;

MASYARAKAT BERHEMAT HADAPI KENAIKAN HARGA BBM

Lingkungan Hidup Yoga 20 Sep 2022 Kompas
MASYARAKAT
BERHEMAT
HADAPI
KENAIKAN
HARGA
BBM

Kenaikan harga BBM memberi dampak luas kepada seluruh lapisan penduduk Indonesia, baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan. Kenaikan harga BBM juga berdampak ke aspek komoditas, mulai dari kalangan produsen, distributor, hingga konsumen. Kondisi ini menyebabkan terjadinya rentetan peristiwa penyesuaian harga akibat peningkatan biaya BBM yang berperan dalam proses produksi ataupun distribusi. Sektor ekonomi di bidang transportasi dan distribusi adalah yang paling cepat terdampak. Tarif kendaraan umum mengalami kenaikan. Di beberapa kota, jamak ditemukan selebaran yang ditempelkan di pintu-pintu bus atau angkot untuk memberi tahu penumpang bahwa harga baru angkutan umum mulai diberlakukan. Efek domino berikutnya menyentuh harga kebutuhan pokok serta harga barang dan jasa lainnya. Sayangnya, pendapatan masyarakat tidak serta-merta naik menyesuaikan harga-harga baru yang berlaku. Situasi demikian menuntut setiap orang untuk melakukan penyesuaian anggaran belanja.

6 dari 10 responden survei Kompas menyatakan bahwa mereka melakukan penghematan untuk beradaptasi dengan dampak kenaikan harga BBM. Masyarakat perkotaan di region Sumatera dan juga luar Sumatera dan Jawa lebih banyak yang berhemat dibandingkan dengan penduduk perkotaan di wilayah Jawa. Secara tidak langsung, hal ini mengindikasikan bahwa dampak kenaikan harga BBM bisa dikatakan lebih terasa bebannya bagi penduduk perkotaan di luar wilayah Pulau Jawa. Penduduk desa yang sudah mengeluhkan dampak kenaikan harga BBM sebagian besar berasal dari region Sumatera. Warga perdesaan di Sumatera yang merespons kondisi sekarang secara biasa saja ada 3 dari 10 responden. Artinya, 70 persen lainnya merasa tidak biasa atau cenderung berat dengan penyesuaian harga-harga sekarang.

Secara keseluruhan, dari hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa segenap lapisan masyarakat tampak  sedang berhemat. Responden perkotaan yang menyatakan berhemat dalam menyikapi situasi sekarang sebanyak 65 %, sedangkan responden perdesaan yang menyatakan sikap serupa sebesar 58,5 %. Perbedaan tingkat penghematan ini salah satunya akibat perbedaan pola konsumsi masyarakat kota dan desa dalam memenuhi kebutuhan makanan ataupun non makanan. Bagi warga kota, berhemat menjadi langkah untuk memenuhi biaya hidup yang lebih tinggi. Skala prioritas harus disusun, anggaran belanja selain pangan sedapat mungkin dikurangi supaya anggaran belanja makanan dan kebutuhan pokok tidak terganggu. Efisiensi belanja adalah langkah paling masuk akal agar mampu bertahan melewati masa sulit ini. Meskipun bagi sebagian kalangan masyarakat dengan anggaran belanja yang begitu mepet, opsi berhemat menjadi suatu kemewahan. (Yoga)


Tags :
#BBM #Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :