Ekonomi
( 40744 )Penyedotan Pasir Laut Berlangsung
Kapal Pengawas Hiu 01 dari KKP menghentikan tiga kapal milik
perseorangan yang diduga melakukan eksploitasi pasir laut tanpa izin di
perairan Pulau Rupat, Bengkalis, Riau. Pulau Rupat merupakan salah satu dari
pulau-pulau kecil terluar kawasan strategi nasional tertentu. Dirjen Pengawasan
Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Lakda TNI AL Adin Nurawaluddin mengemukakan,
tiga kapal itu terdiri dari dua kapal pengangkut pasir (KM Arfan II berbobot 23
gros ton (GT) dan KM Terubuk (34 GT)) dan satu kapal isap pasir berukuran 4 GT.
Setiap kapal diawaki oleh tiga ABK. Pihaknya menemukan 30 ton pasir laut di KM Arfan
II serta 4 ton pasir laut di KM Terubuk. Ketiga kapal itu tidak dilengkapi
dokumen persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut (PKKPRL) dan
izin pemanfaatan pasir laut. ”KKP akan mengenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku
untuk memberikan efek jera”, ucap Adin, dalam keterangan pers, Jumat (22/9).
KKP menghentikan seluruh kegiatan penambangan pasir di perairan
Pulau Rupat sesuai PP No 62 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil
Terluar dan Kepres No 6 Tahun 2017 tentang Penetapan Pulau-pulau Kecil Terluar.
Pemanfaatan Pulau Rupat hanya diperbolehkan
untuk kepentingan pertahanan, konservasi, dan kesejahteraan masyarakat. ”(Tata
kelola) ini yang kita jaga. Jangan sampai, izin penambangan (pasir laut) semata mengambil pasir, tetapi merusak ekologi. Kami juga berkolaborasi dengan (Kementerian)
ESDM,” katanya. Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan
mengemukakan, laut yang menjadi tumpuan hidup nelayan tradisional dan
masyarakat pesisir perlu mendapatkan perlindungan kuat dari negara. Sebanyak 80
% nelayan skala kecil berkontribusi terhadap pemenuhan pangan dalam negeri dan
memenuhi 50 % kebutuhan protein perikanan. Ironisnya, kemiskinan ekstrem terkonsentrasi
di wilayah pesisir, ujarnya dalam webinar nasional ”Menyambut Hari Maritim dan Menuju
Konferensi Tenurial 2023”, Jumat (22/9). (Yoga)
Bisnis Penangkapan Karbon Kian Dilirik
Teknologi penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon
atau CCS/CCUS semakin dilirik perusahaan-perusahaan hulu minyak dan gas bumi di
Indonesia, di tengah tuntutan transisi energi. Di samping bisa meningkatkan
produksi, juga menjadi alternatif bisnis mengingat besarnya potensi kapasitas
penyimpanan karbon di Tanah Air. Carbon capture and storage (CCS) ialah
teknologi penangkapan dan penyimpanan emisi karbon sehingga tak terlepas ke
atmosfer. Karbon dioksida (CO2) dari industri migas atau lainnya ditangkap
untuk disuntikkan ke reservoir atau saline aquifer (reservoir air bersalinitas
tinggi) sehingga CO2 larut atau tersimpan permanen. Sementara pada carbon capture,
utilization, and storage (CCUS), karbon juga dimanfaatkan untuk peningkatan
produksi migas.
Berdasarkan data studi kolaboratif SKK Migas, potensi
kapasitas penyimpanan di Indonesia sekitar 2 gigaton pada sumur migas yang tak
lagi berproduksi dan 10 gigaton pada saline aquifer. Potensi tersebut tersebar
di sejumlah wilayah di Indonesia. Deputi Eksploitasi SKK Migas Wahju Wibowo,
pada 4th International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas
(ICIOG) 2023 yang diselenggarakan SKK Migas di Badung, Bali, Kamis (21/9)
menuturkan, di hulu migas, CCS/CCUS menjadi alternatif perimbangan karbon. Sebagai energi fosil, bagaimanapun,
hulu migas masih menghasilkan emisi karbon. Proyek CCS/CCUS terdepan di
Indonesia adalah oleh bp, perusahaan multinasional migas yang beroperasi di Teluk
Bintuni, Papua Barat, lewat CCUS Tangguh. ”Dari kalkulasi bp, selama 30 tahun
injeksi (CO2), yang ditargetkan mulai 2026 atau 2027, hanya butuh 2 % dari
kapasitas penyimpanan yang dimiliki bp. Artinya, 98 % bisa dimanfaatkan oleh
siapa saja,” kata Wahju. Dengan besarnya potensi yang dimiliki Indonesia, yang menjadi
pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana mengoptimalkannya. (Yoga)
Asean Sepakati Pedoman Pemberantasan Hoaks
Transaksi Digital Banking Rp5.000 Triliun
Mobnas Listrik Jangan Sekedar Gengsi
Pengawasan Impor TPT Ilegal DIperketat
Dukungan Pekerjaan Modal Kerja untuk Hilirisasi UMKM
Kinerja Retail Modern Tetap Kuat
Jadi Investor Agresif Ketika Muda
MENEPIS TANTANGAN MIGAS
Daya pikat investasi hulu minyak dan gas bumi Tanah Air kian memukau yang tecermin dari komitmen sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk terus berinvestasi melakukan kegiatan eksplorasi.Sejumlah raksasa migas global juga bersepakat mencapai target besar produksi minyak bumi 1 juta barel per hari (bph) dan gas 12 miliar standar kaki kubik per hari (Bscfd) pada 2030.Melalui penandatanganan Bali Commitment yang dilakukan dalam CEO Forum pada acara International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2023 di Bali Nusa Dua Convention Center, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (21/9), para CEO KKKS juga berjanji untuk menyiapkan program kerja dan anggaran 2024 secara masif, agresif, dan efisien. Di mata para CEO perusahaan migas internasional dan nasional, Indonesia masih menjadi salah satu portofolio penting. Mulai dari perusahaan migas asal Italia, ENI, ExxonMobil (Amerika Serikat), Petroliam Nasional Berhad atau Petronas (Malaysia), Repsol SA (Spanyol), British Petroleum (Inggris), hingga PT Medco Energi Internasional Tbk., dan PT Pertamina (Persero) bakal jor-joran berinvestasi di sektor migas. Direktur ENI Muara Bakau BV, Roberto Daniele mengatakan keseriusan untuk berinvestasi lebih intensif pada sisi eksplorasi lapangan migas. Saat ini ENI bersama dengan PT Pertamina (Persero) telah menjalin kerja sama strategis untuk melakukan eksplorasi bersama di Blok Mahakam. Kerja sama itu diharapkan dapat menambah cadangan migas. Terlebih, Indonesia masih memiliki cadangan migas besar. Berdasarkan catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, cadangan terbukti gas bumi Indonesia bahkan mencapai 41,62 triliun kaki kubik (TCF). Selain itu, Indonesia juga masih memiliki 68 cekungan potensial yang belum tereksplorasi.
“Indonesia memiliki semua segmen yang ExxonMobil mesti tawarkan. Kami punya upstream dan downstream seperti fuel, lubricant, chemicals, dan transisi energi. Dari seluruh affi liate Exxon di dunia, jarang ada semua segmen ada di satu tempat bersama, tapi Indonesia punya itu,” kata Presiden ExxonMobil Indonesia Carole Gall.
Sementara itu, Dwi Soetjipto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), menegaskan Indonesia terus menawarkan peluang investasi di sektor migas dan siap untuk meningkatkan kebijakan fiskal dan memberikan berbagai insentif.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









