East Ventures Telkom-Modali Start-up Riliv
Riliv, start-up-penyedia layanan kesehatan mental (mental health), mengumumkan telah meraih pendanaan tahap awal (seed round/funding) yang dipimpin perusahaan modal ventura East Ventures. Telkom Indonesia juga disebut ikut berpartisipasi melalui program akselerasi Indigo. Namun, tak disebutkan berapa nilai pendanaannya. Riliv didirikan oleh dua orang pemuda. Audrey Maximilian Herli (Maxi) yang merupakan alumni YSEALI 2017 dan Audrey Christopher Herli, penerima beasiswa Australian Award Scholarship 2018, mendirikan Riliv atas dasar rasa keprihatinannya terhadap kondisi mental masyarakat Indonesia. CEO Riliv Audrey Maximillian Herli mengatakan, kehadiran konseling daring dan konten-konten mindfulness yang terpadu dari Riliv dapat memperkenalkan kesehatan mental sebagai kebutuhan yang wajar bagi gen Y,Z dan Alpha, dalam bonus demografi Indonesia saat ini. (Yetede)
Satgas BLBI Kembali Sita Aset Texmaco Rp 1,96 Triliun
Satgas bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kembali melakukan penyitaan aset Jaminan Group Texmaco yang dimilki Marimutu Sinivasan senilai Rp 1,96 triliun. Hingga kini total aset Texmaco yang disita tercatat mencapai Rp5,29 triliun. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD dalam keterangan resminya, Kamis (20/1). Aset Texmaco yang disita kali ini mencakup 159 bidang tanah dengan total luas 1,93 juta m2. Sebelumnya, tanggal 23 Desember 2021, satgas BLBI juga telah menyita aset Texmaco berupa 587 bidang tanah seluas 4,79 juta m2. Perkiraan nilai total aset yang telah disita dari Group Texmaco dalam 2 tahap penyitaan mencapai Rp 5,29 triliun. Sementara itu, sebanyak 10 hingga 11 oknum pegawai Diretorat Jendral Kekayaan Negara Kementerian Keuangan telah ditahan Bareskrim Polri lantaran terlibat dalam kasus dugaan surat pemalsuan surat jaminan aset berharga BLBI. (Yetede)
Penambahan Kasus Omicron
Warga menggunakan masker di tengah perlintasan Pasar Petak Sembilan, Jakarta, Kamis (20/1). Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat penambahan kasus baru Covid-19. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia mengimbau agar masyarakat juga mewaspadai penularan virus korona varian omicron yang kini juga meningkat di Jakarta dan totalnya mencapi 856 orang.
BI Optimis Ekonomi 2022 Bisa Tumbuh Hingga 5,5%
Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia ditahun ini, lebih tinggi dibadingkan dengan 2021. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2022 dengan batas bawah sebesar 4,7% hingga batas atas 5,5%. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan 2021 sebesar 3,2% - 4,0%.
Saham Bank Konvensional Merespon Positif Bunga BI
Saham perbankan merespons positif keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 3,50%. Kamis (20/1) saham-saham bank konvensional mayoritas ditutup di zona hijau. Saham BBCA ditutup menguat 1,30% jadi Rp 7.775, BMRI naik 2,14% ke Rp 7.175, dan BBNI naik 0,70% menjadi Rp 7.150. Hanya BBRI yang ditutup stagnan di Rp 4.130. Keputusan BI mempertahankan suku bunga ini menghalau kekhawatiran akan ada penurunan kredit bank karena bunga yang lebih tinggi. Kredit perbankan bisa tumbuh seperti ekspektasi, 8%-10% di tahun ini, lebih tinggi dari 2021 yang sebesar 5,2%.
Rotasi Sektor, Market Cap Emiten Menyusul
Banyak saham yang mengalami penurunan harga tahun ini. Akibatnya kapitalisasi pasar banyak juga merosot. Sejak awal tahun, ada 453 saham yang kapitalisasi pasarnya anjlok. Saham yang mencatatkan kehilangan market cap terbesar adalah Indo Komoditi Korpora (INcF). Dengan penurunan kapitalisasi pasar hingga Rp 234,45 miliar, INCF kehilangan hampir 60% kapitalisasinya tahun ini. Selain INCF, emiten yang terus berlanjut kehilangan kapitalisasi pasarnya dari akhir September lalu antara lain MPPA, IPTV, dan MLPL. Jika ditarik selama empat bulan terakhir, market cap ketiganya turun 71,68%, lalu 68,91%, dan 60,70%. Analisi Panin Sekuritas William Hartanto juga menambahkan, aksi profit taking dan rotasi sektor menekan kapitalisasi pasar sejumlah saham. Diantaranya saham-saham di sektor teknologi, William masih merekomendasikan untuk wait and see.
Penyaluran BLT Dana Desa Belum Optimal
Kementerian Keuangan (kemenkeu) menyatakan selama 2021, bantuan langsung tunai (BLT) dana desa hanya disalurkan terhadap 5,62 juta keluarga penerima membuat (KPM) dari target 8 juta KPM. "Dari segi BLT, kita masih punya tantangan di sini karena target 8 juta KPM, kita baru dapat 5,62 juta KPM," Ucap Direktur Jendral Perimbangan Keuangan Kementerian Negara Astera Primanto Bhakti dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR,Kamis (20/1). "Selama ini masih ada desa yang hanya mendaftarkan dalam jumlah yang sedikit. Bahkan ada satu desa yang jumlah penerimanya hanya 50 KPM padahal jumlah penduduknya cukup besar. Hal ini jadi bahan evaluasi kami, akan kami teliti dari sisi pemberian BLT desa sehingga harapannya menjadi lebih baik." ucap Astera. Pada 2021, pemerintah juga memberi tambahan BLT desa sebesar Rp 300 juta di seluruh desa pada 35 kabupaten prioritas. (Yetede)
Porsi Besar Kredit UMKM
Sektor usaha mikro kecil dan menengah menjadi salah satu sasaran utama peningkatan penyaluran kredit pada tahun ini. Pemangku kepentingan menyiapkan sejumlah kebijakan agar kredit yang disalurkan dapat mengungkit ekonomi bangsa ke depan. Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan pada Kamis (20/1), Presiden Joko Widodo menegaskan lagi komitmennya untuk menjadikan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai motor pemulihan dan penggerak ekonomi. Pembiayaan kepada UMKM, kata Presiden, tidak dapat sekadar mengandalkan model pertumbuhan alamiah.
“Kredit kepada UMKM masih di kisaran 20% saja. Target 2024 sudah bisa mencapai 30% porsi UMKM dan tidak bisa mengandalkan pertumbuhan alamiah. Ini harus dijalankan dengan terobosan dari sekarang dan serius,” ujar Kepala Negara. Mengutip data Bank Indonesia, rata-rata porsi kredit UMKM terhadap total pembiayaan nasional di kisaran 18%. Sampai dengan November 2021, nilai kredit UMKM yang disalurkan sebesar Rp1.056,1 triliun. secara akumulasi, kredit UMKM tumbuh 3,1% dibandingkan dengan periode yang sama 2020.
Berharap Tak Sekadar Slogan
Sudah beberapa bulan belakangan, pelaku usaha di bidang energi hijau galau karena pengesahan peraturan presiden (perpres) tentang energi baru terbarukan (EBT) terkatung-katung. Molornya penerbitan perpres terkait dengan harga jual listrik bersumber dari EBT tentunya memberikan sentimen negatif bagi minat investasi energi terbarukan, yang tengah naik daun. Berlarut-larutnya pembahasan perpres itu membuat pengembangan sektor energi hijau semakin tidak kompetitif dan justru memberikan iklim ketidakpastian bagi dunia usaha. Sebagai catatan, transisi energi hijau berkelanjutan menjadi salah satu topik dalam KTT G20 2022. Dengan tema Recover Together, Recover Stronger, posisi Indonesia sebagai Presidensi dalam G20 pada tahun ini menjadi penting untuk bersama-sama mendorong transisi energi hijau yang berkelanjutan.
Terbaru, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal segera mengeluarkan dokumen ‘Taksonomi Hijau’ sebagai acuan dalam menyamakan bahasa tentang kegiatan usaha atau produk dan jasa keuangan yang tergolong hijau. Presiden Joko Widodo sendiri yang langsung meresmikan pedoman taksonomi hijau tersebut. Meski demikian, Harian ini juga mengingatkan dan berharap agar berbagai kebijakan ‘hijau’ tersebut benar-benar aplikatif dan tak cuma sekadar komitmen di atas kertas atau slogan retorika demi menjaga kewibawaan Indonesia dalam Presidensi G20. Taksonomi hijau atau perpres harga jual listrik bersumber dari EBT sejatinya adalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang negara kaya sumber daya alam fosil yang bertransisi ke energi hijau berkelanjutan.
Jepang dalam Geliat Sektor Properti Indonesia
Tahukah Anda di bidang apa Jepang banyak melakukan investasi di Indonesia selama ini? Investasi di sektor otomotif dan alat elektronik sudah dikenal banyak orang. Akan tetapi sesungguhnya, bidang properti juga menerima investasi yang sama banyaknya. Dalam 10 tahun terakhir nilai investasinya tembus hingga US$3 miliar yang mencakup sekitar 1.100 proyek. Tidak hanya dari sisi skala, investasi Jepang di bidang properti telah lama memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia melalui berbagai bentuk, seperti kawasan industri, perumahan, dan pusat perbelanjaan, serta menopang kemajuan perekonomian negeri ini.
Perusahaan-perusahaan Jepang ingin terus berkontribusi melalui investasi di bidang properti untuk mewujudkan kehidupan berkualitas tinggi yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia. Keterlibatan Jepang di sektor ini memiliki sejarah yang panjang. Proyek properti pertama yang dibangun dengan dukungan Jepang adalah Hotel Indonesia. Perusahaan Jepang diharapkan akan terus menggagas tempat tinggal yang berkualitas lebih tinggi kepada masyarakat Indonesia melalui investasi di bidang properti, serta tetap berkontribusi pada kemajuan perekonomian Indonesia. Di samping itu, saya harap, perusahaan Jepang dapat berperan dalam pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur seperti yang direncanakan Pemerintah Indonesia.









