Bisnis
( 689 )Kedai Kopi Bermekaran di Kendari
PT Green Power Group Tbk Langsung Tancap Gas Menggarap Bisnis Baterai Kendaraan Listrik
PT Green Power Group Tbk (LABA) langsung tancap gas dalam menggarap bisnis baterai kendaraan listrik (elektric vehicle/EV) setelah berganti pemegang saham pengendali pada akhir Juni 2024. Emiten yang sebelumnyu bernama PT Ladang Baja Murni Tbk dan bergerak di bidang produksi baja tersebut, memutus untuk mengganti care business dari produksi baja ke bisnis baterai EV setelah diakuisisi PT Nev Stored dan bergerak di bidang kepemilikan saham sebanyak 50,75%.
Langkah itu tampaknya mendapat responn positif dari pasar, yang terlihat dari lonjakan sahamnya sehingga 1.000% ke level Rp550. Manajemen Green Power menegaskan bisnis perseroan ke depannya akan mengacu pada produksi baterai lithium, penyewaan baterai, pembangunan jaringan stasiun penukaran baterai, serta investasi dan pengoperasian stasiun tenaga surya. Terbaru, perseroan membentuk tiga perusahaan dengan mitra strategis untuk pengembangan ekosistem baterai EV. (Yetede)
Jokowi Meresmikan Produksi Awal Tiga Fasilitas Pengolahan atau Smelter
Optimalisasi Nilai Tambah Mineral: Tantangan dan Peluang
Proyek hilirisasi mineral terus bergulir hingga di ujung masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kurang dari sebulan menjelang lengser dari jabatannya, Jokowi kembali meresmikan sejumlah proyek smelter skala besar. Ada tiga proyek smelter yang diresmikan Jokowi selama dua hari terakhir. Yakni, smelter tembaga dan pemurnian logam mulia milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur senilai Rp 58 triliun, dan smelter tembaga milik PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat senilai Rp 21 triliun. Di hari berikutnya, Jokowi meresmikan proyek Smelter Grade Alumina Refinery atau SGAR milik PT Borneo Alumia Indonesia (BAI) di Mempawah, Kalimantan Barat, yang bernilai Rp 25,7 triliun. BAI merupakan perusahaan patungan yang termasuk anggota holding BUMN pertambangan, Mind ID, yakni PT Indonesia Asahan Alauminium dan PT Antam Tbk. Dari beroperasinya smelter Freepot, misalnya, ia memproyeksikan potensi penerimaan negara sebesar Rp 80 triliun. Nilai itu termasuk penghasilan dalam bentuk dividen, royalti pajak penghasilan (PPh) badan, pajak karyawan, pajak daerah, bea keluar, pajak ekspor.
Namun, angka itu tidak menghitung potensi ekonomi dari terlibatnya pelaku UMKM dalam aktivitas smelter, baik itu penyedia jasa katering maupun subkontraktor yang berkaitan dengan smelter. Jokowi juga berharap, smelter PTFI ini bisa merangsang lahirnya industri turunan tembaga dan industri hilir lain.
Sementara dengan beroperasinya smelter SGAR, Indonesia tak perlu lagi mengimpor aluminium. Selama ini, kebutuhan aluminium di dalam negeri mencapai 1,2 juta ton, dan sekitar 56% dari kebutuhan tersebut diimpor. Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengakui, besarnya potensi ekonomi dari pengoperasian smelter di Gresik. Dari sisi tenaga kerja saja, menurut Tony, smelter tersebut bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 2.000 orang.
Sementara itu, Direktur Utama Mind Id Hendi Prio Santoso bilang, smelter alumunium di Mempawah berpotensi memberikan multiplier effect yang cukup signifikan bagi perekonomian.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menyampaikan, nilai tambah yang diinginkan pemerintah sebenarnya bisa didapat ketika produk hasil olahan smelter mineral bisa terserap maksimal sebagai bahan baku industri manufaktur di dalam negeri.
Bisnis BNPL Kian Populer
Bisnis buy now pay later (BNPL) kian populer saat ini dan digandrungi oleh generasi muda yang memiliki gaya hidup serba digital dan praktis. Melihat potensi tersebut, PT Kredivo Finance Indonesia terus melakukan ekspansi bisnis menambah jumlah merchant. Laporan Perilaku Pengguna Paylater Indonesia 2024 oleh Kredivo dan Katadata Insight Center menunjukkan bahwa 70,4% menggunakan paylater berusia 18-35 tahun. Meski jarang disorot, ternyata selain lekat pada generasi muda, paylater juga lekat pada pada gender dan status pernikahan tertentu. Proporsi pengguna paylater didominasi oleh laki-laki, yakni mencapai 56,5% pada 2024. Sementara itu, laki-laki memimpin dalam jumlah dan nilai transaksi paylater selama 2023, masing-masing sebesar 58,9% dan 58,1%. Sementara itu, berdasarkan status perkawinan, kelompok konsumen yang sudah menikah ternyata lebih doyan berbelanja dengan paylater dibandingkan konsumen lajang. Tercatat, pengguna paylater didominasi oleh konsumen yang sudah menikah, yaitu sebanyak 52,9%. (Yetede)
Aplikasi Pesan Instan Mendekatkan Bisnis ke Konsumen
Perusahaan teknologi raksasa Meta menyebutkan, setiap hari terdapat 600 juta percakapan antara konsumen dan lembaga bisnis dalam aplikasi pesan instan Whatsapp secara global. Percakapan pribadi dengan lembaga bisnis ternyata membuat konsumen lebih nyaman dan lebih terikat secara emosi sehingga meningkatkan relasi mereka. Vice President of Southeast Asia and Emerging Market Meta Benjamin Joe menyampaikan, di Indonesia, 88 % pengguna individu Whatsapp aktif mengirim pesan kepada pemilik bisnis melalui aplikasi tersebut setidaknya sekali dalam seminggu, layaknya berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Konsumen dengan santai, tetapi cepat dan mudah bisa berkirim pesan kepada pemilik bisnis untuk menyampaikan keluhan layanan, pertanyaan seputar produk/jasa, dan cara transaksi jual-beli barang.
”Di antara aplikasi-aplikasi yang ada di ponsel pintar, aplikasi pesan instan telah menjadi aplikasi utama,” ujar Benjamin di sela-sela acara Indonesia Whatsapp Business Summit 2024, Kamis (22/8). Berdasarkan survei yang dilakukan Kantar dan didukung Meta, diketahui 89 % warganet Indonesia menganggap mengirim pesan kepada pemilik bisnis lewat aplikasi pesan instan sebagai metode komunikasi yang lebih cepat dan mudah. Sebanyak 83 % lebih percaya kepada pemilik bisnis jika mereka dapat berkomunikasi dengan berkirim pesan. Survei itu dilakukan pada 6.513 pengguna internet di 13 negara, termasuk Indonesia pada Maret 2024. Dari hasil temuan tersebut, dia meyakini mengirim pesan, antara lain pesan percakapan bisnis melalui aplikasi pesan instan telah menjadi bagian integral dalam hidup masyarakat di dunia.
Indonesia Country Director Meta Peter Lydian menyebutkan, ada revolusi percakapan yang tengah terjadi. Sebanyak 69 % responden Indonesia yang disurvei Kantar itu mengaku merasa frustrasi jika suatu pemilik jenama tidak memberikan opsi berkomunikasi lewat kirim pesan teks di aplikasi pesan instan. ”Dengan kata lain, pemilik jenama yang tidak menyediakan opsi komunikasi dengan konsumen lewat kirim pesan tertulis di aplikasi pesan instan akan kurang disukai. Sudah banyak konsumen merasa berkirim pesan teks mampu memberikan pengalaman komunikasi yang lebih personal,” kata Peter. Meta mengem bangkan aneka fitur yang memudahkan pemilik jenama semakin mudah menggaet konsumen dan menciptakan suasana komunikasi yang tepercaya. Salah satunya adalah fitur verifikasi akun atau Meta Verified centang biru.
Di Indonesia, yang termasuk salah satu pasar terbesar Meta, fitur ini sudah bisa diakses pengguna Whatsapp, terutama dari kelompok pemilik UKM. Director of Business Messaging Meta Dean Ostilly membenarkan kabar itu. Dalam demo singkat tentang apa itu Whatsapp Business Call di acara Indonesia Whatsapp Business Summit 2024, dia mencontohkan, operator telekomunikasi MyRepublic adalah contoh pemilik jenama yang sudah bisa mengakses Whatsapp Business Call versi Beta. Secara sekilas, cara kerja fitur itu mirip dengan layanan telepon konsumen (customer service) pada umumnya, yaitu konsumen Whatsapp bisa menelepon via Whatsapp ke akun jenama, lalu memencet nomor ekstensi yang dituju. Bedanya, Whatsapp Business Call baru bisa terjadi jika konsumen memberikan persetujuan agar ada panggilan percakapan dengan pemilik jenama. (Yoga)
Waralaba Asing Menyerbu Pasar Indonesia
Saat ini, pangsa pasar ritel Indonesia dikuasai waralaba asing. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar bagi pertumbuhan bisnis waralaba lokal, salah satunya permintaan dari pasar domestik. Indonesia juga memiliki potensi kekhasan produk olahan makanan lokal. Berdasar catatan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) jumlah merek waralaba asing yang beroperasi di Indonesia per akhir 2022 mencapai 700 merek dengan rata-rata pertumbuhan 5 % per tahun. Waralaba lokal tercatat hanya 130 merek dengan pertumbuhan cenderung stagnan sejak sebelum pandemi Covid-19. Sementara, pertumbuhan yang cukup signifikan justru ada pada bidang business opportunity, yakni 8-10 %.
Berbeda dengan franchise yang memberi hak paten bisnis dan format bisnisnya kepada pihak lain, business opportunity hanya memberikan produk, metode, dan alat kerja dengan pembekalan di awal tanpa mensyaratkan penerapan format bisnis oleh pemilik. Alih-alih memberikan ruang bagi waralaba lokal, bisnis kemitraan di Indonesia justru didominasi oleh business opportunity yang cenderung ingin meraih tujuan secara instan sehingga jarang dapat bertahan lama. Dari jangka waktunya, waralaba biasanya terhitung telah menjalankan bisnis lebih dari lima tahun, sedangkan business opportunity hanya tiga tahun.
Menurut Ketua AFI Anang Sukandar dalam konferensi pers Pameran Bisnis Lisensi, Waralaba, dan Kemitraan atau International Franchise, Licen se, and Business Concept Expoand Conference (IFRA) 2024, di Jakarta, Rabu (7/8) fenomena tersebut menggambarkan mentalitas berbisnis yang cenderung asal-asalan, kurang bersungguh-sungguh, dan minim pengalaman. Karena itu, dibutuhkan peran pemerintah melalui program inkubasi yang meliputi pendampingan dan pelatihan. Makanan cepat saji Menurut Anang, peluang bagi waralaba lokal bertumbuh ada pada sektor makanan dan minuman, khususnya makanan cepat saji, mengingat kunci bagi pertumbuhan waralaba adalah nilai keunikan dan Indonesia memiliki beragam makanan khas daerah.
Salah satu upaya mendorong bisnis waralaba ialah melalui pameran, sebagai pintu masuk memperkenalkan pola franchise yang benar sehingga berdampak pada perekonomian sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. ”Dengan mengandalkan pasar domestik, waralaba lokal dapat bertumbuh dan pada gilirannya diharapkan mampu menarik investasi sehingga ekonomi Indonesia akan berputar, ” kata Anang. Salah satu gelaran pameran waralaba tersebut, yakni IFRA 2024, yang akan diselenggarakan pada 16-18 Agustus 2024 di Jakarta Convention Center dan pada 16 Agustus - 6 September 2024 secara daring melalui situs www.ifraindone-sia.com. Kegiatan ini akan diikuti 185 perusahaan dan 225 merek dengan target nilai transaksi mencapai Rp 1,5 triliun. (Yoga)
Bisnis Hulu Migas Masih Prospektif
Bisnis Kelola Sampah Bantu Ketahanan Pangan
Indonesia menjadi pasar potensial bisnis pengelolaan sampah. Selain karena banyaknya sampah yang belum terkelola dengan baik, teknologi pengolahan sampah mampu menghasilkan banyak nilai tambah, termasuk bagi industri peternakan dan perikanan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK melaporkan, jumlah timbulan sampah yang dihasilkan dari seluruh wilayah Indonesia mencapai 35,83 jutaton pada 2022. Dimana 13,39 juta ton atau 37,37 % belum terkelola. Masih banyaknya sampah yang belum dikelola menjadi peluang bagi bisnis pengelolaan sampah. Ketua II Asosiasi Black Soldier Fly (BSF) Indonesia, sebuah asosiasi pegiat larva lalat tentara hitam, Markus Susanto di sela-sela acara Festival Ekonomi Sirkular, di Jakarta, Rabu (17/7) menyebut bahwa peluang usaha yang menarik saat ini adalah pengelolaan sampah organik dengan teknologi larva lalat tentara hitam (black soldierfly) atau maggot.
Potensi bisnis pengolahan sampah dengan maggot sangat besar karena sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia berjenis organik, terutama dari sisa makanan. Berdasar data SIPSN KLHK, volumenya 40,7 % dari total timbulan sampah se-Indonesia. Pengolahan sampah oleh maggot menghasilkan beragam manfaat. Tak hanya mengurai sampah menjadi komponen pupuk tanaman, maggot yang dibudidaya dengan sampah juga bisa menjadi sumber pakan bagi hewan. ”Hampir semua TPA di Indonesia bermasalah dan potensi maggot yang besar belum dimanfaatkan. Di sisi lain, Indonesia butuh 20 juta ton pakan ternak dan 12 juta ton pakan ikan, tapi sebagian besar bahan bakunya impor. Indonesia juga masih menyubsidi pupuk Rp 40 triliun pada 2024. Jadi, bayangkan kalau ini semua disinergikan secara holistik, Indonesia akan menjadi salah satu negara produsen protein terbesar di dunia,” ungkap Markus. Implementasi ini telah diterapkan, termasuk di perusahaan pengolahan sampah yang Markus kelola, PT Maggot Indonesia Lestari. (Yoga)
Auto 2000 Bidik Peluang di Lini Bisnis Aftersales
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









