USA
( 50 )AS Luncurkan Inisiatif Perdagangan Baru Asia-Pasifik
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden meluncurkan inisiatif perdagangan Asia-Pasifik baru di Tokyo, Jepang pada Senin (23/5). Inisiatif Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik untuk Kemakmuran atau Indonesia Pasicif Economic Framework for Framework for Prosperity (IPEF) ini melibatkan 13 negara, termasuk India dan Jepang yang sudah mendaftar. Tetapi kehadiran IPEF masih menyisakan pertanyaan mengenai efektivitas pakta tersebut. Peluncuran IPEF sendiri dilakukan pada hari kedua lawatan Biden di Jepang. "Saya kita akan memenangkan kompetisi abad ke-21 bersama-sama," ujarnya disela peluncuran yang dihadiri secara langsung oleh Kishida serta Perdana Menteri India Narendra Modi, dan hampir semua perwakilan dari negara lain. Menurut laporan yang dilansir AFP, IPEF berbeda dengan blok-blokan perdagangan sebelumnya karena tidak ada rencana bagi anggota IPEF untuk merundingkan tarif dan memudahkan akses pasar. (Yetede)
Kenaikan Suku Bunga AS Tergantung Respons Ekonomi
Presiden The Federal (The Fed) New York John Williams menyampaikan bahwa bank sentral Amerika Serikat perlu menggerakkan kebijakan moneter ke arah sikap yang lebih netral, tetapi kecepatan pengetatan kredit akan tergantung pada bagaimana ekonomi bereaksi. "Kami harus lebih dekat ke netral tetapi kami harus mengawasi sepenuhnya. Tidak diragukan lagi ke arah mana kita bergerak. Seberapa cepat kita melakukannya tergantung pada keadaan," ujar WIlliams, yang dilansir Reuters, pada Minggu (3/4). Pernyataan Williams tersebut menunjukkan pendekatan lebih hati-hati terhadap kenaikan suku bunga yang akan datang, dibandingkan dengan dorongan sesama rekan-rekan yang merasa bahwa The Fed berlomba menuju sikap yang lebih netral dengan menggunakan kenaikan suku bunga 0,5 point, lebih besar dari biasanya pada pertemuan mendatang. (Yetede)
AS Tuntut Langkah Konkret Tiongkok Untuk Penuhi Kesepakatan Dagang Fase 1
Para pejabat AS pada Senin (7/2) menyerukan kepada pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) supaya menunjukkan tindakan nyata dalam memenuhi komitmennya untuk membeli tambahan barang dan jasa AS senilai US$ 200 miliar. Komitmen ini tertuang di dalam kesepakatan perdagangan Fase 1 2020 dan 2021 yang ditandatangani oleh mantan Presiden Donald Trump. Presiden Joe Biden mengungkapkan kesepakatan perdagangan tidak membahas masalah inti dengan Tiongkok, tetapi juga pejabat AS telah menekan Negeri Tirai Bambu itu untuk menyukseskan apa yang telah ditandatangani. "Karena kami mewarisi kesepakatan ini, kami melibatkan (RRT) pada kekurangan komitmen pembeliannya, baik untuk memperjuangkan petani, peternak, dan pabrikan AS juga memberi Tiongkok kesempatan untuk menindaklanjuti komitmennya. (Yetede)
Wall Street di Prediksi Tetap Tertekan Bulan Ini
Pasar saham di Amerika Serikat (AS) diprediksi tetap tertekan pekan ini, setelah mengakhiri perdagangan pekan lalu di posisi terburuk sejak 2020. Para investor juga akan mencermati hasil rapat Komite Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu, (26/1) waktu setempat. Netfilx anjlok setelah mengeluarkan laporan keuangannya pada Kamis pekan lalu. Indeks teknologi Nasdaq sudah anjlok 15,5 dari level tertingginya dan mengawali awal tahun terburuk sejak 2008. Selain nasib sektor teknologi di Wall Street, para investor juga akan mencermati rapat kebijakan The Federal Reserve (The Fed) pada selasa dan Rabu. Yang akan dicari tahu adalah suku bunga acuan akan dinaikkan tahun ini dan kapan akan dimulai penaikannya. Hal yang menjadi perhatian utama The Fed saat ini adalah inflasi, yang sudah tertunjukkan pada naiknya biaya-biaya dalam laporan keuangan perusahaan-perusahaan serta naiknya harga-harga. (Yetede)
Biden: Butuh Usaha Keras Untuk Menurunkan Inflasi
Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan, langkah menurunkan tingkat rekor inflasi negara tersebut akan membutuhkan usaha keras. "Inflasi itu ada hubungannya dengan rantai pasokan. Orang-orang mengalaminya di pompa bensin, toko kelontong, dan ditempat lain." kata Presiden pada konferensi pers, Rabu (19/1) waktu setempat. Biden mengatakan ketentuan dalam usulan anggaran dalam program Build Back Better, yang terhenti di konggres, akan memperbaiki situasi. "(Tetapi) itu akan sulit dan membutuhkan banyak pekerjaan," lanjutnya. Biden mengatakan, Federal Reserve (The Fed) memiliki pekerjaan penting dalam memastikan bahwa kenaikan harga tidak meluas. Presiden dari Partai Demokrat tersebut telah menominasikan Powell, seorang Republikan, untuk menjalani masa jabatan kedua sebagai Gubernur bank sentral independen. "(Tetapi) hal terbaik untuk mengatasi harga tinggi adalah ekonomi yang lebih produktif dengan kapasitas yang lebih besar, untuk mengirimkan barang dan jasa kepada rakyat Amerika." lanjut Biden. (Yetede)
Biden: Butuh Usaha Keras Untuk Menurunkan Inflasi
Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan, langkah menurunkan tingkat rekor inflasi negara tersebut akan membutuhkan usaha keras. "Inflasi itu ada hubungannya dengan rantai pasokan. Orang-orang mengalaminya di pompa bensin, toko kelontong, dan ditempat lain." kata Presiden pada konferensi pers, Rabu (19/1) waktu setempat. Biden mengatakan ketentuan dalam usulan anggaran dalam program Build Back Better, yang terhenti di konggres, akan memperbaiki situasi. "(Tetapi) itu akan sulit dan membutuhkan banyak pekerjaan," lanjutnya. Biden mengatakan, Federal Reserve (The Fed) memiliki pekerjaan penting dalam memastikan bahwa kenaikan harga tidak meluas. Presiden dari Partai Demokrat tersebut telah menominasikan Powell, seorang Republikan, untuk menjalani masa jabatan kedua sebagai Gubernur bank sentral independen. "(Tetapi) hal terbaik untuk mengatasi harga tinggi adalah ekonomi yang lebih produktif dengan kapasitas yang lebih besar, untuk mengirimkan barang dan jasa kepada rakyat Amerika." lanjut Biden. (Yetede)
Maskapai AS Khawatirkan Resiko 5G di Area Bandara
CEO-CEO Maskapai Penerbangan Amerika Serikat (AS) mengingatkan ada kemungkinan gangguan yang bisa jadi bencana untuk operasional perjalanan dan pengiriman. Yakni apabila perusahaan telekomunikasi tetap melakukan peluncuran jaringan 5G seperti yang direncanakan, Rabu (19/1) tanpa membatasai teknologi tersebut di dekat Bandara AS. "Kami menulis dengan mendesak, meminta agar jaringan 5G diaktifkan dimana-mana di negara ini, kecuali dalam perkiraan dua mil (3,1 km) dari landasan pacu bandara seperti yang ditentukan oleh Adminidtrasi Penerbangan Federal (FAA) pada 19 Januari 2022," kata para CEO sejumlah perusahaan dalam surat penting yang dikirimkan, Senin (18/1), dilansir dari AFP. Selain dikirimkan pada Menteri Transportasi, surat desakan itu juga ditujukan kepada FAA, Kepala Komisi Komunikasi Federal, dan Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih. (Yetede)
Sinyal The Fed Memicu Aksi Jual Saham dan Obligasi
Pasar saham modal dilaporkan berada jauh di zona merah dan beberapa imbal hasil obligasi pemerintah yang penting mengalami kenaikan ke level tertinggi dalam beberapa tahun pada Kamis (6/1). Hal ini terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan kemungkinan peningkatan suku bunga AS yang lebih cepat dari perkiraan, dan penarikan stimulus. Bursa Asia dan Afrika, mengalami penuruan drastis menyusul saham-saham perusahaan teknologi Nasdaq di Wall Street yang anjlok lebih dari 3% pada Rabu (5/1) Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 2 tahun dan 5 tahun, sebagai pendorong penting terhadap biaya pinjaman global, melonjak ke level tertinggi pasca pandemi Covid-19. Bursa Asia juga mengalam penurunan tajam begitu pun halnya dengan saham-saham di Australia yang merosot 2,7% dimana ini adalah presentasi penurunan harian terbesar sejak awal September 2020. (Yetede)
The Fed Bersiap Naikan Suku Bunga
Para pejabat Federal Reserve (The Fed) bulan lalu khawatir tentang dampak Omicron, tapi percaya ekonomi AS telah cukup pulih dari kemerosotan akibat pandemi Covid-19. Menurut risalah pertemuan bulan Desember 2021 yang dirilis Rabu (5/1) waktu setempat, kondisi itu memungkinkan menaikkan suku bunga dilakukan lebih cepat dari yang diperkirakan. Dokumen tersebut menjelaskan latar belakang pertimbangan komite kebijakan Fed. The Fed perlu bertindak melawan gelombang inflasi yang membuat harga konsumen melonjak ke level tertinggi selama beberapa dekade terakhir. Dengan kemunduran yang lebih cepat, stimulus program pembelian obligasi The Fed sekarang akan berakhir (tapering) pada Maret 2022. Para pejebat The Fed memiliki pandangan berbeda atas seberapa besar ancaman yang ditimbulkan oleh ketegangan baru pandemi terhadap ekonomi terbesar di dunia itu.(Yetede)
The Fed Bersiap Naikan Suku Bunga
Para pejabat Federal Reserve (The Fed) bulan lalu khawatir tentang dampak Omicron, tapi percaya ekonomi AS telah cukup pulih dari kemerosotan akibat pandemi Covid-19. Menurut risalah pertemuan bulan Desember 2021 yang dirilis Rabu (5/1) waktu setempat, kondisi itu memungkinkan menaikkan suku bunga dilakukan lebih cepat dari yang diperkirakan. Dokumen tersebut menjelaskan latar belakang pertimbangan komite kebijakan Fed. The Fed perlu bertindak melawan gelombang inflasi yang membuat harga konsumen melonjak ke level tertinggi selama beberapa dekade terakhir. Dengan kemunduran yang lebih cepat, stimulus program pembelian obligasi The Fed sekarang akan berakhir (tapering) pada Maret 2022. Para pejebat The Fed memiliki pandangan berbeda atas seberapa besar ancaman yang ditimbulkan oleh ketegangan baru pandemi terhadap ekonomi terbesar di dunia itu.(Yetede)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023







