Gairah Alih Sepeda Motor Bensin ke Listrik
Penggemar otomotif mulai ramai mengkonversi mesin sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi listrik. Performa sepeda motor listrik yang tak kalah galak dibanding mesin bensin menjadi pemicunya. Namun biaya tinggi masih menjadi ganjalan konversi itu.
Melalui media sosial Instagram dan YouTube, Den Dimas, vlogger otomotif ternama di Indonesia, memamerkan sepeda motor barunya, dua pekan lalu. Sepeda motor sport berkelir putih dan kuning itu ia geber di jalan raya tanpa suara bising knalpot khas sepeda motor balap. Bahkan sepeda motor Dimas tak memiliki knalpot. Suara berdesing justru terdengar saat Dimas menarik gas sepeda motor Suzuki GSX-R yang sudah menanggalkan tangki bensin dan mesin berkapasitas 150 cc. Sebagai gantinya, baterai berkapasitas 6,5 kWh dan motor listrik ditancapkan ke rangka GSX-R.
Dalam video yang diunggah di YouTube, Dimas menyebutkan performa sepeda motor yang kini ia beri nama GSX-E itu jauh lebih bertenaga. Berbekal tiga pilihan mode berkendara, Dimas bisa mengatur seberapa galak tarikan sepeda motornya. Kepada Tempo, Dimas mengatakan proses pengerjaan konversi mesin dilakukan 3-4 bulan. Berbeda dari kebanyakan orang yang mengejar kemudahan dan efisiensi sepeda motor listrik, Dimas memilih performa tinggi. Walhasil, kini sepeda motor GSX-E miliknya menjadi lebih kencang dibanding versi aslinya. "Karena sepeda motor listrik itu bisa lebih cepat dibanding sepeda motor yang berbahan bakar bensin," tutur pemilik akun Instagram @buburayamracer itu. Soal biaya, tutur Dimas, ongkos konversi mesin bensin ke setrum tak bisa dipukul rata, tergantung spesifikasinya. Konversi versi sederhana bisa mencapai belasan hingga 20 jutaan rupiah. Sementara itu, jika menginginkan perubahan mesin listrik dengan kinerja kencang, biaya yang diperlukan akan bertambah. "Kemarin aku bisa (menghabiskan ongkos) di atas Rp 40 juta. Mungkin Rp 50 juta bisa. Itu semua tergantung pilihan. Intinya, performa mempengaruhi harga."
Berbeda dengan Dimas, Guruh memilih mesin listrik yang tak terlalu kencang untuk dibenamkan ke sepeda motor tua miliknya, Honda C70. Baru enam bulan lalu, Guruh, yang berdomisili di Kabupaten Bogor, menyulap sepeda motor tua peninggalan ayahnya menjadi sepeda motor kekinian. Soal biaya konversi, Guruh tak mau menyebutkan secara jelas. "Ya, bisalah untuk beli skuter matik baru," kata pria berusia 36 tahun. Guruh merasa harga tersebut sepadan dengan sensasi berkendara yang ia dapatkan. Menurut dia, sepeda motor tua berkelir merah miliknya jadi lebih nyaman dikendarai. Selain itu, sepeda motornya kini jadi pusat perhatian. "Banyak orang yang melihat dan penasaran dengan sepeda motor yang saya pakai. Nyentriklah," ujarnya. Sementara itu, Aditya, pemilik bengkel listrik Mandhasia Garage, mengaku sudah mengkonversi puluhan mesin sepeda motor kliennya. Pandemi Covid-19 justru menjadi momentum bengkelnya mendapat banyak pesanan konversi mesin listrik. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023