Rumah Tradisional Sekitar Candi Borobudur bagai Roh tak Terpisahkan dari Kawasan Warisan Dunia Tersebut
Rumah-rumah tradisional di sekitar Candi Borobudur bagaikan roh tak terpisahkan dari kawasan warisan dunia tersebut. ”Beginilah rumah sederhana di desa,” kata Kirno (55) di halaman rumahnya, Selasa (12/11). Rumah Kirno salah satu rumah limasan tradisional Jawa yang terawat baik, terletak di daerah berbukit Dusun Kerug Batur, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jateng. Jaraknya 3,8 km selatan Candi Borobudur. Ciri rumah limasan dikenali dari bentuk atapnya yang berdiri pada kerangka alas berbentuk persegi panjang dengan dua sisi panjang bertemu di tengah dan dua sisi lebar membentuk segitiga. Kaki atap menjulur keluar alas, dengan sudut kemiringan yang lebih landai ketimbang bagian atas. Struktur rumah limasan tradisional sepenuhnya terbuat dari kayu, seperti jati, nangka, atau sengon. Khusus rangka atap atau reng biasanya memakai bambu petung.
Kirno menceritakan, rumah limasan berukuran 11 x 11 meter warisan orangtuanya itu dibangun tahun 1977. Kecuali reng yang sudah diganti karena lapuk, semua bagian rumah itu masih asli, termasuk lantainya yang hanya beralaskan tanah. Genteng buatan Kebumen, Jateng, masih awet melindungi rumah dari segala cuaca. Meski sejumlah orang telah menawar untuk membeli limasan tersebut, Kirno menolak. Dia merasa ada nuansa yang sulit digantikan jika dia menjualnya dan mengganti dengan bangunan modern. Yulius Ismoyo (63) juga mempertahankan bagian depan rumahnya dengan arsitektur rumah kampung. Rumah yang dulu berupa limasan ini kini memiliki atap segitiga. Semua bagian dari rumah limasan berukuran 8 x 10 meter masih dipakai. Rumah kampung itu dijadikan pendopo yang sesekali dipakai rapat warga karena selama belasan tahun dia juga menjabat sebagai kepala dusun.
Ismoyo meyakini, para leluhur pasti telah memikirkan bentuk konstruksi yang terbaik sehingga layak dipelihara dan diteruskan kepada generasi selanjutnya. Hal itu terbukti kala gempa besar melanda Yogyakarta pada 2006 dan getarannya terasa hingga Magelang. ”Waktu itu, rumah limasan dan rumah kampung di dusun ini tidak ada yang rusak. Rumah tembok banyak yang retak dan gentengnya berjatuhan,” ucapnya. Ismoyo mengatakan, dari 36 rumah di Dusun Kerug Batur, terdapat 12 rumah limasan dan 8 rumah kampung. Sisanya telah berganti menjadi rumah tembok modern. Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur menggelar Pameran Arsitektur Vernakular dan Potensi Desa Borobudur pada 11-17 November 2024 di Magelang. Arsitektur vernakular adalah jenis arsitektur yang dikembangkan oleh masyarakat tradisional dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Panitia sampai membangun rumah limasan, rumah kampung, dan rumah panggang sungguhan di lokasi pameran. Ketiganya merupakan jenis rumah tradisional Jawa yang ada di kawasan Borobudur. namun, rumah panggang pe sudah sangat jarang ditemukan. Pengunjung jadi memiliki gambaran tentang arsitektur tradisional itu. ”Sekaligus kami mendokumentasikan cara pembangunan dan ritual yang menyertai pendirian rumah tradisional Jawa,” ujar ketua panitia acara dari MCB Unit Warisan Dunia Borobudur, Bambang Kasatriyanto. Pamong Budaya Ahli Muda MCB Unit Warisan Dunia Borobudur Dian Eka Puspitasari menyebutkan, pelestarian rumah tradisional Jawa sebagai arsitektur vernakular menjadi bagian tak terpisahkan dari pelestarian Candi Borobudur. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023