Mengeruk Untung Saham Batu Bara
Pemerintah telah mencabut kebijakan larangan ekspor batu bara sejak Senin (10/1). Mulai kemarin, Rabu (12/1), aktivitas ekspor batu bara sudah kembali bisa dilakukan secara bertahap. Pencabutan larangan ekspor batu bara tersebut memberikan katalis ke sejumlah saham perusahaan penambang emas hitam. Sejak awal pekan, pelaku pasar merespons positif kebijakan tersebut sehingga mendorong pertumbuhan ke beberapa saham emiten seperti PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG).
Berdasarkan data Bloomberg, sejak pengumuman larangan ekspor dicabut, saham BYAN telah melejit 9,14%. Hingga penutupan pasar kemarin, BYAN diperdagangkan seharga Rp28.650 per lembar. Saham Barito Pacific juga mendapatkan keuntungan dari kebijakan itu. BRPT dalam 3 hari terakhir telah tumbuh 4,14% ke level Rp880 per lembar. Begitu juga dengan Indo Tambangraya. Sahamnya naik 0,6% ke level Rp20.175 per lembar. Saham anak usaha PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) yakni PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) mencetak pertumbuhan paling tinggi. Sejak Senin hingga penutupan perdagangan kemarin, saham ADMR membumbung hingga 93,4%. Jika diteliti, kami menilai bahwa pelaku pasar menaruh ekspektasi terhadap saham-saham emiten yang memproduksi batu bara kalori tinggi. Dengan tren harga yang sedang tinggi, produsen batu bara kalori tinggi mengeruk keuntungan paling besar dari pasar ekspor.
Kepatuhan Pajak dan Rekonsiliasi Kala Pandemi
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru saja mengumumkan tercapainya target penerimaan pajak dalam realisasi sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun lalu sebesar 103,9%, karena sampai dengan 31 Desember 2021 jumlah neto penerimaan pajak yang berhasil dihimpun mencapai Rp1.277,5 triliun melebihi target yang ditetapkan sebesar Rp1.229,6 triliun. Publik telah menantikan keberhasilan ini selama 12 tahun lamanya. Lebih dari satu dekade berbagai terobosan dilakukan untuk mendongkrak penerimaan pajak, termasuk reinventing policy, pengenaan pajak final atas penghasilan usaha kecil dan menengah, serta pengampunan pajak. Namun hasil yang diharapkan tak kunjung datang, sehingga pemerintah terpaksa membiayai defisit belanja tahunan dengan pinjaman serta penerbitan surat utang baru yang jumlahnya secara akumulasi mencapai Rp6.711,5 triliun pada September 2021.
Jika diamati cermat, terdapat dua pesan moral utama yang ingin disampaikan oleh otoritas fiskal dalam memulai tahun yang baru. Pertama, tetap optimistis dan tangguh dalam menghadapi masa-masa sulit. Kedua, semangat rekonsiliasi dan gotong-royong dalam membiayai pemulihan ekonomi. Pandemi tentunya membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat secara multidimensi. Oleh karenanya, diperlukan upaya rekonsiliasi untuk mengembalikan rasa keadilan di masyarakat sekaligus menyediakan ruang bagi semua pihak untuk bergotong-royong membayar ‘ongkos’ penanganan pandemi. Semoga semangat optimisme dan rekonsiliasi membuat khalayak menemukan sisi terbaik dalam membayar pajak serta semua aspek lain di kehidupan bernegara.Tatap Muka Penuh
Pembelajaran tatap muka secara penuh sudah dimulai dalam beberapa pekan terakhir, menandai era baru interaksi anak didik yang sempat mengikuti kegiatan belajar jarak jauh atau daring dalam waktu yang cukup lama akibat pandemi Covid-19. Sempat pula diterapkan uji coba kegiatan belajar secara hibrida beberapa waktu lalu sebagai persiapan pembelajaran normal. Sebenarnya bukan era baru juga karena apa yang baru saja berja-lan ini adalah bentuk kelaziman pendidikan yang kita kenal.
Peta Industri Tekstil, Pasar Domestik Bakal Lebih Solid
Geliat industri tekstil nasional pada tahun ini diperkirakan lebih kencang sejalan dengan makin kondusifnya pasar dalam negeri. Peluang ekspor juga kian terbuka meski tantangannya juga penuh dinamika. Pemerintah juga percaya diri dengan memproyeksikan pertumbuhan 5% untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pada 2022 setelah sebelumnya tak bisa mengoptimalkan ekspansi, karena pandemi dan pembatasan ketat. Alhasil, sejumlah pemain di industri ini juga menyiapkan langkah ekspansi meskipun masih terbatas guna mengantisipasi kebutuhan pasar. Sekjen Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan industri tekstil hulu sebenarnya memiliki peluang besar untuk mensubstitusi bahan baku impor untuk tujuan ekspor. Namun, bahan baku dari luar negeri memperoleh fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Hal serupa tidak berlaku untuk produk dalam negeri.
Ekspektasi itu didukung oleh sejumlah perkembangan positif seperti pasar domestik yang sudah mulai bergeliat dengan mobilitas yang lebih longgar dibandingkan dengan tahun lalu. Di sisi lain tantangan yang dihadapi pebisnis juga tidak kecil, seperti kemungkinan naiknya biaya energi pada tahun ini, sehingga harus ditempuh strategi jitu untuk menghasilkan produk yang tetap berdaya saing. Sementara itu, kalangan pelaku industri juga siap mengarungi tahun ini dengan harapan yang lebih kuat. Sekretaris Perusahaan PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL) R. Nurwulan Kusumawati mengatakan arah perbaikan pasar domestik sudah mulai dirasakan pada kuartal terakhir tahun lalu yang disambut dengan menggencarkan produk ritel dan customized order.
Kemenkominfo Mulai Siapkan Frekuensi Untuk 5G
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah melakukan kajian awal terkait peta jalan dan mulai menyiapkan spektrum frekuensi radio untuk implementasi layanan telekomunikasi seluler 5G di Indonesia. Koordinator Standar Radio Telekomunikasi Radio Kemenkominfo Indra Utama mengatakan, spektrum frekuensi yang digunakan para operator telekominukasi untuk implementasi 5G saat ini yang dimulai pada 2021 masih pada frekuensi eksisiting yang juga digunakan untuk layanan 4G LTE. Menurut Indra, ada dua opsi yang dapat dilakukan untuk bisa segera memanfaatkan frekuensi 700 MHz. Pertama,dibuatkan seleksi izin nasional pada kuartal III-2021. Tetapi, pemanfaatannya untuk 5G dimulai area rural dengan mengikuti clerarence seauai jadwal ASO. "Opsi kedua, seleksi izin nasional menunggu penuntasan seluruh tahapan ASO paling lambat selesai pada November 2022," imbuhnya. (Yetede)
Telkomsel dan InMobi Kerjasama Pemasaran
Telkomsel, perusahaan telekomunikasi digital terbesar di Tanah Air, menjalin kerjasama dengan InMobi, perusahaan teknologi pemasaran, monetisasi dan konten, keduanya akan menggali potensi pemasaran merek melalui perangkat mobile dan memaksimalkan return of investment (RoI) dari aktivitas melalui mobile marketing. GM Data Solution Business dan Partnership Telkomsel Rangga Gandina mengatakan, mengingat saat ini konsumen tidak bisa lepas dari penggunaan perangkat mobile, pemilik brand masih memiliki tantangan besar dalam strategi menjangkau audeins yang tepat. Melalui kerjasama itu, audiens akan tersedia untuk pemrogram media buying di InMobi Exchange. "Wawasan ini akan disediakan oleh InMobi, platform consumer intelegence pertama yang berbasis AL (artificial intelegence) dari InMobi-pulse," imbuhnya (Yetede)
Saratoga dan East Ventures Modali Xurya US$ 21,5 Juta
PT Saratoga Invetastama Sedaya Tbk dan East Ventures (Growth Fund) memberikan suntikan modal US$ 21,5 juta atau sekitar Rp 308 miliar kepada PT Xurya Daya Indonesia, start-up energi terbarukan yang fokus pada jasa sewa PLTS atap di Indonesia. Modal dari putaran pendanaan seri A tersebut akan Xurya gunakan untuk melanjutkan pembangunan PLTS atap yang telah tumbuh tiga kali lipat tahun 2021 "Kami mengapresiasi dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh investor, partner, dan costumer untuk membantu kami dalam mempercepat transisi energi baru terbarukan di Indonesia sejak Xurya berdiri tiga tahun yang lalu," ujar Managing Director Xurya Dana Indonesia Eka Himawan, Rabu (12/1). Seperti diketahui, East Ventures dan Saratago yang memimpin putaran pendanaan tersebut memiliki banyak porfolio dalam investasi ke perusahaan rintisan (start-up) pada tahap awal dan lanjutan dari berbagai industri, termasuk industri sosial dan lingkungan. (Yetede)
Survei Dailysocial.id: 58,9% Pemakai e-money Menggunakan OVO
Survey Dailysocial.id yang bertema Fintech Report 2021:The Convergence of (Digital) Financial Services menyebutkan, OVO sebagai uang elektronik (e-money) paling banyak digunakan di Indonesia. Dari total pengguna e-money di Tanah Air, sekitar 58,9%-nya tercatat sebagai pengguna OVO. Menurut laporan CORE Indonesia, setelah bergabung dengan OVO, sejumlah 8 dari 10 UMKM yang sebelumnya tidak memiliki akses bank, kini juga telah mengenal produk-produk perbankan. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia juga menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia pada periode 2019-kuartal II-2020 naik sekitar 9% menjadi 73,7% dari toal populasi,atau setara dengan 196,7 juta penduduk. Untuk senantiasa memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama segmen unbanked, OVO pun terus berupaya memperluas ekosistem offline melalui kerjasaam dengan berbagai mitra, antara lain Indomaret, LOTTE Mart, Mitra Bukalapak, dan masih banyak lagi. (Yetede)
BKF: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2021 Capai 5,1%
Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2021 melesat ke level 5,1%, sejalan dengan tren pemulihan ekonomi yang semakin kuat. Alhasil pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 mencapai 3,7%. Kedepannya kondisi fiskal maksimal mencapai defisit 3% terhadap PDB sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020, dengan rasio utang terkendali, neraca transaksi berjalan menuju positif, serta kerentanan fiskal terkendali. APBN saat ini sangat aman dan kuat untuk mengantisipasi resiko tersebut. Khususnya dengan performa yang sangat baik pada 2021, yakni capaian defisit anggaran yang hanya 4,65% dari target 5,7%. Kata Kepala BKF Febrio Kacaribu, pada tahun lalu, Indonesia juga memperoleh berkah dari kenaikan harga dari beberapa komoditas di pasar global beberapa waktu terakhir. Pasalnya kenaikan harga komoditas yang tinggi memicu peningkatan penerimaan negara, khususnya penerimaan pajak. (Yetede)
2022, Inflasi Bakal Terkendali di 3%
Badan Kebijakan Fiskal (BKF) optimistis tingkat inflasi tahun ini terkendali sesuai asumsi makro 3% plus minus 1% meskipun ditengah naiknya harga komoditas unggulan Indonesia mulai dari kelapa sawit sampai batu bara. Kepala BKF Febrio Kacaribu mengatakan, saat ini inflasi menjadi ancaman di negara maju seperti AS yang laju inflasinya sudah mencapai 6,8%, begitu pula dengan Eropa. Tetapi inflasi Indonesia hingga saat ini masih terjaga rendah di posisi 1,9%. Adapun kenaikan harga komoditas energi seperti migas dan batubara diproyeksikan masih berlanjut hingga pertengahan 2022. Sementara nikel, kelapa sawit, dan karet akan mengkuti tren perubahan ekonomi dunia. "Dampak komoditas yang naik ini terhadap APBN juga masih kita jaga sehingga tentunya kita lihat kepentingan keadaan sosial masyarakat bahwa kita fokus percepatan penguatan pemulihan ekonomi," tuturnya. (Yetede)









