Antisipasi Tekanan Inflasi Lanjutan
Tekanan inflasi domestik diperkirakan masih berlanjut dan mencapai puncaknya tahun 2023. Meski inflasi akibat kenaikan harga komoditas bakal lebih rendah, ada potensi terjadinya kenaikan harga sejumlah barang dan jasa di pasaran akibat transmisi beban biaya produksi yang selama ini tertunda. Sejak semester I-2022, kenaikan indeks harga produsen (IHP) sudah terjadi. Namun, transmisinya ke indeks harga konsumen (IHK) belum signifikan. IHP yang tak sejalan dengan IHK membuat tingkat inflasi di Indonesia relatif terkendali meski tetap meningkat. Beban kenaikan biaya produksi di level produsen beberapa bulan terakhir belum disalurkan secara signifikan ke level konsumen. Industri masih menahan kenaikan harga barang dan jasa di pasaran. Pada triwulan III-2022, selisih inflasi (inflation gap) antara produsen dan konsumen mencapai 5,9 % dari 4,8 % tahun 2021. Per triwulan III-2022, IHP industri minuman dan rokok telah mencapai 170,57; industri makanan lainnya 149,73; serta industri pengolahan dan pengawetan daging, ikan, buah, sayur, minyak, dan lemak 199,78. Adapun IHK di sektor makanan minuman dan tembakau pada periode yang sama hanya 117,14. Laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Desember 2022 Bank Dunia, pekan lalu, menyoroti tekanan di sisi suplai itu akan berdampak pada inflasi.
Biaya produksi yang meningkat akan ditransmisikan ke konsumen secara signifikan mulai tahun depan sehingga menambah risiko inflasi. Survei Bank Dunia menunjukkan, margin keuntungan produsen menurun signifikan di hampir semua sector dalam satu tahun terakhir sampai Desember 2022. Data serupa ditunjukkan Survei Kegiatan Dunia Usaha oleh BI pada triwulan III-2022. Inflasi Indonesia diperkirakan mencapai puncaknya pada 2023 dengan rata-rata 4,5 %, naik dari proyeksi rata-rata inflasi tahun 2022 sebesar 4,2 %. Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste HabibRab dalam paparan laporan IEP mengatakan, Indonesia memang memiliki inflasi lebih rendah dari negara selevel lainnya di ASEAN. Inflasi nasional juga diperkirakan akan kembali menurun dalam jangka waktu menengah atau 2-3 tahun lagi. ”Namun, ada risiko besar yang harus diwaspadai. Bagaimana problem ini ditangani akan memiliki implikasi signifikan pada kondisi dunia usaha dan konsumsi rumah tangga Indonesia tahun depan,” katanya. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Industri Johnny Darmawan, Minggu (18/12) mengatakan, seiring gejolak ekonomi global yang berlanjut, tekanan pada sektor usaha dalam negeri sulit dihindari tahun depan. Apalagi, mengingat dua pertiga bahan baku dan penolong industri domestik masih berasal dari impor. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023