Petani Mulai Bisa Tersenyum Sumringah
HARGA komoditi karet di kalangan petani mengalami peningkatan dalam dua pekan terakhir. Meski begitu petani berharap harga tetap stabil bahkan meningkat minimal untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari di masa pandemi Covid-19. Diakui petani, selama wabah ini nyaris kegiatan ekonomi keluarga terganggu karena harga jual anjlok dan petani dilarang keluar rumah, sebagai upaya mencegah penyebaran virus asal China ini. Namun nyatanya, virus Corona tetap tak bisa dibendung, sehingga memaksa warga keluar rumah untuk mencari penghidupan.
Untuk harga karet per minggu sebesar Rp 9.000/kg, sebelumnya berkisar di Rp 4.000/kg. Diharapkan, kedepannya bisa naik lagi, setidaknya sama dengan harga bahan pokok seperti beras yakni Rp 10.000/kg. Sementara ketika di konfirmasi ke Plt Kepala Dinas Perkebunan, Mat Kasrun, ia mengatakan bahwa harga karet dari Sicom (Singapore Commodity) ini diolah oleh Dinas Perdagangan Provinsi dan Gapkido (Gabungan Pengusaha Karet Indonesia), Untuk Kadar Karet Kering (K3) 100% adalah Rp 20.914/kg, K3 70% Rp 14.640/kg, K3 60% Rp 12.548/kg, K3 50% Rp 10.457/kg, dan K3 40% Rp 8.388/kg. Biasanya petani karet menjual karetnya di ukuran K3 40% sebab terdesak ekonomi. "Mereka ini, kalau menyadap pagi, sorenya sudah dijual. Karena uangnya untuk makan, jadi tidak bisa menyimpan dulu sampai K3 kering," jelasnya.
Dinas perkebunan terus berupaya melakukan rehabilitasi, intensifikasi dan pasca panen kepada para petani karet. seperti peremajaan karet dan optimalisasi hasil produksi dengan bantuan pupuk, serta pasca panen dengan membantu alat sadap dan pembeku. Selain itu, memberikan sosialisasi kepada petani karet untuk bahan pembeku dianjurkan memakai Asam Semut (cuka para) atau diorof, sebab kualitas karet akan baik karena karetnya bisa benar-benar kering sehingga harganya bisa naik. Kemudian pihaknya meminta kepada petani untuk tidak mencampur karetnya dengan tatal, batu dan sebagainya dengan tujuan supaya berat. Karena jika hal tersebut dilakukan tentu akan menghilangkan kepercayaan pembeli dan harganya akan turun drastis.
Kabupaten Muaraenim ada sekitar 150.000 hektar (Ha) kebun karet rakyat dimana 20% masih belum produktif. Misalnya usia pohon yang sudah lebih dari 25 tahun sehingga hasilnya tidak optimal. Disamping itu, juga disosialisasikan mengenai Bahan Olah Karet (Bokar) yang berkualitas ke para petani. Sebab harga sangat mempengaruhi, kalau Bokarnya bagus maka harganya bisa naik segitu juga sebaliknya.
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023