HWI
( 20 )TAIPAN HONG KONG PINDAHKAN ASET
Rencana Pemerintah Hong Kong yang mengizinkan tersangka menghadapi pengadilan di Cina untuk diekstradisi ditujukan untuk menutupi lubang yang dapat membuat penjahat yang diincar Cina menggunakan Hong Kong sebagai tempat aman. Namun demikian kebijakan tersebut telah menuai reaksi keras termasuk yang dilakukan oleh para taipan Hong Kong. Mereka mulai memindahkan aset pribadi ke luar negeri. Beberapa taipan merasa akan terdampak jika undang-undang tersebut diloloskan. Ada kemungkinan pengadilan Cina dapat meminta pengadilan Hong Kong membekukan dan menyita hasil dari kejahatan yang dilakukan tersangka di Cina, termasuk kejahatan narkoba. Negara tujuan favorit pemindahan aset adalah Singapura karena dipandang telah matang dan mempunyai kondisi pasar yang memungkinkan. Diketahui bahwa Hong Kong dan Singapura bersaing ketat menjadi pusat keuangan di Asia. Berdasarkan laporan Credit Suisse 2018 kekayaan yang dimiliki taipan Hong Kong berasal dari 853 individu bernilai lebih dari 100 juta dolar AS atau dua kali lipat dibandingkan Singapura. Infomasi mengenai pemindahan Asset tersebut diungkapkan oleh penasihat keuangan, bankir dan pengacara yang terlibat dalam pelaksanaannya.
Peran Perkebunan Bagi Perekonomian, Kelapa Sawit Dibenci Tapi Dirindu
Indonesia telah bergantung ke perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit menjadi modal pembangunan di daerah pada masa lalu, ceruk devisa nonmigas di masa kini, dan ketahanan energi di masa depan. Salah seorang petani yang sudah menikmati hasil dari kelapa sawit yaitu I Made Gunartha (55) seorang petani di Desa Belantik, Pasangkayu, Mamuju. Setelah 30 tahun, hidup sebagai seorang transmigran di Mamuju, sekarang sudah hidup jauh dari kekurangan. Pasalnya, pendapatannya sudah Rp50 juta per bulan. Belum lagi aset berupa bangunan di Denpasar Rp1,4 miliar, tanah di Nusa Penida Rp6 miliar, kebun sawit seluas 20 ha di Mamuju dan 200 ha di Sampit. Selain itu, masih terdapat bisnis batu bara dan sarang walet yang dirintisnya.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat sedikitnya ada 10 juta orang keluar dari garis kemiskinan sebagai akibat ekpansi bisnis sawit sejak 2000. Sementara itu, sebanyak 1,3 juta orang diantaranya terdampak langsung keluar dari garis kemiskinan. Industri kelapa sawit juga menyerap 7,5 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Perkebunan kelapa sawit rakyat memiliki 2,6 juta unit usaha yang mempekerjakan 4,6 juta orang.
BPS mencatat bahwa nilai ekspor minyak sawit tertinggi pada 2017 mencapai US$22,97 miliar. Namun 2018 mengalami penurunan menjadi US$20,34 miliar akibat melemahnya harga global. Kendati kinerja ekspor minyak sawit tengah tidak menentu dalam 1 tahun terakhir akibat perang dagang AS-China, sentimen negatif Uni Eropa dan produksi yang melonjak tajam, namun pada awal 2019, sektor minyak sawit ikut berkontribusi dalam menjaga cadangan devisa. Penyebabnya, impor migas tertekan turun, efek dari pemanfaatan bauran 20% bahan bakar nabati atau biodiesel (B20) telah menurunkan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).
17 Pemuda RI Masuk Daftar Milenial Paling Berprestasi
Majalah Forbes merilis daftar anak muda berprestasi di Asia dalam kategori di bawah usia 30 tahun. Daftar Forbes 30 under 30 Asia 2019 dipilih dari lebih dari 2.000 nominasi. Setelah melalui proses penjurian terpilihlah 300 nama yang mewakili 23 negara dan wilayah di kawasan Asia-Pasifik.
Daftar milenial Indonesia yang masuk 30 under 30 Asia Forbes 2019 antara lain :
- Amanda Cole (Founder Sayurbox)
- Angky wiliam (Co-Founder Stoqo)
- Aries Susanti (Atlet panjat)
- Aruna Harsa (Co-Founder Dekoruma)
- Benz Budiman (Co-Founder Ponoma Technologies)
- Denica Flesh (Founder SukkhaCitta)
- Ellen Nio (Investment Associate Patamar Capital0
- Gitta Amelia (Founder EverHaus)
- Haryanto Tanjo (Co-Founder Moka)
- James Prananto (Co-Founder Kopi Kenangan)
- Hendra Kwik, Jefriyanto dan Ricky Winata (Co-Founder Payfazz)
- Sabrina dan Elene Bensawan (Co-Founder Saab Shares)
- Steven Wongsorejo (Co-founder Nusantara Technology)
- archie Carlson, Sugito Alim dan dua orang lainnya (Co-Founder StickEarn0
- Tiffany Robyn Sutikno (Founder PT Global Urban Esensial)
- Agung Bezharie, Harya Putra dan Sofian Hadiwijaya (Co-Founder Warung Pintar)
- Windy Natriavi (Co-Founder Awantunai)
Tahir, 'Crazy Rich Surabaya' yang Benci Orang Kaya
Ucapan adalah doa. Ungkapan ini mungkin bisa mewakili kisah hidup orang terkayake-6 di Indonesia versi Majalah Forbes, Dato Sri Tahir.
Puluhan tahun silam, pengusaha kelahiran Surabaya ini pernah asal nyeplos akan membalap kesuksesan mertuanya, pemilik Lippo Group Mochtar Riady. Usianya saat itu masih 22 tahun. Jiwa mudanya masih kental.
Jangankan punya cita-cita menjadi orang kaya. Ia bahkan tak punya rencana matang untuk membangun sebuah kerajaan bisnis seperti Mochtar.
Ucapan tersebut muncul begitu saja ketika sang mertua memberitahu bahwa menantu dilarang masuk ke bisnis keluarga. Kebetulan, saat itu Tahir masih kuliah di Universitas Teknologi Nanyang Singapura.
Siapa sangka, ucapan Tahir menjadi kenyataan. Ia kini menempati posisi keenam orang terkaya di Indonesia, menyalip sang mertua yang berada di posisi 12.
Total kekayaannya kini mencapai US$4,5 miliar atau setara Rp63 triliun (kurs Rp14.000 per dolar AS). Sementara, jumlah harta Mochtar sebesar US$2,3 miliar atau Rp32,2 triliun.
Kejayaan itu diraih dengan susah payah. Ayah empat anak ini pernah jatuh bangkrut hingga terlilit utang jutaan dolar AS saat menjalani usahanya dulu.
Tahir memang bukan dilahirkan dari keluarga konglomerat. Ayahnya dulu seorang juragan becak dan sang ibu menjaga toko sederhana. Beberapa kejadian tak enak pun pernah dialaminya saat kecil.
"Bapak saya menyewakan 20 becak ke orang Madura, jadi setiap hari ada setoran. Tapi kalau tidak ditagih tidak bayar, jadi ayah saya nungguin untuk minta setoran," cerita Tahir kepada CNNIndonesia.com, Rabu (27/3).
Orang yang menyewa becak dari ayah Tahir marah karena terus ditagih. Orang tersebut bahkan pernah melempar batu dan mengenai kepala ibunya hingga bocor.
Itu bukan satu-satunya kejadian nahas yang menimpa keluarga Tahir, ayah dan ibunya juga sering dihina, diremehkan, dan ditekan oleh orang lain. Dia mengetahui semua itu karena mendengar obrolan kedua orang tuanya saat kecil.
Pengalaman pahit masa kecilnya membuat Tahir mengaku benci dengan orang kaya. Ia pun tumbuh dengan rasa 'dendam', ingin membuktikan kepada semua orang bahwa bisa menjadi seseorang di kemudian hari.
"Karena saya orangnya fighter, saya dendam. Suatu hari saya bales. Tapi dendam ini kan bisa positive dan negative effect," terang Tahir.
Meski kini ia masuk dalam daftar orang terkaya, Tahir mengaku sering kali masih tak nyaman bergaul dengan orang kaya. "Orang kaya itu menindas, merampas hak orang. Jadi saya tidak senang. Saya dengan gamblang bilang tidak senang dengan orang kaya," tegas dia.
Walau hidup tak berlebihan saat kecil, ia mengaku selalu diajarkan kebaikan kepada sesama dan taat kepada ajaran Tuhan oleh orang tua. Khusus dari sang ibu, Tahir dilatih bekerja keras dalam keadaan apapun. Hingga kini, ibunya yang berusia hampir 89 tahun bahkan masih aktif bekerja di salah satu kantor cabang Bank Mayapada.
Pria penyuka makanan asli Indonesia ini awalnya memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Alasannya cukup sederhana, ia ingin dapat bekerja secara mandiri. Dengan menjadi dokter, Tahir berniat membuka praktek di depan rumah sehingga tak perlu bekerja di bawah orang lain.
"Tapi yang paling penting, dokter itu bisa berbuat baik tanpa keluar uang," katanya.
Untuk merealisasikan impiannya, Tahir sempat kuliah di Taiwan. Namun, ia mengaku kala itu tak betah dan merasa tak cocok menjalani pendidikan di negara itu. Takdir pun bersambut, ia harus kembali ke Tanah Air usai mengetahui sang ayah sedang sakit lewat sepucuk surat yang dikirim dari Indonesia.
Meski keadaan sang ayah mulai membaik, Tahir enggan meneruskan pendidikannya di Taiwan. Ia malah mencoba peruntungan dengan tinggal dan berdagang di Singapura. Saat itu, ia mendapat modal dari sang ibu yang kala itu sudah mulai mapan usahanya sebesar Rp700 ribu.
"Itu pengalaman yang bagus untuk saya, saya ke Singapura tinggal di losmen. Jadi inang-inang (berdagang). Itu sendiri ya, kesendirian itu membuat saya tabah hari ini," terang Tahir.
Saat baru mulai berdagang di Singapura, ia mengaku tak pandai berbicara bahasa Inggris. Hanya beberapa kata yang dihafal oleh Tahir, misalnya how much dan discount. Tapi, bukan Tahir namanya kalau menyerah karena hal sepele.
Biasanya, ia membawa satu sampai dua koper untuk diisi dengan berbagai barang dari Singapura dan dijual di Indonesia. Pekerjaan itu dijalani sampai dua tahun lamanya. Bahkan, setelah diterima di kampus terbaik Singapura, Nanyang Technological University dan menikah dengan Rosa Riady.
"Karena saya berdagang dan sering mondar-mandir Jakarta-Singapura, saya bahkan sempat dicurigai sebagai mata-mata," cerita dia.
Lulus dari Nanyang, Tahir mulai membangun bisnis leasing yang menjual sekaligus memberikan kredit mobil. Nama Mayapada mulai digunakan untuk bisnis tersebut.
"Waktu itu dagang mobil Suzuki, tapi lalu bangkrut," kenang Tahir.
Tahir saat itu bahkan sempat terlilit utang hingga lebih dari US$10 juta. Ia kemudian ditawari Mochtar untuk mengurus bisnis garmen mertuanya itu hingga berhasil melunasi utangnya di bank.
Ia kemudian mulai membangun kembali bisnisnya. Pada1989, ia mengajukan izin ke Bank Indonesia (BI) untuk membangun Bank Mayapada. Dengan bantuan oleh beberapa pihak, Tahir berhasil memperoleh izin.
Tahir tak hanya dikenal sebagai pengusaha, ia juga kerap dikenal sebagai filantropis. Dia bahkan masuk dalam jajaran orang terkaya dunia yang berkomitmen memberikan 50 persen hartanya untuk membantu masyarakat.
Properti Di Singapura, Runtuhnya Dominasi WNI
Pembelian properti di Singapura oleh Warga Negara Indonesia makin berkurang setiap tahun. Jika menilik ke belakang, tepatnya 12 tahun terakhir, pada 2017 dan 2018 jumlah orang Indonesia yang membeli properti di Singapura menjadi yang paling sedikit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data Urban Redevelopment Authority di Singapura, dari 2006 hingga 2016 tercatat WNI memiliki pangsa rata-rata 18% dari seluruh pembelian prperti di Singapura dari pembeli asal Asia dan negara lain. Kemudian, pada 2017 dan 2018, jumlahnya turun menjadi hanya 5%-6%. Hal ini diorediksi karena adanya pelemahan perekonomian di seluruh dunia dan pelemahan pertumbuhan bisnis secara global. Selain Singapura, masih ada beberapa negara lain yang berpotensi menjadi destinasi lain untuk berinvestasi properti bagi investor Indonesia, misalnya saja Malaysia, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada.
Kepatuhan WP Kaya, Menjaring Pajak di Negeri Orang
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Direktorat Jenderal Pajak mengumumkan telah memiliki informasi keuangan senilai RP1.300 triliun berupa aset keuangan milik WNI yang disimpan di luar negeri. Sontak kabar itu membuet geger WP terutama para pemilik aset. Apalagi informasi itu dibarengi dengan embel-embel bahwa aset tersebut belum dilaporkan baik dalam SPT tahunan maupun dideklarasikan saat implementasi pengampunan pajak. Terlepas bagaimana mekanisme pengujian informasi tersebut, fakta adanya ribuan triliun rupiah aset keuangan yang masih diparkir di luar negeri itu bisa diatfsirkan dalam dua aspek. Pertama, jumlah aset dalam bentuk aset keuangan milik orang Indonesia di luar negeri begitu fantastis. Kedua, keberadaan aset jumbo tersebut juga mengindikasikan berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah termasuk TA, pemerintah boleh saja mengklaim bahwa kebijakan ini merupakan kebijakan yang paling sukses dibandingkan dengan negara-negara lain. Namun bila dilihat detail kinerjanya, realisasinya masih jauh dari ekspektasi. Persoalannya, dengan jumlah kekayaan yang cukup besar, kontribusi kelompok ini ke penerimaan pajak masih cukup minim. Kurang dari 1% terhadap penerimaan pajak di Indonesia.
Populasi Orang Kaya, Miliarder Asia Terus Bertambah
Berharta Rp524 T, Duo Hartono Masuk 100 Orang Terkaya Dunia
Budi dan Michael merupakan dua orang terkaya di Indonesia. Hanya keduanya yang berhasil masuk dalam jajaran 100 orang terkaya dunia. Keduanya mewarisi perusahaan rokok PT Djarum. Namun, saat ini dua pertiga harta kekayaan mereka berasal dari Keduanya memperoleh dua pertiga kekayaannya dari investasi mereka pada PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Hartono bersaudara mengambil alih bank tersebut usai keluarga kaya lainnya Salim kehilangan kendali bank tersebut saat krisis moneter 1998.
Selain Djarum dan BCA, kedua orang terkaya di Indonesia ini memiliki brand elektronik Polytron dan sejumlah real etsate di Jakarta, antara lain Hotel Indonesia Kempinsky. Sementara Forbes mencatat peringkat pertama orang terkaya di dunia ditempati Pendiri dan CEO Amazon Jeff Bezos. Forbes mencatat kekayaan Jeff mmencapai US$131 miliar atau sekitar Rp1.851,8 triliun.
Kontribusi Penerimaan, Menyoal Ketimpangan Pajak
Harta Orang-orang Terkaya Dunia 2019 Anjlok Rp5.000 T Lebih
Masuk dalam urutan pertama dalam daftar orang terkaya sejagat adalah Jeff Bezos. Pendiri dan CEO Amazon ini tercatat memiliki harta US$131 miliar atau setara Rp1.859 triliun. Di urutan kedua, Bill Gates. Pendiri Microsoft ini tercatat memiliki harta US$96,5 miliar atau setara Rp1.369 triliun. Di posisi ketiga, terdapat nama Warren Buffet. Pengusaha sukses di dunia berjuluk 'Penyihir dari Omaha' tersebut tercatat memiliki kekayaan US$82,5 miliar. Kekayaan tersebut setara Rp1.170 triliun. Di posisi keempat terdapat nama Nernard Arnault. Raja fashion mewah kelas dunia yang merupakan bos Louis Vuitton tersebut tercatat memiliki kekayaan sebesar US$76 miliar atau Rp1.078 triliun.
Selain mengumumkan daftar nama orang terkaya dunia, Forbes juga mengumumkan daftar orang terkaya Indonesia. Masuk dalam urutan pertama orang terkaya di Indonesia adalah R. Budi Hartono. Anak pendiri perusahaan Djarum tersebut tercatat memiliki kekayaan US$18,6 miliar atau Rp263,988 triliun. Namanya masuk ke dalam daftar orang terkaya nomor 54 dunia. Di urutan kedua, Michael Hartono. Pemilik perusahaan rokok kretek Djarum ini tercatat memiliki kekayaan US$18,5 miliar atau Rp262,56 triliun. Ia masuk ke dalam orang terkaya nomor 56 dunia. Di urutan ketiga ada nama Sri Prakash Lohia. Pendiri dan ketua Indorama Corporation ini tercatat memiliki kekayaan sebesar US$7,3 miliar atau setara Rp103,6 triliun.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









