USA
( 50 )Dampak Tren Dedolarisasi
Tren dedolarisasi menjadi semakin ramai dibicarakan di khalayak umum dan pemangku kebijakan. Kata "dedolarisasi" mengacu pada fenomena negara-negara di dunia untuk mengurangi ketergantungannya pada dolar Amerika Serikat, mata uang Amerika, untuk berbagai kegunaan, seperti alat penyimpan kekayaan, alat tukar, dan alat penghitung (store of value), kemudian beralih ke mata uang lain.Seruan dedolarisasi oleh pemimpin negara-negara berkembang dan maju cukup wajar karena beban dari sistem keuangan global yang didominasi dolar Amerika kian tinggi. Dominasi dolar Amerika menyebabkan ketidakseimbangan global pada neraca pembayaran secara terus-menerus, dan Amerika harus terus menjalankan kebijakan defisit fiskal serta neraca berjalan untuk "memasok" dolarnya. Adapun negara-negara dengan kemampuan produksi yang besar, seperti Jerman dan Cina, harus mengakumulasi surplus neraca berjalan sementara untuk menstimulasi ekspor.
Ketidakseimbangan global yang berlarut-larut ini mengandung beberapa masalah. Pertama, ketergantungan pada dolar menyebabkan model pembangunan global bergantung pada dana murah hasil quantitative easing dan tingkat utang yang kian tinggi. Kedua, "dilema Triffin". Pada 1960, ekonom Robert Triffin mengungkap masalah mendasar dalam sistem moneter internasional: jika Amerika menghentikan defisit neraca pembayaran, komunitas internasional akan kehilangan sumber tambahan cadangan terbesarnya. Dilema ini sering kali menyebabkan kebijakan moneter bank sentral Amerika, The Fed, kurang efektif bagi ekonomi Negeri Abang Sam dan global. Ketiga, bagi negara berkembang seperti Indonesia, yang memiliki neraca berjalan (current account) defisit akibat kebutuhan investasi yang besar, hegemoni dolar menyebabkan ketergantungan pada aliran modal asing yang kian bergejolak (volatile). Perkembangan-perkembangan baru, antara lain krisis debt ceiling (batas utang) di Amerika, hubungan Amerika yang memburuk dengan negara-negara lain, sikap Cina dan Rusia yang kian membangkang pada dominasi Amerika, serta masih tingginya inflasi global, menyebabkan berbagai pihak menilai hari-hari dominasi dolar akan segera berakhir. (Yetede)
Relasi Dollar AS dan Harga Minyak
Secara historis, harga minyak berhubungan terbalik dengan kekuatan mata uang dollar AS (Verleger; 2023). Bagi negara-negara pengimpor bersih minyak, hal ini memberikan semacam efek kompensasi parsial yang meringankan biaya impor minyak. Hubungan terbalik ini terjadi karena untuk jangka waktu lama, tahun 1980 sampai 2020, AS masih pengimpor bersih minyak. Harga minyak yang naik akan membuat nilai impor minyak meningkat sehingga AS harus memompa dollar lebih banyak ke sirkulasi dunia sehingga membuat dollar melemah. Relasi terbalik atau negatif ini berubah jadi searah sejak AS menjadi eksportir bersih minyak pada 2020 dengan ekspor 8,51 juta barel per hari (Farley; 2022). Sejak itu, peningkatan harga minyak cenderung membuat dollar AS menguat karena meningkatkan permintaan dunia terhadap mata uang dollar AS.
Perang Ukraina-Rusia yang sudah berlangsung setahun lebih makin memperkuat relasi positif ini. Sanksi ekonomi terhadap Rusia yang merupakan produsen minyak membuat permintaan terhadap minyak AS meningkat. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat hampir menyentuh 120 dollar AS per barel pada pertengahan Juni 2022. Secara berantai, hubungan searah antara harga minyak dunia dan komoditas lainnya juga terjadi, baik melalui substitusi di rantai produksi maupun ekspektasi di bursa berjangka. Setelah harga minyak mencapai titik tertingginya, tak lama kemudian disusul oleh komoditas pangan dan energi.
Namun, relasi searah dollar AS dan harga minyak ini juga menimbulkan masalah baru, yaitu fluktuasi siklus komoditas antara masa berlimpah (boom) dan paceklik (bust) menjadi melebar. Perekonomian dalam negeri yang tumbuh berbasis mobilitas berorientasi rupiah merupakan bantalan terhadap apresiasi dan fluktuasi dollar AS. Walaupun rupiah sempat terdepresiasi di akhir November 2022, tetapi dapat bertahan di Rp 15.700 per dollar AS. Indeks dollar AS dan harga minyak yang turun kemudian membalikkan momentum. Sejak Januari 2023, rupiah kembali menguat ke arah ekuilibrium idealnya. Sampai akhir minggu lalu sudah mencapai Rp 14.800-an per dollar AS. (Yoga)
Laporan Tenaga Kerja AS Indikasi Tekanan Inflasi Mereda
Perusahaan-perusahaan swasta di AS menambah 236.000 lapangan kerja pada Maret 2023. Angka yang solid itu menunjukkan bahwa ekonomi AS juga tetap kuat meskipun The Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga acuan sembilan kali sejak Maret tahun lalu untuk menjinakkan laju inflasi. Laporan Depnaker AS pada Jumat (07/04) itu menunjukkan tingkat pengangguran turun menjadi 3,5% karena meningkatnya angka partisipasi kerja. Pada saat yang sama, beberapa rincian dari laporan itu meningkatkan peluang bahwa tekanan inflasi akan mereda. Dan The Fed dapat segera memutuskan untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga.
Upah rata-rata per jam naik 4,2% secara tahunan. Tapi turun tajam dari kenaikan tahunan 4,6% pada Februari 2023. Secara bulanan, upah naik 0,3% dari Februari hingga Maret, naik tipis dari kenaikan 0,2% dari Januari hingga Februari. Tetapi angka-angka itu menandai perlambatan kenaikan upah rata-rata pada bulan-bulan terakhir 2022. Indikasi lain yang mungkin meyakinkan perjuangan The Fed dalam melawan inflasi adalah 480.000 orang mulai mencari pekerjaan di sepanjang Maret 2023. (Yetede)
The Fed Lagi-lagi Naikkan Suku Bunga
Bank sentral AS, The Fed, kembali menaikkan suku bunga inti untuk kesembilan kalinya sebesar 0,25 % guna menurunkan inflasi. Dengan demikian, tingkat suku bunga inti AS sekarang berkisar 4,75 % hingga 5 %. ”Kenaikan suku bunga ke depan juga tetap dilakukan hingga inflasi bisa diturunkan menjadi 2 %,” kata Gubernur The Fed Jerome Powell dalam jumpa pers di Washington DC, AS, Rabu (22/3/2023) waktu setempat atau Kamis dini hari WIB. Suku bunga The Fed sepanjang 2023 diperkirakan berkisar 5,1 %. (Yoga)
Yield US Treasury Rekor, Pasar Obligasi Negara Tertekan
Sempat melandai di awal Oktober,
yield
US Treasury kembali melesat memasuki pertengahan bulan ini. Per pukul 20.52 WIB, Rabu (12/10),
yield
US Treasury acuan tenor 10 tahun berada di level 3,939%.
Perlu dicatat juga,
yield
US Treasury kemarin di level 3,947% tersebut merupakan rekor tertinggi
yield
US Treasury sepanjang sejarah. Kondisi ini tentu menekan pasar obligasi negara lain, termasuk pasar obligasi Indonesia.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division
Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan,
yield
US Treasury masih berpotensi naik. Analis menilai strategi ini cukup efektif menjaga harga SUN. Apalagi, porsi investor asing di SUN tidak lagi besar. "Tekanan jual terhadap obligasi secara umum sebenarnya sudah terus menurun seiring kuatnya fundamental serta kecilnya porsi kepemilikan asing," jelas Dimas Yusuf,
The Fed Bisa Hentikan Agretivitas Suku Bunga Dalam Tiga Tahap
LONDON, ID – The Federal Reserve (The Fed) dapat dipaksa menjauh dari jalur penaikan suku bunga agresif dalam tiga tahap. Para pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut bakal menaikkan lagi suku bunga 75 basis poin (bps) untuk ketiga kalinya dalam pertemuan kebijakan moneter pekan depan. Berbagai pejabat The Fed pun telah menegaskan kembali komitmen Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) dalam beberapa pekan terakhir, untuk mengendalikan inflasi. Namun percepatan kenaikan suku bunga untuk meredam gejolak pasar terputus dari realitas ekonomi yang dihadapi oleh banyak orang. “Periode percepatan kenaikan suku bunga yang telah kita lihat sejauh ini telah berdampak pada ekonomi riil, karena sudah menekan biaya pinjaman bagi rakyat yang sesungguhnya, bagi konsumen yang sebenarnya. Sedangkan untuk (Wall) Street secara umum, secara historis uang masih murah dan leverage tetap tinggi dalam sistem. Kemudian catatan pembukuan The Fed masih sedikit di bawah US$ 9 triliun, dua kali lipat dari apa yang terjadi pada periode pandemi dan sejak krisis keuangan tahun 2008,” demikianpenjelasan Prins, yang juga penulis buku “Permanent Distortion: How the Financial Markets Abandoned the Real Economy Forever” kepada CNBC. (Yetede)
Benarkah Perekonomian Amerika Sudah Resesi
Ada banyak alasan logis dan terukur yang membuktikan bahwa AS belum mengalami resesi ekonomi. Pertama, pertumbuhan ekonomi AS secara kuartalan memang negatif, namun, secara tahunan, perekonomian AS sebenarnya masih tumbuh positif sebesar 1,6 % pada kuartal II-2022, lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar 3,5 %. Jadi, apa yang kita lihat saat ini adalah baru perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, bukan resesi ekonomi.
Pengalaman menunjukkan bahwa AS pernah mengalami resesi ekonomi, tetapi pertumbuhan ekonominya tidak mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut. Hal tersebut terlihat dengan gambling pada resesi ekonomi 1982. Waktu itu, perekonomian AS mengalami kontraksi 1,9 %. Pada kuartal I-1982, secara kuartalan pertumbuhan ekonomi AS negatif 6,1 % (qoq), kemudian pada kuartal II-1982 tumbuh positif 1,8 %, lalu tumbuh negatif lagi 1,5 % pada kuartal III-1982, terus tumbuh positif lagi pada kuartal IV-1982 sebesar 0,2 %.
Kedua, jika betul AS berada di zona resesi ekonomi, seharusnya tingkat pengangguran melonjak signifikan, permintaan sangat lemah dan anjlok sangat dalam, serta produksi akan turun drastis. Data menunjukkan ini tidak terjadi, tingkat pengangguran justru menurun dari 3,9 % pada Desember 2021 menjadi 3,5 % pada Juli 2022. Hal ini juga didukung data indeks jumlah jam kerja yang meningkat ke 113,1 pada Juli 2022 dari 111,0 pada Desember 2021. Dari sisi permintaan, penjualan ritel masih tumbuh positif 8,4 % pada Juni 2022; dan total penjualan mobil masih tinggi, mencapai13,4 juta unit. Sementara tunggakan kartu kredit dalam tren menurun dengan indeks 0,79 pada Juni 2022 dari 0,81 pada Desember 2021. Sebagai catatan, saat resesi ekonomi 2020, indeks rata-rata tunggakan kartu kredit sangat tinggi, yaitu 1,32.
Sebenarnya ada satu indikator yang hampir tak pernah salah dan bisa diandalkan untuk menentukan apakah AS resesi atau tidak, yaitu Composite Coincindent Economic Index. Data terakhir menunjukkan indeks ini masih tumbuh positif, tetapi pertumbuhannya melambat. Ini artinya eksplisit AS belum mengalami resesi sampai semester I-2022. (Yoga)
AS Usul Penguatan Rantai Pasokan Intra-Mitra Dagang
Menteri Keuangan (Menkeu) Janet Yellen kembali menegaskan perlunya AS dan mitra-mitra dagang terpercayanya untuk meningkatkan ketahanan rantai pasokan melalui konsep friend-shoring atau penggalangan antarkawan. Tetapi, lanjut Yellen, hal ini bukan berarti AS mundur dari bagian dunia lainnya. Sebagai informasi, istilah tersebut mengacu pada konsep onshoring dan nearshoring. Konsep ini merujuk pada pemindahan rantai pasokan ke dalam negeri, atau kebalikan dari memiliknya di luar negeri. Konsep friend-shoring malampaui hal itu, tetapi membatasi jaringan rantai pasokan ke sekutu dan negara-negara sahabat. "Ketahanan rantai pasokan adalah fokus utama pemerintah Biden-(Kamala) Harris. Dan perlunya dilakukan pekerjaan ini telah diilustrasikan dengan jelas oleh peristiwa dua tahun terakhir, yakni pertama oleh Covid-19 dan upaya kami untuk memerangio pandemi, dan sekarang (kedua) oleh perang agresi brutal Rusia ke Ukraina. Kedua faktor ini telah menggambar ulang kaontur rantai pasokan dan perdagangan global," demikian penjelasan Yellen, (Yetede)
Hantu Resesi Jatuhkan Dow Jones ke Bawah 30.000
Indeks saham Dow Jones tadinya reli pada perdagangan Rabu (15/6) setelah Teh Fed menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin kisaran 1,5%-1,75%. Penaikan terbesar sejak 1994 itu menandai serbuan terbesar The Fed untuk memerangi lonjakan inflasi. Namun pendekatan yang lebih agresif itu, kini dikhawatirkan menjatuhkan ekonomi Amerika Serikat ke jurang resesi, sehingga Dow Jones anjlok 700 poin lebih pada pada Kamis (16/6), ke level terendah dalam setahun lebih hingga di bawah 30.000.
"The Fed menanggung beban yang sangat buruk sekali saat ini dan saya pikir para investor serta pasar kehilangan kepercayaan bahwa The Fed mampu melakukannya," ujar Ryan Detrick, kepala strategi pasar LPL Financial, seperti dikutip CNBC. Indeks Dow Jones pada Kamis berada di level 30.000 untuk pertama kalinya sejak 4 Januari 2021.
Setelah untuk pertama kalinya menembus level tersebut pada November 2020. Saat menembus level 30.000, Dow berada 60% lebih diatas level terendah masa pandemi saat itu. Meski 30.000 tidak lantas merupakan level teknikal bagi Dow, ambang sebesar 1.000 poin itu dipandang banyak pihak di Wall Street sebagai level psikologis kunci bagi pasar. (Yetede)
The Fed Indikasikan Kenaikan Suku Bunga Lebih Banyak
Para Pejabat The Federal Research (The Fed) pada awal bulan ini menekankan perlunya menaikkan suku bunga dengan cepat dan mungkin lebih banyak dari yang diantisipasi pasar guna mengatasi lonjakan inflasi. Demikian risalah pertemuan yang dirilis, Rabu (25/5) waktu setempat. Para pembuat kebijakan berpendapat, tidak hanya perlunya menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 poin, tetapi mereka juga mengatakan kenaikan akan diperlukan beberapa pertemuan berikutnya. "Sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan poin dalam kisaran target kemungkinan akan sesuai pada beberapa pertemuan berikutnya," demikian menurut risalah yang dilansir CNBC. Selain itu, anggota Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Commitee/FOMC) mengindikasikan bahwa sikap kebijakan yang membatasi mungkin menjadi hal tepat, tergantung pada prospek ekonomi yang berkembang dan berisiko terhadap prospek tersebut. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









