;
Tags

Saham

( 1722 )

Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

HR1 04 Jun 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

HR1 04 Jun 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Gelombang Tekanan Sentimen Negatif dari Berbagai Arah.

KT1 03 Jun 2025 Investor Daily (H)
IHSG gagal menembus level psikologis 7.500 di tengah gelombang tekanan sentimen negatif dari berbagai arah. Pada perdagangan Senin (02/06/2025) di BEI, IHSG ditutup terkoreksi hingga nyaris 2%, tepatnya 1,54% ke posisi 7.065. Ini terjadi setelah investor global dan domestik melakukan aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham perbankan dan sektor siklikal lainnya. Tekanan yang terjadi tidak lepas dari munculnya kembali isu penyebaran varian Covid-19 di beberapa negara Asia, serta peningkatan tensi dagang antara Amerika Serikat dan China yang memicu kekhawatiran pasar atas kelangsungan pemulihan ekonomi global. Dari dalam negeri, pasar dihadapkan pada data makroekonomi yang mengecwakan. Perekonomian Indonesia pada Mei 2025 mengalami deflasi hingga 0,37% secara bulanan, menjadi deflasi ketiga sepanjang tahun ini. Secara tahunan, inflasi Indonesia pada bulan yang sama hanya 1,60%, lebih rendah dari April 2025 yang sebesar 1,95%. "Deflasi ini memperlihatkan bahwa daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Ini bisa menjadi sinyal negatif terhadap prospek konsumsi yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Hendra Wardana. (Yetede)

Harapan Baru atas Perbaikan Likuiditas Pasar

HR1 03 Jun 2025 Kontan
Kinerja Bank Mandiri (BMRI) pada kuartal I-2025 menunjukkan pertumbuhan laba bersih 3,9% secara tahunan menjadi Rp 13,2 triliun. Namun secara kuartalan, laba menurun 4,1% akibat tekanan likuiditas dan kenaikan cost of fund menjadi 2,4%, yang menyebabkan penurunan net interest margin (NIM) dari 5,27% menjadi 4,8%.

Menurut Arief Machrus, analis dari Ina Sekuritas, penurunan NIM disebabkan oleh ketatnya likuiditas dan persaingan perebutan dana pihak ketiga. Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, juga menilai tekanan NIM masih akan berlangsung dalam jangka pendek, meskipun inisiatif digitalisasi melalui Livin, Kopra, dan Livin Merchant bisa meningkatkan dana murah (CASA) ke depan.

Dari sisi kredit, pertumbuhan kredit kuartalan stagnan, namun secara tahunan tumbuh signifikan sebesar 16,5% yoy. Indy menambahkan bahwa pertumbuhan kredit korporasi cenderung melambat dan non-performing loan (NPL) masih tinggi, namun bisa membaik jika suku bunga dan ekonomi stabil. Ia memperkirakan laba BMRI bisa tumbuh 5%-8% tahun ini, ditopang efisiensi operasional.

Satria Sambijantoro, analis dari Bahana Sekuritas, menyebut BMRI tetap optimis mencapai target NIM 5%-5,2% pada 2025, seiring potensi peningkatan likuiditas di semester II-2025 karena belanja pemerintah dan pemangkasan suku bunga BI.

Meski begitu, BMRI tetap berhati-hati menghadapi risiko tarif impor AS, ketatnya likuiditas domestik, dan potensi pelemahan ekonomi makro. Bahana memproyeksikan laba bersih BMRI 2025 mencapai Rp 58,5 triliun (naik 4,87% yoy) dan mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 6.700.

Sementara Indy merekomendasikan akumulasi dengan target harga Rp 6.100, dan Arief menetapkan target lebih tinggi di Rp 7.700. Dengan harga saham saat ini di Rp 5.075, saham BMRI dinilai masih punya potensi upside.

Meski menghadapi tekanan margin dan likuiditas, BMRI tetap menunjukkan prospek pertumbuhan laba yang positif untuk 2025 berkat strategi efisiensi, digitalisasi, dan potensi penurunan suku bunga. Para analis — Arief Machrus, Indy Naila, dan Satria Sambijantoro — secara umum optimistis dan merekomendasikan beli (buy) terhadap saham BMRI.

Saham Perbankan Masih Menyimpan Potensi Cuan

HR1 03 Jun 2025 Kontan
Investor saham perbankan disarankan tidak hanya terpaku pada bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, melainkan juga mulai melirik bank menengah yang menunjukkan kinerja kuat. Beberapa di antaranya mencatat pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibanding bank besar sepanjang empat bulan pertama 2025. Misalnya Bank Syariah Indonesia (BRIS) tumbuh laba 6,2% menjadi Rp 2,38 triliun, Bank Permata (BNLI) tumbuh 9,17%, Bank OCBC NISP naik 11,5%, CIMB Niaga (BNGA) naik 3,57%.


Sebaliknya, beberapa bank besar seperti BMRI hanya naik 0,7%, BBNI naik tipis 0,15%, dan BBRI malah turun 15,8%.

Menurut Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, bank-bank menengah ini punya fleksibilitas lebih besar dan fokus pada segmen khusus, seperti BRIS di sektor syariah, serta BNGA dan NISP yang dikenal konservatif. Ia menilai bank-bank tersebut cocok untuk diversifikasi portofolio, terutama bagi investor jangka menengah hingga panjang. Ia menyarankan akumulasi saat harga koreksi tanpa penurunan fundamental.

Oktavianus Audi, VP dari Kiwoom Sekuritas, juga memandang positif prospek bank menengah, didukung pertumbuhan kredit dan pendapatan bunga yang solid. Ia merekomendasikan buy BRIS dengan target harga Rp 3.660, dan memperkirakan labanya bisa tumbuh hingga 17% tahun ini.

Sementara itu, Maximilianus Nicodemus, Associate Director dari Pilarmas Investindo Sekuritas, mengunggulkan BNGA berkat strategi digital yang kuat, yang diyakini dapat memberikan dampak positif dalam jangka menengah hingga panjang. Ia memberikan rekomendasi buy BNGA dengan target harga Rp 2.150.

Bank-bank menengah seperti BRIS, BNLI, NISP, dan BNGA menjadi alternatif menjanjikan di sektor perbankan, khususnya untuk diversifikasi dan peluang pertumbuhan jangka panjang, menurut para analis yang dikutip.

Kinerja Manufaktur Kembali Mengalami Kontraksi pada Mei

KT1 03 Jun 2025 Investor Daily (H)

Kinerja manufaktur kembali mengalami kontraksi pada Mei, menjadikan kontraksi dua bulan berturut-turut. Ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan  pasar domestik diperkirakan akan  menghantui manufaktur hingga kuartal kedua tahun ini. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Mei ada di level 47,4 atau naik 0,7 poin dari April 2025 yaitu di level 46,7 atau berada di fase kontraksi (di bawah poin 50). Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani memperkirakan tren PMI manufaktur masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek, terutama di kuartal kedua. "Namun, dengan catatan apabila ralisasi belanja pemerintah dapat dipercepat dan stimulus konsumsi dijalankan secara lebih tepat sasaran, terutama untuk mendukung daya beli rumah tangga produktif, ada peluang untuk mendukung daya beli rumah tangga produktif, ada peluang untuk mendongkrak permintaan di paruh kedua tahun ini," ucap dia. (Yetede)


Sinyal Perbaikan Ekonomi Semakin Terlihat

HR1 02 Jun 2025 Kontan
Sepanjang tahun 2025, saham sektor konsumen nonprimer (consumer cyclicals) mengalami tekanan berat, dengan penurunan kinerja sebesar 12,14% year to date (ytd) — menjadikannya sektor berkinerja terburuk di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penurunan ini dipicu oleh perlambatan kinerja keuangan emiten, penguatan indeks dolar AS, pengetatan moneter, deflasi, dan berkurangnya daya beli masyarakat.

Namun, Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, menilai bahwa sektor ini berpeluang pulih. Faktor pendorongnya antara lain ekspektasi kebijakan dovish dari The Fed, stabilitas ekonomi domestik, nilai tukar rupiah yang menguat, serta potensi rotasi sektor ke saham-saham siklikal. Selain itu, program pemerintah seperti diskon tarif listrik juga diperkirakan bisa mendorong konsumsi rumah tangga terhadap barang nonprimer.

Jessica Leonardy, Equity Analyst OCBC Sekuritas, menyoroti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebagai salah satu saham yang menarik. MAPI diprediksi tumbuh kuat berkat portofolio merek internasional dan tren gaya hidup aktif di kalangan Gen Z dan milenial. MAPI juga ekspansif dengan rencana membuka 450 toko baru pada 2025.

Sementara itu, Laras Nadira dari Bahana Sekuritas menilai Grup Alfamart, melalui AMRT dan MIDI, sebagai pemain defensif yang tetap berpotensi tumbuh. MIDI bahkan diproyeksikan mencetak laba bersih sebesar Rp 758,8 miliar tahun ini, naik 25% dari estimasi sebelumnya. MIDI juga dinilai lebih fokus dan efisien setelah keluar dari bisnis Lawson.

Meskipun Kiwoom Sekuritas masih memberikan pandangan netral terhadap sektor ini, Audi menyarankan perhatian khusus terhadap saham AUTO dan MAPI, dengan target harga masing-masing Rp 2.480 dan Rp 1.700. Kesimpulannya, sektor konsumen nonprimer menghadapi tekanan jangka pendek, tetapi memiliki peluang pemulihan di paruh kedua 2025, terutama bagi emiten dengan strategi dan posisi pasar yang kuat.

Bank-Bank Raksasa Mulai Raup Laba dan Naik Daun

HR1 02 Jun 2025 Kontan
Meskipun kinerja keuangan bank-bank besar di Indonesia hingga April 2025 masih stagnan, harga saham mereka justru menunjukkan penguatan signifikan dalam sebulan terakhir. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mencatat kenaikan harga saham tertinggi sebesar 18,98%, meskipun labanya turun 15,7% secara tahunan menjadi Rp 15 triliun. Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, menyatakan bahwa strategi fokus pada peningkatan dana murah (CASA) melalui digitalisasi seperti BRImo dan AgenBRILink menjadi kunci efisiensi jangka panjang.

Sementara itu, PT Bank Central Asia (BBCA) berhasil mencetak pertumbuhan laba 17,4% dan harga sahamnya naik 9,3%. PT Bank Mandiri (BMRI) mencatat kenaikan laba yang lebih kecil, hanya 0,7%, dan pertumbuhan kredit yang melambat, namun tetap optimis mencapai target tahunan. Corporate Secretary Bank Mandiri, M. Ashidiq Iswara, menegaskan komitmen bank terhadap target pertumbuhan kredit 10–12%.

PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatat kenaikan harga saham paling rendah, 6,9%, seiring dengan laba yang nyaris stagnan di Rp 6,87 triliun.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menilai bahwa tekanan terhadap bank besar disebabkan oleh tingginya cost of credit dan perlambatan pertumbuhan kredit. Namun, ia optimistis kinerja bank akan membaik seiring potensi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia. Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta, merekomendasikan pembelian saham BBCA, BMRI, dan BBNI karena potensi penguatan lebih lanjut.

Meskipun profitabilitas belum sepenuhnya pulih, prospek pasar terhadap sektor perbankan masih positif karena ekspektasi suku bunga lebih rendah dan penguatan strategi digitalisasi oleh bank-bank besar.

IHSG Berpotensi Cetak Kinerja Positif

HR1 02 Jun 2025 Kontan (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatat kinerja positif sepanjang Mei 2025 dengan kenaikan 7,44% secara bulanan, menembus level 7.175,81. Kinerja ini mematahkan mitos pasar “Sell in May and Go Away”. Bahkan secara year to date (ytd), IHSG tumbuh 1,35%.

Menurut Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, penguatan IHSG diperkirakan berlanjut pada Juni 2025, ditopang oleh sentimen musim pembagian dividen dari emiten big caps dan rilis kinerja emiten semester pertama 2025. Ia juga menyebut rebalancing sektoral akan semakin terasa di paruh kedua tahun ini, terutama jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan.

Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment, menambahkan bahwa pasar akan bergerak lebih dinamis karena adanya potensi profit taking dari saham defensif ke sektor siklikal. Ia menyebut fenomena window dressing biasanya muncul di akhir tahun jika tidak ada koreksi besar pada Mei.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, mengamati bahwa secara historis selama 29 tahun terakhir, IHSG cenderung hanya terkoreksi pada Agustus dan September, memberikan peluang akumulasi saham berfundamental kuat di bulan-bulan tersebut.

Dengan sentimen positif seperti dividen, kinerja emiten, dan prospek kebijakan moneter, para analis optimis IHSG dapat mempertahankan tren penguatannya memasuki paruh kedua tahun 2025.

Bitcoin Melemah, Altcoin Curi Perhatian

HR1 31 May 2025 Kontan (H)
Bulan Juni historisnya menjadi periode yang kurang menguntungkan bagi investor kripto, dengan data menunjukkan rata-rata imbal hasil Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) cenderung negatif setiap Juni sejak 2013. Menjelang Juni 2025, Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur memperkirakan potensi koreksi BTC sebesar 5–10%, dengan penurunan jangka pendek hingga ke level sekitar US$ 102.000 dari posisi terakhir di US$ 105.958.

Fyqieh menyoroti bahwa sentimen pasar kripto saat ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter global dan arah suku bunga AS, dengan pertemuan FOMC pada 17–18 Juni 2025 menjadi perhatian utama pasar. Ia juga menyarankan investor untuk mempertimbangkan altcoin seperti XRP, yang sedang mendapat sorotan setelah Webus International Limited berencana menghimpun dana hingga US$ 300 juta untuk membentuk cadangan strategis dalam XRP.

Inovasi lain yang mendorong sentimen positif datang dari Coinbase, yang meluncurkan kontrak futures BTC, ETH, dan altcoin lainnya seperti SOL, ADA, dan HBAR, memungkinkan perdagangan 24 jam. Ini dianggap Fyqieh sebagai sinyal positif yang bisa mendorong legitimasi dan eksposur lebih besar terhadap aset kripto.

Altcoin lain yang dinilai prospektif antara lain TON, yang mendapat sentimen positif dari perekrutan Nikola Plecas, mantan eksekutif Visa, sebagai VP of Payments untuk mengintegrasikan TON dalam ekosistem Telegram. Adopsi ini dianggap mampu mendongkrak potensi TON dalam sistem pembayaran digital.

Dari sisi lokal, Robby, Chief Compliance Officer Reku, menilai tren investasi kripto di Indonesia terus berkembang. Ia optimistis jumlah investor akan terus meningkat dan menyebut bahwa kripto kini mulai dilihat sebagai bagian dari portofolio jangka panjang, sejalan dengan proyeksi Statista bahwa jumlah investor kripto Indonesia bisa menembus 28,65 juta orang pada tahun 2025.