Industri Besi
( 15 )Investasi Triliunan Tapi Minim Laporan: Menakar Transparansi Raksasa Smelter di Indonesia
Kebijakan
hilirisasi nikel di Indonesia merupakan salah satu pilar strategis dalam upaya
peningkatan nilai tambah komoditas mentah menjadi produk industri. Untuk
mendukung kebijakan ini, pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas
penanaman modal, termasuk insentif fiskal seperti tax holiday. Namun,
efektivitas pengawasan terhadap realisasi investasi tersebut kini menjadi
sorotan menyusul temuan ketidakpatuhan administratif oleh sejumlah pelaku usaha
besar.
Data
Kepatuhan LKPM di Sektor ESDM
Dalam
Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Kementerian Investasi/Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) dengan Komisi XII DPR RI, terungkap adanya kendala dalam
pelaporan data investasi. Berdasarkan data yang dipaparkan, tercatat sebanyak 9
dari 19 perusahaan di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum
menyerahkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM).
Salah
satu entitas yang disebutkan dalam pembahasan tersebut adalah PT Indonesia
Tsingshan Stainless Steel (ITSS), yang beroperasi di Kawasan Industri Morowali
(IMIP). Ketidakhadiran laporan berkala ini menjadi perhatian serius mengingat
LKPM merupakan instrumen utama pemerintah dalam memantau perkembangan investasi
di lapangan.
Signifikansi LKPM dalam Pengawasan Nasional
Secara regulasi, LKPM berfungsi sebagai basis
data bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap beberapa parameter
kunci:
a. Realisasi Investasi
memastikan jumlah modal yang ditanamkan sesuai dengan komitmen awal.
b. Penyerapan Tenaga Kerja
Memantau distribusi lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal.
c. Kemitraan Daerah:
Mengukur sejauh mana keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok
industri.
d. Kepatuhan Standar
Operasional: termasuk di dalamnya aspek keselamatan kerja dan dampak
lingkungan.
Kekosongan
data akibat absennya pelaporan berisiko menghambat pemerintah dalam menyusun
kebijakan berbasis data (evidence-based policy) serta melemahkan fungsi
pengawasan terhadap industri strategis.
Evaluasi
Fasilitas Fiskal dan Akuntabilitas
Pemberian
insentif pajak dan kemudahan bea masuk didasarkan pada asumsi bahwa investasi
tersebut akan memberikan dampak pengganda (multiplier effect) terhadap
ekonomi nasional. Oleh karena itu, kepatuhan administratif menjadi syarat
mutlak bagi penerima fasilitas.
Apabila
perusahaan tidak memenuhi kewajiban pelaporannya, validasi atas kelayakan
pemberian insentif triliunan rupiah tersebut menjadi sulit dilakukan. Hal ini
memicu diskusi mengenai perlunya mekanisme evaluasi yang lebih ketat terhadap
perusahaan yang telah mendapatkan fasilitas negara namun belum memenuhi standar
transparansi yang ditetapkan.
Strategi Penguatan Tata Kelola
Untuk
meningkatkan kepatuhan investor dan memastikan kedaulatan data ekonomi, terdapat
beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan oleh otoritas terkait
seperti : sinkronisasi sistem perizinan, audit kepatuhan insentif, penerapan
sanksi secara bertahap dan tegas serta optimalisasi pengawasan lapangan.
Keberhasilan
program hilirisasi tidak hanya diukur dari besarnya angka investasi yang masuk,
tetapi juga dari aspek kepatuhan dan kontribusi nyata terhadap negara.
Transparansi pelaporan melalui LKPM merupakan instrumen krusial untuk
memastikan bahwa investasi yang masuk berjalan selaras dengan kepentingan
ekonomi nasional dan aturan hukum yang berlaku di Indonesia. (Zain)
Pembangunan Smelter Percepat Indonesia Jadi Negara Industri dan Negara Maju
Rampungnya pembangunan smelter-smelter untuk pemurnian sumber mineral diharapkan benar-benar mempercepat Indonesia menjadi negara industri dan negara maju. Presiden Joko Widodo menyambut gembira rampungnya pembangunan smelter grade alumina refinery (SGAR) PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Selasa (24/9/2024). Pembangunan smelter fase pertama ini berkapasitas 1 juta ton alumina pertahun. Sehari sebelumnya pada Senin, Presiden Jokowi telah meresmikan smelter tembaga PT Freeport Indonesia di Gresik. Jawa Timur, serta smelter tembaga dan pemurnian logam mulia PT Amman Mineral Industri di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Presiden Jokowi menyebutkan, sejak zaman VOC, lebih dari 400 tahun lalu, Indonesia selalu mengekspor bahan mentah, baik rempah-rempah maupun beragam sumber mineral. Ini membuat Indonesia tidak bisa berkembang menjadi negara maju. Negara-negara maju pun disebutnya kecanduan dengan impor bahan mentah dari Indonesia. Karena itu, ketika Indonesia menghentikan ekspo nikel mentah, gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dilayangkan. ”Untungnya, ada (kondisi)
geopolitik global. Ada (pandemi) Covid-19, ada resesi ekonomi sehingga negara-negara maju sibuk dengan masalah-masalah yang mereka miliki, sibuk menyelesaikan problem-problem yang mereka miliki, dan melupakan kita,” tutur Presiden Jokowi tersenyum. Untuk itu, ketika Indonesia menghentikan ekspor bauksit mentah dan tembaga mentah, tak ada yang menggugat. Negara-negara lain sibuk dengan masalah masing-masing. Rampungnya pembangunan smelter fase pertama PT Borneo Alumina Indonesia jadi momentum awal Indonesia untuk mengolah sumber daya alam sendiri. Ekspor bahan mentah pun bisa dihentikan.
”Pembangunan smelter ini merupakan usaha kita untuk menyongsong Indonesia menjadi negara industri,” ujar Presiden dalam sambutannya di SGAR PT Borneo Alumina Indonesia. Pertambahan nilai yang diperoleh ketika mengekspor bahan jadi atau setengah jadi sangat terasa. Presiden mencontohkan, sebelum 2020, ekspor nikel mentah Indonesia kira-kira bernilai 1,4 miliar dollar AS sampai 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 20 triliun. Kini, setelah ekspor nikel mentah dihentikan, nilai ekspor nikel tahun 2023 mencapai 34,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 60 triliun. Alumerproduksi, impor yang 56 persen ini bisa kita stop, enggak impor lagi,” kata Presiden. Untuk mengimpor sekitar 672.000 ton aluminium, Indonesia selama ini harus mengeluarkan devisa sekitar 3,5 miliar dollar AS setiap tahun. ”Kita harapkan, dengan investasi sebesar Rp 16 triliun,inium pun demikian. Kebutuhan aluminium Indonesia mencapai 1,2 juta ton pertahun. Namun, saat ini masih 56 persen diimpor. ”Kita punya bahan bakunya, kita punya raw material-nya, tetapi 56 (persen) aluminium kita impor. (Yoga)
Mempercepat RI Jadi Negara Industri dan Maju dengan Smelter
Industri Perhiasan Kian Berkilau
Teka-teki Tersangka Smelter Maut Morowali
Kebakaran Smelter di Morowali Terindikasi Pidana
Dua Bulan IPO, BREN Langsung Puncaki Market Cap
Industri di Batam Pasok Pipa Bawah Laut
Grup industri Citramas di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, memproduksi 1.200 batang pipa bawah laut untuk proyek terminal minyak Lawe-Lawe di Penajam Paser Utara, Kaltim. Chairman Citramas Group Kris Taenar Wiluan, Kamis (24/11), mengatakan, PT Dwi Sumber Arca Waja, anak perusahaan Citramas, butuh waktu delapan bulan untuk memproduksi pipa pesanan PT Pertamina senilai 15 juta USD. (Yoga)
Krakatau Steel Cetak Laba Bersih Rp 1,2 Triliun
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada Januari-September 2022 sebesar US$ 80,15 juta Rp 1,25 triliun, naik 34% dibanding periode sama tahun lalu US$ 59,72 juta. Kenaikan laba bersih tersebut sejalan meningkatnya penjualan baja perseroan. Mengacu pada laporan keuangan konslidasian yang berakhir 30 September 2022, pendapatan bersih perseroan meningkat 14,47% dari US$ 1,61 miliar menjadi US$ 1,84 miliar. Pendapatan tersebut mayoritas dihasilkan dari penjualan baja di dalam negeri yang mencapai US$ 1,35 miliar atau naik 7,2% dibanding sebelumnya US$ 1,25 miliar. Kontribusi lainnya datang dari ekspor baja sebesar US$ 275 juta, kemudian pendapatan dari segmen sarana infrastruktur sebesar US$ 192 juta, jasa lainnya US$ 19,51 juta, serta rekayasa dan konstruksi yang menyumbang US$ 5,16 juta.
Penopang pendapatan perseroan hingga akhir kuartal III-2022 juga berasal dari pendapatan operasi yang secara total tumbuh menjadi US$ 16,8 juta dari sebelumnya US$ 1,95 juta. Pertumbuhan itu berasal dari pendapatan sewa, penjualan aset tidak produktif, pemulihan cadangan penurunan aset tetap, dan lain-lain. Meningkatnya pendapatan perseroan, diikuti dengan beban pokok penjualan yang mem[1]bengkak 16,62% menjadi US$ 1,65 miliar dari sebelumnya US$ 1,41 miliar. Penyebabnya adalah naiknya beban produksi dari US$ 1,41 miliar menjadi US$ 1,65 miliar. Begitu juga dengan beban operasi yang naik tipis sekitar 0,41% men jadi US$ 107,71 juta. (Yoga)
Kompensasi untuk Program Restrukturisasi
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Krakatau Posco dari 30 % menjadi 50 %. Lewat aksi korporasi tersebut, Krakatau Steel mendapat kompensasi Rp 1,3 triliun untuk menjalankan program restrukturisasi utang. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi industri baja nasional dan mengurangi arus importasi baja ke Indonesia. Keputusan tersebut diambil dalam RUPS Luar Biasa, Kamis (19/5). Dirut Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, peningkatan kepemilikan saham Krakatau Steel di PT Krakatau Posco menjadi 50 % itu bagian dari rencana Krakatau Steel memperbesar kapasitas produksi baja di Indonesia, dari awalnya dimulai dengan 3 juta ton per tahun menjadi 10 juta ton per tahun. Aksi korporasi ini juga menjadi bagian dari program restrukturisasi utang Krakatau Steel. ”Beban utang Krakatau Steel berdasarkan pinjaman Rp 3,6 triliun juga akan dialihkan ke PT Krakatau Posco sehingga beban utang Krakatau Steel secara keseluruhan ,” kata Silmy.
Choi Busik, ekonom senior Posco Research Institute, mengatakan, kekuatan ekonomi suatu negara bergantung pada daya saing industri manufakturnya, yang notabene membutuhkan sektor besi dan baja yang kuat. Terlebih untuk Indonesia yang saatini sedang gencar mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik. Oleh karena itu, Krakatau Posco berencana mengembangkan kapasitas produksi baja menjadi 6 juta ton per tahun pada 2027. Selanjutnya, memperbesar kapasitas menjadi 10 juta ton per tahun pada 2030 dan mengembangkan kapasitas produksi baja berkelanjutan dengan metode reduksi menggunakan gas hidrogen (HyRex/hydrogen reduction green steel production) untuk mengurangi emisi karbon. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









