;
Tags

Industri Besi

( 14 )

Pembangunan Smelter Percepat Indonesia Jadi Negara Industri dan Negara Maju

KT3 25 Sep 2024 Kompas

Rampungnya pembangunan smelter-smelter untuk pemurnian sumber mineral diharapkan benar-benar mempercepat Indonesia menjadi negara industri dan negara maju. Presiden Joko Widodo menyambut gembira rampungnya pembangunan smelter grade alumina refinery (SGAR) PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Selasa (24/9/2024). Pembangunan smelter fase pertama ini berkapasitas 1 juta ton alumina pertahun. Sehari sebelumnya pada Senin, Presiden Jokowi telah meresmikan smelter tembaga PT Freeport Indonesia di Gresik. Jawa Timur, serta smelter tembaga dan pemurnian logam mulia PT Amman Mineral Industri di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Presiden Jokowi menyebutkan, sejak zaman VOC, lebih dari 400 tahun lalu, Indonesia selalu mengekspor bahan mentah, baik rempah-rempah maupun beragam sumber mineral. Ini membuat Indonesia tidak bisa berkembang menjadi negara maju. Negara-negara maju pun disebutnya kecanduan dengan impor bahan mentah dari Indonesia. Karena itu, ketika Indonesia menghentikan ekspo nikel mentah, gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dilayangkan. ”Untungnya, ada (kondisi)

geopolitik global. Ada (pandemi) Covid-19, ada resesi ekonomi sehingga negara-negara maju sibuk dengan masalah-masalah yang mereka miliki, sibuk menyelesaikan problem-problem yang mereka miliki, dan melupakan kita,” tutur Presiden Jokowi tersenyum. Untuk itu, ketika Indonesia menghentikan ekspor bauksit mentah dan tembaga mentah, tak ada yang menggugat. Negara-negara lain sibuk dengan masalah masing-masing. Rampungnya pembangunan smelter fase pertama PT Borneo Alumina Indonesia jadi momentum awal Indonesia untuk mengolah sumber daya alam sendiri. Ekspor bahan mentah pun bisa dihentikan.

”Pembangunan smelter ini merupakan usaha kita untuk menyongsong Indonesia menjadi negara industri,” ujar Presiden dalam sambutannya di SGAR PT Borneo Alumina Indonesia. Pertambahan nilai yang diperoleh ketika mengekspor bahan jadi atau setengah jadi sangat terasa. Presiden mencontohkan, sebelum 2020, ekspor nikel mentah Indonesia kira-kira bernilai 1,4 miliar dollar AS  sampai 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 20 triliun. Kini, setelah ekspor nikel mentah dihentikan, nilai ekspor nikel tahun 2023 mencapai 34,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 60 triliun. Alumerproduksi, impor yang 56 persen ini bisa kita stop, enggak impor lagi,” kata Presiden. Untuk mengimpor sekitar 672.000 ton aluminium, Indonesia selama ini harus mengeluarkan devisa sekitar 3,5 miliar dollar AS setiap tahun. ”Kita harapkan, dengan investasi sebesar Rp 16 triliun,inium pun demikian. Kebutuhan aluminium Indonesia mencapai 1,2 juta ton pertahun. Namun, saat ini masih 56 persen diimpor. ”Kita punya bahan bakunya, kita punya raw material-nya, tetapi 56 (persen) aluminium kita impor. (Yoga)

Mempercepat RI Jadi Negara Industri dan Maju dengan Smelter

KT3 25 Sep 2024 Kompas
Rampungnya pembangunan smelter-smelter untuk pemurnian sumber mineral diharapkan benar-benar mempercepat Indonesia menjadi negara industri dan negara maju. Presiden Joko Widodo menyambut gembira rampungnya pembangunan smelter grade alumina refinery (SGAR) PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Selasa (24/9/2024). Pembangunan smelter fase pertama ini berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun. Sehari sebelumnya pada Senin, Presiden Jokowi telah meresmikan smelter tembaga PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, serta smelter tembaga dan pemurnian logam mulia PT Amman Mineral Industri di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Presiden Jokowi menyebutkan, sejak zaman VOC, lebih dari 400 tahun lalu, Indonesia selalu mengekspor bahan mentah, baik rempah-rempah maupun beragam sumber mineral. Ini membuat Indonesia tidak bisa berkembang menjadi negara maju Negara-negara maju pun disebutnya kecanduan dengan impor bahan mentah dari Indonesia. Karena itu, ketika Indonesia menghentikan ekspor nikel mentah, gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dilayangkan. ”Untungnya, ada (kondisi) geopolitik global. Ada (pandemi) Covid-19, ada resesi ekonomi sehingga negara-negara maju sibuk dengan masalah-masalah yang mereka miliki, sibuk menyelesaikan problem-problem yang mereka miliki, dan melupakan kita,” tutur Presiden Jokowi tersenyum.

Untuk itu, ketika Indonesia menghentikan ekspor bauksit mentah dan tembaga mentah, tak ada yang menggugat. Negara-negara lain sibuk dengan masalah masing-masing. Rampungnya pembangunan smelter fase pertama PT Borneo Alumina Indonesia jadi momentum awal Indonesia untuk mengolah sumber daya alam sendiri. Ekspor bahan mentah pun bisa dihentikan. ”Pembangunan smelter ini merupakan usaha kita untuk menyongsong Indonesia menjadi negara industri,” ujar Presiden dalam sambutannya di SGAR PT Borneo Alumina Indonesia.  (Yoga)

Industri Perhiasan Kian Berkilau

KT1 12 Mar 2024 Investor Daily
Industri perhiasan di dalam negeri masih memiliki potensi yang besar untuk bersaing di kancah global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mencatat, nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga  dari Indonesia menembus US$547,5 juta pada Desember 2023, atau meningkat 67,7% (yoy)  dibandingkan capaian pada bulan Desember 2022 yang sebesar US$ 326 juta. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin (IKMA) Reni yanita mengatakan, selama ini kinerja ekspor  industri perhiasan cukup signifikan, sehingga menjadi salah satu kontributor yang penting terhadap penerimaan devisa negara. Kekuatan sektor ini didukung  oleh kreativitas dan inovasi dari para pengrajin yang mampu menghasilkan beragam produk  perhiasan sesuai tren dan selera pasar yang sedang berkembang. (Yetede)

Teka-teki Tersangka Smelter Maut Morowali

KT1 02 Jan 2024 Tempo
Kasus kebakaran disertai ledakan tungku smelter nikel milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, memasuki babak baru. Polisi akan memutuskan hasil penyelidikan atas insiden yang menyebabkan 20 pekerja tewas dan 39 orang lainnya luka-luka tersebut. “Penyidik akan melakukan gelar perkara besok (hari ini),” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Komisaris Besar Djoko Wienartono pada Senin, 1 Januari 2024.

Fasilitas smelter feronikel nomor 41 milik PT ITSS yang berada dalam kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, terbakar lalu meledak pada 24 Desember 2023. Insiden itu diduga terjadi karena pengabaian prosedur keselamatan kerja saat memperbaiki tenggarang pengolah nikel cair.  Djoko belum bersedia memaparkan lebih mendetail temuan tim penyelidik. Dia hanya menjelaskan tim telah memeriksa 28 saksi untuk mendalami kasus tersebut. Adapun Kepala Kepolisian Resor Morowali Ajun Komisaris Besar Suprianto mengatakan gelar perkara hari ini akan memutuskan pihak yang terlibat dan bertanggung jawab atas insiden di smelter nikel ITSS. “Pasal yang dikenakan 359 KUHP, ancaman hukumannya 5 tahun penjara,” ujarnya. (Yetede)

Kebakaran Smelter di Morowali Terindikasi Pidana

KT1 01 Jan 2024 Tempo
Tim pengawas ketenagakerjaan (wasnaker) dari Kementerian Ketenagakerjaan dan Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sulawesi Tengah menemukan indikasi pidana dalam kebakaran tungku smelter milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS). Sebanyak 59 pekerja menjadi korban dalam peristiwa itu, yang 20 orang di antaranya meninggal. “Makanya kasus ini didalami oleh Polda Sulawesi Tengah karena diduga kuat ada pelanggaran pidana atas kelalaian yang menyebabkan kecelakaan kerja,” kata seorang anggota tim pengawas yang ikut menyelidiki ledakan di tungku smelter nikel PT ITSS itu, kemarin.

Kapolda Sulawesi Tengah Inspektur Jenderal Agus Nugroho melihat kondisi korban yang selamat dari kecelakaan kerja di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel. Dok. Humas Polda Sulteng Fasilitas smelter feronikel nomor 41 milik PT ITSS berada dalam kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Pada 24 Desember lalu, fasilitas itu terbakar dan meledak. “Tim wasnaker dari dinas ketenagakerjaan provinsi sudah ada yang dipanggil ke Polda,” katanya. “Tapi mungkin masih dalam proses koordinasi, belum sampai pemeriksaan mendalam.” (Yetede)

Dua Bulan IPO, BREN Langsung Puncaki Market Cap

KT1 09 Dec 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) akhirnya menjadi emiten dengan nilai kapasitas pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). BREN menggusur singgasan market cap PT Bank Central Asia  Tbk (BBCA) yang telah bertahun-tahun duduk diperingkat pertama dan kini harus rela turun ke posisi kedua. Pada penutupan perdagangan Jumat (8/12/2023), market cap Barito Renewables atau BREN mencapai Rp1.077 triliun, sedangkan BBCA sebesar Rp 1.068 triliun. Perebutan takhta emiten terbesar dari segi market cap itu terpantau sengit. Selama berlangsungnya perdagangan Jumat (8/12), terjadi saling salip antara BREN dan BBCA untuk mencapai posisi puncak di akhir perdagangan. Namun, pada menit-menit akhir, BREN berhasil mengalahkan BBCA yang sudah bertahun-tahun menjadi 'Raja Market Cap'. (Yetede)

Industri di Batam Pasok Pipa Bawah Laut

KT3 25 Nov 2022 Kompas

Grup industri Citramas di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, memproduksi 1.200 batang pipa bawah laut untuk proyek terminal minyak Lawe-Lawe di Penajam Paser Utara, Kaltim. Chairman Citramas Group Kris Taenar Wiluan, Kamis (24/11), mengatakan, PT Dwi Sumber Arca Waja, anak perusahaan Citramas, butuh waktu delapan bulan untuk memproduksi pipa pesanan PT Pertamina senilai 15 juta USD. (Yoga)

Krakatau Steel Cetak Laba Bersih Rp 1,2 Triliun

KT3 02 Nov 2022 Investor daily

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada Januari-September 2022 sebesar US$ 80,15 juta Rp 1,25 triliun, naik 34% dibanding periode sama tahun lalu US$ 59,72 juta. Kenaikan laba bersih tersebut sejalan meningkatnya penjualan baja perseroan. Mengacu pada laporan keuangan konslidasian yang berakhir 30 September 2022, pendapatan bersih perseroan meningkat 14,47% dari US$ 1,61 miliar menjadi US$ 1,84 miliar. Pendapatan tersebut mayoritas dihasilkan dari penjualan baja di dalam negeri yang mencapai US$ 1,35 miliar atau naik 7,2% dibanding sebelumnya US$ 1,25 miliar. Kontribusi lainnya datang dari ekspor baja sebesar US$ 275 juta, kemudian pendapatan dari segmen sarana infrastruktur sebesar US$ 192 juta, jasa lainnya US$ 19,51 juta, serta rekayasa dan konstruksi yang menyumbang US$ 5,16 juta.

Penopang pendapatan perseroan hingga akhir kuartal III-2022 juga berasal dari pendapatan operasi yang secara total tumbuh menjadi US$ 16,8 juta dari sebelumnya US$ 1,95 juta. Pertumbuhan itu berasal dari pendapatan sewa, penjualan aset tidak produktif, pemulihan cadangan penurunan aset tetap, dan lain-lain. Meningkatnya pendapatan perseroan, diikuti dengan beban pokok penjualan yang mem[1]bengkak 16,62% menjadi US$ 1,65 miliar dari sebelumnya US$ 1,41 miliar. Penyebabnya adalah naiknya beban produksi dari US$ 1,41 miliar menjadi US$ 1,65 miliar. Begitu juga dengan beban operasi yang naik tipis sekitar 0,41% men jadi US$ 107,71 juta. (Yoga)


Kompensasi untuk Program Restrukturisasi

KT3 21 May 2022 Kompas

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Krakatau Posco dari 30 % menjadi 50 %. Lewat aksi korporasi tersebut, Krakatau Steel mendapat  kompensasi Rp 1,3 triliun untuk menjalankan program restrukturisasi utang. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi industri baja nasional dan mengurangi arus importasi baja ke Indonesia. Keputusan tersebut diambil dalam RUPS Luar Biasa, Kamis (19/5). Dirut Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, peningkatan kepemilikan saham Krakatau Steel di PT Krakatau Posco menjadi 50 % itu bagian dari rencana Krakatau Steel memperbesar kapasitas produksi baja di Indonesia, dari awalnya dimulai dengan 3 juta ton per tahun menjadi 10 juta ton per tahun. Aksi korporasi ini juga menjadi bagian dari program restrukturisasi utang Krakatau Steel. ”Beban utang Krakatau Steel berdasarkan pinjaman Rp 3,6 triliun juga akan dialihkan ke PT Krakatau Posco sehingga beban utang Krakatau Steel secara keseluruhan ,” kata Silmy.

Choi Busik, ekonom senior Posco Research Institute, mengatakan, kekuatan ekonomi suatu negara bergantung pada daya saing industri manufakturnya, yang notabene membutuhkan sektor besi dan baja yang kuat. Terlebih untuk Indonesia yang saatini sedang gencar mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik. Oleh karena itu, Krakatau Posco berencana mengembangkan kapasitas produksi baja menjadi 6 juta ton per tahun pada 2027. Selanjutnya, memperbesar kapasitas menjadi 10 juta ton per tahun pada 2030 dan mengembangkan kapasitas produksi baja berkelanjutan dengan metode reduksi menggunakan gas hidrogen (HyRex/hydrogen reduction green steel production) untuk mengurangi emisi karbon. (Yoga)


Regulasi Topang Importasi

KT3 12 Apr 2022 Kompas

Impor produk besi dan baja cenderung meningkat beberapa tahun terakhir kendati sempat melandai akibat pandemi Covid-19. Volume besi dan baja impor menguasai 43 % kebutuhan nasional serta menggerus utilisasi industri besi dan baja dalam negeri. Impor berbagai produk besi dan baja sulit dibendung karena faktor regulasi yang justru melonggarkan izin importasi. Selain itu, instrumen dagang untuk melindungi industri baja dalam negeri dari praktik perdagangan yang tidak adil masih terbatas. Hal itu menjadi isu utama yang diangkat dalam rapat dengar pendapat Komisi VI DPR dan Dirut PT Krakatau Steel (Tbk) Silmy Karim, Senin (11/4). Anggota Komisi VI, Andre Rosiade mengatakan, persoalan impor besi dan baja sudah menjadi isu menahun yang memburuk karena minimnya dukungan regulasi untuk melindungi industri domestik. Permenperin No 35/2019, misalnya, memberi pengecualian penerapan SNI bagi sejumlah produk baja sehingga produk besi dan baja dari luar mudah menembus pasar dalam negeri. Sementara Permenperin No 32/2019 menghapus kewajiban pertimbangan teknis (pertek) terhadap izin importasi bahan baku baja, produk baja, dan turunannya.

Komisi VI pun berencana mengagendakan rapat gabungan dengan Menperin, Mendag, dan Komisi VII untuk mendalami persoalan impor besi dan baja. Apalagi, saat ini, kasus dugaan korupsi akibat izin importasi besi dan baja sedang dalam penyelidikan di Kejaksaan Agung. Nilai impor besi dan baja sepanjang 2021 juga melonjak, BPS mencatat, impor besi dan baja mencapai 5,34 miliar dollar AS atau Rp 76,66 triliun, meningkat 66 % dibandingkan nilai impor 2020 yang 3,22 miliar dollar AS atau Rp 46,3 triliun. Sementara utilisasi produksi industri baja nasional rata-rata hanya 54 %. Produksi hot rolled coil (HRC) yang total investasinya 1,21 miliar dollar AS, misalnya, utilisasinya 49 %. Sementara volume impor HRC meningkat 14 % tahun 2021. Untuk produk CRC/S, dengan nilai investasi 595 juta dollar AS, tingkat utilisasi nasionalnya hanya 41 % di tengah volume impor yang melonjak sampai 73 %.  Menurut Silmy, untuk membendung impor perlu ada penerapan pengenaan SNI dari produk hulu ke hilir secara wajib. (Yoga)