BISNIS E-DAGANG YANG SEDANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA
Head of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira dalam pernyataan pers, Senin (19/9) di Jakarta, menjelaskan, keputusan PHK merupakan langkah terakhir yang ditempuh perusahaan setelah ada penyesuaian kebijakan bisnis. Proses itu dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan dengan tambahan satu bulan gaji. Karyawan yang terdampak juga masih dapat memakai fasilitas asuransi kesehatan perusahaan hingga akhir tahun dengan seluruh manfaatnya. ”Kondisi ekonomi global kini menuntut kami agar lebih cepat beradaptasi dan mengevaluasi prioritas bisnis sehingga lebih efisien. Kami ingin memperkuat dan memastikan kegiatan operasional perusahaan kami stabil di situasi ekonomi sekarang,” ujar Radynal.
Mengutip Business Insider, salah satu pendiri Sea Limited (induk Shopee), Forrest Li, pekan lalu, mengatakan, manajemen akan memperketat pengeluaran selain mengurangi operasi dan melakukan PHK. Menurut laporan keuangan Sea Limited, Shopee melaporkan kerugian 931,2 juta USD pada triwulan II-2022, meningkat signifikan dari kerugian bersih 433,7 juta USD pada triwulan II-2021. Shopee diluncurkan di tujuh pasar Asia Tenggara pada tahun 2015 dan beroperasi di beberapa negara, seperti di kawasan Eropa, Amerika Latin, dan China. Beberapa pesaing utamanya, yaitu Alibaba, Lazada, JD (di Indonesia JD.ID), dan Tokopedia, telah melakukan restrukturisasi bisnis yang di dalamnya menyangkut pengurangan karyawan pada Juni 2022.
Di ranah bisnis e-dagang khusus grosir daring, selain Happy Fresh dan Traveloka Mart, masih ada sejumlah pemain lama, seperti SayurBox (yang juga melakukan efisiensi pada Juli 2022), TaniHub (menghentikan kegiatan operasional dua gudang dan melakukan PHK pada Mei 2022), dan Brambang (pivot jadi lokapasar gawai dan produk elektronik pada Mei 2022). Kemudian, ranah bisnis e-dagang khusus quick commerce (e-dagang yang mengirim barang supercepat) ikut terjadi pemangkasan karyawan, di Getir, Gorillas, dan Zapp. Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira, berpendapat, daya beli masyarakat setelah pandemi Covid-19 berubah karena inflasi naik. Baik belanja luring maupun daring sama-sama terdampak. Warga cenderung memilih untuk berhemat. (Yoga)
Postingan Terkait
Kemenaker Siaga Hadapi Gelombang PHK
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023