Rumah Murah Bisa Tak Terserap
Subsidi perumahan berupa fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan kian menipis. Dipangkasnya kuota pembiayaan rumah bersubsidi tahun ini membuat rumah yang sudah dibangun pengembang berpotensi tak terserap. Tahun 2024, kuota rumah bersubsidi berupa fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) sebesar 166.000 unit, turun dibanding tahun 2023 sebesar 220.000 unit. Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) merilis, total realisasi penyaluran FLPP rumah bersubsidi hingga 13 Juni 2024 sudah 80.134 unit atau 48,27 % total kuota FLPP tahun ini. Dari data aplikasi Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (SiKumbang), stok rumah subsidi saat ini 118.000 unit di seluruh Indonesia. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengemukakan, saat ini stok rumah subsidi yang dibangun anggota Apersi berkisar 30.000 unit.
Di tengah kuota FLPP yang terbatas, ada kekhawatiran rumah yang sudah dibangun pengembang tidak terserap. Meskipun pengaturan kuota FLPP sudah dikelola BP Tapera, distribusi kuota yang terbatas tersebut akan menimbulkan persoalan, yakni masyarakat tertunda mengakses rumah. Sementara rumah subsidi yang sudah terbangun tidak terserap optimal. Dampaknya, operasionalisasi pengembang dan arus kas terganggu serta berpotensi menimbulkan kredit macet konstruksi. ”Ini menjadi tidak sehat. Masyarakat terhambat dalam mengakses rumah, upaya mengatasi backlog (kekurangan) rumah terganggu, sedang rumah yang dibangun pengembang tidak bisa terserap,” ucap Junaidi, Minggu (30/6). (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Benahi Masalah Fundamental
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023