PELUANG KERJA SAMA DENGAN NEGARA KAYA MINYAK DI TIMUR TENGAH
Berdasarkan laporan World Energy Outlook 2023 dari Badan
Energi Internasional (IEA), diperkirakan penggunaan energi fosil pada saat
emisi karbon nol tahun 2050 akan menyusut drastis. Untuk merealisasikan target
global tersebut, semua negara berupaya melakukan transisi energi mengacu
komitmen Perjanjian Paris COP 21 tahun 2015. Setiap negara berupaya mengimplementasikan
kontribusi reduksi emisi karbon yang ditetapkan secara nasional (nationally determined
contribution / NDC) yang disepakati dengan lembaga perubahan iklim dunia,
UNFCCC. Negara-negara yang berlimpah energi fosil pun dituntut untuk mendukung
langkah dunia ini. Transisi energi sangat penting bagi kelangsungan hidup
manusia, tetapi juga mengancam kelangsungan ekonomi negara produsen energi, terutama
yang mengandalkan sumber daya fosil bagi kemajuan ekonomi. Negara itu umumnya
berada di kawasan Timur Tengah yang berlimpah sumber daya minyak bumi. Energi
fosil harus dapat beriringan dengan berkembangnya EBET di masa depan.
Gulf Cooperation Council (GCC) yang terdiri dari Arab Saudi,
Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman masih memiliki permintaan
yang tinggi terhadap komoditas minyak buminya. Namun, dihadapkan pada
ketidakpastian akibat fenomena transisi energi secara global. Dari ke-6 negara
GCC, UEA memiliki posisi paling strategis. Hal tersebut dimanfaatkan negara
kawasan Asia untuk menjadi mitra pemasok energi dalam jangka panjang demi menjaga
stabilitas ekonomi Asia. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan karena
menciptakan kemajuan bagi kedua pihak sekaligus memperkuat ekonomi UEA dari
sisi non-migas. Jadi, mengurangi ketergantungan UEA terhadap ekspor migas.
Bentuk kerja sama yang sudah dilakukan antara lain UEA bersama ADNOC,
perusahaan minyak Abu Dhabi, memberikan konsesi minyak darat dan lepas pantai
kepada perusahaan China, Jepang, Korsel, dan India. UEA juga berambisi
mengembangkan sektor petrokimia terbesar di dunia pada 2025 dengan melibatkan
perusahaan India. Jepang diberi konsesi perminyakan di sejumlah lokasi hingga 2058.
Perusahaan China (CPECC) membangun jalur pipa minyak rute
Habshan-Fujairah yang memungkinkan pemuatan minyak mentah UAE tak perlu melewati
Selat Hormuz yang merupakan chokepoint. Dengan Korea Selatan, selain bermitra bisnis
minyak, UEA menjalin kontrak kerja sama pengembangan nuklir. Dengan sejumlah
negara tersebut, UEA mencari peluang untuk mengembangkan sector lain di luar
migas. UEA berambisi mengembangkan industri canggih berbasis kecerdasan buatan
(artificial intelligence/AI). Kerja sama ini menggandeng China dan India. Upaya
transisi ekonomi negara Timur Tengah tersebut menjadi peluang bagi Indonesia
untuk memajukan perekonomian nasional, misalnya mengembangkan potensi wisata
Indonesia, membangun infrastruktur vital, memproduksi baterai kendaraan listrik
berbasis nikel, akselerasi pemanfaatan EBT, hingga modernisasi teknologi
kilang-kilang minyak Indonesia, yang dalam jangka panjang dapat berkontribusi
positif bagi perekonomian negara investor Timur Tengah. Saat ini, salah satu
infrastruktur penting yang dibangun di Indonesia lewat kerja sama denganTimur Tengah
adalah PLTS Terapung Cirata. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023