;

Daya Belanja Warga Tertahan karena Seretnya Kenaikan Gaji

Ekonomi Yoga 10 Mar 2025 Kompas (H)
Daya Belanja Warga Tertahan karena Seretnya Kenaikan Gaji

Pengeluaran warga menurun di tengah gaji yang pas-pasan. Sejalan dengan itu, daya beli warga makin tertekan. Kondisi ini menjadi alarm perekonomian nasional yang bergantung pada konsumsi warga. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan, selama 15 tahun terakhir atau sepanjang 2010-2024, pertumbuhan rata-rata gaji warga cenderung melambat. Ini merupakan analisis data rata-rata upah atau gaji bersih buruh/karyawan yang tercatat di BPS. Pada 2010, pertumbuhan rata-rata gaji warga sebesar 6,7 % per tahun. Namun, pada 2024, pertumbuhan gaji hanya menyentuh 2,8 % per tahun. Sementara dua tahun sebelumnya di angka 12,2 % per tahun (2022) dan 3,5 % per tahun (2023). Dalam 15 tahun itu, terjadi pelambatan sebanyak delapan kali, yaitu pada 2012, 2014, 2017, 2018, 2019, 2020, 2023, dan 2024.

Sejalan dengan menurunnya pertumbuhan gaji, pertumbuhan pengeluaran warga juga melambat di rentang waktu yang sama. Periode 2010-2014, pengeluaran rata-rata tumbuh 12,6 % per tahun. Di periode 2015-2019 pengeluaran tumbuh melambat menjadi 8,5 % per tahun dan di periode 2020-2024 makin melambat menjadi 5,2 % per tahun. Warga pun berhemat untuk menyiasati naiknya kebutuhan hidup di tengah keterbatasan gaji. Edwin (31), guru SD swasta di Jakbar, menekan pengeluaran harian, maksimal Rp 25.000 per hari, karena gajinya hanya Rp 3,3 juta per bulan, jauh di bawah UMP Jakarta 2025 sebesar Rp 5,39 juta per bulan. Ia juga tidak melihat peluang mendapat kenaikan gaji dalam waktu dekat.

Adaptasi hidup dengan berhemat juga dilakukan 32 % responden dalam Survei Kepemimpinan Nasional Kompas pada 4-10 Januari 2025. Dari semua responden yang memilih berhemat, sebanyak 25 % dari kalangan kelas bawah dan menengah bawah. Langkah penghematan dilakukan karena 60,8 % responden tidak mempunyai tabungan dan hidup pas-pasan dengan gaji yang ada. Sebanyak 47 % warga yang hidup tanpa tabungan berasal dari masyarakat bawah dan menengah bawah. Seiring dengan pertumbuhan gaji yang melambat, warga lebih memprioritaskan membelanjakan uangnya untuk kebutuhan makan harian. Analisis Kompas, pertumbuhan pengeluaran makanan periode 2020-2024 lebih kuat, yakni 5,6 % per tahun dibandingkan pengeluaran bukan makanan sebesar 4,9 % per tahun. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :