;

Pengumuman dan Pencairan Beasiswa Pendidikan Indonesia

Pengumuman dan Pencairan Beasiswa Pendidikan Indonesia

Peretasan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) pada Juni 2024 menyisakan masalah. Sejumlah calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia terancam gagal mewujudkan mimpi mereka melanjutkan studi. Sementara para pelajar yang tengah menjalani studi dengan beasiswa dari pemerintah turut resah. Calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Azizi Al Majid, Selasa (13/8) mengungkapkan, dirinya mendaftar ke laman BPI sejak 30 Mei 2024. Ia mendapatkan pengumuman lolos seleksi administrasi pada 10 Juni. Setelah itu, terjadi peretasan PDNS pada 20 Juni 2024 yang mengacaukan sistem daring sebagian besar instansi pemerintahan. Sebanyak 47 layanan Kemendikbudristek, termasuk beasiswa, juga terdampak. Azizi dihubungi Kemendikbudristek untuk mengikuti tahapan seleksi selanjutnya, yakni wawancara daring pada 23 Juni.

Setelah wawancara, Sudah tiga kali ia mengunggah berkas administrasi pendaftaran dan belum ada kabar lebih lanjut. ”Sampai sekarang tak ada update sama sekali soal kapan atau kejelasan sebenarnya apa terjadi. Padahal, sebentar lagi September, harus bersiap ke Belanda. Bisa dikatakan hampir gagal berangkat. Kami juga bingung,” kata Azizi. Azizi telah mengeluarkan uang 500 euro (Rp 8,7 juta) untuk membayar biaya deposit yang diminta universitas tujuan sebagai uang jaminan setelah pelamar dinyatakan diterima. Uang deposit terancam hangus karena ketidakpastian dari pemerintah, sementara Azizi masih menunggu tanpa kepastian di Bandung. Padahal, harapannya pada program beasiswa dari pemerintah ini sangat besar untuk membantu mewujudkan cita-citanya melanjutkan studi S-2 di bidang seni ke Design Academy Eindhoven, Belanda.

Dia memohon pemerintah segera memberikan kepastian agar para calon penerima bisa menyusun rencana lanjutan jika berhasil ataupun belum bisa menerima beasiswa.Taufiq Effendi, yang tengah menerima BPI S-3 di Queen’s University Belfast, Irlandia Utara, juga mengungkapkan sudah dua bulan terakhir tidak mendapatkan uang biaya hidup. Padahal, dalam kontrak, mereka tidak boleh mengambil pekerjaan sampingan. Keterlambatan pencairan biaya hidup ini memengaruhi studi dan keluarga mereka, terlebih tidak sedikit yang membawa serta keluarganya ke luar negeri. Dia berharap, pemerintah segera mengungkap akar permasalahannya dan mencarikan solusi. ”Yang cair baru tunjangan keluarga, yang 25 % living allowance yang besar belum, sudah telat dua bulan dan sudah ramai di sini dari beberapa bulan lalu,” kata Taufiq.

Ketua Balai Pembiayaan Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek Anton Rahmadi mengatakan, data calon penerima dan penerima BPI sempat hilang karena terdampak peretasan PDNS. Sistem tersebut telah pulih pada 8 Juli 2024, tapi penerima dan calon penerima BPI tetap harus mengunggah ulang berkas administrasinya ke sistem. Proses sudah memakan dua bulan sampai sekarang sehingga para calon penerima harus menunggu waktu pengumuman. Pihaknya telah berkomunikasi dengan para penerima bahwa pihaknya tengah berupaya menyelesaikan proses tersebut agar mereka tetap bisa melanjutkan studi. ”Dalam satu-dua hari ini pengumuman (akan keluar). Setelah pengumuman, kami akan konfirmasi ulang untuk surat komitmen ke penerima beasiswa dan hubungi per surat ke kampusnya,” kata Anton, Selasa (1/8). (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :