Harapan Baru atas Perbaikan Likuiditas Pasar
Kinerja Bank Mandiri (BMRI) pada kuartal I-2025 menunjukkan pertumbuhan laba bersih 3,9% secara tahunan menjadi Rp 13,2 triliun. Namun secara kuartalan, laba menurun 4,1% akibat tekanan likuiditas dan kenaikan cost of fund menjadi 2,4%, yang menyebabkan penurunan net interest margin (NIM) dari 5,27% menjadi 4,8%.
Menurut Arief Machrus, analis dari Ina Sekuritas, penurunan NIM disebabkan oleh ketatnya likuiditas dan persaingan perebutan dana pihak ketiga. Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, juga menilai tekanan NIM masih akan berlangsung dalam jangka pendek, meskipun inisiatif digitalisasi melalui Livin, Kopra, dan Livin Merchant bisa meningkatkan dana murah (CASA) ke depan.
Dari sisi kredit, pertumbuhan kredit kuartalan stagnan, namun secara tahunan tumbuh signifikan sebesar 16,5% yoy. Indy menambahkan bahwa pertumbuhan kredit korporasi cenderung melambat dan non-performing loan (NPL) masih tinggi, namun bisa membaik jika suku bunga dan ekonomi stabil. Ia memperkirakan laba BMRI bisa tumbuh 5%-8% tahun ini, ditopang efisiensi operasional.
Satria Sambijantoro, analis dari Bahana Sekuritas, menyebut BMRI tetap optimis mencapai target NIM 5%-5,2% pada 2025, seiring potensi peningkatan likuiditas di semester II-2025 karena belanja pemerintah dan pemangkasan suku bunga BI.
Meski begitu, BMRI tetap berhati-hati menghadapi risiko tarif impor AS, ketatnya likuiditas domestik, dan potensi pelemahan ekonomi makro. Bahana memproyeksikan laba bersih BMRI 2025 mencapai Rp 58,5 triliun (naik 4,87% yoy) dan mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 6.700.
Sementara Indy merekomendasikan akumulasi dengan target harga Rp 6.100, dan Arief menetapkan target lebih tinggi di Rp 7.700. Dengan harga saham saat ini di Rp 5.075, saham BMRI dinilai masih punya potensi upside.
Meski menghadapi tekanan margin dan likuiditas, BMRI tetap menunjukkan prospek pertumbuhan laba yang positif untuk 2025 berkat strategi efisiensi, digitalisasi, dan potensi penurunan suku bunga. Para analis — Arief Machrus, Indy Naila, dan Satria Sambijantoro — secara umum optimistis dan merekomendasikan beli (buy) terhadap saham BMRI.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023