Harga Batubara Terus Membara
Sejak awal Januari hingga 10 Oktober 2022, indeks sektor energi melesat 75,30%, jauh di atas sektor mana pun. Pada periode yang sama, IHSG hanya naik 6,2%. Kalangan analis merekomendasikan hold saham batu bara dan buy untuk saham batu bara berkinerja fundamental bagus dan memiliki manajemen dengan good corporate governance (GCG) yang baik. Meski demikian, ancaman resesi ekonomi global tetap perlu diwaspadai. Sebab, resesi bisa menurunkan permintaan energi, termasuk minyak dan batu bara. Hal lain yang perlu dicermati adalah terjadinya konvergensi kebijakan moneter ketat setelah negara-negara maju dan negara-negara berkembang terpolarisasi guna menentukan nasibnya sendiri-sendiri untuk bertahan. Kondisi ini memicu ketidakpastian yang lebih panjang. Direktur Eksekutif APBI, Hendra Sinadia mengungkapkan, harga batu bara masih di level yang kuat, bahkan hingga tahun depan. “Seperti hukum ekonomi, harga menguat karena faktor supply dan demand. Menurut Hendra, permintaan batu bara relatif kuat. Meski secara keseluruhan lebih rendah dari estimasi awal, permintaan tahun ini diperkirakan lebih tinggi dari realisasi tahun silam. Hendra Sinadia menjelaskan, langkah negara-negara Eropa mengoperasikan kembali pembangkit batu bara telah mengerek permintaan terhadap ‘emas hitam’ global.
Harga batu bara acuan
(HBA) pada Oktober 2022 terdongkrak US$ 11,75 per ton menjadi US$ 330,97 per ton dibanding
posisi September di level US$
319,22 per ton.
Berdasarkan data Kementerian
ESDM, kenaikan HBA Oktober
dipengaruhi naiknya rata-rata
indeks bulanan penyusunan HBA,
yaitu ICI naik 3,63%, Platts naik
4,41%, GNCC naik 3,98%, dan
NEX naik 3,08%. Selain naiknya
rata-rata indeks, negara-negara
Eropa seperti Jerman, Belanda,
dan Belgia telah menghidupkan
kembali pembangkit batu baranya
sebagai dampak pemangkasan
pasokan gas oleh Rusia. Faktor
lainnya adalah kebocoran jaringan
gas di Laut Baltik yang membuat
pasokan gas menurun, sehingga
harganya melonjak.
Catatan Investor Daily menunjukkan, pergerakan HBA pada Oktober merupakan yang tertinggi
sejak awal 2022. Nilai tertinggi
sebelumnya terjadi pada Juni.
Saat itu, HBA terkerek hingga
menyentuh US$ 323,91 per ton.
Faktor geopolitik Eropa sebagai
imbas konflik Rusia - Ukraina dan
krisis listrik di India akibat gelombang hawa panas masih menjadi
faktor utama pengerek harga batu
bara. Setelah itu, HBA cenderung
fluktuatif. HBA Agustus ada di
angka US$ 321,59 per ton dan
September di posisi US$ 319,22
per ton.
Bertahan Sampai 2023
Di sisi lain, analis energi, Komaidi Notonegoro
mengemukakan, harga batu bara
yang kini melambung diprediksi
akan tetap bertahan hingga tahun
2023, saat dunia didera resesi ekonomi. (Yoga)
Tags :
#Batu BaraPostingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023