Ekonomi
( 40554 )Ketidaksetaraan dan Inflasi Ganggu Pemulihan
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalia Georgieva mengingatkan bahwa ekonomi global yang rebound dari krisis Covid-19 akan mengalami penurunan pada tahun ini. Penyebabnya, banyak negara sedang berjuang menghadapi kenaikan harga, beban hutang tinggi, pemulihan yang berbeda dimana banyak negara miskin masih tertinggal dari negara-negara kaya. Meskipun IMF memilki kekuatan baru bernilai ratusan miliar dollar untuk membantu negara-negara pulih dari bencana, Georgieva mengungkapkan bahwa faktor-faktor mulai dari kenaikan harga pangan hingga akses vaksin yang tidak setara telah menimbulkan kerugian.
IMF dijadwalkan meliris proyeksi pertumbuhan baru pada pekan depan, tetapi Georgieva mengingatkan bahwa laju pertumbuhan tahun ini diperkirakan sedikit moderat dari prediksi 6% pada Juli. Selain itu, resiko dan hambatan untuk pemulihan global yang seimbang menjadi lebih jelas. Hal-hal ini, termasuk melebarkan perbedaan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin dalam lintasan pemulihan mereka dari pandemi. Pidato Georgieva itu juga disampaikan menjelang pertemuan musim gugur IMF dan bank dunia, dimana akan jadi pertama yang mengungkapkan World Economic Outlook atau Prospek Ekonomi Dunia terbaru tentang penawaran berbagai topik
Georgieva mengibaratkan pemulihan global dari pandemi seperti berjalan dengan batu didalam sepatu kita dan pemulihan itu bisa saja keluar jalur. Dia menambahkan, Italia dan negara-negara lain di Eropa telah mengalami percepatan ekonomi tetapi raksasa ekonomi dunia Amerika Serikat dan Tiongkok mengalami momentum yang melambat. "Sebaliknya, dibanyak negara lain, pertumbuhan terus meburuk, terhambat oleh rendahnya akses vaksin dan respon kebijakan yang terbatas. Perbedaan dalam peruntungan ekonomi ini menjadi lebih persiten," tutur Gerogieva. (yetede)
Menperin : Beberapa Negara Serius Jadikan Batik Komoditas Ekspor
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan meskipun batik Indonesia merupakan komoditas paling terkenal di dunia, namun saat ini produk tersebut ditemukan di banyak negara seperti Malaysia, Thailand, India, Srilanka, Iran, dan negara-negara di benua Afrika, bahkan beberapa negara menjadikan batik sebagai komoditas ekspornya.
Penggunaan batik di dunia dewasa ini semakin populer, sehingga menjanjikan potensi ekonomi yang sangat besar. Beberapa negara seperti Tiongkok, Vietnam, dan Malaysia secara serius menjadikan batik sebagai komoditas ekspor.
Kemenperin mencatat, capaian ekspor batik pada 2020 mencapai 532,7 juta dolar AS dan pada triwulan I 2021 mencapai 157,8 juta dolar AS.
Presiden Jokowi Minta Mentan Tingkatkan Kapasitas Produksi Jagung
Presiden RI Joko Widodo meminta para menteri, terkhusus Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, meningkatkan produksi jagung dan memitigasi dampak perubahan iklim terhadap sektor tanaman pangan. Presiden juga meminta jajarannya mampu mendorong produktivitas jagung melampaui target yang telah ditetapkan, serta mengembangkan industri-industri lainnya di sektor pertanian.
Presiden meminta jajarannya untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan jagung di dalam negeri. Namun, jika terdapat stok jagung di dalam negeri yang melebihi kebutuhan, maka industri dapat melakukan ekspor.
Hari Pangan Sedunia, Pemda Waspadai Defisit Pangan
Kemungkinan terjadinya defisit pangan ditingkat daerah patut diwaspadai pada tahun-tahun mendatang, seiring dengan pesatnya alihfungsi lahan dan jumlah penduduk makin banyak. Potensi defisit pangan tersebut disadari oleh Kabupaten Sleman yang merupakan daerah yang mengalami perkembangan pesat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Suparmono mengatakan saat ini produksi beras makin surplus 70.000 ton, tetapi nilainya turun dibandingkana dengan beberapa waktu lalu surplus 100.000 ton. "Ini turun terus dari tahun ke tahun," Katanya, dilansir dari Antara.
Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober, Sleman membuat gerakan Stop Boros Pangan guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya defisit pangan tersebut. Sejauh ini, menurut Suparmono, negara yang paling boros pangan adalah Arab Saudi dan Indonesia menduduki urutan kedua. Menurutnya, jika kondisi alih lahan dan cara konsumsi pangan masyarakat Sleman masih seperti sekarang, maka defisit beras bisa terjadi pada 2022-2023. "Artinya, banyak sekali pangan kita terbuang yang seharusnya dapat mencukupi kebutuhan pangan kita," ujarnya.
Gerakan alternatif terkait dengan katahanan pangan juga dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Banyuasin SumSel dengan mengalokasikan lahan seluas 1,2 juta hektare (ha) untuk program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan. Bupati Banyuasin Askolani mengatakan program ini untuk mengajak masyarakat memanfaatkan lahan perkarangan untuk ditanami sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat-obatan sehingga setiap keluarga diharapkan dapat menyediakan sendiri kebutuahn pangannya. (yetede)
Menantang GoTo, Grab Siapkan Bisnis Finansial
Genderang perang tiga kekuatan utama bisnis digital Tanah Air semakin seru. Bersatunya Gojek dan Tokopedia menjadi GoTo menyebabkab dua pesaingnya Grab dan Shopee semakin mempersiapkan diri. Salah satunya terkait sistem pembayaran. GoTo sendiri sudah memiliki GoPay. Selain itu, GoTo juga sudah bekerjasama dengan 20 bank. Jadi bukan cuma Bank Jago. Sedangkan Shopee sudah eksis dengan ShopeePay. Terbaru perusahaan asal Singapura ini membenahi Bank Kesejahteraan Ekonomi menjadi Seabank.
Meski terlambat, Grab menambah porsi kepemilikan saham di PT Visionet Internasional, penyelenggara dompet digital Ovo hingga 90%. Langkah Grab ini kian menegaskan Ovo tak lagi mendapat tempat eksklusif di Tokopedia. Dengan GoTo, otomatis, GoPay sebentar lagi jadi tempat utama di Tokopedia. "Transaksi ini telah direncanakan beberapa waktu lalu. Dan memberikan kesempatan kami fokus memperdalam strategi GoPay dalam memimpin pasar yang akan memperluas dan memperkuat ekosistem GoTo Finansial," Nila Marita, Corporate Affairs GoTo, Selasa (5/10).Utang BUMN Kembali Menjadi Sorotan
Utang luar negeri kembali menjadi persoalan yang patut diwaspadai Indonesia. Bukan hanya utang negara, tetapi juga utang korporasi, terutama pelat merah.Utang bisa menjadi ancaman serius bagi perekonomian. Apalagi, Indonesia tengah dalam proses pemulihan dari dampak pandemi Covid-19. Lembaga riset AidData mengungkapkan, Indonesia menjadi salah satu negara yang menumpuk utang tersembunyi kepada China di sepanjang tahun 2000 hingga 2017. Tumpukan utang ini terkait dengan keinginan China membuat jalur sutera baru atau yang dikenal dengan Belt and Road Initiative (BRI).Utang ini diberikan China bukan lewat pemerintah, melainkan ke berbagai perusahaan negara atau badan usaha milik negara (BUMN), bank milik negara, special purpose vehicle (SPV), perusahaan milik bersama dan sektor swasta, sehingga utang itu tidak akan muncul ke dalam neraca utang pemerintah.
55 Juta UMKM Bangkit, 29,7 juta Go Digital
Sekitar 55 juta atau 84% dari total 65,46 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air sudah kembali bangkit dan beraktivitas. Bahkan, 54% atau 29,7 juta di antaranya sudah masuk ekosistem digital (go digital). Pemerintah akan terus mendukung para pelaku UMKM selama masa pandemi Covid-19 melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang tahun ini dianggarkan Rp95,13 triliun. Sebab, jika UMKM pulih, perekonomian nasional akan ikut pulih. Jumlah UMKM mencapai 99% dari total unit usaha di Indonesia. Sebelum pandemi atau pada 2019 UMKM menyerap sekitar 96% dari total tenaga kerja, dengan kontribusi 60,3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Meskipun sempat bertahan akibat tekanan pandemi Covid-19, sekitar 48% pelaku UMKM sudah masuk ekosistem digital untuk mempertahankan bisnisnya, termasuk UMKM perempuan," kata Menko Perekonomian, Airlangga Hartato di Jakarta, Selasa (5/10). Anggaran tersebut, menurut Air Langga, disalurkan pemerintah dalam beberapa program, yakni subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR), penempatan dana pemerintah di bank umum mitra untuk mendukung perluasan kredit modal kerja, dan restrukturisasi kredit UMKM. Juga untuk jaminan, Bantuan President Produktif Usaha Mikro (BPUM), serta bantuan langsung tunai (BLT) bagi pedagang kaki lima (PKL) dan warung.
Sementara itu, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengemukakan, Kemenko UKM tengah mengembangkan UMKM melalui sistem klasterisasi. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk UMKM. Ini juga merupakan salah satu upaya pemerintah agar UMKM naik kelas. "Dalam pengembangan klaster UMKM, kami punya program membangun rumah produksi bersama supaya kualitas produk UMKM berstandar industri. Tidak mungkin setiap pelaku UMKM bisa membeli atau berinvestasi peralatan modern," kata Teten di Jakarta, Selasa (5/10) (yetede)
Krisis Energi China, Bersiasat Atur Impor Bahan Baku
Krisis energi yang dialami China memaksa industri dalam negeri yang bergantung pada bahan baku impor melakukan penyesuain. Seiring dengan hal tersebut, terbuka juga peluang untuk mengisi pasar Negeri Panda itu. Salah satu industri yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor bahan baku obat (BBO) yang mencapai 90%-95%, sekitar 60% dipenuhi dari China dan sisanya dari India. Ketua Komite Pengembangan Perdagangan dan Industri Bahan Baku Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Vincent Harjanto mengatakan dengan krisis listrik yang melanda China, ada potensi penumpukan masalah pada suplai bahan baku.
Kemacetan suplai ini, kembali menyentil kemandirian bahan baku obat dalam negeri yang menjadi masalah menahun di industri farmasi. Direktur Utama PT Indofarma (Persero) Tbk, (INAF) Arief Pramuhanto membenarkan bahwa sebagian besar suplai bahan baku China dan India. Meski belum mampu mensubsidi sepenuhnya, sebagian suplai bahan baku telah dipenuhi oleh produsen dalam negeri, yakni PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP). Sementara itu Pamean Siregar, Presiden Direktur KSFP menyatakan kendala pasokan bahan baku tak serta merta menjadi peluang bagi industri BBO dalam negeri untuk memperluas serapan.
Pasalnya, salah satu tantangan terbesar penyerapan BBO dalam negeri oleh industri farmasi adalah proses peralihan sumber BBO yang membutuhkan waktu dan biaya yang tak sedikit. "Takes time, karena industri farmasi biasanya harus melakukan reformulasi untuk menghasilkan produk existing yang menggunakan sumber BBO baru tersebut agar ekuivalen secara kualitas." kata Pamian kepada Bisnis. Pamian menargetkan hingga akhir tahun ini pihaknya dapat memproduksi tambahan 4 BBO lainnya. Jika terserap dengan baik, produksi BBO KFSP dapat menurunkan impor antara 6% hingga 7,5%. (yetede)
Pasar Olahan Unggas, SIPD Pacu Ekspor
Anak usaha PT Sreya Sewu Indonesia Tbk. (SIPD) mampu menembus pasar Filipina dengan mengeskpor 15 ton olahan unggas melalui unit usaha PT Bellfoods Indonesia. Managing Director Bellfoods Dicky Saelan mengatakan ekspor 15 ton produk olahan unggas dilakukan dalam dua kali pengiriman pada Juni dan Agustus 2021. "Upaya ini merupakan salah satu strategi untuk memperkuat penjualan segmen makanan olahan," katanya, Senin (4/10). Menurutnya, perseroan mengawali bisnis ekspor sejak 2018 dan menjadi perusahaan pertama yang mengekspor nugget ayam ke Jepang. Walaupun jumlah ekspor perdana itu tidak terlalu besar, menurutnya, langkah ini menjadi tonggak sejarah bagi Indonesia yang menandai pencapain pengembangan pasar diluar negeri. Selama ini, Jepang terkenal ketat atas standar kualitas yang diterapkan. "Dengan keberhasilan Belfoods meluncurkan ekspor nugget dan produk ayam olahan lainnya ke Filipina, harapannya semoga ekspor ini terus berlanjut dan semakin berkembang. Bellfoods bisa memperluas pasar ekspor dan strategi ini menjadi salah satu kontributor pertumbuhan kinerja," ungkapnya.
Perseroan akan berusaha fokus mempertahankan kualitas mutu sesuai standar ekspor bisa berkembang pesat. Dia melihat peluang penjualan ekspor kebeberapa negara sangat potensial. Salah satunya Hong Kong dan negara-negara kawasan timur tengah. Menurutnya, pasar negera timur tengah sedang membutuhkan produk berkualitas dengan standar halal tinggi. Dia berharap halal block-chain yang telah diterapkan dapat menjadi nilai tambah dalam jaminan halal dan kualitas yang tinggi. "Terlepas dari upaya penjajakan yang dilakukan, porsi kontribusi ekspor dalam total penjualan konsolidasi masih rendah untuk tahun ini." Sementera itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nasrullah mengatakan upaya ekspor yang dilakukan Bellfoods menunjukkan kemampuan Indonesia bersaing di pasar global. (yetede)
Komoditas Ekspor, Vanili Bisa Jadi Andalan NTB
Komoditas vanili dapat menjadi andalan ekpor provinsi Nusa Tenggara Barat karena memiliki kualitas bagus dan diminati pasar internasional. Bank Indonesia NTB mencatat vanili sudah menjadi komoditas ekspor NTB tetapi secara kuantitas belum signifikan. Ekspor vanili sepanjang tahun ini masih kurang dari 1 ton atau setara Rp5 miliar. Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji menjelaskan bahwa ekspor vanili terebut baru 10% dari permintaan pasar di luar negeri. "Potensi ekspor vanili sangat besar, bisa mencapai ratusan miliar jika NTB bisa penuhi permintaan besar di luar negeri," jelas Heru kepada Bisnis, Senin (4/10). BI NTB sedang melakukan pembinaan terhadap petani vanili dengan strategi pembinaan berbasis kelompok. Peningkatan kualitas SDM petani vanili dilakukan dengan cara mendatangkan langsung petani vanili yang sudah sukses untuk membagi ilmunya.
"Kendala saat ini memang di jumlah petani yang menanam vanili masih kurang dan kualitas tanaman perlu ditingkatkan," ujar Heru. Potensi vanili di NTB tersebar di dareah dataran tinggi seperti kawasan Sembalun Lombok Timur, dan Bayan Lombok Utara. Daerah yang berada disekitar pegunungan Rinjani tersebut cocok sebagai tempat tumbuhnya vanili dengan baik. BI NTB juga menyiapkan berbagai kemudahan akses untuk ekspor vanili mulai dari mencari pasar diluar negeri melalui perwakilan BI diluar negeri. Selain itu melakukan kerja sama dengan lembaga terkait seperti bea cukai, maskapai ganda juga dilakukan. "Sebagai bank central dari hulu hingga ke hilir kami kawal, pasar sudah kami siapkan, kemudahan di bea cukai hingga kerja sama dengan maskapai untuk biaya yang lebih murah sudah disiapkan." ujar Heru.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









