Proyek Tol Dalam Kota Menantang Logika dan Fakta
Keputusan membangun enam tol dalam kota yang melintang di tengah
Jakarta muncul tahun 2010. Seketika publik riuh. Baru-baru ini, rencana serupa
di Kota Bandung, Jabar, memicu reaksi tak jauh berbeda. Pihak yang setuju,
berharap siksaan seretnya arus lalu lintas seiring membeludaknya penggunaan
kendaraan bermotor pribadi bakal berakhir berkat tol dalam kota. Pihak lain berargumen
keberadaan tol hanya mengurai macet sebentar saja. Dampak besarnya, justru kuat
memicu penggunaan mobil pribadi dan berujung kemacetan yang kian parah. Laporan
harian Kompas pada 30 Juli 2013 menyebutkan, enam ruas tol dalam kota Jakarta (Jakarta
Inner Ring Road/JIRR) menelan biaya Rp 42 triliun. Hingga 2023, setidaknya ada
15 ruas tol di Jakarta.
Jika nanti seluruh rencana enam JIRR terwujud, terbayang
Jakarta akan dipenuhi ruas tol di tengah kota, melingkari area tepiannya, terentang
menghubungkannya dengan kota sekitar. Di Bandung, setelah 17 tahun tertunda,
Bandung Intra Urban Tol Road (BIUTR) digadang-gadang akan digulirkan tahun ini
(Kompas.id, 4/3/2024). Di luar Jawa, demam membangun tol menular hingga Sumatera,
Kalimantan, dan Sulawesi. Jalan tol menjadi proyek unggulan penghubung antar-kawasan
urban dan area pengembangan baru. Kebalikan dari kota-kota dunia, Jakarta,
Bandung, dan kota lain di Indonesia tetap membangun jalan tol, khususnya jalan
tol dalam kota, kerena menurut pemerintah, ketersediaan jalan di perkotaan kita
masih lebih rendah dari kebutuhan sehingga perlu ada pembangunan akses baru.
Jalan tol menjadi pilihan karena pemerintah pusat ataupun daerah
dapat bekerja sama dengan pihak swasta. Investor mudah digamit dengan
iming-iming pengembalian keuntungan besar, terutama di ruas-ruas yang dinilai ”gemuk”.
Pada 2012, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia
dalam sebuah tulisan di situs resminya pernah menampilkan hitungan jika
mengalihkan Rp 3,5 triliun dari Rp 42 triliun dana JIRR, dapat mengoptimalkan
Transjakarta sampai mampu mengangkut 1,5 juta orang per hari. Dana itu untuk
ekspansi halte hingga tiga kali lipat dan membeli 10 stasiun bahan bakar gas. Penggunaan
Rp 12 triliun tambahan untuk membeli 1.000 bus dengan tiga kali peremajaan
selama 20 tahun.
Sisa uang Rp 26 triliun untuk biaya operasional dan perawatan,
termasuk memastikan feeder atau angkutan pengumpan yang merasuk hingga ke permukiman
terwujud. Dengan cara itu, cita-cita warga Jakarta bisa gratis naik Transjakarta
yang aman, nyaman, headway (jarak antar-kedatangan bus) bisa di bawah 3 menit
diyakini terwujud. Publik yang terbiasa memakai kendaraan pribadi bakal tertarik
beralih ke transportasi umum ketika armadanya begitu terjangkau dari rumahnya. Argumen
membangun tol karena kekurangan ketersediaan jalan dan dana bisa gugur. Yang
diperlukan justru penataan, peremajaan, ataupun penambahan akses reguler agar lebih
ramah pejalan kaki dan pengguna angkutan umum. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023