Ekonomi
( 40465 )Bunga Deposito, Tak Indah Lagi
Bisa dibilang bunga deposito kini tak menarik lagi karena angkanya terus merosot ke titik nadir. Berdasarkan data BI, rata-rata bunga deposito jangka 1 bulan perbankan nasional per akhir November 2021 hanya 3,05 % per tahun, terendah sepanjang sejarah Indonesia. Terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan bunga deposito, yang paling berpengaruh tentulah suku bunga acuan BI, yakni BI 7-day (Reverse) Repo Rate (BI-7DRR). Setiap pergerakan suku bunga acuan akan diikuti dengan cepat oleh perbankan. Transmisi dari suku bunga acuan ke suku bunga deposito berjalan sempurna. Sejak November 2018, BI-7DRR secara konsisten menurun, dari 6 % menjadi 3,5 % saat ini. Tren penurunan suku bunga acuan tersebut tak terlepas dari rendah dan stabilnya inflasi beberapa tahun terakhir serta upaya untuk membangkitkan kembali perekonomian yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.
Bunga deposito semakin menukik ke bawah karena selama pandemi, likuiditas perbankan sangat melimpah, tercermin dari rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/dana pihak ketiga yang per November 2021 mencapai 154,9 % dan 34,24 %, di atas ambang batas 50 % dan 10 %. Rendahnya suku bunga deposito juga mempercepat kebangkitan industri reksa dana yang sebelumnya terpuruk akibat berbagai skandal oleh sejumlah manajer investasi. Merosot sejak Februari 2021, jumlah unit penyertaan dan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana kembali tumbuh mulai Juni 2021. (Yoga)
Bank DKI Salurkan KUR Rp 1 Triliun di 2022
PT Bank DKI dipercaya pemerintah menyalurkan KUR Rp 1 triliun di tahun ini. Tingginya tingkat gagal bayar (non-performing loan/NPL) dalam penyaluran KUR pada 2013 oleh Bank DKI diminta agar tidak terulang. ”Setelah memperbaiki NPL, barulah Bank DKI diperbolehkan kembali menyalurkan KUR,” ujar Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM Eddy Satriya, Senin (7/2), di Jakarta. (Yoga)
Teknologi Financial, Perkuat Fitur Pengenalan Identitas Konsumen
Industri jasa keuangan didorong berinovasi dan meningkatkan fitur pengenalan identitas konsumen atau electronic-know your customer/e-KYC tanpa tatap muka, untuk mencegah kejahatan siber dan tindak pidana pencucian uang atau pendanaan terorisme. Anggota Steering Committee Indonesia Fintech Society (IF-Soc) Syahraki Syahrir, mengatakan, proses e-KYC memegang peran krusial dalam bisnis teknologi finansial (tekfin). Proses e-KYC biasanya dilakukan dengan mengunggah KTP ataupun dokumen identitas lainnya. Pengenalan nasabah perlu diperkuat dengan memperbanyak data identitas sehingga bisa digunakan untuk proses otentikasi, dimana perusahaan tekfin bisa mengonfirmasi kesahihan identitas calon nasabah dengan dokumen lainnya.
Ketua Steering Committee IFSoc Mirza Adityaswara menambahkan, pihaknya mendorong segera dirampungkannya RUU Perlindungan Data Pribadi. Dengan demikian, segala hal terkait data pribadi, mulai pengumpulan, penyimpanan, hingga penggunaannya, ada dalam koridor aturan dan payung hukum yang jelas. Menurut Co-founder dan CEO Bareksa Karaniya Dharmasaputra, keunggulan jasa tekfin adalah kemudahan dan kecepatan dalam mengakses berbagai layanan jasa keuangan tanpa tatap muka. Pembukaan rekening dan akun tanpa tatap muka hanya bisa dilaksanakan dengan proses e-KYC. Ekonom senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, menjelaskan, seiring perkembangan teknologi, bertambah pula jumlah pengguna internet di Indonesia, diikuti bertambahnya pembukaan rekening bank secara digital dan akun dompet digital untuk bertransaksi. (Yoga)
Produksi Petani di Sumsel Terancam Anjlok
Petani di Sumsel kian terjepit pupuk nonsubsidi yang mencapai Rp 600.000 per karung di tengah sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Wawan Darmawan, petani di Desa Sumber Mulya, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, Senin (7/2) mengatakan, kondisi ini membuat hasil produksi mereka terancam turun signifikan. Alokasi pupuk bersubsidi yang terbatas membuat petani tidak kebagian sesuai kebutuhan mereka. (Yoga)
Aksi Buruh di DPR
Buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengikut aksi unjuk rasa di depan gedung DPR, Jakarta, Senin (7/2). Mereka menyurukan empat poin tuntutan yaitu penolakan omnibus law Cipta Kerja, mengabulkan presidential threshold, revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan rancangan Undang-Undang Perlindungan Rumah Tangga (RUU PPRT).
Terkerek Produk Herbal dan Suplemen
PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk membukukan kinerja positif sepanjang tahun 2021. Emiten berkode saham SIDO ini mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba bersih hingga dua digit. Kenaikan penjualan turut mengerek laba bersih SIDO hingga 35% secara tahunan jadi Rp 1,26 triliun. Sementara pada tahun sebelumnya, laba SIDO tercatat sebesar Rp 934,01 miliar. Sementara itu, penjualan jamu herbal dan suplemen meningkat hingga Rp 21,27% yoy menjadi Rp 2,69 triliun dari Rp 2,22 triliun. Capaian ini menjadikan jamu herbal dan suplemen berkontribusi paling tinggi terhadap penjualan SIDO di tahun lalu. Lalu, penjualan makanan dan minuman juga tumbuh 18,34% yoy menjadi Rp 1,19 triliun dari sebelumnya Rp 1 triliun.
Pasar Optimistis, Harga Waran Melesat
Sejumlah waran yang tengah diperdagangkan mencatatkan kinerja yang positif. Bahkan, ada waran yang mencetak kenaikan harga ratusan hingga ribuan persen. Sebagai contoh, waran seri I Alkindo Naratama Tbk (ALDO-W) yang diperdagangkan sejak 14 Desember 2021 meningkat 25.300% ke Rp 254 per waran. Harga tertinggi pernah mencapai Rp 800 dengan harga terendah Rp 1. Misalnya, harga pelaksanaan waran seri I Indo Oil Perkasa Tbk (OILS-W) adalah Rp 320, sedangkan harga saham OILS Rp 244 per saham. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, minat investor terhadap waran cukup tinggi. Ini terlihat dari beberapa saham initial public offering (IPO) yang menawarkan waran cenderung mengalami kenaikan.
AS Tuntut Langkah Konkret Tiongkok Untuk Penuhi Kesepakatan Dagang Fase 1
Para pejabat AS pada Senin (7/2) menyerukan kepada pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) supaya menunjukkan tindakan nyata dalam memenuhi komitmennya untuk membeli tambahan barang dan jasa AS senilai US$ 200 miliar. Komitmen ini tertuang di dalam kesepakatan perdagangan Fase 1 2020 dan 2021 yang ditandatangani oleh mantan Presiden Donald Trump. Presiden Joe Biden mengungkapkan kesepakatan perdagangan tidak membahas masalah inti dengan Tiongkok, tetapi juga pejabat AS telah menekan Negeri Tirai Bambu itu untuk menyukseskan apa yang telah ditandatangani. "Karena kami mewarisi kesepakatan ini, kami melibatkan (RRT) pada kekurangan komitmen pembeliannya, baik untuk memperjuangkan petani, peternak, dan pabrikan AS juga memberi Tiongkok kesempatan untuk menindaklanjuti komitmennya. (Yetede)
Emas Stabil Saat Saham dan Bitcoin Jatuh
Harga emas dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan tetap stabil disaat volatilitas mengguncang pasar global. Bahkan agak terlepas dari dua faktor utama penggerak harga, yakni imbal hasil obligasi dan dolar Amerika Serikat. Menurut catatan Bank of Amerika (BoA), terlepas dari kondisi makro yang menantang terkait masalah rantai pasokan, lonjakan inflasi dan pandemi belum berakhir, beberapa aliran investasi ke emas masih deras. Kekuatan emas, kata UBS selain didukung peningkatan permintaan untuk lindung nilai portfolio, juga karena dua keyakinan. Yakni bahwa The Fed tetap dibelakang kurva dalam mengatasi inflasi atau pengetatan berlebih kebijakan moneter akan menggoyahkan pertumbuhan ekonomi AS. (Yetede)
Toshiba Ungkapkan Rencana Spin-off Jadi Dua
Perusahaan manufaktur asal Jepang Toshiba pada Senin (7/2) mengumumkan rencana untuk membagi perusahaan atau spin-off menjadi dua perusahaan. Berarti Toshiba merivisi usulan sebelumnya yang kontroversial, yakni hendak membagi perusahaan menjadi tiga. Para pemegang saham sudah lama berselisih dengan managemen tentang cara terbaik untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Pemegang saham harus tetap menyetujui pengajuan tersebut dalam pemungutan suara yang diperkirakan dilakukan pada Maret 2022. "Kami percaya spin-off ini optimal" kata Presiden dan CEO Toshiba Satoshi Tsunakawa, Senin. Besarnya bisnis Toshiba juga menyebabkan kelambatan dalam pengambilan keputusan di masa lalu. Perampingan operasi akan memungkinkan investor untuk memilih porsi bisnis yang menarik bagi mereka. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









