Waspadai Sentimen Geopolitik
Suhu geopolitik belakangan kian memanas. Kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi ke Taiwan telah memantik reaksi negatif dari China. Merespons lawatan Pelosi itu, Kementerian Pertahanan China melayangkan peringatan keras untuk meluncurkan operasi militer gabungan di dekat Taiwan. Aksi ini menjadi sinyal serius kepada Taiwan yang terus meningkatkan gelagat separatisme, juga kepada Amerika Serikat yang secara terang-terangan menunjukkan dukungan disintegrasi. Kita tentu prihatin dengan situasi ini, terlebih konflik Rusia dan Ukraina juga tak kunjung mereda. Rivalitas yang sarat dengan kepentingan negara-negara kuat di dunia ini perlu dikelola dengan baik. Jika tidak, pengaruhnya akan berdampak buruk terhadap ekonomi global. Seperti kita ketahui, invasi Rusia ke Ukraina saja telah mendorong ekonomi dunia ke tepi jurang. Inflasi di Amerika Serikat, salah satunya, yang naik secara progresif dan menjadi yang tertinggi sejak 1981 telah memicu sikap hawkish The Fed. Bank sentral Amerika Serikat itu telah dua kali mengatrol suku bunga sebanyak 75 basis poin dan memberikan sinyal kenaikan lagi pada pertemuan September mendatang. Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa situasi geopolitik yang memanas di Asia Timur itu bakal merambat negatif ke pasar modal di dalam negeri. Padahal, kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG sedang berada dalam tren positif.
PROYEK STRATEGIS NASIONAL : KERETA CEPAT MENANTIKAN PMN
PT Kereta Api Indonesia masih menunggu pencairan penyertaan modal negara sebesar Rp4,1 triliun untuk menambal pembengkakan biaya atau cost overrun proyek kereta cepat Jakarta—Bandung. VP Public Relations PT Kereta Api Indonesia (KAI) Joni Martinus mengatakan bahwa penyertaan modal negara (PMN) yang telah mendapatkan lampu hijau DPR masih dibahas dengan Kementerian Keuangan. “Saat ini masih dalam pembahasan teknis dengan Kementerian Keuangan. PMN tersebut akan digunakan oleh konsorsium Indonesia yaitu PSBI untuk menutupi cost overrun dari sisi ekuitas,” katanya, Kamis (4/8). Menurutnya, dukungan negara melalui PMN sangat penting untuk menjalankan penugasan dari pemerintah dalam rangka penyelesaian proyek strategis nasional (PSN) itu. Saat ini, progres investasi proyek kereta cepat Jakarta—Bandung telah mencapai 85%, sedangkan progres fisiknya telah mencapai 79%. Sebelumnya, Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo mengatakan keterlambatan pencairan PMN bisa berdampak pada keterlambatan penyelesaian proyek PSN itu. Dia memprediksi arus kas KCIC akan bertahan sampai dengan September 2022.
DAMPAK GEOPOLITIK CHINA—TAIWAN : Indonesia Siapkan Tempat untuk Relokasi Industri
Pemerintah menyiapkan sejumlah lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk menampung relokasi industri Taiwan yang selama ini berbasis di China. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa ketegangan hubungan Taiwan dan China yang meningkat beberapa waktu belakangan bisa menjadi peluang bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia untuk menjadi tujuan relokasi industri. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Menteri Agus menyebut pemerintah menyiapkan beberapa calon lokasi investasi Taiwan di Indonesia yang dinilai telah memenuhi standar kawasan industri dari negara tersebut. “Untuk mendukung relokasi industri Taiwan dari RRT ke Indonesia, Kemenperin mengusulkan penambahan sub-forum baru di ITICF [Indonesia-Taiwan Industrial Collaboration Forum], yaitu sub-forum industrial estate,” ujar Agus kepada Bisnis, Kamis (4/8). Secara terpisah, kalangan pelaku usaha optimistis tensi politik China dan Taiwan tidak akan banyak memengaruhi potensi investasi Negeri Formosa ke Indonesia.
Bola Panas Kematian Brigadir Yosua
Misteri kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat menjadi bola panas yang terus menggencet sejumlah petinggi Markas Besar Kepolisian RI. Selain Inspektur Jenderal Ferdy Sambo, bos Yosua yang telah dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri, tiga jenderal lain diperiksa dalam dugaan pelanggaran kode etik kasus tersebut. Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan ketiga perwira tinggi polisi ini adalah jenderal bintang satu. Mereka menjadi bagian dari 25 personel Polri yang diperiksa oleh inspektorat khusus, yang digawangi oleh Inspektorat Pengawasan Umum Mabes Polri. "Sebanyak 25 personel ini kami periksa terkait dengan ketidakprofesionalan dalam penanganan tempat kejadian perkara (TKP) dan beberapa hal yang kami anggap itu sebagai proses olah TKP dan penyidikan," kata Listyo kemarin. (Yetede)
Tudingan Janggal Penetapan Tersangka Eliezer
Penetapan status tersangka Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E, dalam kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir Yosua dinilai janggal. Tim khusus Mabes Polri yang menelisik kasus Yosua dianggap terburu-buru dan tidak menerapkan prosedur hukum. Andreas Nahot Silitonga, kuasa hukum Bharada Eliezer, mengatakan Mabes Polri menetapkan Eliezer sebagai tersangka terhadapnya belum tuntas. Penetapan kliennya sebagai tersangka diumumkan pada Rabu, Agustus 2022, sekitar pukul 20.30 WIB. Padahal, Andreas mengatakan, Eliezer baru selesai menandatangani berita acara pemeriksaan sebagai saksi pada pada Kamis, 4 Agustus 2022, pukul 01,02 WIB. Bharada Eliezer dijerat dengan Pasal 33 KUHP tentang pembunuhan dengan sengaja, dengan pasal penyertaan Pasal 55 dan 56 KUHP ihwal persekongkolan. (Yetede)
Satu Hari Sebelum Kematian Yosua
Komnas HAM masih menelusuri dan memverifikasi semua bukti yang berkaitan dengan kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Satu diantaranya adalah temuan berlalu ihwal keberadaan Kepala Divisi Profesian Pengamanan Polri, Inspektur Jendreal Ferdy Sambo, sehari sebelum peristiwa kematian Brigadir Yosua. Ketua Komnas HAM Ahmad Taufab Damanaik mengatakan informasi ini terbilang anyar karena sebelumnya Ferdy disebut baru tiba di Jakarta pada hari yang sama dengan kematian Yosua, yaout Jumat, 8 Juli 2022. "Dari data yang kami dapatkan (ternyata) kepulangannya tanggal 7 Juli atau Kamis pagi, "kata Damanaik, kemarin. Menurut Damanaik, Ferdy Sambo dan istrinya Putri Chandrawati, berada di Magelang, Jawa Tengah, pada Juli 2022. Pada saat itu, mereka mengunjungi putranya yang bersekolah di sana. Selepas dari Magelang, Ferdy pergi ke Semarang untuk urusan pekerjaan. (Yetede)
Mengubah Sungai agar Tak Lagi Kumuh
Mural bertema lingkungan hidup menghiasi dinding di Jalan Supiori, Desa Dauh Puri Kauh, Kota Denpasar, Bali. Di mural itu terselip kata-kata, ”Jagalah Alam, Maka Alam Akan Menjaga Kita”, serta ”Ayo Lakukan 3R”. Mural ini menguatkan keberadaan taman asri di pinggir saluran irigasi aliran Tukad Baru atau biasa disebut Tukad Beling. ”Mural itu kami buat di masa Covid-19 tahun 2021. Kami juga membuat taman untuk menambah keasrian Tukad Beling yang sudah kami bersihkan,” kata Kepala Dusun Banjar Sebelanga I Made Sutawan (38). Tukad Beling merupakan saluran irigasi yang menjadi nadi bagi area persawahan. Sebelum 2019, Tukad Beling terabaikan. Sungai kecil ini dipenuhi sampah dan dikotori limbah dari rumah. Sampah yang terkumpul di bagian hilir setiap dua hari berkisar 4-5 meter kubik.
Agar aliran sungai tak lagi dijadikan tempat pembuangan sampah ataupun limbah, Sutawan bersama warga lain memasang jaring di beberapa titik di sepanjang aliran Tukad Beling. Mereka melepaskan pula bibit ikan nila merah, nila hitam, dan patin di sungai kecil. Warga menempatkan pot berikut tanaman, umumnya melati air (Echinodorus palaefolius), di tengah sungai itu. Untuk menambah keindahan sekaligus menjadi penanda keberadaan Tukad Beling, warga membuat jembatan bambu. Tukad Beling yang dibersihkan, ditata, dan diperindah menarik perhatian orang, baik warga setempat maupun pelintas. Tukad Beling kian dikenal karena sering dijadikan lokasi berfoto. (Yoga)
2022 Diyakini Aman dari Resesi, Tahun Depan Perlu Diwaspadai
Struktur ekonomi Tanah Air yang ditopang konsumsi domestic membuat kans Indonesia untuk terseret arus resesi global mengecil. Tahun 2022, Indonesia diyakini aman dari resesi. Namun, proyeksi stagflasi dan resesi perekonomian global tidak boleh lengah diantisipasi, terutama dampaknya bagi Indonesia tahun depan. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Diskusi Ekonomi Berdikari bertema ”Antisipasi Indonesia terhadap Potensi Krisis Global” yang diselenggarakan harian Kompas, di Jakarta, Kamis (4/8) mengungkapkan optimisme itu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2022 dapat mencapai 5,3 % hingga 5,9 %, lebih tinggi daripada proyeksi awal pemerintah di kisaran 5 % hingga 5,2 %. Hal ini ditopang keyakinan bahwa konsumsi masyarakat akan terus tumbuh di paruh kedua tahun 2022.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Teguh Dartanto berpendapat, memang terbuka peluang perekonomian Indonesia untuk bertumbuh hingga di atas 5,3 % tahun 2022. ”Menurut saya, ini ada faktor good policy dan good luck,” ujar Teguh. Pada Kamis, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI juga merilis proyeksi bahwa perekonomian Indonesia pada triwulan II-2022 akan tumbuh 5,07 %. Menurut Hendri Saparini, pendiri Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, yang juga nara sumber diskusi ini, bauran kebijakan fiskal dan moneter saja tak cukup untuk menghalau gejolak eksternal yang sewaktu-waktu bisa menguji soliditas serta stabilitas ekonomi Indonesia. Produktivitas dan kinerja sektor riil sebagai penggerak aktivitas ekonomi perlu dirangsang, terutama untuk memenuhi permintaan domestik. (Yoga)
OPEC+ Dianggap ”Cibir” AS-Eropa
Negara-negara pengekspor minyak (OPEC), Rabu (3/8), sepakat menambah produksi minyak mentah di bawah harapan pasar. Padahal, AS dan Eropa telah membujuk produsen agar menaikkan produksi lebih banyak. OPEC dan mitra koalisinya, atau OPEC+, sepakat menambah 100.000 barel per hari untuk produksi September 2022. Ini kenaikan terendah dalam 40 tahun terakhir. (Yoga)
Dampak Resesi Ekonomi Global
Larry Summers, Guru Besar Ekonomi Harvard Kennedy School, sejak 2021 sudah mengingatkan risiko tekanan inflasi akibat ekonomi yang memanas. Di AS, NAIRU (non-accelerating inflation rate of Unemployment) sekitar 5 %. Jika pengangguran di bawah 5 %, maka inflasi akan meningkat akibat ekonomi yang memanas, dan jika pengangguran di atas 5 %, maka inflasi akan menurun. Menurut Summers, AS membutuhkan resesi ekonomi untuk mengatasi inflasinya. Tak heran ia mendorong The Fed bertindak agresif menaikkan bunga. Kenaikan bunga akan menurunkan permintaan, yang pada gilirannya menurunkan inflasi. Tentu ada yang harus dikorbankan: pertumbuhan ekonomi.
Ekonom Harvard lainnya, Jason Furman, yang pernah menjadi Chairman Council of Economic Advisers Presiden Obama, juga menunjukkan, tingkat upah riil mengalami penurunan akibat inflasi melonjak. Cara terbaik membuat upah riil meningkat bukanlah dengan menaikkan upah nominal, melainkan menurunkan inflasi. Itu sebabnya, baik Summers maupun Furman melihat pentingnya upaya mengatasi inflasi. Jika perlambatan ekonomi global, khususnya China terjadi, Indonesia harus bersiap mengantisipasi penurunan ekspor. Artinya, ada risiko salah satu mesin pertumbuhan kita terganggu. Kedua, dalam kondisi di mana ekspor terganggu, Indonesia harus mengandalkan dirinya pada sumber pertumbuhan domestik.
Walau biaya produksi sudah naik, produsen belum membebankan sepenuhnya kepada konsumen, karena daya beli masih lemah. Yang dilakukan produsen, mengurangi margin keuntungan. Satu saat harga harus dinaikkan. Terjadilah apa yang disebut inflation overhang (inflasi yang menggantung). Pelaku pasar menyadari, dengan IHP jauh lebih tinggi dari IHK, inflasi dilevel konsumen pun akan meningkat ke depan, begitu juga inflasi inti (core inflation). Artinya, ekspektasi inflasi akan meningkat. Kebijakan moneter amat sangat dipengaruhi ekspektasi inflasi. Dalam kondisi ini BI dihadapkan pada dilema tak mudah. Jika BI terlambat menaikkan bunga (behind the curve), mungkin BI harus mengatasi keterlambatan ini dengan menaikkan bunga secara agresif tahun depan. (Yoga)









