;

Lahan Parkir Liar, Ruang Kontestasi Ormas

Lahan Parkir Liar, Ruang Kontestasi Ormas

Para juru parkir liar di Jakarta tak hanya menghadapi urusan penertiban parkir oleh pemerintah dan penolakan dari warga. Mereka berpeluh di ruang yang tak hampa. Sebab, ada kuasa ormas di dalamnya. Seiring rencana penertiban lahan-lahan parkir liar oleh Pemprov DKI Jakarta serta munculnya penolakan warga terkait parker liar, sejumlah minimarket sudah tidak dijaga juru parker sepekan terakhir. Meski begitu, Agus (49) juru parkir di minimarket Palmerah, Jakbar, menyatakan bakal bertahan. Setiap kali kendaraan masuk, ia langsung siap menatanya. Begitu pula saat pengunjung keluar dari pintu minimarket, ia sudah dalam posisi siap. Tindakan serupa berlaku bagi pengendara mobil. Ia membantu menghalau kendaraan untuk berhenti memberi kesempatan mobil keluar dari lahan parkir minimarket. Dari aktivitas itu, ia dapat penghasilan Rp 50.000 hingga Rp 70.000 per hari.

”Karena uangnya disetor lagi ke lainnya (ormas). Saya hanya dapat paling banyak Rp 70.000,” kata ayah satu anak itu, Senin (13/5). Menurut dia, penertiban juru parkir liar tidak berpihak kepadanya. Apalagi, di usianya saat ini, sulit mencari pekerjaan baru. ”Ciptakan lapangan pekerjaan untuk kami. Kalau ada pekerjaan yang lebih layak, kenapa saya harus jadi tukang parkir,” kata pria yang sudah dua tahun menjadi juru parkir liar itu. Hal senada disampaikan Yance (52), juru parkir minimarket di Kebayoran Baru, Jaksel. Ia tak menutup mata bahwa lahan minimarket gratis untuk para pengunjung yang berbelanja. Namun, bagi ayah tiga anak ini, tidak ada pilihan lain selain memanfaatkan lahan itu untuk meraup pundi rupiah. Yance bisa mendapat Rp 7 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Uang itu harus ia serahkan ke bendahara ormas. Pendapatan bersihnya berkisar Rp 3 juta-3,5 juta. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :