Ekonomi
( 40512 )Digitalisasi Angkat Pengelolaan Kas
Bisnis layanan
cash management
atau pengelolaan kas yang dijalankan perbankan mengalami pertumbuhan pesat, seiring digitalisasi layanan di segmen nasabah non ritel. Peningkatan ini mendorong pendapatan berbasis komisi bagi bank sekaligus mendorong pertumbuhan dana murah.
Salah satu bank yang menorehkan pertumbuhan di bisnis pengelolaan kas adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Bank ini mencatatkan volume transaksi
cash management system
sebesar Rp 3.755 triliun hingga September 2022 atau tumbuh 27% secara
year on year
(yoy). Adapun frekuensi transaksinya mencapai 33,6 juta.
UJI KONSISTENSI JANGKAR INFLASI
Kendati risiko ketidakpastian global meninggi, inflasi Indonesia diproyeksi masih terkendali. Hal itu tercermin dalam laporan terbaru International Monetary Fund (IMF) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Namun, sejumlah kalangan meminta pemerintah dan otoritas moneter tak terlena dengan hal tersebut lantaran pengendalian inflasi ke depan amat menantang, khususnya terkait dengan volatilitas harga pangan. Dalam laporan World Economic Outlook Oktober 2022, IMF memperkirakan indeks harga konsumen (IHK) Indonesia pada tahun ini sebesar 4,6%, relatif berada dalam target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 Perubahan, dan jauh di bawah outlook Badan Kebijakan Fiskal (BKF) di kisaran 6%. Sejumlah kalangan memang menilai strategi pengendalian inflasi Indonesia sejauh ini berjalan baik. Selain kucuran instrumen fiskal yang terus dipacu untuk meredam impak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), ragam kebijakan yang ditempuh otoritas moneter juga dinilai dapat meredam risiko lonjakan inflasi. “Langkah BI yang saat ini cukup agresif menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4,25% pada September sudah tepat,” kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Selasa (11/10). Menurutnya, BI melakukan langkah antisipatif untuk menjangkar ekspektasi IHK, terutama inflasi inti yang saat ini masih dalam rentang target. Setali tiga uang, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan strategi mengucurkan bansos dan penaikan suku bunga acuan cukup efektif menjaga kendali inflasi.
BISNIS BATU BARA : Babak Baru Kongsi Salim dan Bakrie
Restu pemegang saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) atas aksi korporasi private placement membuka gerbang kongsi Grup Salim dan Grup Bakrie di sektor pertambangan batu bara. Lampu hijau untuk menggelar Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) diperoleh BUMI dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilaksanakan pada Selasa (11/10). Berdasarkan hasil pemungutan suara pemegang saham BUMI, sebanyak 96,22% pemegang saham setuju atas rencana private placement dan hanya 3,07% pemegang saham yang menyatakan tidak setuju. Berbekal persetujuan pemegang saham, BUMI bakal mendapat aliran dana segar senilai Rp24 triliun atau setara dengan US$1,6 miliar. Nilai fantastis yang akan diterima oleh entitas pertambangan batu bara di bawah kendali Grup Bakrie itu bakal diterima dari dua entitas yang terafiliasi dengan Anthoni Salim. Adapun, dua entitas afiliasi Grup Salim yang akan menyerap emisi 200 miliar saham Seri C BUMI yang diterbitkan dengan skema private placement yaitu Mach Energy (Hong Kong) Limited dan Treasure Global Investment Limited. Apabila ditelisik, pemegang saham Mach Energy terdiri atas PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) dengan kepemilikan saham 42,5% di bawah kendali grup Bakrie, Colver Wide Limited dengan kepemilikan saham 15% dan dikendalikan oleh Agoes Projosasmito, dan terakhir 42,5% saham dimiliki oleh Mach Energy Pte.Ltd. yang berbasis di Singapura dan berada di bawah kendali Anthoni Salim alias Grup Salim.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bumi Resources Sri Dharmayanti mengatakan dana superjumbo yang dihimpun akan digunakan untuk pembayaran kewajiban perseroan yang akan jatuh tempo. Dengan kata lain, BUMI kembali lolos dari jurang default alias gagal bayar berkat kucuran dana dari Grup Salim. “Dengan PMTHMETD ini posisi keuangan perseroan akan mengalami perbaikan dengan meningkatnya rasio likuiditas dan solvabilitas perseroan, beban keuangan yang menurun akan meningkatkan profitabilitas,” paparnya.
Segera Berkelit dari Risiko Resesi
Risiko terjadinya resesi global pada tahun depan makin kuat seiring dengan peringatan lembaga internasional yang menggarisbawahi tekanan inflasi di seluruh negara mulai memperlihatkan gradasi kenaikan secara pasti. Peringatan untuk siap menghadapi tantangan resesi kali ini datang dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebutkan adanya risiko kenaikan harga secara umum sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara. IMF sebelumnya memprediksi inflasi negara maju tahun 2022 akan naik hingga 6,6% dan negara-negara berkembang akan berada pada level 9,5% Pernyataan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva atas risiko terjadinya lonjakan inflasi yang lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya ini menggenapi sinyal lampu kuning resesi dari Bank Dunia. Laporan hasil studi Bank Dunia belum lama ini juga telah mewanti-wanti kenaikan suku bunga global yang dilakukan oleh bank sentral secara serentak dapat menimbulkan risiko terjadinya resesi dunia pada tahun 2023. Adapun IMF menduga inflasi tinggi tersebut bakal memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk terus menaikkan suku bunga
PENGHILIRAN SUMBER DAYA ALAM : Investor Lirik Aspal Buton
Tingginya potensi aspal alam di Buton, Sulawesi Tenggara membuat sejumlah investor mancanegara mulai menyatakan minatnya untuk menanamkan modalnya pada industri pengolahan komoditas tersebut. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa saat ini telah ada beberapa investor dari dalam negeri dan Eropa yang menyatakan minatnya untuk mengoptimalkan potensi komoditas yang dikenal sebagai aspal buton tersebut. “Insyaallah sudah ada [investor yang minat] dari beberapa negara, termasuk [perusahaan] nasional kita. Jadi dari Eropa dan Indonesia,” katanya, Selasa (11/10). Saat ini, produksi aspal buton telah mencapai 100.000 ton per tahun. Jumlah tersebut pun masih jauh di bawah kebutuhan aspal nasional yang diperkirakan mencapai 5 juta ton per tahun. Untuk bisa memenuhi kebutuhan aspal nasional, kata Bahlil, dibutuhkan investasi setidaknya sekitar Rp15 triliun hingga Rp20 triliun. Pasalnya, modal yang diperlukan untuk memproduksi aspal buton sebanyak 500.000 ton saat ini mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun. Sementara itu, Presiden Joko Widodo menawarkan potensi aspal buton di Indonesia yang mencapai 662 ton kepada investor. Menurutnya, dengan kebutuhan aspal dalam negeri yang mencapai 5 juta ton per tahun, maka potensi tersebut bisa dimanfaatkan hingga 120 tahun mendatang.
ANGKUTAN PENYEBERANGAN : ASDP Siap Pacu Pendapatan di Lintasan Komersial
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) siap memacu pendapatan dari lintasan penyeberangan komersial setelah akuisisi PT Jembatan Nusantara pada awal tahun ini senilai Rp1,27 triliun. Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi mengatakan aksi korporasi itu akan menaikkan kinerja pada kuartal I/2023 atau 1 tahun setelah proses akuisisi. “Pasti kan pendapatan dari komersial akan meningkat tapi saya yakin dari proporsi tidak drastis langsung berubah,” katanya dalam diskusi bertema Kapal Perintis: Membangun Konektivitas, Memantik Kesejahteraan Masyarakat Kepulauan, Selasa (11/10). Menurutnya, tujuan ASDP melakukan aksi akuisisi adalah mempercepat layanan dan memperbanyak jangkauan rute penyeberangan jarak jauh. Direktur Komersial dan Pelayanan ASDP Indonesia Ferry M. Yusuf Hadi memaparkan rencana ASDP berkolaborasi dengan program Tol Laut guna menggarap logistik curah sehingga muatan bisa diberangkatkan dengan baik dan bisa menjadi feeder Tol Laut. Terkait dengan tata kelola barang curah, imbuhnya, perseroan akan mendesain sistem yang memungkinkan pengukuran dan pendataan dengan baik. Per Agustus 2022, ASDP membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp2,75 triliun atau mencapai 90,42% dari target RKAP 2022 sebesar Rp3,04 triliun.
Indonesia Optimistis Hadapi Perfect Storm
Tanpa mengurangi kewaspadaan menghadapi perfect storm yang bakal menimpa ekonomi dunia, Indonesia dinilai cukup kuat untuk terhindar dari petaka yang menimbulkan resesi global 2023. Faktor yang membangkitkan optimisme itu, antara lain, adalah daya beli masyarakat yang masih kuat, investasi terus meningkat, inflasi yang terkendali, dan ketahanan pangan yang cukup baik. Ekonomi global tahun 2023 diprediksi terkena perfect storm, yakni kondisi di mana tiga petaka terjadi sekaligus di saat yang sama, yakni inflasi tinggi atau hiperinflasi, kontraksi ekonomi, dan masalah geopolitik. Hiperinflasi memaksa otoritas moneter menaikkan suku bunga. Lonjakan suku bunga yang terlalu agresif menyebabkan ekonomi terjungkal ke jurang resesi. Kondisi ini diperparah oleh masalah geopolitik, sebuah faktor yang pada masa lalu acap luput dari perhatian ekonom. Perang Rusia vs Ukraina yang sudah berlangsung delapan bulan dan tak seorang pun mampu memperkirakan kapan berakhirnya. Masalah geopolitik kian pelik pada masa akan datang.
Kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan 28 negara yang saat ini antre minta bantuan IMF. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga 2022 diperkirakan mencapai 5,2% dan kuartal keempat 4,8%. Kondisi ini dinilai cukup kuat untuk menghadapi ancaman resesi 2023. “Kita harus tetap optimistis. Tetapi tetap berhati-hati dan waspada,” kata Presiden Jokowi saat membuka BNI Investor Daily Summit 2022 yang digelar di JCC, Jakarta, Selasa (11/10). Ekonom senior Chatib Basri menyatakan, “Kalau ditanya apakah Indonesia akan resesi atau tidak, jawaban saya tidak,” ungkap Chatib dalam sesi diskusi Global Economic Outlook pada hari pertama BNI Investor Daily Summit 2022, kemarin. Dia mengatakan, guncangan ketidakpastian global akan lebih berdampak negatif terhadap negara yang memiliki pangsa ekspor terhadap PDB-nya besar, contohnya Singapura. (Yoga)
Ditopang 4 Pilar, Erick Optimistis Ekonomi Indonesia Terus Tumbuh
Menteri BUMN Erick Thohir optimistis, Indonesia akan konsisten mencetak pertumbuhan ekonomi dan menempati posisi keempat sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia. "Kalau kita lihat data-data, kita akan terus tumbuh tepatnya 5% sampai 2045 dan akan memposisikan kita menjadi negara ekonomi terbesar di dunia kalau tidak ranking lima, tapi harusnya ranking empat," ungkap Erick dalam Investor Daily Summit, di Jakarta, Selasa (11/10). Menurut Erick, optimisme itu didorong oleh empat pilar di sektor industri. Pertama, hilirisasi, di mana Presiden Jokowi telah mendorong agar Sumber Daya Alam Indonesia dijadikan sebagai hilirisasi dan industrialisasi. Sebab bagaimanapun turunan dari bahan baku merupakan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Pilar selanjutnya yaitu Indonesia akan menjadi lumbung pangan regional bahkan dunia. Mengingat, Indonesia bukan hanya negara yang memiliki kekayaan di sektor agrikultur, tetapi juga sektor kelautan yang sejauh ini baru tergarap 5%.
"Buktinya, kemarin Singapura kekurangan ayam, Indonesia yang menyelamatkan ketika Malaysia tidak memberikan reserved dari kebutuhan ayam," tambahnya. Pilar ketiga terkait demografi Indonesia yang saat ini mayoritas atau 54% diisi oleh masyarakat di bawah usia 40 tahun. Bahkan, komposisi yang berusia di bawah 18 tahun lebih banyak lagi. Karena itu, industri kreatif seperti makanan, olahraga, film, fashion, dan pariwisata akan menjadi salah satu potensi pertumbuhan ke depan. Pilar terakhir berkaitan dengan ekonomi digital Indonesia yang berpotensi memacu perekonomian Indonesia dapat tumbuh 5% di setiap tahunnya. "Potensi digital ekonomi kita sekitar Rp 4.500 triliun. Ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara di mana 40% di antaranya di Indonesia," ujar Erick. Karena itu, Erick menekankan perlunya Indonesia bukan hanya menjadi bangsa penonton, tetapi juga menjadi bagian dari yang mengeksplor industrialisasi ini. "Itulah kenapa saya yakin, digital ekonomi adalah pertumbuhan yang sangat potensial yang tidak boleh dinomorduakan. Kita bisa libatkan sekarang kita bisa mengeksploitasi ini," imbuh Erick. (Yoga)
Pemerintah Setop Impor Aspal Pada 2024
Dua tahun lagi saya beri waktu, setop impor aspal, harus semuanya disuplai dari Pulau Buton," tegas Presiden Jokowi saat membuka acara Investor Daily Summit 2022, di Jakarta Convention Center, Selasa (11/10). Jokowi mengatakan, Indonesia memiliki potensi atau deposit 662 juta ton aspal di Buton, Sultar. Namun, belum banyak dimanfaatkan, lantaran harga aspal impor dinilai lebih murah. Dengan potensi sebanyak itu dibutuhkan 120 tahun untuk mengelola aspal di Buton, karena kebutuhan aspal dalam negeri hanya 5 juta ton per tahun. "Dulu pernah diolah di Buton, tetapi setop. Saya nggak tahu, karena katanya aspal impor lebih murah," ujarnya. Oleh karena itu, Jokowi mengajak investor untuk segera menanamkan modalnya di industri pengelolaan aspal di Buton agar potensi aspal ini dapat segera dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri dan diekspor. "Ini kesempatan bapak ibu semuanya kalau ingin investasi segera bangun industri. Pasarnya jelas, ada di dalam negeri, sebagian bisa diekspor," tuturnya.
Menteri Investasi
dan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, sudah ada
investor dalam dan luar negeri yang
tertarik membangun industri
aspal di Buton. "Sudah ada, Insya Allah. Di beberapa negara termasuk nasional kita,
Eropa dan Indonesia," kata dia kepada
wartawan usai menghadiri Investor
Daily Summit 2022.
Dia menyebut, setidaknya dibutuhkan dana Rp 15-20 triliun
untuk membangun industri aspal
dengan kapasitas produksi yang dapat
memenuhi kebutuhan aspal dalam
negeri sebesar 5 juta ton per tahun.
"Untuk mengcover 500.000 ton itu
investasinya sekitar Rp 2,5 triliun
sampai Rp 3 triliun. Jadi (kalau 5 juta
ton) itu kurang lebih sekitar Rp 15-20
triliun," ucapnya.
Ia menjelaskan, bahwa industri aspal
di Buton memiliki kapasitas produksi 100.000 ton per tahun dan akan
terus bertambah seiring dengan masuknya investor di wilayah ini. (Yoga)
Ekonomi Digitalisasi Indonesia Bisa Kalahkan Tiongkok
Country Managing
Director Grab Indonesia Neneng
Goenadi mengungkapkan, nilai ekonomi digital Indonesia bisa mengalahkan Tiongkok. Karena Indonesia
memiliki kekuatan digitalisasi yang
masif. Bahkan, digitalisasi Indonesia sudah masuk ke pasar-pasar,
bahkan hingga kota-kota pelosok
di Indonesia.
“Nah, Kita harus bangga, karena
opportunity for us, is rich. Apalagi
kita kerja bersama. Telkom ada
infrastruktur, terus ada investornya
dari pak Nata (Sunata Tjiterosampurno, Senior Partner Northstar
Group). Ini kalau kita lihat, kalau
orang mengatakan, Indonesia bisa
menjadi big four, it will happen. Dan
saya percaya, kita juga bisa mengalahkan China (Tiongkok), karena
semua kota-kota kecil sudah maju.
Karena bisnis kami sudah sampai
di kota kecil, driver, merchant kami
ada di kota kecil,” kata Neneng
dalam acara Investor Daily Summit
2022 di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (11/10).
Neneng juga mengungkapkan
mengenai digitalisasi di Indonesia.
Menurut dia, kekuatan digitalisasi
Indonesia terlihat karena Indonesia diperhitungkan di Asean. “Google mengatakan, ekonomi digital Indonesia akan double di
2030. Penetrasi internet di pandemi itu 64%, post pandemi 74%, akselerasi cepat banget. Jadi kalau kita
bisa bilang, pandemi ada blessing in
disguise. Populasi masyarakat muda
Indonesia yang memahami seluler
juga tinggi, ini memicu ledakan
ekonomi digital,” ujar Neneng. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









