;
Tags

Saham

( 1717 )

Kompetisi Pasar Otomotif di Tanah Air Kian Sengit dengan Menjamurnya Mobil Listrik

KT1 07 Jun 2025 Investor Daily (H)
Kompetisi pasar otomotif di Tanah Air kian sengit dengan menjamurnya mobil listrik. Bukan hanya BYD ataupun Denza, yang kini menjadi penantang kuat. Tapi, kendaraan listrik asal pabrikan China, Xiaopeng Motors-Xpeng yang menggandeng  unit bisnis Erajaya Group juga akan memanas persaingan. Pelan tapi pasti, landskap pasar otomotif telah mengalami pergeseran sejak kendaraan listrik (electric vehicle/EV) resmi menggelinding di jalanan industri otomotif Indonesia. Data teranyar menunjukan, mobil listrik seperti BYD dan Denza menjadi dua jenama yang berhasil mendobrak pasar otomotif yang selama ini didominasi nama besar seperti PT Astra International Tbk (ASII). Tak mengherankan, sepanjang empat bulan pertama tahun ini, penjualan mobil Astra mengalami penyusutan sebanyak 6% dengan pangsa pasar sebesar 54%. Sebaliknya, penjualan mobol non-Astra justru tumbuh 10%, yang salah satunya disitribusikan oleh penjualan BYD-Denza sebanyak 4.307 unit. Posisi mobil listrik Xpeng sendiri dalam peta persaingan otomotif tersebut akan menyasar ceruk pasar yang berbeda dengan menjanjikan value proposition mobil listrik premium dan keunggulan fitur  teknologi yang canggih. (Yetede)

Anak Usaha Garuda GMFI Bidik Pendapatan 6,7 Triliun

KT1 07 Jun 2025 Investor Daily
PT Garuda Maintance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), optimistis mampu meraup pendapatan positif sebesar US$ 416 juta atau ekuivalen Rp6,7 triliun (asumsi kurs Rp16.280 per US$) pada 2025. Direktur Utama GMFU Andi Fahrurozzi menyampaikan,  optimisme tersebut bercermin dari capaian  GMFI yang berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 125,86 juta per April, atau merefleksikan sebesar 95% dari target. Sementara dari sisi EBITDA, tercatat sebesar US$ 19,82 juta, dan laba bersih sebesar US$ 4,61 juta. Berangkat dari capaian tersebut, GMFI pun membidik pendapatan US$ 416,9 juta dan laba bersih US$ 27,1 juta pada tahun penuh 2025. Menurut Andi, target tersebut akan ditopang oleh optimalisasi kapasitas, penguatan kapabilitas layanan, dan konsistensi eksekusi strategi lintas untuk bisnis. Berbekal, fondasi kokoh, GMFI siap melanjutkan peran sebagai  mitra strategis industri aviasi dan sektor lainnya. "Kami berkomitmen, menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi pemenang saham dan seluruh pemangku kepentingan," jelas Andi. Merujuk pada hasil RUPST, para pemegang saham menyetujui seluruh mata agenda rapat seperti pengesahan laporan keuangan tahun buku 2024, penggunaan laba bersih, penetapan tantiem dan remunerasi  direksi  serta komisaris, serta penunjukan auditor untuk tahun buku 2025. (Yetede)

Kebijakan KRIS Masih Tunggu Kejelasan Pemerintah

HR1 05 Jun 2025 Kontan
Kinerja PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) pada kuartal I-2025 mencatat hasil kurang memuaskan, dengan pendapatan turun 0,58% menjadi Rp 1,69 triliun dan laba bersih anjlok 34,68% menjadi Rp 124,72 miliar. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya hari kerja, sehingga jumlah pasien menurun, menurut Ahmad Iqbal Suyudi, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo.

Selain itu, tekanan jangka pendek dan menengah diperkirakan masih akan berlanjut karena adanya ketidakpastian tarif BPJS Kesehatan dan implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) per Juli 2025. Hal ini terutama memengaruhi pendapatan dari peserta JKN, yang saat ini menyumbang lebih dari 70% pendapatan HEAL.

Meski demikian, prospek jangka panjang HEAL tetap positif. Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas, menyebut bahwa strategi ekspansi rumah sakit di Badung dan Salatiga serta peningkatan porsi pasien non-JKN menjadi katalis utama pertumbuhan. Ia memperkirakan pendapatan HEAL akan tumbuh 9,38% pada 2025 menjadi Rp 7,34 triliun, meskipun margin laba bersih sedikit tertekan menjadi 7,8%.

Dari sisi analisis saham, Rizal merekomendasikan beli (buy) dengan target harga Rp 1.670, sedangkan Ahmad menyarankan tahan (hold) di Rp 1.600. Sementara itu, James Stanley Widjaja dari Buana Capital justru menurunkan rekomendasi dari buy menjadi hold, dengan target harga baru Rp 1.430, karena proyeksi penurunan laba bersih HEAL sebesar 4,7% menjadi Rp 558 miliar.

Walau HEAL menghadapi tantangan dari sisi regulasi dan tekanan margin dalam jangka pendek, para analis seperti Ahmad Iqbal Suyudi, Rizal Rafly, dan James Stanley Widjaja tetap melihat peluang pertumbuhan jangka panjang dari strategi ekspansi dan peningkatan porsi pasien non-JKN.

Kinerja Emiten Membaik, Pasar Punya Tenaga Baru

HR1 04 Jun 2025 Kontan
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan perbaikan kinerja signifikan pada kuartal I-2025 dengan peningkatan pendapatan bersih 40,4% yoy menjadi Rp 4,3 triliun, dan EBITDA yang disesuaikan positif Rp 393 miliar, naik tajam 489,1% yoy. Rugi bersih juga berhasil ditekan hingga turun 67% menjadi Rp 283 miliar. Hal ini menjadikan kuartal awal 2025 sebagai awal yang kuat, menurut Christopher Rusli, analis Ciptadana Sekuritas.

GOTO menargetkan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 1,4–1,6 triliun pada tahun 2025, yang didorong oleh penguatan segmen on-demand dan fintech. Layanan pengiriman dan mobilitas masing-masing tumbuh di atas 16%, sementara pendapatan dari segmen fintech melonjak 90% menjadi Rp 1,2 triliun, didominasi oleh pertumbuhan portofolio pinjaman.

Namun, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas mengingatkan bahwa ekspansi agresif di sektor pinjaman harus dijalankan dengan hati-hati, mengingat naiknya kredit bermasalah di industri pembiayaan. Ia menilai target EBITDA realistis, tetapi menyarankan pendekatan "wait and see" terhadap saham GOTO sambil menunggu kejelasan strategi ekspansi dan potensi merger dengan Grab.

Peter Milliken, analis Deutsche Bank, melihat potensi merger GOTO dan Grab sebagai transformasi positif yang dapat meningkatkan valuasi perusahaan. Ia memberikan rekomendasi "buy" dengan target harga Rp 115 per saham. Christopher Rusli juga tetap optimistis dengan memberikan rekomendasi "buy" dan target harga Rp 100 per saham.

GOTO berhasil menunjukkan perbaikan fundamental, terutama lewat efisiensi dan pertumbuhan pendapatan di segmen strategis. Namun, risiko kredit macet, persaingan pasar, dan ketidakpastian makroekonomi tetap menjadi tantangan, sementara sentimen merger dengan Grab menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah saham GOTO ke depan.

Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

HR1 04 Jun 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

HR1 04 Jun 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Gelombang Tekanan Sentimen Negatif dari Berbagai Arah.

KT1 03 Jun 2025 Investor Daily (H)
IHSG gagal menembus level psikologis 7.500 di tengah gelombang tekanan sentimen negatif dari berbagai arah. Pada perdagangan Senin (02/06/2025) di BEI, IHSG ditutup terkoreksi hingga nyaris 2%, tepatnya 1,54% ke posisi 7.065. Ini terjadi setelah investor global dan domestik melakukan aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham perbankan dan sektor siklikal lainnya. Tekanan yang terjadi tidak lepas dari munculnya kembali isu penyebaran varian Covid-19 di beberapa negara Asia, serta peningkatan tensi dagang antara Amerika Serikat dan China yang memicu kekhawatiran pasar atas kelangsungan pemulihan ekonomi global. Dari dalam negeri, pasar dihadapkan pada data makroekonomi yang mengecwakan. Perekonomian Indonesia pada Mei 2025 mengalami deflasi hingga 0,37% secara bulanan, menjadi deflasi ketiga sepanjang tahun ini. Secara tahunan, inflasi Indonesia pada bulan yang sama hanya 1,60%, lebih rendah dari April 2025 yang sebesar 1,95%. "Deflasi ini memperlihatkan bahwa daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Ini bisa menjadi sinyal negatif terhadap prospek konsumsi yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Hendra Wardana. (Yetede)

Harapan Baru atas Perbaikan Likuiditas Pasar

HR1 03 Jun 2025 Kontan
Kinerja Bank Mandiri (BMRI) pada kuartal I-2025 menunjukkan pertumbuhan laba bersih 3,9% secara tahunan menjadi Rp 13,2 triliun. Namun secara kuartalan, laba menurun 4,1% akibat tekanan likuiditas dan kenaikan cost of fund menjadi 2,4%, yang menyebabkan penurunan net interest margin (NIM) dari 5,27% menjadi 4,8%.

Menurut Arief Machrus, analis dari Ina Sekuritas, penurunan NIM disebabkan oleh ketatnya likuiditas dan persaingan perebutan dana pihak ketiga. Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, juga menilai tekanan NIM masih akan berlangsung dalam jangka pendek, meskipun inisiatif digitalisasi melalui Livin, Kopra, dan Livin Merchant bisa meningkatkan dana murah (CASA) ke depan.

Dari sisi kredit, pertumbuhan kredit kuartalan stagnan, namun secara tahunan tumbuh signifikan sebesar 16,5% yoy. Indy menambahkan bahwa pertumbuhan kredit korporasi cenderung melambat dan non-performing loan (NPL) masih tinggi, namun bisa membaik jika suku bunga dan ekonomi stabil. Ia memperkirakan laba BMRI bisa tumbuh 5%-8% tahun ini, ditopang efisiensi operasional.

Satria Sambijantoro, analis dari Bahana Sekuritas, menyebut BMRI tetap optimis mencapai target NIM 5%-5,2% pada 2025, seiring potensi peningkatan likuiditas di semester II-2025 karena belanja pemerintah dan pemangkasan suku bunga BI.

Meski begitu, BMRI tetap berhati-hati menghadapi risiko tarif impor AS, ketatnya likuiditas domestik, dan potensi pelemahan ekonomi makro. Bahana memproyeksikan laba bersih BMRI 2025 mencapai Rp 58,5 triliun (naik 4,87% yoy) dan mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 6.700.

Sementara Indy merekomendasikan akumulasi dengan target harga Rp 6.100, dan Arief menetapkan target lebih tinggi di Rp 7.700. Dengan harga saham saat ini di Rp 5.075, saham BMRI dinilai masih punya potensi upside.

Meski menghadapi tekanan margin dan likuiditas, BMRI tetap menunjukkan prospek pertumbuhan laba yang positif untuk 2025 berkat strategi efisiensi, digitalisasi, dan potensi penurunan suku bunga. Para analis — Arief Machrus, Indy Naila, dan Satria Sambijantoro — secara umum optimistis dan merekomendasikan beli (buy) terhadap saham BMRI.

Saham Perbankan Masih Menyimpan Potensi Cuan

HR1 03 Jun 2025 Kontan
Investor saham perbankan disarankan tidak hanya terpaku pada bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, melainkan juga mulai melirik bank menengah yang menunjukkan kinerja kuat. Beberapa di antaranya mencatat pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibanding bank besar sepanjang empat bulan pertama 2025. Misalnya Bank Syariah Indonesia (BRIS) tumbuh laba 6,2% menjadi Rp 2,38 triliun, Bank Permata (BNLI) tumbuh 9,17%, Bank OCBC NISP naik 11,5%, CIMB Niaga (BNGA) naik 3,57%.


Sebaliknya, beberapa bank besar seperti BMRI hanya naik 0,7%, BBNI naik tipis 0,15%, dan BBRI malah turun 15,8%.

Menurut Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, bank-bank menengah ini punya fleksibilitas lebih besar dan fokus pada segmen khusus, seperti BRIS di sektor syariah, serta BNGA dan NISP yang dikenal konservatif. Ia menilai bank-bank tersebut cocok untuk diversifikasi portofolio, terutama bagi investor jangka menengah hingga panjang. Ia menyarankan akumulasi saat harga koreksi tanpa penurunan fundamental.

Oktavianus Audi, VP dari Kiwoom Sekuritas, juga memandang positif prospek bank menengah, didukung pertumbuhan kredit dan pendapatan bunga yang solid. Ia merekomendasikan buy BRIS dengan target harga Rp 3.660, dan memperkirakan labanya bisa tumbuh hingga 17% tahun ini.

Sementara itu, Maximilianus Nicodemus, Associate Director dari Pilarmas Investindo Sekuritas, mengunggulkan BNGA berkat strategi digital yang kuat, yang diyakini dapat memberikan dampak positif dalam jangka menengah hingga panjang. Ia memberikan rekomendasi buy BNGA dengan target harga Rp 2.150.

Bank-bank menengah seperti BRIS, BNLI, NISP, dan BNGA menjadi alternatif menjanjikan di sektor perbankan, khususnya untuk diversifikasi dan peluang pertumbuhan jangka panjang, menurut para analis yang dikutip.

Kinerja Manufaktur Kembali Mengalami Kontraksi pada Mei

KT1 03 Jun 2025 Investor Daily (H)

Kinerja manufaktur kembali mengalami kontraksi pada Mei, menjadikan kontraksi dua bulan berturut-turut. Ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan  pasar domestik diperkirakan akan  menghantui manufaktur hingga kuartal kedua tahun ini. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Mei ada di level 47,4 atau naik 0,7 poin dari April 2025 yaitu di level 46,7 atau berada di fase kontraksi (di bawah poin 50). Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani memperkirakan tren PMI manufaktur masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek, terutama di kuartal kedua. "Namun, dengan catatan apabila ralisasi belanja pemerintah dapat dipercepat dan stimulus konsumsi dijalankan secara lebih tepat sasaran, terutama untuk mendukung daya beli rumah tangga produktif, ada peluang untuk mendukung daya beli rumah tangga produktif, ada peluang untuk mendongkrak permintaan di paruh kedua tahun ini," ucap dia. (Yetede)