Ledakan Informalisasi Kerja
Berdasarkan data BPS, jumlah pekerja informal naik dari 75,5 juta orang sebelum pandemi (Februari 2020) menjadi 77,68 juta orang di awal pandemi (Agustus 2020). Pada Februari 2021, jumlah pekerja informal naik lagi menjadi 78,14 juta orang. Jumlah tersebut kemudian sempat turun tipis pada Agustus 2021 menjadi 77,91 juta orang. Fenomena meningkatnya pekerja informal di awal pandemi itu bisa dipahami sebagai respons atau siasat menghadapi krisis. Saat itu, lowongan kerja di sektor formal memang terbatas. Berbagai sektor usaha masih terpuruk sehabis diterjang gelombang Covid-19. Akan tetapi, pada Februari 2022, ketika pertumbuhan ekonomi kembali menguat selama dua triwulan berturut-turut di kisaran 5 %, jumlah pekerja di sektor informal justru meledak.
BPS mencatat, ada 81,33 juta pekerja informal pada Februari 2022, bertambah 3,19 juta orang dibanding tahun sebelumnya. Jumlah pekerja informal ini bertambah 5,83 juta orang dibandingkan kondisi sebelum pandemi (Februari 2020). Alih-alih mereda, tren informalisasi kerja justru kian menjadi-jadi. Hasil olahan terhadap data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2022 oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menunjukkan, dalam satu tahun terakhir, ada 4,55 juta tenaga kerja baru yang terserap di pasar kerja. Namun, 70,1 % (3,19 juta orang) masuk ke sektor informal. Informalisasi kerja yang meledak justru ketika perekonomian berada di jalur pertumbuhan positif itu menunjukkan adanya problem struktural yang lebih mendasar. Anomali ini juga mencerminkan realitas bahwa pertumbuhan ekonomi 5 % yang dicapai selama dua triwulan terakhir ini sebenarnya belum cukup berkualitas.
Ekonom Indef, Abdul Manap Pulungan, mengatakan, ledakan informalisasi itu tidak lepas dari gejala deindustrialisasi dini selama 15 tahun terakhir ini. Total kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional terus menurun. Pada triwulan I- 2022, kontribusi sektor pengolahan 19,19 %, turun dari 19,83 % pada tahun sebelumnya. Meskipun nilai investasi di sektor sekunder naik dan indeks manufaktur selalu ekspansif, sektor pengolahan sebenarnya tengah lesu. Naik turunnya dinamika perekonomian global dan krisis rantai pasok dunia yang tak berkesudahan ikut berdampak pada ketidakyakinan perusahaan untuk kembali membuka rekrutmen tenaga kerja baru dalam skala besar. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Mencontoh Negara Lain Melindungi Pekerja Gig
Kemenaker Siaga Hadapi Gelombang PHK
Perllindungan terhadap Semua Pekerja
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023