Korporasi
( 1557 )Tembaga Memoles Prospek MDKA
Angka produksi tembaga yang menguat bakal memoles kinerja PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Emiten pertambangan bijih logam ini berpeluang kembali menadah laba bersih pada tahun ini, setelah di tahun 2023 lalu menelan kerugian. Analis KB Valbury Sekuritas, Benyamin Mikael mengatakan, tahun ini, MDKA membidik 14.000-16.000 ton tembaga. Naik dibandingkan dengan produksi tembaga di tahun lalu yang sebesar 12.706 ton.Dengan kenaikan produksi tembaga pada tahun ini, MDKA diprediksikan bisa mencapai laba tipis, setelah merugi pada tahun 2023 sebesar US$ 20,7 juta. Pada kuartal IV-2023, MDKA mencetak laba bersih sebesar US$ 3,1 juta, turun hingga 87,8% secara kuartalan. Sedangkan pendapatan MDKA tumbuh cukup kuat sebesar 120% year on year (yoy) pada kuartal IV-2023.
Dalam riset 5 April 2024, Benyamin mengatakan, harga komoditas nikel yang lebih rendah akan menjadi tantangan utama MDKA pada tahun 2024. Benyamin memperkirakan, pendapatan MDKA pada tahun 2024 akan mencapai US$ 2,29 miliar, tumbuh dari tahun 2023 yang mencapai US$ 1,7 miliar. Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, banyak peluang yang dapat diraih MDKA pada tahun ini, sejalan dengan kenaikan produksi tembaga. Selain itu, Nico mengatakan ada indikasi peningkatan cadangan tembaga di proyek Tujuh Bukit Banyuwangi. Cadangan tembaga naik dari sebelumnya 442 juta ton menjadi 755 juta ton. Hal ini menjadi katalis positif untuk MDKA, di tengah sejumlah risiko yang masih membayangi sektor tambang nikel. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menilai, prospek bisnis MDKA di tahun ini masih positif, di tengah banyaknya proyek yang sedang digarap.
Mendongkrak Kinerja, ELPI Mulai Fokus di Logistik Migas
Emiten terus melancarkan aksi korporasi pada tahun ini. Misalnya PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI). Salah satu emiten pelayaran logistik ini menyiapkan dana Rp 1 triliun untuk belanja modal atau capital expenditure (capex) sepanjang tahun 2024. Pada periode Januari–Maret 2023, Eka Taniputra, Direktur Utama Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari menjelaskan bahwa sumber dana capex itu rencananya berasal dari kas internal dan pendanaan pihak ketiga, yaitu perbankan. Namun komposisi tersebut masih belum pasti, mengingat ELPI masih mencermati potensi dan risiko yang akan datang, terutama untuk pembelian kapal. Eka bilang, jika risikonya besar, ELPI akan mengandalkan pendanaan internal terlebih dulu.
Emiten yang berbasis di Surabaya ini juga berencana menambah empat unit offshore support vessel sepanjang tahun ini. ELPI akan kedatangan 10 unit armada baru pada tahun ini. Menurut Eka langkah tersebut diambil, lantaran ELPI tahun ini bakal fokus pada bidang logistik pendukung migas dan gas (migas) serta batubara. Untuk itu, ELPI lebih banyak menambah armada di komoditas curah, khususnya batubara. Sejalan dengan penambahan armada itu, ELPI mengincar pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di akhir tahun ini. Yakni masing-masing bisa tumbuh 15% dibandingkan pencapaian pada 2023. ELPI berencana membagikan dividen Rp 46,69 miliar atau Rp 6,3 per saham dari tahun buku 2023.
Merger FREN dan EXCL Kian Dekat
Hilal rencana konsolidasi atau merger antara PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL) mulai nampak. Kedua induk emiten telekomunikasi itu telah menandatangani nota kesepahaman. Sinar Mas melalui PT Wahana Inti Nusantara dan PT Global Nusa Data bersama Axiata Group Berhad telah meneken nota kesepahaman dengan Axiata Group Berhad yang bersifat tidak mengikat, Rabu (15/5). Direktur Utama Smartfren Telecom, Merza Fachys mengatakan, pihaknya berharap dengan sinergi ini, akan terjadi efisiensi bisnis. Selain itu, sumber daya untuk melayani pelanggan bisa semakin kuat. Managing Director Sinar Mas, Ferry Salman memastikan, seluruh proses yang berlangsung saat ini akan mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku. Dia menegaskan, dokumen nota kesepahaman masih bersifat tidak mengikat. Sehingga ada potensi merger ini tidak terlaksana. Namun, aksi korporasi ini diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi industri.
Menurut Ferry, rencana merger ini juga sejalan dengan strategi pengembangan portofolio bisnis pilar usaha Sinar Mas. Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/5), rencana merger antara XL Axiata dan Smartfren akan menciptakan entitas baru yang akan disebut dengan MergeCo. Manajemen Axiata meyakini MergeCo akan memiliki kelincahan yang strategis, kompetensi dan kemampuan yang mumpuni untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat dari konsumen, bisnis dan sektor publik. Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis mengatakan, penggabungan antara FREN dan EXCL akan memberikan beberapa keuntungan bagi masing-masing emiten. "Keduanya memiliki posisi pasar fixed broadband dan fixed wireless access (FWA) yang tetap tinggi. Ini yang tidak ada dalam merger Indosat dan Hutchinson," tulisnya dalam riset.
ADRO Tebar Dividen Final US$ 400 Juta
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) masih konsisten mengguyur dividen.Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), Rabu (15/5), menyetujui pembagian dividen dengan total nilai US$ 800 juta atau 48,74% dari laba bersih tahun buku 2023 sebesar US$ 1,64 miliar. Dividen ini termasuk US$ 400 juta yang telah dibayar pada 12 Januari 2024 sebagai dividen interim. Sedangkan US$ 400 juta akan dibagikan sebagai dividen tunai final. Presiden Direktur ADRO Garibaldi Thohir mengatakan, tahun ini, ADRO akan fokus mendorong transisi bisnis di luar batubara thermal. ADRO mengejar kontribusi pendapatan dari bisnis non-batubara thermal bisa seimbang, yaitu 50% pada tahun 2030.
ADRO mengoptimalkan cadangan dan sumber daya batubara pada aset yang ada saat ini. Sebagai gantinya, ADRO menggenjot kontribusi batubara metalurgi dan pengembangan industri aluminium melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Direktur ADRO, Michael William Soeryadjaya mengatakan, dengan posisi neraca di atas US$ 1 miliar dan dana yang sudah dicadangkan, ADRO tidak menemui kendala menggarap proyek smelter aluminium dan PLTA fase pertama. Equity Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan menilai aksi buyback ADRO memberikan sinyal positif, dan menandakan harga saham ADRO relatif sedang undervalue. Di sisi lain, Felix memandang pembagian dividen ADRO sudah priced in dengan harga sahamnya.
Mesin Pertumbuhan Baru Chanadra Asri
Emiten petrokimia terintegrasi milik Taipan Parjogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) optimistis akan mencatatkan kinerja cemerlang setelah mengakuisisi aset Shell Energy and Chemical Park (SECP). Aset kilang minyak mentah dengan kapasitas pemrosesan sebanyak 237.000 barel per hari, ethylene cracker berkapasitas 1,1 juta metrik ton per tahun di Pulau Bukom, serta aset kimia hilir di Pulau Jurong, Singapura ini, diyakini akan membantu meningkatkan pendapatan Chandra Asri hingga lima kali lipat dalam tiga tahun mendatang. Chandra Asri bersama Glencore Plc telah membentuk perusahaan patungan (joint venture/ JV), CAPGC Pte Ltd, untuk mengaukisisi 100% Ltd.
Dengan kepemilikan bisnis kilang ini TPIA dapat mengolah minyak mentah secara langsung dan menghasilkan produk-produk bahan baku seperti bensin, solar, avtur, dan aspal yang belum dapat di produksi oleh fasilitas TPIA sebelumnya. Sementara itu, dengan adanya Glencore, salah satu trader komoditas terbesar di dunia, sebagai mitra strategis dapat meningkatkan daya saing TPIA di level global melalui jaringan distribusi serta stabilitas suplai minyak. (Yetede)
STRATEGI EMITEN : BELANJA MODAL MENGALIR PELAN
Di tengah tingginya ketidakpastian global dan dinamika ekonomi domestik, emiten-emiten berhitung dengan cermat untuk mengucurkan belanja modal pada 2024. Alhasil, kucuran capital expenditure (capex) relatif mengalir pelan pada awal tahun ini.
Dua emiten yang mengalokasikan capex dengan nilai jumbo ialah PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN). ADMR menyiapkan belanja modal US$175 juta hingga US$250 juta, sedangkan BREN senilai US$160 juta. Direktur Adaro Minerals Indonesia Heri Gunawan menjelaskan, capex tersebut rencananya akan digunakan untuk keperluan smelter dan infrastruktur PT Maruwai Coal. “Yang terserap sudah US$77 juta, karena banyak belanja modal untuk pembangunan smelter aluminium maupun proyek infrastruktur untuk Maruwai Coal,” kata Heri usai RUPS ADMR, Selasa (14/5).
Sementara itu, BREN menyerap belanja modal sekitar US$13 juta sepanjang kuartal I/2024. Dana tersebut digunakan BREN untuk persiapan ke giatan pengeboran aset Drajat yang akan dimulai dalam waktu dekat ini. Dengan demikian, BREN masih mengantongi alokasi capex tebal, yakni sekitar US$147 juta untuk dikucurkan dalam tiga kuartal berikutnya. Direktur Utama Barito Renewables Energy Tan Hendra Soetjipto mengatakan, BREN menargetkan kenaikan kapasitas menjadi sebesar 2.002 megawatt (MW) untuk pembangkit geotermal, dan 396 MW dari pembangkit listrik tenaga angin.
Direktur dan Corporate Secretary Barito Pacifi c David Kosasih mengatakan BRPT sebagai holding menganggarkan belanja modal sebesar US$600 juta hingga US$650 juta pada tahun ini. Mayoritas belanja modal tersebut akan digunakan untuk proyek pabrik CAEDC atau pabrik ethylene dichloride, drilling geotermal dan beberapa proyek lainnya.
Serapan belanja modal yang rendah juga dialami oleh emiten panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Sepanjang kuartal I/2024, entitas usaha PT Pertamina (Persero) itu menghabiskan belanja modal sebesar US$18,08 juta atau 3,3% dari alokasi capex tahun ini yang mencapai US$547 juta. Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Yurizki Rio mengeklaim perseroan berupaya menjaga kinerja keuangannya sembari memaksimalkan belanja modal untuk akselerasi ekspansi bisnis. Berbanding terbalik, emiten di sektor telekomunikasi masih jor-joran untuk mengalirkan belanja modal demi ekspansi jaringan dan memperkuat infrastruktur telekomunikasi. PT Indosat Tbk. (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison, misalnya telah menyerap belanja modal sebesar Rp2 triliun hingga kuartal I/2024.
Jumlah itu setara dengan 16,66% dari alokasi capex Rp12 triliun pada tahun ini. Sekitar 88% dari serapan belanja modal ISAT mengalir ke bisnis seluler untuk mendukung permintaan layanan data. Direktur Indosat Nicky Lee menuturkan, anggaran capex ISAT pada tahun ini akan difokuskan untuk memperluas jangkauan, menambah kapasitas, dan membuat jaringan yang lebih tahan banting. Senada, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tercatat menghabiskan belanja modal sebesar Rp5,1 triliun sepanjang 3 bulan pertama 2024. “Telkom memprioritaskan optimalisasi nilai sinergi dari capex di seluruh jaringan akses, backbone, dan sistem IT untuk efi siensi yang lebih baik,” tulis manajemen TLKM.
Setelah MoU Hyundai Berakhir, ADMR Jajaki Calon Mitra Baru
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) fokus mengejar pembangunan sejumlah proyek tahun ini. Salah satunya adalah pabrik pengolahan atau smelter aluminium yang berada di bawah naungan PT Kalimantan Aluminium Industry. Direktur Adaro Minerals, Wito Krisnahadi mengatakan, proyek smelter aluminium Grup Adaro tahap pertama memiliki kapasitas produksi sebesar 500.000 ton ingot (batangan aluminium). Smelter ini akan beroperasi bertahap secara komersial mulai kuartal III-2025. ADMR sudah menjajaki beberapa pihak untuk bekerja sama terkait proyek pengadaan aluminium. Penjajakan ini dilakukan setelah nota kesepahaman atau MoU ADMR dengan Hyundai Motor Company terkait pembelian aluminium berakhir. Wito mengatakan, saat ini telah ada tiga traders besar yang tertarik dengan aluminium ADMR.
Dua di antaranya sudah melakukan penandatanganan MoU. Sementara, satu traders masih dalam proses penjajakan. Sebelumnya, ADMR dan Hyundai sepakat membeli ketersediaan aluminium yang diproduksi oleh PT Kalimantan Aluminium Industry. Namun, akhirnya keduanya tidak memperpanjang MoU. Alasannya, Hyundai masih menunggu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Presiden Direktur ADMR, Christian Ariano Rachmat mengatakan, produksi aluminium masih sesuai rencana, yaitu dengan menggunakan Pembangkit istrik Tenaga Uap (PLTU). Nantinya, setelah PLTA berhasil dibangun, ADMR akan memulai produksi green aluminum. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer merekomendasikan trading buy ADMR dengan target harga Rp 1.410 per saham.
Setelah MoU Hyundai Berakhir, ADMR Jajaki Calon Mitra Baru
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) fokus mengejar pembangunan sejumlah proyek tahun ini. Salah satunya adalah pabrik pengolahan atau smelter aluminium yang berada di bawah naungan PT Kalimantan Aluminium Industry. Direktur Adaro Minerals, Wito Krisnahadi mengatakan, proyek smelter aluminium Grup Adaro tahap pertama memiliki kapasitas produksi sebesar 500.000 ton ingot (batangan aluminium). Smelter ini akan beroperasi bertahap secara komersial mulai kuartal III-2025. ADMR sudah menjajaki beberapa pihak untuk bekerja sama terkait proyek pengadaan aluminium. Penjajakan ini dilakukan setelah nota kesepahaman atau MoU ADMR dengan Hyundai Motor Company terkait pembelian aluminium berakhir. Wito mengatakan, saat ini telah ada tiga traders besar yang tertarik dengan aluminium ADMR.
Dua di antaranya sudah melakukan penandatanganan MoU. Sementara, satu traders masih dalam proses penjajakan. Sebelumnya, ADMR dan Hyundai sepakat membeli ketersediaan aluminium yang diproduksi oleh PT Kalimantan Aluminium Industry. Namun, akhirnya keduanya tidak memperpanjang MoU. Alasannya, Hyundai masih menunggu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Presiden Direktur ADMR, Christian Ariano Rachmat mengatakan, produksi aluminium masih sesuai rencana, yaitu dengan menggunakan Pembangkit istrik Tenaga Uap (PLTU). Nantinya, setelah PLTA berhasil dibangun, ADMR akan memulai produksi green aluminum. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer merekomendasikan trading buy ADMR dengan target harga Rp 1.410 per saham.
JSMR DIdongkrak Kenaikan Tarif Ini
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mencatatkan lonjakan pertumbuhan laba bersih di kuartal I-2024. Perolehan emiten jalan tol pelat merah ini berkat kenaikan tarif jalan tol dan rekonsiliasi ruas tol. Prospek kinerja emiten pengelola jalan tol ini diprediksi masih baik seiring potensi peningkatan pendapatan dari kenaikan tarif tol. Laba bersih JSMR mencapai Rp 585 miliar pada kuartal I-2024 atau meningkat 17,75% secara tahunan atau year on year (yoy). Hasil ini didorong oleh rekonsolidasi tiga ruas tol yaitu: Semarang-Batang, Solo-Ngawi, dan Ngawi-Kertosono, sebagai ruas strategis Jalan Tol Tran-Jawa (JTTR). Pendapatan jalan tol secara keseluruhan juga didukung oleh penyesuaian tarif pada 21 seksi selama 2023 dan empat seksi di sepanjang kuartal I-2024, jelas Analis Yuanta Sekuritas Indonesia Chandra Pasaribu dalam riset 6 Mei 2024.
Di sisi lain, Chandra melihat, adanya peningkatan tarif cukup merugikan lalu lintas jalan tol JSMR apabila ditambah adanya penyesuaian tarif khusus. Alhasil, volume lalu lintas konsolidasi hanya tumbuh 0,4% yoy, dengan volume ruas tol lama turun 0,5% yoy dan ruas baru tumbuh 5,7% yoy. Sehingga, kenaikan tarif ditambah penyesuaian khusus berdampak pada lalu lintas jalan tol. Meskipun demikian, menurut kami dampaknya hanya bersifat sementara, imbuh Chandra. Analis Trimegah Sekuritas Kharel Devin Fielim memandang JSMR punya prospek pertumbuhan pendapatan jalan tol yang kuat. EBITDA JSMR direvisi naik menjadi Rp 12,1 triliun dan Rp 13,4 triliun untuk 2024-2025. Tahun ini JSMR menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) Rp 8 triliun–Rp 10 triliun sama dengan 2023. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, lalu lintas jalan tol tahun ini diperkirakan akan lebih ramai terutama karena pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Korporasi Antre IPO Total Rp 11,38 Triliun
Pilihan Editor
-
Perekonomian di Kota Penyangga Kembali Bergeliat
14 Jun 2020 -
Perhotelan Siapkan Standar Operasi Baru
14 Jun 2020 -
Kemenkeu akan Terbitkan Surat Utang Diaspora
07 Jun 2020 -
China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
07 Jun 2020 -
Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji
07 Jun 2020








