;

Market Cap Bank Jago Dekati Unilever dan Astra

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 11 Jun 2021 Investor Daily, 11 Juni 2021
Market Cap Bank Jago Dekati Unilever dan Astra

JAKARTA, PT Bank Jago Tbk (ARTO) mampu mencetak nilai kapitalisasi pasar saham (market capitalization) senilai Rp 177 triliun hingga Kamis (10/6) atau berada di posisi tujuh. Market cap bank digital tersebut mendekati PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Astra International Tbk (ASII). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, Bank Jago menempel Unilever yang berada di posisi enam dengan market cap Rp 202,2 triliun. Bank Jago juga sempat menempel Astra International, namun kini Astra merangkak naik ke posisi lima dengan market cap Rp 218,6 triliun. Adapun posisi puncak masih ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan market cap Rp 807,9 triliun.

Market cap Bank Jago meningkat dibandingkan per April 2021. Ketika itu, bank besutan Jerry Ng dan Patrick Walujo ini berada di posisi sembilan dengan market cap Rp 139,2 triliun. Kemudian, Bank Jago berhasil menyalip PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang saat ini di posisi delapan dengan market cap Rp 144 triliun dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) di posisi sembilan dengan market cap Rp 141,3 triliun. Founder dan CEO Finvesol Consulting Indonesia Fendi Susiyanto menjelaskan, saat ini, Bank Jago adalah satu-satunya bank digital yang memiliki valuasi terbesar, yakni sekitar Rp 177 triliun. Market cap tersebut bahkan lebih tinggi dari bank besar seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencapai Rp 105 triliun dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebesar Rp 16,84 triliun.

Seiring market cap yang besar tersebut, harga saham ARTO juga meningkat pesat hingga 983,64% dalam satu tahun terakhir ke level Rp 12.900 pada penutupan perdagangan Kamis, (10/6). "Harga ARTO sudah mencerminkan 21 kali dari price to book value (PBV), lebih tinggi dibandingkan rata-rata bank yang mencapai 2 kali PBV," kata dia kepada Investor Daily.

Kapitalisasi pasar tersebut, menurut Fendi, lambat laun akan menurun apabila tidak diimbangi dengan fundamental yang memadai. Pasalnya, bisnis bank adalah bisnis yang kinerja keuangannya bisa diteliti, yakni melalui marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM), perolehan laba, kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) atau indikator lainnya.

(Oleh - HR1)

Tags :
#Ekonomi
Download Aplikasi Labirin :