Daya Beli Pasca-Lebaran
Pelonggaran aktivitas pada libur Lebaran 2022 membawa berkah bagi perekonomian. Belanja masyarakat, jumlah uang beredar, dan omzet para pelaku usaha di berbagai sektor meningkat. Jumlah uang beredar selama Lebaran diperkirakan Rp 250 triliun. Dilihat dari realisasi penarikan tunai saja, jumlahnya cukup besar. BI mencatat, realisasi penarikan uang tunai pada periode Ramadhan dan Lebaran 2022 mencapai Rp 180,2 triliun, tumbuh 16,6 % dibandingkan periode yang sama tahun 2021 sebesar Rp 154,5 triliun. Indeks belanja sepanjang Ramadhan 2022 juga meningkat cukup signifikan. Mandiri Institute mencatat, per 1 Mei 2022, indeks belanja secara nasional 179,4 %, tumbuh 31 % dibandingkan Ramadhan 2021. Geliat ekonomi hari raya itu akan menjaga tren positif pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2022. Kemenko Bidang Perekonomian memperkirakan, perekonomian pada triwulan tersebut tumbuh 3,5-4 % ditopang konsumsi selama Ramadhan-Lebaran 2022. Pada triwulan I-2022, perekonomian Indonesia tumbuh 5,01 % secara tahunan. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,34 persen secara tahunan menjadi salah satu penopang. Namun, jika dibandingkan dengan triwulan IV-2021, pertumbuhannya hanya 0,19 %. Hal itu menunjukkan konsumsi rumah tangga yang mencerminkan daya beli masyarakat belum pulih total. Kendati akan menjadi sumber pertumbuhan pada triwulan II-2022 lantaran efek geliat konsumsi pada Ramadhan-Lebaran, konsumsi rumah tangga pasca-Lebaran tetap perlu diperhatikan.
Setelah Lebaran, dompet sebagian besar masyarakat kembali berkurang drastis. THR dan dana BLT hanya ”numpang lewat”. Dengan kondisi itu, masyarakat masih harus berhadapan dengan tahun ajaran baru 2022/2023. Banyak biaya yang perlu ditanggung, antara lain uang gedung, buku pembelajaran, dan seragam. Selain itu, masyarakat juga masih dihadapkan pada kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan energi. Harga minyak goreng curah, misalnya, masih tinggi, rata-rata Rp 17.000 per liter atau di atas HET Rp 14.000 per liter atau Rp 15.500 per kg. Begitu pula harga minyak goreng kemasan yang rata-rata masih di atas Rp 23.000 per liter. Harga gandum atau tepung terigu juga terus bergerak naik. Harga gandum atau tepung terigu di kisaran Rp 11.500-Rp 12.000 per kg. Begitu juga dengan harga kedelai impor yang menembus Rp 14.100 per kg, jauh di atas harga psikologisnya yang maksimal Rp 12.000 per kg. Survei Konsumen BI menunjukkan keyakinan konsumen terhadap perekonomian nasional membaik. Namun, indeks ekspektasi kondisi ekonomi (IEK) turun. IEK April 2022 tercatat 127,2, lebih rendah dari Maret 2022 sebesar 128,1. Melemahnya ekspektasi konsumen ini disebabkan penurunan ekspektasi konsumen terhadap kondisi usaha, penghasilan, dan ketersediaan lapangan kerja ke depan. Oleh karena itu, daya beli masyarakat pasca-Lebaran tetap perlu dijaga, terutama kelas bawah. Beberapa langkah yang dapat digulirkan adalah menggeliatkan sektor informal, kembali memberikan perlindungan sosial, dan menumbuhkan lapangan kerja padat karya. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Transformasi Digital Dorong Perluasan Retail
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023