Trilema Kenaikan Suku Bunga
Rapat Dewan Gubernur BI pada April 2024 memutuskan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 %. Tekanan terhadap stabilitas (nilai tukar) terlalu kuat sehingga suku bunga perlu segera dinaikkan. Tekanan terhadap rupiah meningkat sejak bank sentral AS (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuan 5,25-5,50 %. Dalam pidatonya, Ketua The Fed Jerome Powell menyebut kenaikan harga dalam tiga bulan pertama 2024 lebih cepat dari dugaan sebesar 2,7 % atau masih lebih tinggi dari target 2 %. Para investor seluruh dunia mengatur ulang komposisi investasinya dengan menambah penempatan di aset bernilai USD. Itulah mengapa, indeks USD naik mencapai level tertinggi sejak 20 tahun terakhir. Pada 29 April 2024, indeks USD mencapai 105,73 setelah pada September 2022 mencapai 112 atau tertinggi sejak Desember 2001 yang berada pada 116.
Setiap kali indeks USD naik, harga aset dalam USD turun akibat banyaknya permintaan. Konsekuensinya, imbal hasil investasi (yield) dalam USD meningkat mencapai level tertinggi sejak 2007 mencapai 4,5-4,6 % untuk obligasi jatuh tempo sepuluh tahun. Dinamika pasar ini telah menekan nilaitukar rupiah yang pada akhir April 2023 mencapai Rp 16.270 per USD atau terendah sejak 2020. Imbal hasil obligasi rupiah dengan maturitas 10 tahun kembali naik, mencapai 7,2 % dan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terus tertekan dan sempat turun di bawah 7.000. Dalam situasi seperti ini, kebijakan kenaikan suku bunga acuan tak terelakkan. Apa lagi, fokus kebijakan moneter BI adalah menjaga stabilitas.
Jika disiplin fiskal ditinggalkan, dengan alasan apa pun, risikonya bisa fatal. Dominasi fiskal telah membuat kebijakan moneter terkunci karena harus mengatasi tiga hal sekaligus, yaitu meredam kenaikan harga (inflasi), menjaga pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan stabilitas pasar. Itulah trilema sebagai tantangan baru bagi otoritas moneter di seluruh dunia. Keputusan terakhir BI menaikkan suku bunga dalam rangka menenangkan pasar menunjukkan trilema kebijakan tersebut. Program kerja pemerintah ke depan pertama-tama harus fokus pada peningkatan produktivitas ekonomi sebagai benteng paling kuat menghadapi turbulensi ekonomi di masa depan. Program yang tak langsung mendorong produktivitas perlu dikaji ulang agar tidak justru menciptakan risiko di masa depan. (Yoga)
Postingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Pasar Dalam Tekanan
Bank Masih Dilema Menurunkan Bunga Kredit
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023