Batu Bara
( 291 )Mengungkit Daya Saing Tambang Indonesia
Di tengah mengilapnya pamor komoditas energi global pada saat ini, Indonesia masih berjibaku untuk mencapai target produksi ‘emas hitam’ nasional. Target produksi batu bara pada tahun ini sebesar 663 juta ton. Adapun, pasokan batu bara untuk kebutuhan domestic market obligation (DMO) dipatok 165,7 juta ton, atau lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sebesar 133 juta ton. Target tersebut digadang-gadang dapat tercapai oleh para pemangku kepentingan di sektor mineral dan batu bara (minerba). Harapan yang sedemikian besar ini menjadi lumrah setelah pada 2021, produksi batu bara tidak mencapai target.
Belum lama ini, lembaga riset Fitch Solutions kembali menyatakan bahwa sektor tambang di Indonesia kurang kompetitif dibandingkan dengan negara produsen tambang di Asia Pasifik. Salah satu penyebab rendahnya daya saing adalah ketidakpastian hukum.
Astra International Tinggalkan Batubara
Sejalan dengan strategi keberlanjutan, dengan kian peduli pada lingkungan yang bersih dan hijau, Grup Astra Internasional terus mengembangkan sumber energi baru terbarukan. ”Kami mulai meninggalkan batubara, termasuk tak lagi menambah investasi di bidang ini,” kata Dirut PT Astra International Tbk. Djony Bunarto Tjondro dalam pertemuan dengan pimpinan redaksi media yang tergabung dalam Kompas Gramedia (KG), Senin (6/6), secara daring di Jakarta. (Yoga)
Mengalap Peluang Krisis Listrik India
Krisis listrik yang melanda India turut mengangkat harga batubara. Ini tercermin dari harga batubara acuan (HBA) Juni 2022 yang naik 17% per ton menjadi US$ 323,91 per ton.
Menurut Kementerian ESDM, pemerintah India telah meningkatkan jumlah impor batubara, seiring ketatnya suplai batubara dari produsen domestik untuk pembangkit listriknya. Selain itu, kenaikan HBA Juni juga dipengaruhi kebutuhan batubara China. Direktur Utama PT Harum Energy Tbk (HRUM) Ray Antonio Gunara tak menampik, krisis listrik di India menjadi peluang bagi HRUM untuk menggenjot penjualan ke negara tersebut. Dalam beberapa tahun ke belakang, HRUM tidak melakukan penjualan ke India. Ke depan, HRUM terus menjajaki peluang peningkatan ekspor ke India.
Harga Batu Bara Tembus US$ 323,91 Per Ton
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juni 2022 sebesar US$ 323,91 per ton. HBA terus mencetak rekor tertinggi sejak tahun lalu. Kondisi geopolitik menjadi salah satu faktor terus menguatnya harga batu bara. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan HBA Juni naik US$ 48,27 per ton dibandingkan Mei kemarin yang berada di level US$ 275,64 per ton. Agung menuturkan krisis listrik yang menimpa India akibat gelombang hawa panas turut mengerek permintaan batu bara Indonesia. Pemerintah India telah meningkatkan jumlah impor batu bara dikarenakan ketatnya suplai batu bara dari produsen domestik untuk pembangkitan listriknya. "Permintaan mereka juga naik lantaran PLTU disana mulai menumpuk stok batu bara untuk musim gugur. Apalagi adanya kebijakan penghapusan pajak impor batu bara di Tiongkok selama 9 bulan ke depan." jelasnya. (Yetede)
RENCANA ENTITAS KHUSUS BATU BARA : Kadin Beri Dukungan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mendukung upaya pembentukan lembaga atau entitas khusus batu bara yang bakal diimplementasikan pada Juni 2022. Entitas khusus itu rencananya bakal menarik iuran batu bara dari setiap penjualan bahan baku energi itu setelah harga dilepas pada mekanisme pasar. Iuran itu dialihkan untuk menambal harga yang dibayarkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang menggunakan patokan terkini US$70 per ton. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan organisasinya mendukung pembentukan entitas khusus batu bara untuk menjamin pasokan bahan baku energi di dalam negeri. “Kami mendukung adanya entitas khusus batu bara untuk menyelesaikan permasalahan yang ada,” kata Arsjad melalui pesan singkat, Senin (23/5). Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan kementeriannya masih melakukan sejumlah pembahasan tentang rencana penetapan entitas khusus. Kendati demikian, Ridwan memastikan, entitas khusus batu bara itu bakal berlaku sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan bersama dengan DPR.
Mei 2022, Harga Batubara Indonesia Turun
Harga batubara acuan Mei 2022 turun menjadi 275,64 USD per ton dari sebelumnya 288,4 USD per ton pada April 2022. Menurut Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam siaran pers, Jumat (13/5), penurunan harga disebabkan China dan India meningkatkan produksi sembari mengurangi impor. (Yoga)
Investasi Gasifikasi Batubara Didorong
Presiden Jokowi bertemu dengan Chairman sekaligus CEO Air Products Seifi Ghasemi di sela-sela lawatannya menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-Amerika Serikat di Washington DC, AS, Kamis (12/5). Dalam pertemuan ini, Presiden meminta agar investasi gasifikasi batubara oleh perusahaan itu di Indonesia dilanjutkan. Akhir November 2021 ditandatangani nota kesepahaman komitmen investasi Air Products senilai 15 miliar dollar AS. (Yoga)
MNC Sekuritas: Saham Dian Swastatika Makin Prospektif
Senior Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memprediksi, secara moving average convergence divergence (MACD), saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) makin prospektif dan berpeluang menguatkan ke area positif. MCN Sekuritas melihat, dari sisi teknikal pergerakan DSSA sedang dalam fase kecenderungan menurun (downtrend) dengan volume yang cenderung kecil. Seorang analis yang akrab dipanggil Didit pun menginformasikan, pelaku pasar dapat bertahan untuk tidak menjual saham DSSA dengan memperhatikan level support Rp27.800 dan resistance Rp34.000. Keputusan DSSA mengakuisisi perusahaan tambang Australia turut dinilai sebagai langkah tepat oleh Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar. "Aksi korporasi ini akan memberikan dampak positif, mengingat dalam beberapa tahun kedepan komoditas batu bara akan tetap mempunyai nilai ekonomi tinggi. Potensi keuntungan dan nilai tambah akan tetap besar karena Australia dikenal sebagai negara produsen besar batu bara berkualitas tinggi," jelas Bisman kepada Investor Daily. (Yetede)
MNC Sekuritas: Saham Dian Swastatika Makin Prospektif
Senior Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memprediksi, secara moving average convergence divergence (MACD), saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) makin prospektif dan berpeluang menguatkan ke area positif. MCN Sekuritas melihat, dari sisi teknikal pergerakan DSSA sedang dalam fase kecenderungan menurun (downtrend) dengan volume yang cenderung kecil. Seorang analis yang akrab dipanggil Didit pun menginformasikan, pelaku pasar dapat bertahan untuk tidak menjual saham DSSA dengan memperhatikan level support Rp27.800 dan resistance Rp34.000. Keputusan DSSA mengakuisisi perusahaan tambang Australia turut dinilai sebagai langkah tepat oleh Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar. "Aksi korporasi ini akan memberikan dampak positif, mengingat dalam beberapa tahun kedepan komoditas batu bara akan tetap mempunyai nilai ekonomi tinggi. Potensi keuntungan dan nilai tambah akan tetap besar karena Australia dikenal sebagai negara produsen besar batu bara berkualitas tinggi," jelas Bisman kepada Investor Daily. (Yetede)
MNC Sekuritas: Saham Dian Swastatika Makin Prospektif
Senior Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memprediksi, secara moving average convergence divergence (MACD), saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) makin prospektif dan berpeluang menguatkan ke area positif. MCN Sekuritas melihat, dari sisi teknikal pergerakan DSSA sedang dalam fase kecenderungan menurun (downtrend) dengan volume yang cenderung kecil. Seorang analis yang akrab dipanggil Didit pun menginformasikan, pelaku pasar dapat bertahan untuk tidak menjual saham DSSA dengan memperhatikan level support Rp27.800 dan resistance Rp34.000. Keputusan DSSA mengakuisisi perusahaan tambang Australia turut dinilai sebagai langkah tepat oleh Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar. "Aksi korporasi ini akan memberikan dampak positif, mengingat dalam beberapa tahun kedepan komoditas batu bara akan tetap mempunyai nilai ekonomi tinggi. Potensi keuntungan dan nilai tambah akan tetap besar karena Australia dikenal sebagai negara produsen besar batu bara berkualitas tinggi," jelas Bisman kepada Investor Daily. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022







