Epidemi Kesepian dan Isolasi di Tengah Keramaian
Di dunia yang semakin terhubung oleh jejaring digital, epidemi
kesepian ternyata semakin meluas, termasuk dialami anak muda yang berada di
tengah keramaian. Sindrom kesepian itu telah berdampak pada kesejahteraan mental
dan fisik, bahkan meningkatkan risiko kematian dini hingga 26 %, setara dengan
risiko merokok 15 batang sehari. Mengacu pada definisi psikolog Letitia Anne
Peplau dan Daniel Perlman dalam bukunya, Loneliness: A Sourcebook of Current
Theory, Research and Therapy (1982), kesepian bisa digambarkan sebagai ”isolasi
sosial yang dirasakan”, ditandai dengan rasa tertekan ketika seseorang
mengalami kesenjangan antara hubungan yang diinginkan dan yang sebenarnya. Data
negara-negara menunjukkan, hampir satu dari empat manusia di dunia saat ini
kesepian dan terisolasi secara sosial.
Hasil survei Meta-Gallup terbaru, 24 % orang berusia 15 tahun
ke atas melaporkan, mereka merasa sangat atau cukup kesepian. Survei yang
dilakukan di 142 negara itu meminta peserta menjawab pertanyaan, ”Seberapa
kesepian yang Anda rasakan?”. Di Indonesia, Health Collaborative Center (HCC),
lembaga di bidang kesehatan masyarakat dan kesehatan komunitas, pada Desember
2023 juga mengungkap hasil survei tentang kesepian yang dialami warga Jabodetabek,
menunjukkan, separuh warga Jabodetabek mengalami kesepian dengan derajat sedang
dan tinggi. Survei yang digelar sejak Oktober 2023 dan melibatkan 1.299
responden di Jabodetabek ini menunjukkan, perantau paling banyak mengalami
kesepian, yaitu 56 % dengan derajat sedang.
Sementara dari sisi usia, 51 % warga Jabodetabek yang berusia
di bawah 40 tahun juga mengalami kesepian derajat sedang. Jika dilihat dari
status, 60 % warga Jabodetabek yang belum menikah mengalami kesepian derajat
sedang. Orang yang sudah menikah pun merasa sepi, ini dialami oleh 47,9 %
responden. Studi di jurnal International Psychogeriatrics (2020) menyebutkan,
perasaan terisolasi terjadi antargenerasi dengan mereka yang berusia 18-22
tahun memiliki rata-rata skor kesepian tertinggi, sedangkan mereka yang berusia
55-73 tahun memiliki skor kesepian terendah.
Tingginya kesepian di kalangan muda usia ini kemungkinan
besar disebabkan oleh dampak penggunaan media sosial yang lebih besar di
kalangan mereka. Laporan tersebut juga menemukan, kesepian lebih umum terjadi
pada orang-orang dengan tingkat keterlibatan media sosial yang tinggi
dibandingkan dengan mereka dengan keterlibatan yang rendah. Tingginya tingkat
kesepian di kalangan muda ini juga dikaitkan dengan kesehatan mental yang
memburuk, misalnya depresi, keputusasaan, penggunaan narkoba, hingga gangguan
kognitif, bahkan kecenderungan bunuh diri. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) menunjukkan, secara global satu dari tujuh anak usia 10-19 tahun mengalami
gangguan jiwa, terhitung 13 % dari beban global penyakit pada kelompok usia
ini. Bunuh diri kini menjadi penyebab utama kematian keempat di antara usia
15-29 tahun. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023