Industri Keramik Minta Penundaan Zero Odol
JAKARTA, ID – Pengusaha industri keramik meminta pemerintah menunda penerapan Zero Over Dimension and Overload (Zero Odol) atau kebijakan bebas truk kelebihan muatan dan dimensi, dari rencana diberlakukan awal 2023 menjadi 2025. Kebijakan tersebut akan menyebabkan ongkos angkut melonjak 240% dan berdampak pada kenaikan harga jual keramik 20%, sehingga menghambat pertumbuhan industri keramik tahun depan. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengharapkan dukungan dan atensi pemerintah untuk menunda pelaksanaan Zero Odol di awal 2023 ke 2025. Pemberlakuan aturan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga jual keramik minimal 20%, dan dengan kondisi daya beli masyarakat yang turun saat ini, bisa dipastikan kenaikan harga tidak bisa diserap oleh pasar,” kata Ketua Umum Asaki Edy Suyanto dalam keterangan resminya, Senin (12/12/2022). Selain itu, kebijakan tersebut akan memicu kenaikan harga properti nasional. Pasalnya, kenaikan ongkos angkut karena kebijakan Zero Odol juga terjadi di industri semen, kaca, beton ringan, dan lainnya. Dalam kajian Asaki, lanjut dia, dibutuhkan tambahan 12 ribu unit truk baru untuk pemberlakuan Zero Odol tersebut. Hal ini justru dikhawatirkan menimbulkan permasalahan baru, yakni akan menambah kemacetan dan tingkat polusi. (Yetede)
Postingan Terkait
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Penindakan Hukum Zero ODOL
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023