;

PERBERASAN, Wacana Impor dan HPP Rugikan Petani

Lingkungan Hidup Yoga 17 Mar 2023 Kompas
PERBERASAN, Wacana Impor dan HPP Rugikan Petani

Regulasi baru tentang harga pembelian pemerintah atau HPP untuk gabah dan beras serta  wacana membuka keran impor dinilai menekan harga gabah ditingkat petani. Selain besaran HPP yang dianggap lebih rendah dibandingkan dengan ongkos produksi, wacana impor yang berembus di tengah momen panen raya merugikan petani. Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih berpendapat, keputusan pemerintah itu mengecewakan petani. ”Pemerintah sebaiknya tidak memutuskan impor saat panen raya. Ini keputusan yang terburu-buru. Semestinya pemerintah meninjau (realisasi) data produksi terlebih dulu, apakah ada kekurangan atau tidak,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (16/3). Sebelumnya, saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Rabu (15/3), Mendag Zulkifli Hasan menyatakan belum berhasil menurunkan harga beras hingga saat ini. Berdasarkan pantauannya, kenaikan  harga beras mencapai Rp 1.000 per kg.

Harga beras juga diperkirakan masih akan naik ke depan meski data produksi menunjukkan surplus. Per Kamis (16/3), Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kemendag menunjukkan, rata-rata harga beras medium di 90 kota pantauan indeks harga konsumen Rp 11.900 per kg. Pada awal tahun, harganya Rp 11.200 per kg, pada pertengahan Maret 2022 harganya Rp 10.400 per kg. Beras pun masih jadi penyumbang utama inflasi dengan andil pada inflasi tahunan 0,32 %, sedangkan pada inflasi bulanan 0,08 % di bulan Februari 2023. Menurut Ketua Umum Penggerak Pembangunan Masyarakat Desa, Tani Suryadinata Wira Lodra, harga HPP untuk gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp 5.000 per kg itu di bawah ongkos produksi Rp 5.200 per kg GKP. ”HPP yang lebih rendah dibandingkan dengan ongkos produksi membuat petani tidak semangat menanam padi,” ujarnya dan pihaknya berharap ada ruang untuk mengubah HPP gabah dan beras tersebut. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :