Internasional
( 1369 )Menambah Masalah Global
Beberapa tahun lalu potensi serangan siber terhadap berbagai instansi vital dan publik telah diungkapkan. Namun, peringatan itu sepertinya diabaikan. Penyanderaan data atau ransomware dinilai sebagai salah satu ancaman terbesar bagi lembaga publik, swasta, serta infrastruktur penting yang menjadi sandaran masyarakat saat ini. Aksi ini telah berulang kali melumpuhkan sistem layanan publik demi meraup uang tebusan bagi pelakunya. Saking seriusnya aksi ini, Sekjen PBB Antonio Guterres di hadapan sidang Dewan Keamanan PBB, Kamis (20/6) menyoroti bahaya ransomware sebagai salah satu aksi paling mengancam bagi layanan publik saat ini (Kompas.id, 24/6/2024).
Serangan yang menimpa berbagai lembaga milik pemerintah di sejumlah negara, termasuk Indonesia yang tengah mengalami serangan ransomware, mengingatkan kita soal seruan berbagai kalangan soal potensi ancaman berupa serangan siber sejak beberapa tahun lalu. Ancaman itu tidak main-main.Mereka benar-benar melakukan serangan dan kini beberapa layanan menjadi lumpuh. Sepanjang tahun 2023 disebutkan jumlah uang tebusan yang dibayarkan dalam aksi ransomware mencapai 1,1 miliar USD atau Rp 18 triliun. Aksi ransomware adalah peretasan sebuah sistem komputer. Aksi itu biasa disertai pelumpuhan sistem hingga pencurian atau penahanan data.
Sistem akan dikembalikan setelah si pemilik sistem membayar sejumlah uang tebusan ke pelaku. Melihat cara mereka dan dampak yang diakibatkan, dunia perlu melakukan langkah bersama untuk membatasi serangan ini. Serangan ke obyek vital sangat mungkin terjadi. Tak hanya merusak sistem, serangan yang lebih canggih bisa saja merusak fasilitas fisik. Di tengah berbagai masalah global, seperti perubahan iklim, pandemi, konflik geopolitik, dan disrupsi teknologi, serangan siber perlu menjadi masalah bersama. Bila sekarang sebuah negara diserang, sangat mungkin negara lain menjadi korban berikutnya (Yoga)
Beras Semakin Haus Air
Dalam lima tahun ke depan, suhu bumi berpotensi mencapai rekor terpanas. Akankah padi atau beras semakin haus air? Kerisauan peralihan pemanasan menjadi pendidihan global dinyatakan Sekjen PBB Antonio Guterres pada 28 Juli 2023. Dalam lima tahun ke depan, suhu global bisa melebihi ambang batas 1,5 derajat celsius di atas tingkat praindustri, di atas ambang batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Nyaris setahun kemudian, yakni pada 14 Juni 2024, Presiden Jokowi menggaungkan kembali kerisauan Guterres. Jokowi menyebut kenaikan suhu bumi membuat dunia sedang menuju neraka iklim. ”Hati-hati, satu tahun terakhir ini kita rasakan betul adanya gelombang panas, periode terpanas. Di India bahkan sampai 50 derajat, di Myanmar 45,8 derajat, panas sekali,” ujarnya dalam Rakornas Pengendalian Inflasi 2024.
Merujuk proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Presiden juga menyatakan, 50 juta petani di dunia akan kekurangan air. Jika tidak berbuat apa-apa, dunia bisa mengalami kekurangan pangan dan kelaparan. Di Indonesia, kemarau panjang akibat El Nino pada 2023 telah mengikis produksi beras nasional sebanyak 0,44 juta ton. Pada 2024, Indonesia berpotensi kekurangan beras 3,8 juta ton dari sebelumnya diperkirakan kurang 5 juta ton. Kementan menjelaskan, hal itu terjadi lantaran dampak El Nino tahun lalu berlanjut hingga tahun ini. Luas tanam padi pada Oktober 2023-April 2024 seluas 6,55 juta hektar, turun 36,9 % atau 3,83 juta hektar jika dibanding rerata luas tanam periode 2015-2019 yang mencapai 10,39 juta hektar. Peningkatan kebutuhan pangan dan air akan berjalan beriringan dengan perubahan iklim.
Dalam laporannya bertajuk ”Ending Groundwater Overdraft without Affecting Food Security” yang rilis pada 14 Juni 2024, Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI) memperkirakan permintaan tanaman pangan secara global akan meningkat 40 % dan khusus beras 11 % pada 2020 ke 2050. Begitu juga dengan permintaan terhadap air. Dalam periode tersebut, kebutuhan air secara global diperkirakan meningkat 17 %, khusus sektor pertanian 12 %. IFPRI menyarankan penggunaan sumber air tanah diminimalisasi agar tidak terjadi degradasi air dan tanah. Cara lain yang bisa dilakukan dengan mengelola air hujan, mengembangkan benih unggul sesuai kondisi geografis dan curah hujan, teknologi pengairan terukur, dan budidaya pangan organik. (Yoga)
China Sudah Investasikan US$ 230 M Bangun Industri EV
China dilaporkan sudah menginvetasikan US$ 230,8 miliar selama lebih dari satu dekade mengembangkan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Temuan ini muncul disaat Uni Eropa (UE) berencana mengenakan tarif impor untuk mobil listrik China, yang diduga karena subsidi berlebihan dari pemerintah dalam produksinya. Sementara pada bulan lalu, Amerika Serikat (AS) mengumumkan bakal menaikkan bea masuk impor kendaraan listrik China menjadi 100%. Menurut Scott Kennedy, ketua pengawas Ekonomi dan Bisnis China di Pusat Studi strategis dan internasional yang berbasis di AS, dukungan pemerintah China terhadap total penjualan mobil listrik antara 2009 dan 2023 sebesar 18,8%. Rasio dukungan itu telah turun jauh dari 40% lebh pada tahun-tahun sebelum 2017. Dan pada 2023 hanya sedikit di atas 11%. (Yetede)
KONFLIK GEOPOLITIK : Aksi Boikot Sukses
Perhimpunan Waralaba dan Lisensi (Wali) menyatakan aksi sweeping gerai waralaba merek asing yang disinyalir mendukung Israel seperti Starbucks, KFC, dan McDonald’s tidak dibenarkan. Levita G. Supit, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Wali, mengatakan aksi tersebut akan merugikan pelaku usaha di dalam negeri. Sebenarnya, ada aksi boikot internasional yang sukses. Dilansir dari Context.id, Pada 2012, terjadi pemboikotan terhadap perusahaan G4S diserukan oleh gerakan BDS.
Aksi boikot juga dilakukan untuk memprotes permukiman ilegal Israel, tembok apartheid, militer dan kepemilikan saham di konsorsium yang mengoperasikan akademi kepolisian Israel. Akibat aksi itu, beberapa divestasi penting dari G4S terjadi selama bertahun-tahun, dan perusahaan tersebut akhirnya membuat komitmen pada Juni 2023 untuk menjual seluruh sisa bisnisnya di Israel. Aksi boikot lainnya, terjadi kampanye boikot apparel Puma diluncurkan oleh atlet Palestina pada 2018 setelah 200 klub olahraga Palestina mengirimkan surat kepada perusahaan tersebut yang mendesak mereka untuk mengakhiri sponsornya terhadap Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA).
Gen Z Merombak Bisnis Olahraga
Sebuah surat dari Direktur Komite Olimpiade Internasional Mark Adams termuat di rubrik Letter to Editor di Financial Times akhir Mei lalu, mengklarifikasi tulisan yang mengkritik komunikasi Olimpiade Paris 2024. Mark pun menjelaskan bahwa Komite Olimpiade Internasional (IOC) terus beradaptasi. Ada olahraga baru yang bakal ditampilkan di Paris, yaitu skateboard, panjat tebing, BMX gaya bebas, bola basket 3x3, dan tari patah (break dance). Semuanya berusaha menghadirkan penonton baru, lebih muda, tetapi juga tetap terhubung dengan penggemar lama. Mark memaparkan bahwa penonton yang lebih muda pasti memilih cara berbeda untuk mengonsumsi olahraga, melalui berbagai platform digital. Namun, dia mengingatkan, jika fundamentalnya bagus, jumlah penontonnya juga bagus. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 ditonton lebih dari 3 miliar penggemar individu melalui berbagai kanal.
Jumlah view mencapai 28 miliar di platform resmi atau naik 139 % dibanding Olimpiade Rio 2016. Sementara, ada lebih dari 6 miliar view di media sosialnya. Panitia Olimpiade juga menyadari keinginan penonton muda. Mereka inilah yang menunjukkan ke mana arah olahraga harus dikembangkan. Mereka itu sering kali bermain di luar stadion dan di jalanan. Generasi Z ini lebih bersifat urban, lebih segar, lebih inklusif, dan lebih berpikiran berkelanjutan. Olimpiade tak bisa menghindar dari perkembangan ini sehingga mereka mengikutinya. Cabang olahraga lama tentu masih dipertahankan, tetapi kenyataan baru memang harus diadopsi. Contohnya tari patah yang memberi suasana lebih segar. Beberapa kalangan mungkin kagok dan melihat perubahan itu terkesan aneh, termasuk soal bagaimana menentukan tari patah itu sebagai pertandingan olahraga. Ada aturan dalam penilaian cabang olahraga yang satu ini. Atlet mendapatkan poin untuk kreativitas, kepribadian, teknik, variasi, performativitas, dan musikalitas.
Keberhasilan dalam olahraga ini memerlukan penggabungan gerakan tarian dari tiga kategori dasar: top rock, down rock, dan freeze. Tari patah dipastikan akan makin menarik para penonton muda dengan melihat gerakan-gerakan dinamis dan menantang. IOC harus melakukan perubahan yang drastis karena Budaya fandom tengah hadir. Fandom diartikan sebagai komunitas atau kelompok penggemar yang memiliki antusiasme yang tinggi terhadap orang, hobi, atau kegiatan yang sama, termasuk olahraga. Sebuah lembaga bernama Youth Lab membuat beberapa saran. Preferensi gen Z terhadap konten berukuran kecil di media sosial menandakan pentingnya membuat konten yang ringkas yang dapat dengan mudah dikonsumsi dan dibagikan. Mereka mendambakan keaslian dan mencari akses di balik layar pada kehidupan atlet. Mereka juga sadar pada isu-isu sosial. Merek perlu berkolaborasi untuk memperkuat jangkauan dan keterlibatan gen Z. (Yoga)
Ilusi Sukses di Masa Muda yang Menyuburkan Diskriminasi Umur
Bryan Johnson menolak menjadi tua. Ia membangun program dengan slogan ”Jangan Mati” (Don’t Die) dan bereksperimen pada dirinya sendiri. Pengusaha kaya raya pertengahan 40 tahun itu mengatur makan, berolah raga rutin, pola tidur teratur, mengonsumsi suplemen, dan menjalani program lain dengan biaya Rp 29 miliar per tahun. Tiga tahun melakukan Blue-print-nya, Johnson menyatakan dirinya memuda. Dari hasil tes kebugaran dan kesehatan, beberapa fungsi organ tubuhnya bekerja sangat baik setara remaja 18 tahun. Klaim itu disebut hasil dari eksperimen berbasis sains. Ujung-ujungnya, Johnson menghasilkan berbagai produk terkait gaya hidup barunya lalu dijual ke khalayak ramai. Selain Johnson, sederet multimiliarder dunia berlomba menemukan formula penangkal proses penuaan, pencegah penyakit mematikan, dan pembuat awet muda tanpa takut mati, seperti Jeff Bezoz, Elon Musk, dan pendiri Google, Larry Page.
Keinginan senantiasa hidup dalam keemasan masa muda mengendap dalam benak manusia sejak dulu. Tujuannya agar bisa mengulang kesukesan dan kesenangan saat kondisi tubuh sangat fit. Sebagian lagi ingin mendapat kesempatan kedua untuk berbuat hal berbeda dan mencapai impian terpendam. Pemuja masa muda tak surut. Muncullah target pencapaian di usia tertentu. Usia sekian harus lulus sarjana, bekerja mapan, punya rumah, menikah, dan berkeluarga. Perempuan menikah sebelum usia 30 tahun dan segera punya anak. Dengan persiapan matang di usia muda, masa tua tak perlu bekerja. Orang di usia 50-60 tahun ke atas seakan hanya ditakdirkan menunggu waktunya berakhir. Mengikuti tren umum itu, ada tren orangtua menetapkan standar tinggi bagi anak-anak yang mengorbankan keceriaan masa kecil mereka.
Dunia kerja melihat orang muda sebagai aset utama. Di Indonesia, lowongan pekerjaan memasukkan batas usia pelamar sebagai salah satu syarat utama. Untuk menjadi pekerja di gerai minimarket saja harus di bawah 25 tahun. Pemilihan 30 pengusaha atau CEO perusahaan top dunia di bawah 30 tahun berlangsung setiap tahun. Seakan menjadi patokan kesuksesan yang pantas diikuti kaum muda lain. Dunia industri mengapitalisasi dan menjual mimpi awet muda lewat kampanye produknya, misalnya, iklan kosmetik atau perawatan tubuh, suplemen, alat olahraga, produk busana, bahkan paket wisata. Menjadi ironi ketika pemujaan pada usia muda itu tidak disertai sokongan penuh agar kaum muda bisa benar-benar sukses.
Di Indonesia, belum semua anak usia sekolah dapat ditampung di sekolah negeri yang dibiayai pemerintah. Saat hendak meraih sarjana, uang kuliah tunggal (UKT) kampus negeri makin mahal. Menepis ilusi sukses di usia muda yang menyesatkan perlu lebih banyak kebijakan hingga rekayasa sosial yang merekonstruksi ulang pola pikir masyarakat. Hidup tidak selalu bisa dianalogikan bak jenjang anak tangga yang selalu berorientasi naik ke atas menjadi makin baik, makin mapan. Hidup kadang terpaksa kembali menuruni tangga, bak jalan bergelombang, dan kadang berombak besar. Keinginan mencapai hidup bermakna inilah yang berarti seseorang berhasil menjaga nyala hasrat berapi-api layaknya anak muda. Bukan sekadar ilusi semu untuk hidup abadi, ia pun tetap muda secara nyata dengan sendirinya. (Yoga)
Program Rumah Untuk Setiap Anjing di Pristina
Pemkot Pristina, ibu kota Kosovo, menawarkan upah bulanan bagi warga yang mau mengadopsi anjing liar di kota itu, sejumlah 50 euro (Rp 880.000) sebulan atau sepertiga upah minimum negara tersebut. Kebijakan ini diterapkan sebagai upaya membersihkan Pristina dari kawanan anjing liar. Skema itu disebut ”rumah untuk setiap anjing”. Saat ini terdapat 4.000 anjing liar di jalanan Pristina, yang memusingkan warga Pristina. Wali Kota Pristina Perparim Rama (48) berharap kebijakan itu dapat menyelesaikan masalah dan membantu warga berubah sikap terhadap kesejahteraan hewan di sana. ”Memelihara seekor anjing itu mahal dan tidak semua orang punya uang. Itulah sebabnya kami membantu keluarga yang mengadopsi hewan piatu,” kata Rama, Selasa (11/6).
Untuk tahun pertama, Pristina mengalokasikan 2 juta euro. ”Dengan anggaran ini, kita dapat berharap menyelesaikan masalah anjing liar ini jika penghitungan jumlah anjing liar di ibu kota benar,” kata Rama. Penangkapan anjing liar akan dilakukan setiap hari sehingga tak ada lagi anjing liar di jalanan Pristina. Rencananya, anjing-anjing itu ditempatkan di penampungan di kota untuk divaksinasi, disterilkan, dan dipersiapkan untuk diadopsi. Peserta adopsi pertama adalah Sami Haxhaj (52) yang telah mengadopsi 10 anjing dari pemerintah kota. Dengan jumlah ini, setiap bulan ia berhak menerima 500 euro (Rp 8,8 juta). (Yoga)
Tarif, Jadi Senjata Uni Eropa
Setelah AS, giliran Uni Eropa menaikkan tarif bea masuk impor mobil listrik China. Bukan hanya China, sejumlah anggota Uni Eropa juga tidak setuju keputusan yang dapat memicu perang dagang tersebut. Komisi Eropa mengumumkan kenaikan itu pada Rabu (12/6) di Brussels, Belgia. Pada Kamis (13/6), jubir Kemenlu China, Lin Jian, mengatakan, Beijing mendesak Komisi Eropa berhenti menjadikan perdagangan sebagai isu politik. Saling percaya UE-China tidak perlu dirusak. Komisi Eropa berkilah, industri otomotif Eropa perlu perlindungan dari persaingan tidak sehat. UE selama ini mengeluh susah bersaing dengan mobil-mobil listrik China yang harganya sangat murah. Subsidi Beijing disebut sebagai penyebab harga bisa ditekan. UE menyebut, perusahaan Eropa tidak mendapat subsidi. Seal U dari BYD dijual 41.990 euro. Dacia Spring buatan DFSK di beberapa negara UE malah hanya 8.000 euro.
Sementara Audi A3 dan Mini bisa dijual 40.000 euro. Akan tetapi, umumnya harga mobil listrik Eropa di atas 50.000 euro. Kini, seluruh produk mobil listrik China dikenai tarif 10 %. Ke depan, tarifnya akan berbeda. SAIC, yang mengendalikan Wuling dan bekerja sama dengan Volkswagen, dikenai tambahan tarif bea masuk impor 38,1 persen. Geely, yang mengendalikan Volvo dan punya saham di Mercedes, dikenai tambahan 20 %. BYD yang merajai pasar mobil listrik dikenai tambahan 17,4 %. Kini, 30 % pasar mobil listrik Eropa dikuasai pabrikan China. Dibandingkan AS, UE menerapkan tarif lebih rendah. Beberapa pekan lalu, AS mengumumkan tarif bea masuk impor hingga 100 % bagi mobil-mobil listrik China. UE akan menerapkan tambahan itu bertahap mulai 4 Juli 2024. Pada November 2024, tarif baru akan berlaku sepenuhnya. (Yoga)
Pemuda yang Jadi Beban
Berdalih lowongan pekerjaan tidak sesuai kualifikasi pendidikan, banyak orang muda Korsel memilih menganggur. Mereka mengandalkan orangtua untuk hidup sehari-hari. Harian South China Morning Post, Selasa (11/6) menyebutkan, semakin banyak kakek-nenek di Korsel yang menghabiskan banyak waktu dan uang untuk cucu-cucu mereka. Inflasi yang tinggi membuat orangtua semakin sulit mengurus anak-anak mereka sendiri sehingga butuh bantuan kakek-nenek. Sementara, banyak orang muda menganggur atau tidak mampu mandiri. Layanan Informasi Ketenagakerjaan Korsel mencatat, pada 2020, 66 % warga Korsel berusia 25-34 tahun tinggal bersama orangtua atau hidupnya dibiayai orangtua meski ta tinggal serumah. Mereka disebut sebagai ”generasi kanguru,” mengacu pada anak kanguru yang terus tinggal di kantong induknya.
Harian The Korea Times, Kamis (6/6) menulis pada 2020, 73,4 % generasi kanguru tidak tamat kuliah dan 69,4 % di antaranya berasal dari Seoul dan sekitarnya, dan 66 % di antara mereka menganggur. Salah satunya Kim Young-joon (30) yang setiap hari ribut dengan orangtuanya karena perkara sepele. Pria yang lulus S-2 itu tersinggung setiap kali orangtuanya menasihati dia untuk mencari pekerjaan. Ia tidak mau bekerja karena lowongan kerja dianggap tidak sesuai pendidikannya. Kim mengatakan, dirinya bukan tidak mau bekerja. Namun, sekarang semakin sulit mendapatkan pekerjaan yang layak hingga bisa membuatnya mandiri secara finansial. Banyak orang muda tidak keluar dari rumah orangtuanya untuk hidup mandiri karena memang menganggur. (Yoga)
Kemendag Bidik Peningkatan Perdagangan dari Turki dan Nigeria
Kementerian Perdagangan (Kemedag) mencoba meningkatkan perdagangan dengan Turki dan Nigeria. Langkah peningkatan bilateral tersebut dilakukan disela-sela Pertemuan Tingkat Menteri ke-3 Komite Perundingan Perdagangan Sistem Preferensi Perdagangan Organisasi Kerja Sama Islam/OKI (Trade Preferential System-Organisation of Islamic Cooperation/TPS-OCI) dan Pertemuan Informal Menteri Perdagangan D-8. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10-11 Juni 2024 di Istambul, Turki.
Mendag Zulkifli Hasan saat melakukan pertemuan bilateral dengan menteri Perdagangan Turki Omer Bolet, mendorong dilanjutkannya perundingan Indonesia-Turkiye Comprehensive Economic Partnership (IT-CEPA) yang sempat tertunda selama 4 tahun. Dia mengatakan, dengan mempercepat IT-CEPA, maka berbagai kerja sama dalam rangka meningkatkan perdagangan kedua negara juga bisa diakselerasi. "Indonesia mendorong untuk segera melakukan perundingan IT-CEPA Sebagaimana kesepakatan Presiden RI dan Presiden Turki," ujar Mendag. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Bulog Bakal Realisasikan Impor Daging Kerbau
09 Mar 2021









