;

Uji Ketahanan Manufaktur

Ekonomi Yoga 05 Jan 2022 Kompas
Uji Ketahanan Manufaktur

Ketidakpastian global akibat varian baru Omicron, rencana tapering off Bank Sentral Amerika Serikat, dan gangguan rantai pasok kembali menguji resiliensi industri pada tahun 2022. Purchasing Managers’ Index (PMI Manufaktur) oleh IHS Markit memantul ke zona ekspansif, sektor manufaktur berkontribusi terbesar,  77,16 %  total nilai ekspor nasional Januari-Oktober 2021 mencapai 186,32 miliar dollar AS.

Faktor  penentu daya lenting manufaktur 2021, Pertama, pemberlakukan Izin Operasional Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI), yang mengatur industri bisa melakukan kegiatan terbatas di tengah pandemi dengan prokes ketat. Kedua, diskon PPnBM Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) 100 % untuk kendaraan bermotor tertentu. Penjualan mobil naik signifikan sejak diterapkan Maret 2021. Ketiga, disrupsi rantai pasok dunia berbulan-bulan. Suplai bahan baku impor yang terhambat membuat industri hilir berpaling ke produsen lokal untuk bahan baku. Meski daya lenting sektor manufaktur teruji melewati tahun berat, ketidakpastian  membayang, karena pandemi belum usai, terutama setelah merebaknya varian baru Omicron yang sudah masuk Indonesia dan di level global menyebabkan lonjakan kasus tinggi. Industri manufaktur juga dihantui rencana Bank Sentral AS (The Fed) melakukan tapering off atau kurangi stimulus moneternya, berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah, dan memberatkan industri yang bergantung bahan baku impor, khususnya yang berorientasi pasar domestik. Imbasnya biaya produksi yang bertambah, bisa menekan daya saing ekspor. Harga pengiriman kargo (freight cost) ekspor melonjak hingga ratusan % dan domestik puluhan %. Penguatan struktur industri dalam negeri terukur diperlukan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor, tanpa bersikap protektif dan menutup diri. (Yoga)


Tags :
#Ekonomi
Download Aplikasi Labirin :