Investasi Asing
( 262 )Investasi Pajak Mini Pendorong Investasi Asing
Pemerintah terus berupaya memikat investor dengan aneka fasilitas. Terbaru, pemerintah menabur fasilitas pajak mini investor asing, baik itu investasi investor asing di portofolio maupun yang investasi langsung.
Pertama, tarif pajak penghasilan (PPh) atas bunga obligasi sebesar 10%. Tarif ini turun dari kebijakan sebelumnya sebesar 20%. Insentif ini berlaku atas penghasilan bunga obligasi yang diterima wajib pajak luar negeri (WPLN), selain bentuk usaha tetap (BUT).
Berlaku 2 Agustus 2021, aturan yang merupakan turunan ini UU tentang Cipta Kerja ini dijabarkan di Peraturan Pemerintah (PP) No 9/2021 tentang Perlakuan Perpajakan Untuk Mendukung Kemudahan Berusaha.
Selain PPh bunga obligasi, pemerintah juga memberikan insentif kedua berupa tarif PPh final sebesar 7,5% atas dividen yang diterima pihak ketiga alias investor yang bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) alias Indonesia Investment Authority (INA).
Di aturan sebelumnya, dividen yang diterima investor asing dari luar negeri (PPh Pasal 26) sebesar 20%, mengikuti ketentuan perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B) dengan tarif di 10% -15%.
Direktur Eksekutif Pratama- Kreston Tax Research Institute Prianto Budi Saptono menilai, penurunan PPh bunga obligasi mempermudah administrasi pembayaran pajak SPLN. Tapi fasilitas ini tak signifikan menarik investor asing beli obligasi di pasar.
Modal Asing Banjiri Pasar Keuangan dalam Negeri
Bank Indonesia (BI) melihat, aliran modal asing yang masuk ke dalam negeri pada tahun ini bakal lebih besar. Gubernur Bl Perry Warjiyo memprediksi, aliran modal asing ke Indonesia mencapai US$ 19,1 miliar pada tahun 2021. Nilai itu lebih tinggi daripada tahun 2020 lalu yang sebesar USS 11 miliar.
Menurut Perry, hal tersebut didukung oleh beberapa hal. Pertama, Federal Reserve (The Fed) yang diyakini masih akan menempuh tren suku bunga rendah. The Fed juga diyakini masih akan memberlakukan kebijakan likuiditas yang longgar.
Komitmen Investasi Asing di LPI Capai Rp 84,5 Triliun
Lembaga Pengelola Investasi (LPI) pengelola dana abadi investasi yang pembentukannya tengah disiapkan pemerintah, telah mengantongi komitmen investasi total Rp 84,5 triliun dari Amerika Serikat dan Jepang. Dengan adanya komitmen investasi, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja telah mendapatkan respons positif dari berbagai lembaga internasional. Pasalnya, UU Cipta Kerja dinilai sebagai upaya reformasi besar yang dilakukan Indonesia untuk menyederhanakan regulasi dan prosedur berinvestasi. Sehingga, UU ini diharapkan dapat mempermudah proses perizinan, mengurangi biaya berusaha, dan memberikan kepastian hukum dalam kegiatan perdagangan.
UU Cipta Kerja bermanfaat besar dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional dan membawa Indonesia mampu bersaing di kancah perekonomian global. Saat ini pemerintah masih menyelesaikan rancangan peraturan pemerintah (RPP) turunan Undang-Undang CIpta Kerja yang menjadi dasar pembentukan LPI tersebut. LPI dapat mengurangi ketergantungan Indonesia dalam menggunakan dana jangka pendek untuk pembiayaan investasi. LPI bertujuan mengelola dana investasi yang berasal dari luar negeri sebagai sumber pembiayaan dan kurangi ketergantungan dana jangka pendek.
Google dan Temasek Sah masuk Tokopedia
Kabar start up e-commerce, Tokopedia kembali mendapatkan suntikan dana terjawab sudah. Akhirnya, CEO Co-Founder Tokopedia William Tanuwijaya menjawab kabar investasi Google dan perusahaan investasi Temasek Holdings.
“Kami sangat senang menyambut Temasek dan Google sebagai pemegang saham Tokopedia. Kami merasa terhormat dan berterima kasih atas kepercayaan dan dukungan mereka kepada Tokopedia dan Indonesia,” kata William dalam unggahan yang diberi judul Generasi Transformasi.
Sebelumnya, pada pemberitaan Bloomberg, Senin (26/10), Google dan Temasek dikabarkan menyuntikkan dana ke Tokopedia dengan total nilai US$ 350 juta. Angka tersebut setara Rp 5,11 triliun (kurs Rp 14.600 per dollar AS).
Mengutip Asia.nikei.com, Sabtu (14/11), Google memiliki 1,6% saham Tokopedia. Adapun Anderson Investments yang terafiliasi dengan Temasek mengempit 3,3% saham. Data itu mengacu dokumen Ditjen Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, pada 4 November 2020.
Saat ini, saham Tokopedia yang dipegang Google bernilai US$ 1,1 juta atau Rp 16,7 miliar. Sedangkan saham yang dimiliki Anderson (Temasek) bernilai Rp 33,4 miliar. Perlu dicatat, angka tersebut adalah total keseluruhan nilai saham yang dimiliki Google dan Anderson di Tokopedia.
Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Bima Laga menilai, perkembangan start-up di Indonesia masih cukup menarik bagi investor. Hal itu didorong potensi pasar digital di Indonesia yang masih sangat besar. Sederet keunggulan Indonesia seperti potensi bonus demografi dengan populasi milenial yang tinggi. Maklumlah, kelompok usia milenial dikenal akrab dengan dunia digital, sehingga investasi di dunia digital menjadi menarik.
Sebanyak 154 Perusahaan Siap Relokasi ke Indonesia
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan ada 154 perusahaan yang akan merelokasi investasinya ke Indonesia. Hal ini diklaim sebagai bukti bahwa iklim investasi di dalam negeri mulai membaik.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM Yuliot mengungkapkan, pemerintah terus melakukan pendekatan kepada pelaku usaha. “Di sini, terdapat 154 perusahaan yang merencanakan relokasi ke Indonesia. 154 perusahaan ini tentu ya kami melihat ini sudah positif,” ucap Yuliot dalam webinar bertajuk Peluang Mendorong Investasi Saat Pandemi, Senin (9/11).
Namun, ia tak menjelaskan lebih lanjut berapa potensi investasi dari 154 perusahaan yang hendak merelokasi investasinya di Indonesia. Yuliot juga tak merinci bergerak di sektor mana saja ratusan perusahaan itu.
Hal yang pasti, Yuliot mengklaim dengan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja akan membuat iklim investasi di Indonesia lebih baik. Pasalnya, perizinan usaha sudah disederhanakan dalam beleid itu. “Dengan perbaikan dan kemudahan-kemudahan investasi di UU Cipta Kerja, ini positif. Ini peluang besar,” jelasnya.
Potensi Ekonomi Digital Indonesia Masih Menarik
Nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$ 40 miliar pada tahun lalu dan berpotensi menyentuh US$ 133 miliar di tahun 2025. Pasalnya, Indonesia akan menguasai pasar digital di kawasan Asia Tenggara dengan potensi sumber daya yang besar dan jumlah populasi penduduk yang terus bertambah.
Segmen e-commerce dan marketplace dinilai tumbuh pesat, salah satu pemain utama e-commerce Indonesia, Tokopedia dilaporkan bakal mendapat kucuran dana US$ 350 juta atau Rp 5,1 triliun dari raksasa teknologi Google dan perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, Temasek Holdings.
Baru-baru ini, Sociolla juga meraih pendanaan senilai Rp 841 miliar dari Temasek, Pavilion Capital dan Jungle Ventures . Kabar teranyar, Bukalapak bakal mendapatkan suntikan dana dari Microsoft, meski belum gamblang berapa bocoran pendanaan yang diberikan.
Laporan Bloomberg menyebutkan Microsoft telah menyetujui investasi US$ 100 juta di Bukalapak. Namun CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin tak membeberkan secara spesifik berapa dana dari perusahaan raksasa software tersebut. Dalam program itu, Bukalapak akan mengadopsi Microsoft Azure sebagai platform cloud perusahaan.
Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Bima Laga menilai, perkembangan start-up di Indonesia masih cukup menarik bagi investor. Hal itu didorong potensi pasar digital di Indonesia yang masih sangat besar. Sederet keunggulan Indonesia seperti potensi bonus demografi dengan populasi milenial yang tinggi. Kelompok usia milenial dikenal akrab dengan dunia digital, sehingga investasi di dunia digital menjadi menarik.
Di samping itu, minat investor masuk perusahaan start-up tidak terlepas dari inovasi digital para pelaku usaha rintisan teknologi. “Kedua faktor ini menjadi alasan tren penyaluran dana dari investor ke perusahaan start-up masih banyak terjadi di tengah pandemic,” sebut Bima kepada KONTAN, Rabu (4/11).
Satu Perusahaan Korsel Relokasi dari RRT ke Pati
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan, satu perusahaan asal Korea Selatan dipastikan akan merelokasi pabriknya dari Dalian, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ke Pati Jawa Tengah. Total nilai investasi ini diperkirakan mencapai USS 35 juta. Kepastian relokasi ini merupakan hasil kunjungan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dan Menteri BUMN, Erick Tohir ke Korsel 23-24 September 2020 lalu. Dengan adanya relokasi ini akan menambah lapangan kerja baru sampai dengan 4.000 orang. Hal ini diharapkan dapat membantu perekonomian di tengah pandemi saat ini. PT Sejin Fashion Indonesia yang akan melakukan relokasi investasi ini bergerak dibidang industri garmen berorientasi ekspor. PT Sejin adalah anak perusahaan PT Parkland Co Ltd yang sudah 15 tahun menjalankan investasinya di Indonesia dibidang alas kaki. Selain menambah lapangan kerja relokasi investasi ini dapat meningkatkan devisa karena hasilnya 100% akan diekspor. Perusahaan meminta dukungan pemerintah berupa percepatan proses pemeriksaan teknis (survei) terhadap mesin barang modal tidak baru (BMTB), pengajuan permohonan penetapan lokasi pabrik sebagai kawasan berikat, dukungan dalma mendatangkan tenaga kerja asing, dan fasilitas permohonan insentif (tax allowance).
Persetujuan insentif (tax allowance) PT Sejin Fashion Indonesia menjadi tax allowance pertama yang BKPM terbitkan sejak pelimpahan kewenangan dari Kementerian Keuangan. CEO Parkland, Myeong-gyu optimis anak perusahaan akan berkembang di Indonesia karena Parklan selama ini menunjukkan hasil yang memuaskan.Presiden Direktur PT. Sejin menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap dukungan fasilitas yang diberikan oleh BKPM. Parklan adalah perusahaan asal Korea Selatan yang berdiri tahun 1973 di Busan, Korea Selatan dan telah memiliki pabrik di Indonesia sejak 2005 diantaranya di Serang-Banten, Jepara, Rembang dan Pati. Perusahaan ini memproduksi alas kaki dengan merk New Balance, Adidas dan Reebok.
BKPM Klaim 143 Relokasi Perusahaan dari Luar Negeri
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengklaim hingga saat ini ada 143 perusahaan asing yang berencana merelokasi usahanya ke Indonesia. Dari 143 perusahaan tersebut, terbagi menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama adalah tujuh perusahaan yang sudah memastikan melakukan relokasi investasi ke Indonesia, dengan lokasi usaha tersebar di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Sumatra Utara. Juru Bicara BKPM Tina Talisa menjelaskan, salah satu dari tujuh perusahaan tersebut sudah melakukan ground breaking di Subang Jawa Barat yaitu Meiloon Technology asal Taiwan.
Kelompok kedua adalah 17 perusahaan yang berencana melakukan relokasi investasi."Saat ini posisinya dalam tahap penjajakan 70%-80%, dan ada beberapa yang sudah penjajakan 90%," katanya kepada KONTAN, (20/9).
Kelompok ketiga sebanyak 117 perusahaan yang potensial merelokasi investasi ke Indonesia. Dengan demikian totalnya menjadi 143 perusahaan, yang mana negara-negara asal perusahaannya dari Amerika Serikat, Jepang Korea Selatan, Taiwan, dan China. Adapun realisasi investasi di Jawa sebesar Rp 208,9 triliun setara 51,9% dari total investasi Rp 402,6 triliun di semester I-2020.
Relokasi Pabrik Meiloon Technology Investasi USD 90 Juta
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Perusahaan asal Taiwan, Meiloon Technology yang merupakan satu dari tujuh perusahaan asing yang berencana merelokasi pabrik ke ke Indonesia, resmi merelokasi pabrik di Suzhuo, Tiongkok, ke Subang, Jawa Barat, dengan nilai investasi US$ 90 juta. Peresmian relokasi ini ditandai dengan peletakan batu pertama (ground breaking) yang dilaksanakan Selasa (21/7). Meiloon akan menghasilkan produk berorientasi ekspor serta berkomitmen memprioritaskan bahan lokal asal Jawa Barat dan Subang serta berpotensi menyerap tenaga kerja lokal hingga 8.000 orang lebih.
Bahlil menegaskan, ada beberapa perusahaan lain yang berencana merelokasi pabrik ke Indonesia. Pertama, PT Sagami Indonesia asal Jepang dengan nilai investasi US$ 50 juta, dengan alasan biaya pabrik dan tenaga kerja di Indonesia lebih kompetitif dari Tiongkok yang diperkirakan menyerap tenaga kerja hingga 6.500 orang, dengan lokasi investasi di Sumatera Utara dan menargetkan memulai produksi Januari 2021. Kedua, PT CDS Asia asal Amerika Serikat (AS), dengan investasi US$ 14 juta. Perusahaan ini merelokasi pabrik dari Xiamen Tiongkok, karena tarif bea masuk produk dari Indonesia ke AS 0%, dibandingkan tarif BM 25% dari Tiongkok ke AS. CDS Asia diperkirakan menyerap tenaga kerja hingga 3.500 dan fasilitas pabrik ada di Kawasan Industri Wijaya Kusuma Jawa Tengah. Ketiga, PT LG Elctronic Indonesia asal Korea Selatan dengan investasi hingga US$ 378 juta, dengan tingkat penyerapan tenaga kerja mencapai 6.010 orang. Keempat, PT Panasonic Manufacturing Indonesia asal Jepang yang berencana merelokasi pabrik US$ 30 juta dolar, dengan serapan tenaga kerja 1.940 orang. Selanjutnya, PT Denso Indonesia senilai US$ 138 juta, dengan penyerapan tenaga kerja lokal mencapai 1.050 orang, dan PT Kenda Rubber Indonesia asal Taiwan dengan total investasi US$ 150 juta dan serapan tenaga kerja 3.000 orang.
Sebelumnya, pemerintah telah menyiapkan 12.500 hektare (ha) lahan kawasan industri terpadu (KIT) yang akan ditawarkan kepada investor. Lahan yang ditawarkan tersebut masuk dalam 27 kawasan industri baru yang akan dikembangkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020- 2024. Menurut Dirjen KPAII, pihaknya tengah memetakan kawasan industri yang dikelola badan usaha milik negara (BUMN) agar siap menampung relokasi pabrik dari Tiongkok, termasuk KIT Batang yang lahannya dikelola PT Perkebunan Nusantara III (Persero).
143 Perusahaan Berpotensi Relokasi ke Indonesia
Direktur Pengembangan Promosi Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Alma Karma dalam Konferensi Tengah Tahun Institute for Development of Economics and Finance (Indef) secara virtual Selasa (21/7) mengungkapkan, 143 perusahaan berpotensi untuk merelokasi investasi ke Indonesia, di antaranya tujuh perusahaan sudah hampir pasti relokasi, 17 masih berniat, dan 119 perusahaan dinilai cukup potensial untuk merelokasi pabriknya ke Indonesia. Ia melanjutkan, terdapat 17 perusahaan yang memiliki intensi relokasi atau diversifikasi ke Indonesia dengan nilai investasi mencapai US$ 37 miliar dan dapat menyerap tenaga kerja hingga 112 ribu orang. Selain itu, sebanyak 119 perusahaan tercatat sebagai perusahaan yang potensial dengan nilai investasi US$ 41,39 miliar.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Deregulasi Penanaman Modal BKPM Yuliot mengatakan, agar operasional perusahaan yang berinvestasi di Indonesia kembali berjalan, BKPM memfasilitasi dengan memberikan rekomendasi untuk mendatangkan kembali tenaga kerja ahli ke Indonesia. Pada periode 24 April sampai 17 Juli 2020, kata dia, BPKM telah menerbitkan rekomendasi untuk mendatangkan 2.603 tenaga kerja ahli termasuk 155 investor untuk 457 perusahaan. Selain itu terdapat juga potensi nilai investasi yang digerakkan hingga mencapai Rp 859,7 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 237.269 orang.
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









