Investasi lainnya
( 1334 )Investasi di Obligasi Hingga Reksadana
Jatuh bangun dalam berinvestasi sudah pernah dicicipi Steinly Atmanagara.
Head of Sales & Marketing Equity Derivative
RHB Sekuritas ini bercerita, saat pertama berinvestasi, ia tergolong investor yang agresif.
Sejak lulus kuliah dan mulai bekerja di Citibank, Steinly banyak mendapatkan pelajaran mengenai
wealth management. Dari situ, ia mempelajari bahwa ada satu kesamaan yang menjadi ciri orang kaya, yaitu mereka semua peduli akan perkembangan pasar finansial, bukan hanya pasar domestik, tapi juga global.
Mereka juga cenderung tidak peduli dengan
tinggi, dan lebih mengutamakan kepastian dan kenyamanan.
Investasi pertama yang dipilih Steinly adalah reksadana. Menurut dia, instrumen ini cukup menarik, lantaran hanya dengan modal terbatas, bisa membeli sebuah portofolio yang dikelola oleh profesional.
Jadi, bagi para investor pemula, Steinly menyarankan untuk memulai inevestasi dari instrumen yang mudah. Misalnya, deposito dan reksadana. Jika sudah terbiasa berinvestasi di produk tersebut, investor bisa menjajal aset lain yang lebih tinggi risiko, namun berpeluang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi, misalnya saham dan produk lainnya.
Jaga Konsumsi, Raih Investasi
Pertumbuhan ekonomi bukan hanya soal angka. Pertumbuhan yang idealnya menyejahterakan seluruh rakyat juga berkorelasi dengan pembangunan manusia. Konsumsi rumah tangga menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan sumbangan terhadap PDB di atas 50 %. Pada triwulan I-2023, berdasarkan data BPS, perekonomian Indonesia tumbuh 5,03 % secara tahunan. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,54 %, dengan sumbangan 52,88 % terhadap PDB Indonesia. Dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa, berdasarkan sensus penduduk 2020, pendapatan yang dibelanjakan masyarakat menopang pertumbuhan PDB. Namun, situasi berubah pada awal pandemi Covid-19, Maret 2020, ketika pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan yang berlanjut dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menekan konsumsi rumah tangga. Jutaan orang kehilangan pendapatan akibat PHK atau pengurangan jam kerja. Akibatnya, konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2020 tumbuh minus 5,52 % secara tahunan, yang berlanjut hingga triwulan I-2021.
Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, tanpa menafikan peran konsumsi rumah tangga, ada baiknya komponen PDB lain ditingkatkan. Pembentukan modal tetap bruto atau investasi, misalnya, punya efek pengganda dalam perekonomian. Investasi menghasilkan barang atau jasa yang bisa dikonsumsi di dalam negeri atau diekspor sehingga menghasilkan devisa ekspor. Investasi memerlukan bahan baku, barang modal, dan bahan penolong, yang mudah-mudahan bisa dipenuhi dari dalam negeri. Investasi juga menyerap tenaga kerja. Selanjutnya, tenaga kerja akan menggunakan upah atau gajinya, antara lain, untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan. Ditengah kondisi ketenagakerjaan Indonesia, serapan tenaga kerja merupakan hal penting. Per Februari 2023, tingkat pengangguran terbuka 5,45 % atau ada 7,99 juta penganggur di Indonesia. Dari 138,63 juta orang bekerja, 83,34 juta orang atau 60,12 % di antaranya merupakan pekerja informal. Sebanyak 39,96 % penduduk bekerja di Indonesia berpendidikan SD ke bawah, naik dibandingkan Februari 2022 yang 39,1 % dengan upah rata-rata Rp 1,9 juta per bulan. Untuk itu, kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja mesti ditingkatkan. (Yoga)
Pasar Indonesia Sangan Menarik untuk Investasi Jangka Panjang
JAKARTA, ID - Industri jasa keuangan Indonesia merupakan pasar yang sangat menarik karena memiliki pangsa pasar yang besar dan terus bertumbuh. Itu sebabnya, banyak perusahaan jasa keuangan, seperti asuransi, bank, dan sekuritas asal Korea ingin menggarap pasar Indonesia dan berinvestasi dalam jangka panjang. “Pasar Indonesia memiliki banyak potensi untuk tumbuh. Beberapa orang Korea bahkan mengatakan bahwa dalam waktu 5-10 tahun, pasar Indonesia akan menjadi lebih besar dari pasar Korea,” kata Gubernur Financial Supervisory Services (FSS) Korea Selatan, Lee Bok-hyun dalam wawancara khusus dengan B Universe di Jakarta, Jumat (12/05/2023). Menurut Lee Bok-hyun, lembaga-lembaga jasa keuangan Korea bisa masuk ke pasar Indonesia dengan produk dan layanan yang telah mereka kembangkan di Korea, baik di pasar asuransi maupun pasar pembiayaan konsumen. Lee menjelaskan, tidak seperti Korea, Indonesia memiliki spektrum yang luas. Hal paling mencolok adalah dari sisi geografis. Selain itu, terdapat perbedaan yang cukup variatif antarkelompok di Indonesia. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi perusahaan-perusahaan keuangan Korea yang akan berinvestasi di Indonesia. (Yetede)
PANTANG MUNDUR PENGHILIRAN MINERBA
Ambisi pemerintah untuk terus mendorong percepatan penghiliran di sektor energi bersih—mineral dan batu bara—di Tanah Air kian kuat, meskipun dihadapkan oleh sejumlah tantangan yang memang tidak mudah untuk dilalui. Terlebih, saat ini makin banyak negara yang berambisi sama dengan Indonesia, terutama Amerika Serikat (AS). Negara tersebut bahkan agresif menjaring investasi di sektor penghiliran dengan insentif menggiurkan seperti pemberian diskon pajak besar-besaran kepada para investor di sektor energi bersih. Apalagi setelah munculnya Undang-Undang Pengurangan Inflasi atau Inflation Reduction Act (IRA), AS kian menjadi magnet kuat bagi para investor lokal dan global untuk berinvestasi di Negeri Paman Sam itu. UU tentang IRA di antaranya menjanjikan kemudahan kredit pajak US$370 miliar dan insentif lainnya untuk rantai pasok kendaraan listrik (electric vehicle/EV) hingga energi terbarukan. Tak heran bila kemudian satu per satu investor yang sudah berkomitmen investasi di beberapa proyek penghiliran seperti gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Indonesia mulai bimbang. Mereka bahkan berancang-ancang untuk angkat kaki dari Indonesia, salah satunya adalah Air Products & Chemical Inc. (APCI).
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia untuk pertama kalinya bertemu dengan Menteri Investasi Arab Saudi Khalid A. Al-Falih di Riyadh, Arab Saudi. Pada hari pertama rangkaian kunjungan kerja tersebut, Kamis (11/5) waktu setempat, Bahlil menawarkan peluang investasi kedua negara, khususnya dalam hal energi baru dan terbarukan (EBT) serta pembangunan rumah sakit. “Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Indonesia sangat terbuka untuk investasi, khususnya dalam hilirisasi industri dan ekonomi hijau yang menggunakan energi dan industri hijau. Kami memulai dengan hilirisasi sumber daya mineral. Ini adalah peluang besar, dan saya ingin ada investasi bersama antara Arab Saudi dengan Indonesia,” kata Bahlil. Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan seluruh investasi untuk penghiliran harus mempunyai standardisasi yang clean energy, yang bisa diinvestasikan bagi investor AS. Dengan kata lain, setiap perusahaan investasi tambang harus mempunya ESG report. “Kalau tidak sesuai, kebijakan pemerintah di bursa tidak bersih lingkungan, bisa dicap tak peduli lingkungan,” tuturnya. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan Indonesia melalui BKPM sewajarnya tidak hanya bergantung pada satu destinasi untuk menjaring investor, sehingga diharapkan investor asing dapat terdiversifikasi.
Bahlil: Arab Saudi Jajaki Peluang Kerja Sama Investasi EBT dengan Ri
JAKARTA, ID – Kementerian Investasi/BKPM dan Kementerian Investasi Arab Saudi menjajaki kerja sama investasi khususnya dalam hal energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi asal Arab Saudi dalam periode 2018 hingga kuartal I-2023 mencapai US$26,5 juta, tidak termasuk investasi pada sektor keuangan dan hulu migas. Penjajakan kerja sama tersebut dilakukan melalui pertemuan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman (BKPM) Bahlil Lahadalia dengan Menteri Investasi Arab Saudi Khalid A Al-Falih di Riyadh, Arab Saudi, pada Kamis(11/5/2023). Pertemuan ini merupakan yang pertama di antara menteri investasi kedua negara. Pertemuan tersebut membahas mengenai kerja sama terkait investasi antara kedua negara khususnya dalam hal energi terbarukan dan pembangunan rumah sakit. “Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Indonesia sangat terbuka untuk investasi, khususnya dalam hilirisasi industri dan ekonomi hijau yang menggunakan energi dan industri hijau. Kami memulai dengan hilirisasi sumber daya mineral. Ini adalah peluang besar, dan saya ingin ada investasi bersama antara Arab Saudi dengan Indonesia,” jelas Bahlil dalam siaran pers yang diterima pada Jumat (12/5/2023). (Yetede)
Investasi Berkualitas Makin Diperlukan
Pertumbuhan ekonomi tak bisa bergantung semata-mata pada konsumsi rumah tangga. Peningkatan laju investasi yang berkualitas dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih resilien sekaligus mengentaskan warga dari kemiskinan. Meski demikian, berbagai faktor ketidakpastian global dan nasional tahun ini dapat menahan laju investasi. Kinerja perekonomian pada triwulan I-2023 menunjukkan, pertumbuhan 5,03 % secara tahunan masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga. Realisasi pertumbuhan sebesar 53,88 % disumbangkan oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,54 % secara tahunan, meski laju pertumbuhannya masih di bawah level normal 5 %. Di posisi ke dua, investasi melalui komponen pembentukan model tetap bruto (PMTB) berkontribusi 29,11 % terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan investasi melambat 2,11 % secara tahunan, menjadi yang terendah sejak 2013 atau sebelum pandemi Covid-19. Sebagai perbandingan secara tahunan, pada triwulan I-2022, pertumbuhan PMTB tercatat 4,08 % dan pada triwulan IV-2022 sebesar 3,33 %.
Pelambatan investasi dalam bentuk bangunan dan nonbangunan itu terjadi karena ketidakpastian ekonomi global yang membuat harga komoditas dan nilai tukar bergejolak sejak tahun lalu.Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, dengan jumlah penduduk besar, konsumsi memang akan selalu jadi andalan perekonomian Indonesia. Namun, harapannya, Indonesia tidak terus hanya bergantung pada konsumsi masyarakat. ”Untuk jangka pendek, konsumsi memang banyak membantu. Ini juga sesuatu yang sudah pasti, karena kita populasi terbesar di Asia Tenggara. Tetapi, untuk jangka menengah-panjang, kita tidak bisa terus terlena dengan konsumsi. Kita harus mulai memacu investasi karena ini sangat penting kaitannya dengan penciptaan lapangan pekerjaan,” kata Josua, Rabu (10/5). Dengan peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja, angka pengangguran dan kemiskinan akan turun. Hal itu akan menggenjot konsumsi masyarakat. Konsumsi tidak perlu bergantung pada faktor musiman seperti dorongan daya beli karena THR. Sebab, masyarakat bisa memiliki tingkat pendapatan yang lebih kuat. (Yoga)
Pengembangan Kendaraan Listrik Perlu Investasi
Dengan sumber daya nikel yang melimpah, Indonesia masih belum mampu memproduksi sendiri baterai di dalam negeri. Kebutuhan investasi mulai level penambangan hingga pengolahan dan pemurnian nikel menjadi sel baterai akan menentukan kecepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Ketua Wilayah Eropa pada Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Osco Olfriady Letunggamu mengatakan, proses pengolahan dari bijih nikel hingga menjadi sel baterai sebenarnya tak butuh waktu lama. Secara proses pun sudah terbukti bisa dilakukan. Tinggal bagaimana investasi masuk hingga prosesnya meningkat ke level produksi.
”(Produksi hingga menjadi baterai) bisa, tinggal proses di tengahnya ini. Butuh investasi, salah satunya karena butuh energi(untuk pengolahan) yang besar dengan biaya produksi tinggi,” kata Osco di sela-sela jumpa pers menjelang ajang Indonesia International Auto Parts, Accessories, and Equip Exhibiton (Inapa) 2023, di Jakarta, Rabu (10/5). Osco membenarkan, saat ini investasi sektor industri smelter nikel memang masif di Indonesia. Investor tersebut rata-rata dari China. Namun, smelter yang beroperasi di Indonesia saatini baru empat unit dan lainnya masih dalam proses konstruksi. Diharapkan semua segera tahap produksi sehingga ada akselerasi. Baterai, yang berkontribusi 35 % terhadap biaya produksi kendaraan listrik, nantinya diharapkan semakin ekonomis dan akan memengaruhi harga kendaraan listrik. ”Pemerintah juga berkontribusi di sini lewat kebijakan subsidi. Ini juga ujungnya untuk mencapai target emisi nol-bersih (net zero emission/NZE),” ujarnya. (Yoga)
Area 31 Rencanakan Investasi Bisnis Data Center Rp 1 Triliun
JAKARTA, ID – PT Dunia Virtual Online (DVO), penyedia solusi pusat data (data center) yang lebih dikenal dengan nama AREA 31, memproyeksikan investasi senilai Rp 1 triliun dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Dana tersebut akan digunakan untuk terus membangun dan mengembangkan bisnis data center-nya di Tanah Air. Saat ini, perseroan tengah membangun gedung data center yang terletak di Kawasan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat. Pembangunan fase pertama dengan kapasitas sebanyak 600 rak kini pun sudah berhasil diselesaikannya. Jika kapasitas data center fase pertama tersebut telah terisi penuh dan tersewakan, pembangunan fase kedua yang juga memiliki kapasitas 600 rak akan dilakukan. Data center tersebut pun ditargetkan 1.200 raknya sudah penuh terisi dalam waktu dekat. Jika fase kedua sudah terisi, perseroan akan melanjutkan pembangunan fase ketiga. “Ketika kapasitas yang ada penuh, kami pasti bangun lagi. Dalam lima tahun, saya optimistis investasi bisa mencapai Rp 1 triliun,” ujar President Director DVO Michael Alifen di Kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (10/5/2023). Menurut dia, investasi tambahan akan terus dilakukan ke depan karena kebutuhan layanan data center semakin banyak, bertambah, dan kebutuhan dari luar negeri juga masuk banyak. Pasar data center di Indonesia pun sangat besar dan potensial secara bisnis. (Yetede)
April 2023. Dana Kelolaan Reksadana Turun Rp 3,79 Triliun
Total dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksadana tercatat turun pada April 2023. Berdasarkan data OJK, dana kelolaan reksadana turun Rp 3,79 triliun secara bulanan menjadi Rp 500,38 triliun.
Research & Consulting Manager Infovesta Kapital Advisori Nicodimus Kristiantoro menjelaskan, jika dirincikan per instrumen kelas aset, mayoritas reksadana turun. Antara lain, reksadana saham dan reksadana pasar uang.
Penurunan reksadana saham, karena investor sedang kurang meminati aset saham. Hal ini lantaran ekspektasi risiko akibat isu global dan volatile-nya pasar saham.
Untuk reksadana saham, dana kelolaan diprediksi naik pada kuartal II. Ini dengan asumsi krisis perbankan global dan isu plafon utang AS mulai ada titik cerah.
Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi mengatakan, pada April terjadi redemption atau pencairan yang disebabkan kebutuhan Ramadan dan Lebaran.
Hati-Hati Investasi di Aset Dollar AS
Kenaikan suku bunga The Fed membuat selisih (spread) Fed Funds Rate dengan suku bunga Bank Indonesia (BI) semakin tipis. Pada kondisi ini, investor harus berhati-hati berinvestasi di instrumen investasi berbasis dollar Amerika Serikat (AS).
Kamis (4/5), The Fed menaikkan bunga sebesar 25 bps menjadi 5%-5,25%. Sementara, BI 7-day reverse repo rate di 5,75%. Ini artinya selisih keduanya hanya 50 bps menjadi selisih tipis sepanjang sejarah.
Founder Finansialku.com, Melvin Mumpuni menyatakan, selisih bunga antara The Fed dan BI yang kian menciut adalah kejadian langka. Dia mengingatkan, kondisi ini tidak serta merta membuat aset investasi berbasis dollar AS menjadi menarik. Sebab dia bilang, ada ancaman gagal bayar utang AS.
Perencana Keuangan, Aidil Akbar Madjid juga menyebut kekhawatiran akan kondisi ekonomi AS. "Jadi kalau mau memegang aset berbasis dollar AS harus dilihat durasi berapa lama karena AS di akhir tahun atau awal tahun depan akan ada Pilpres. Jadi kalau mau pegang dollar AS sebaiknya untuk jangka waktu antara dua sampai tiga tahun," kata Aidil berpendapat. Apalagi beberapa instrumen investasi berbasis dollar AS menghasilkan return yang kecil.
Menurut Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong dan Presiden dan CEO PT Pinnacle Persada Investama, Guntur Putra dan salah satu aset yang mungkin bisa diincar saat kondisi saat ini adalah obligasi pemerintah AS. Keduanya menilai, berhentinya kenaikan suku bunga akan memicu kenaikan harga obligasi pemerintah.
Head of Business Development Division HPAM Reza Fahmi mengatakan, BI masih akan dalam pendirian menghentikan kenaikan suku bunga. Beberapa ekonom memperkirakan, BI tidak akan mengubah suku bunga acuan sampai akhir tahun ini.
Reza menyarankan para investor untuk wait and see pada instrumen berbasis dollar AS. Dia bilang, saham emerging market justru menarik lantaran fundamental ekonomi masih mendukung.
Pilihan Editor
-
Sanofi-GSK Siapkan Vaksin Covid-19 untuk 2021
16 Apr 2020 -
Erick Usul Jatah Dividen
14 Apr 2020 -
Kredit Investasi Bisa Jadi Masalah
09 Apr 2020









