tinggi terhadap komoditas minyak buminya. Namun, dihadapkan pada
ketidakpastian akibat fenomena transisi energi secara global. Dari ke-6 negara
GCC, UEA memiliki posisi paling strategis. Hal tersebut dimanfaatkan negara
kawasan Asia untuk menjadi mitra pemasok energi dalam jangka panjang demi menjaga
stabilitas ekonomi Asia. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan karena
menciptakan kemajuan bagi kedua pihak sekaligus memperkuat ekonomi UEA dari
sisi non-migas. Jadi, mengurangi ketergantungan UEA terhadap ekspor migas.
Bentuk kerja sama yang sudah dilakukan antara lain UEA bersama ADNOC,
perusahaan minyak Abu Dhabi, memberikan konsesi minyak darat dan lepas pantai
kepada perusahaan China, Jepang, Korsel, dan India. UEA juga berambisi
mengembangkan sektor petrokimia terbesar di dunia pada 2025 dengan melibatkan
perusahaan India. Jepang diberi konsesi perminyakan di sejumlah lokasi hingga 2058.
Perusahaan China (CPECC) membangun jalur pipa minyak rute
Habshan-Fujairah yang memungkinkan pemuatan minyak mentah UAE tak perlu melewati
Selat Hormuz yang merupakan chokepoint. Dengan Korea Selatan, selain bermitra bisnis
minyak, UEA menjalin kontrak kerja sama pengembangan nuklir. Dengan sejumlah
negara tersebut, UEA mencari peluang untuk mengembangkan sector lain di luar
migas. UEA berambisi mengembangkan industri canggih berbasis kecerdasan buatan
(artificial intelligence/AI). Kerja sama ini menggandeng China dan India. Upaya
transisi ekonomi negara Timur Tengah tersebut menjadi peluang bagi Indonesia
untuk memajukan perekonomian nasional, misalnya mengembangkan potensi wisata
Indonesia, membangun infrastruktur vital, memproduksi baterai kendaraan listrik
berbasis nikel, akselerasi pemanfaatan EBT, hingga modernisasi teknologi
kilang-kilang minyak Indonesia, yang dalam jangka panjang dapat berkontribusi
positif bagi perekonomian negara investor Timur Tengah. Saat ini, salah satu
infrastruktur penting yang dibangun di Indonesia lewat kerja sama denganTimur Tengah
adalah PLTS Terapung Cirata. (Yoga)
PELUANG KERJA SAMA DENGAN NEGARA KAYA MINYAK DI TIMUR TENGAH
Berdasarkan laporan World Energy Outlook 2023 dari Badan
Energi Internasional (IEA), diperkirakan penggunaan energi fosil pada saat
emisi karbon nol tahun 2050 akan menyusut drastis. Untuk merealisasikan target
global tersebut, semua negara berupaya melakukan transisi energi mengacu
komitmen Perjanjian Paris COP 21 tahun 2015. Setiap negara berupaya mengimplementasikan
kontribusi reduksi emisi karbon yang ditetapkan secara nasional (nationally determined
contribution / NDC) yang disepakati dengan lembaga perubahan iklim dunia,
UNFCCC. Negara-negara yang berlimpah energi fosil pun dituntut untuk mendukung
langkah dunia ini. Transisi energi sangat penting bagi kelangsungan hidup
manusia, tetapi juga mengancam kelangsungan ekonomi negara produsen energi, terutama
yang mengandalkan sumber daya fosil bagi kemajuan ekonomi. Negara itu umumnya
berada di kawasan Timur Tengah yang berlimpah sumber daya minyak bumi. Energi
fosil harus dapat beriringan dengan berkembangnya EBET di masa depan.
Gulf Cooperation Council (GCC) yang terdiri dari Arab Saudi,
Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman masih memiliki permintaan
yang tinggi terhadap komoditas minyak buminya. Namun, dihadapkan pada
ketidakpastian akibat fenomena transisi energi secara global. Dari ke-6 negara
GCC, UEA memiliki posisi paling strategis. Hal tersebut dimanfaatkan negara
kawasan Asia untuk menjadi mitra pemasok energi dalam jangka panjang demi menjaga
stabilitas ekonomi Asia. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan karena
menciptakan kemajuan bagi kedua pihak sekaligus memperkuat ekonomi UEA dari
sisi non-migas. Jadi, mengurangi ketergantungan UEA terhadap ekspor migas.
Bentuk kerja sama yang sudah dilakukan antara lain UEA bersama ADNOC,
perusahaan minyak Abu Dhabi, memberikan konsesi minyak darat dan lepas pantai
kepada perusahaan China, Jepang, Korsel, dan India. UEA juga berambisi
mengembangkan sektor petrokimia terbesar di dunia pada 2025 dengan melibatkan
perusahaan India. Jepang diberi konsesi perminyakan di sejumlah lokasi hingga 2058.
Perusahaan China (CPECC) membangun jalur pipa minyak rute
Habshan-Fujairah yang memungkinkan pemuatan minyak mentah UAE tak perlu melewati
Selat Hormuz yang merupakan chokepoint. Dengan Korea Selatan, selain bermitra bisnis
minyak, UEA menjalin kontrak kerja sama pengembangan nuklir. Dengan sejumlah
negara tersebut, UEA mencari peluang untuk mengembangkan sector lain di luar
migas. UEA berambisi mengembangkan industri canggih berbasis kecerdasan buatan
(artificial intelligence/AI). Kerja sama ini menggandeng China dan India. Upaya
transisi ekonomi negara Timur Tengah tersebut menjadi peluang bagi Indonesia
untuk memajukan perekonomian nasional, misalnya mengembangkan potensi wisata
Indonesia, membangun infrastruktur vital, memproduksi baterai kendaraan listrik
berbasis nikel, akselerasi pemanfaatan EBT, hingga modernisasi teknologi
kilang-kilang minyak Indonesia, yang dalam jangka panjang dapat berkontribusi
positif bagi perekonomian negara investor Timur Tengah. Saat ini, salah satu
infrastruktur penting yang dibangun di Indonesia lewat kerja sama denganTimur Tengah
adalah PLTS Terapung Cirata. (Yoga)
Menggali Potensi Ekonomi Adidaya
Upaya peningkatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan Amerika Serikat makin terbuka seiring dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Negeri Paman Sam untuk bertemu dengan mitranya Presiden AS Joe Biden dalam rangkaian pembahasan penguatan kemitraan strategis komprehensif. Di tengah pembahasan beragam topik antar kedua negara, ada harapan besar penambahan investasi dari AS sekaligus memperluas pasar ekspor produk industri dalam negeri. Bagi Indonesia, AS adalah salah satu mitra dagang strategis di berbagai sektor dan memiliki banyak potensi yang bisa digali dari hubungan kedua negara. Secara umum, beberapa isu penting yang jadi pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah peningkatan kerja sama di bidang keamanan dan maritim, perdagangan kedua negara, dukungan transisi energi dan pengembangan industri di Indonesia. Untuk sektor energi, AS memberikan dukungan penuh terhadap penerapan energi terbarukan dan pengurangan emisi di Indonesia. Sebelum bertemu Joe Biden, Jokowi juga menemui Chairman Freeport McMoran Richard Adkerson untuk membahas tentang penambahan porsi kepemilikan BUMN di PT Freeport Indonesia (PTFI) sebesar 10%, perpanjangan kontrak PTFI, dan penambahan investasi perusahaan di dalam negeri. Keinginan untuk menambah jumlah saham di PTFI sebanyak 10% seakan menemui titik terang setelah Adkerson memberikan tanggapan positif atas rencana tersebut. Dalam pertemuan di Hotel Waldorf Astoria, Washington DC, AS, perwakilan pemerintah yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo menyampaikan keinginan penambahan saham itu. Langkah ini sejalan dengan harapan Freeport untuk memperpanjang izin usaha pertambangan khusus di Indonesia. Penambahan saham menjadi prasyarat terkait perpanjangan izin usaha pertambangan yang akan habis pada 2041 selain pembangunan smelter di Papua. Adapun pembahasan mengenai kesiapan dana masih akan dibahas di masa mendatang yaitu pada 2041 setelah masa kontrak Freeport yang habis pada tahun itu perpanjang. Akan tetapi, hal lain yang perlu mendapat perhatian yaitu dengan tambahan 10% tersebut apakah Indonesia mempunyai peran lebih menjadi pengendali di Freeport? Pasalnya hingga saat ini, dengan porsi mayoritas saat ini kendali manajemen operasi PTFI masih berada di tangan Freeport-McMoRan Inc. Peran ini tentunya menjadi krusial untuk memastikan terjadinya penghiliran yang akan menempatkan Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju. Alhasil, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar Indonesia dapat menjadi negara maju, termasuk merealisasikan rencana penghiliran agar tidak terhenti sebatas jargon. Upaya tersebut mulai dari peningkatan kualitas SDM, penguasaan teknologi, perbaikan infrastruktur hingga pengembangan pasar dalam negeri.
PEREKAT KEMITRAAN RI & AS
Indonesia terus memburu peluang untuk mendapatkan investasi melalui penguat an kerja sama ekonomi dengan Amerika Serikat di tengah tantangan global. Dalam pertemuan di AS, Selasa (14/11), kedua pemimpin negara tersebut menyepakati penguatan kerja sama ekonomi.Saat menyambut Presiden Joko Widodo di Gedung Putih, Presiden Joseph R. Biden berharap hubungan antara Indonesia dan AS bisa makin kuat dan menuju kemitraan yang strategis dan komprehensif.Beragam kesepakatan di berbagai bidang pun disepakati dalam kunjungan tersebut, termasuk di antaranya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, transisi energi, dan penghiliran yang sedang gencar dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Harapan baru untuk pelaksanaan penghiliran yang telah menjadi program prioritas Presiden Joko Widodo tercipta dalam pertemuannya dengan Presiden Biden di Gedung Putih.Dalam keterangan yang disampaikan Gedung Putih, AS memastikan komitmen untuk menjadi mitra Indonesia dalam sektor energi dan mineral yang berkelanjutan. Salah satunya adalah memastikan nota kesepahaman kedua negara tentang pengembangan energi dan mineral yang berkelanjutan bisa berjalan.Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani oleh Menteri ESDM Arifi n Tasrif dan Duta Besar AS untuk Indonesia Sung Kim tersebut melingkupi kerja sama teknis guna meningkatkan penggunaan sumber daya energi terbarukan, meningkatkan teknologi untuk pertambangan dan pengolahan mineral yang bertanggung jawab, serta mendukung pembangunan sektor mineral penting yang rendah emisi di Indonesia.
Perkara penghiliran itu juga menjadi salah satu latar belakang Jokowi menyempatkan diri menemui Chairman Freeport McMoran Richard Adkerson di AS. Saat bertemu Adkerson, Jokowi menyambut baik pembahasan divestasi tambahan saham PT Freeport Indonesia sebanyak 10%.
Adapun, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Ad Interim Erick Thohir mengatakan Freeport McMoran mendukung upaya penghiliran yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Hal itu terlihat dari komitmen Freeport Indonesia yang membangun smelter di Jawa Timur.
Sementara itu dalam pertemuan yang sama, Presiden AS Joe Biden menegaskan komitmen AS untuk memperkuat kemitraan dengan Indonesia. Dia juga menyatakan dukungan terhadap Indonesia yang sedang memulai proses menjadi anggota penuh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).
Biden bahkan menyatakan telah meminta tambahan US$172 juta untuk digelontorkan melalui program baru di berbagai sektor, termasuk penanganan perubahan iklim, pemanfaatan energi bersih, pertumbuhan ekonomi, dan kesehatan.
Investasi yang ditanamkan oleh Negeri Paman Sam pun terpantau terus meningkat selepas pandemi Covid-19, hingga mencapai US$2,44 miliar pada periode Januari—September 2023.Wakil Ketua Umum Bidang ESDM Kadin Indonesia Carmelita Hartoto mengatakan, kerja sama antara Indonesia dan AS harus didasari dengan sikap saling menghormati dan menggali potensi yang bisa menguntungkan kedua negara.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengingatkan pemerintah agar realisasi kerja sama yang telah disepakati dikelola dengan baik dengan skala prioritas yang jelas.
Masih Butuh Sawit, Indonesia Siap Kolaborasi dengan Uni Eropa
Indonesia Terus Akselerasi Kenaggotaan Penuh di OECD
RI Anut Kebijakan Investasi Nonblok
Presiden Jokowi Bertemu Presiden Putin di China
Jokowi: KTT AIS Forum 2023 Sepakati Kesetaraan dan Inklusivitas
Indonesia Siapkan US$ 5 juta untuk Aksistensi AIS Forum
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022








