Nestapa Hidup Berkelindan Banjir dan Rob di Semarang
Bertahun-tahun, sebagian warga di Kota Semarang, Jateng, hidup berkelindan dengan bencana banjir dan rob. Para korban berharap ada solusi komprehensif agar bencana tak lagi membayangi kehidupannya. Adennyar Wycaksono (33), warga Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, belum lupa dengan banjir bandang yang dialami pada 2010. Kala itu, 10 orang dilaporkan meninggal terseret arus. Seorang di antaranya ditemukan oleh Aden di sekitar rumahnya. Setidaknya sejak dua dekade terakhir, Aden dan ribuan orang yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Beringin, Kota Semarang, hidup dalam kondisi waswas. Sebab, wilayah itu rutin dilanda banjir bandang. Banjir terjadi akibat aliran sungai yang tidak lancar lantaran tingginya sedimentasi. Kondisi itu kian parah karena posisi Mangkang Wetan berada di tikungan sungai. ”Banjir bandang terakhir terjadi pada akhir tahun 2022, tetapi dampaknya tidak terlalu parah. Tidak ada korban jiwa dan kerusakan pada bangunan rumah warga seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Aden, Kamis (4/5). Kondisi banjir di wilayah itu sedikit membaik lantaran adanya normalisasi Sungai Beringin. Belokan Sungai Beringin di Mangkang Wetan juga direkonstruksi agar tidak terlalu curam. Hasilnya, luapan air sungai bisa dikurangi.
Safira (26) Warga Kelurahan Siwalan, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, menyebut, banjir paling parah di wilayahnya terjadi pada awal 2023. Banjir setinggi 30 cm merendam rumahnya selama dua hari. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, banjir hanya merendam jalan-jalan menuju ke rumahnya. ”Saluran air di sekitar rumah terlalu sempit. Sudah begitu, juga sering tersumbat sampah. Padahal, hujan awal tahun ini deras banget. Airnya tak bisa tertampung semua (di saluran air) dan malah masuk ke rumah-rumah warga,” ucapnya. Semarang juga digerus rob yang dipicu peningkatan muka air laut dan penurunan muka tanah. Penelitian dalam jurnal Geophysical Research Letters yang dipublikasikan tahun 2022 menyebut, laju penurunan muka tanah di Semarang berkisar 0,9-6 cm per tahun. Hasil studi peneliti ITS Surabaya pada 2009-2011 tentang kenaikan muka air laut menunjukkan, laju kenaikan muka air laut di Semarang mencapai 12,83 milimeter per tahun. Salah satu wilayah terdampak rob adalah Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara. Amron (55), warga daerah itu, mengatakan, rob rutin melanda sejak 27 tahun lalu. Kondisinya kian parah 10 tahun terakhir. Puncaknya Januari 2023 saat 17 rumah rusak diterjang rob dan angin kencang.
Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi mengatasi banjir. Untuk wilayah atas, Pemkot Semarang akan menertibkan tata ruang melalui kerja sama dengan Pemkab Semarang, karena mayoritas sungai di Kota Semarang berhulu di Kabupaten Semarang. ”Kami usul, inginnya dibangun waduk di bagian atas sehingga air dari atas tidak langsung ke bawah, tetapi transit dulu di waduk atau embung,” ujarnya. Untuk Semarang bagian timur, pompa dan pintu air akan ditambah, kolam retensi seluas 250 hektar dibangun, serta pembangunan tanggul laut. Di wilayah Semarang bagian barat, pengendalian banjir dilakukan dengan menormalisasi Sungai Plumbon. Normalisasi akan dilakukan oleh Kementerian PUPR. Adapun Pemkot Semarang bertugas membebaskan lahan seluas 11,6 hektar untuk normalisasi. (Yoga)
Tags :
#BencanaPostingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023